Asisten Nona Muda

Asisten Nona Muda
Mata Yang Menjagaku


__ADS_3

Angin berhembus di dekat danau, perlahan pelukannya dilonggarkan sang pemuda. "Jika menangis, kamu jelek..." ucapnya tertawa kecil.


"Ka... kamu masih hidup, bagaimana Farel bisa..." kata-katanya terhenti, mata pemuda itu tertuju padanya. Mata yang terlihat jernih, seakan dapat menenggelamkannya.


"Aku merindukanmu..." ucapnya, mengecup kening Clarissa. Membimbing tangan wanita itu mendekati jalan kayu setapak di atas air danau. Didekatnya mengapung sebuah sampan, yang terikat kuat pada salah satu kayu penyangga jalan setapak.


Pasangan muda-mudi itu duduk di atas ujung kayu jalan setapak tersebut. Telapak dan pergelangan kaki mereka dibiarkan basah, terayun menikmati air danau yang dingin.


"Apa dia baik-baik saja?" Zion tersenyum, menyenderkan kepala Clarissa di bahunya.


"Siapa?" tanyanya.


"Anakku, ayahnya mencemaskannya," jawabnya, membelai rambut Clarissa, memandang lurus ke arah air danau yang tenang.


Clarissa tertegun sejenak, menghela napasnya mulai murung,"Kamu sudah dapat melarikan diri dari Farel. Aku tidak ingin kamu terluka, jadi sebaiknya kita..."


Kata-kata Clarissa terhenti, disela oleh pemuda yang tersenyum dengan tenang,"Kita akan bersama, aku berjanji. Seniorku yang terkenal pelit, akan membantuku..." ucapnya ambigu.


"Senior?" Clarissa mengenyitkan keningnya.


"Orang yang menyelamatkanku adalah seniorku saat kuliah di Singapura. Sekaligus saudara sepupumu..." jawabnya.


"Sepupu?" Clarissa menegakkan kepalanya, menatap pada Zion, seakan meminta penjelasan.


"Anak satu-satunya dari pamanmu, dia yang memiliki ide gila agar kita bertemu..." ucap Zion menahan tawanya.


"Anak dari paman Gabriel? Dia mempunyai anak!?" tanyanya tidak yakin dengan pendengarannya.


"Sttt..." Zion, meletakkan jari telunjuknya di bibirnya,"Rahasiakan ini dari ayahmu, jika tidak nyawanya akan ada dalam bahaya..."


"Dia orang yang baik, pintar dan berwawasan luas. Memiliki sedikit kekuasaan, dia berjanji akan mengawasi dan melindungimu dari dekat..." lanjutnya.


"Si... siapa? Aku pasti mengenalnya kan? Jika berada di dekatku?" Tanya Clarissa antusias.


"Kamu tidak pandai menyembunyikan sesuatu, aku tidak dapat memberi tahu mu identitas aslinya. Tapi yang jelas, sementara waktu ikuti keinginan ayahmu, sepupumu akan membantu dan melindungimu..." jelasnya tersenyum, mengacak-acak rambut Clarissa gemas.


"Bagaimana karakternya? Apa dia akan menyingkirkan keluargaku...?" tanya Clarissa cemas, mengingat Lerylah yang menghancurkan keluarga kecil yang baru dibangun pamannya.


"Tidak, dia hanya ingin melindungi pamanmu dan keluarganya. Tidak tertarik pada kekayaan keluargamu," Zion menghebuskan napas kasar,"Apa kamu keberatan jika ayahmu, tertangkap kepolisian federal?" tanyanya ragu.


Clarissa tertunduk diam, tentu saja dia mengetahui usaha-usaha ilegal yang dimiliki ayahnya. Namun, tetap saja Lery adalah ayah yang turut andil membesarkannya, bagaimanapun karakternya.

__ADS_1


Zion menghela napasnya, kemudian tersenyum,"Jika pihak sepupumu yang menang, kemungkinan ayahmu akan ditahan kepolisian federal. Maafkanlah aku dan sepupumu,"


"Tapi jika ayahmu yang menang, maka aku, paman dan sepupumu akan mati. Maafkanlah ayahmu jika itu terjadi. Karena itu, apapun yang terjadi tetaplah tersenyum..." lanjutnya, menatap wajah Clarissa, yang terlihat bimbang.


Wanita itu menonggakkan kepalanya, menatap wajah Zion. Wajah teduh, dengan kulit putih terkena cahaya bulan, rambutnya sedikit tertiup angin. Senyuman terukir di wajahnya, matanya perlahan tertutup, bibirnya mulai menghangatkan bibir Clarissa. Bergerak perlahan, bertaut, saling menyentuh hingga bagian dalam, seakan saling mendambakan kehangatan di balik bibir dingin mereka.


"Maukah kamu menikah denganku..." ucap Zion dengan deru napas tidak teratur. Tetap tersenyum, menatap mata Clarissa.


Wanita itu terengah-engah, mengatur napasnya, kemudian mengangguk penuh senyuman.


Zion mengeluarkan kotak kecil dari sakunya. Sepasang cincin yang tidak begitu mahal terlihat disana. Salah satunya mulai disematkan pada jemari Clarissa, jemari dengan kulit putih, kini berhiaskan cincin silver yang tidak begitu mahal.


Satu lagi dipakaikan Clarissa pada jemari pemuda di hadapannya.


"Aku bahagia..." Zion tersenyum, memegangi area belakang kepala Clarissa. Menikmati bibirnya bagaikan tidak pernah puas. Ketakutan wanita itu akan direbut, atau akan kehilangannya. Ribuan kunang-kunang berhamburan tebang, akibat angin yang meniup tanaman ilalang di pinggir danau.


...... Taukah kamu kunang kunang adalah larva yang menggeliat di tanah selama dua tahun? Setelah menjadi kunang-kunang mereka hanya bertahan hidup selama 21 hari, hanya untuk menemukan pasangannya.......


....... Perjuangannya selama dua tahun merangkak diatas tanah, hanya untuk bersinar selama 21 hari untuk orang yang dikasihinya. Jika aku adalah kunang-kunang aku ingin setegar itu untuk mencintaimu......


Zion...


***


Tubuhnya direbahkannya, menatap langit-langit ruangan. Tangannya terangkat ke atas, terlihat cincin di jari manisnya.


"Ayah maaf..." gumamnya dengan senyuman yang perlahan menghilang, penuh rasa bersalah tidak memberi tahukan keberadaan sepupu yang menjaganya, entah dimana.


***


Pelayan mulai mengangkat piring kotor dari meja, semua orang ada di sana termasuk pelayan. Hanya penjaga saja yang berkeliling di luar rumah.


Mata Clarissa menelisik mengamati orang-orang yang berkemungkinan besar adalah sepupunya.


Tidak, dia terlalu jelek, paman Gabriel tampan, almarhum istrinya pasti cantik. Jadi anak mereka tidak mungkin jelek... matanya menatap seorang pelayan muda yang bergigi tonggos.


Perhatian Clarissa kembali teralih, pada orang yang berentan usia antara dirinya dan Deren. Semua orang disana bagaikan tersangka, kecuali Farel tentunya.


"Nona, ada paket untuk anda..." seorang bodyguard masuk, memberikan sebuah paket.


Dia mungkin sepupuku, ini mungkin hadiah dari Zion... Anggapannya dalam hati, ragu-ragu untuk membuka paket di hadapan semua orang.

__ADS_1


Lery merebut kotak itu dari tangan Clarissa yang tengah termenung.


"Ayah jangan..." larangnya bersamaan dengan paket tersebut di robek. Jantung Clarissa berdebar dengan cepat, mencemaskan sepupunya.


"Ini arloji ayah, yang tertinggal di toilet hotel. Ayah meminta pihak hotel mengirim kemari atas namamu..." ucapnya, tanpa beban.


Wajah Clarissa yang sudah pucat pasi seketika terlihat lega. Hampir semua orang di ruangan itu mencurigakan, sepasang mata sepupunya mungkin mengamatinya tanpa disadarinya.


Siapa sebenarnya? Orang yang cerdas seperti paman Gabriel. Tidak memiliki ambisi, pastinya berwajah rupawan seperti pamanku ... renungnya dalam hati penuh rasa penasaran.


"Ini, coklat hangatnya nona..." ucap seorang pelayan cantik, dengan tubuh indah menggoda, menghidangkan secangkir coklat.


Cantik, dan perhatian, terlihat penuh kasih, jangan-jangan dialah sepupuku... prediksinya, bagaikan detektif yang mencari pembunuh diantara banyaknya tersangka yang berusia muda.


Clarissa mulai menyesap coklat hangat di cangkirnya, hingga terdengar suara samar di belakangnya."Ah... jangan ada majikan," wanita itu menengok, terlihat tangan sang pelayan wanita ditarik body guard Taka, bagaikan wanita penggoda yang memiliki hubungan khusus dengan seorang bodyguard.


Clarissa menggeleng-gelengkan kepalanya, Gabriel orang yang bermartabat. Anaknya adalah wanita penggoda? Itu tidak mungkin. Mungkin begitulah dalam hatinya.


Hingga cahaya pagi dari pintu masuk sedikit terhalang, terlihat seorang rupawan, yang pastinya cerdas, memiliki akses masuk untuk membebaskan Zion, tersenyum cerah.


Clarissa tertegun... Dia adalah sepupuku... prediksinya yakin.


"Tuan," ucap Tomy menunduk memberi hormat pada Farel.


"Kirim E-mail balasan pada ayah (Dilen)," perintah Fatel.


"Baik tuan..." ucap Tomy menunduk penuh hormat.


"Kamu sudah sarapan?" tanya Farel lagi.


"Sudah, saya sarapan di kamar..." jawabnya.


Tentunya sudah, karena takut sisanya akan kamu rebut. Dasar bos pelit... cibir Tomy dalam hati, berusaha untuk tersenyum.


"Baguslah, buatkan aku asinan, dari buah mangga. Tolong petik dari pohon belakang villa..." Farel tersenyum tanpa dosa.


Sementara itu Tomy mengenyitkan keningnya, Sialan, aku harus memanjat pohon yang membuat pinggangku sakit lagi...


"Baik Tuan..." Tomy berusaha tersenyum.


Tidak diduga kali ini seseorang membelanya,"Membuat asinan? Dia asisten atau koki!?" bentak Clarissa pada Farel yang tengah meminum segelas air. Ingin membela sepupunya yang sudah menyelamatkan nyawa Zion? Tentu saja itu hal itu yang tengah dilakukannya.

__ADS_1


Paman Gabriel pasti akan bahagia, mempunyai anak humoris, tampan, bermartabat, dan pintar sepertimu. Aku akan membelamu menghadapi pangeran iblis... gumamnya dalam hati menatap tajam pada Farel, seakan bersiap menyerangnya demi Tomy.


Bersambung


__ADS_2