Asisten Nona Muda

Asisten Nona Muda
Jin Aladin


__ADS_3

Senyuman menyungging di wajah Daniel, menghela napas kasar "Sebenarnya aku jenuh dengan ibuku," ucapnya, membuat Kinara yang hendak mencium bibir Daniel membuka matanya, mengurungkan niatnya.


"Kenapa jenuh?" tanyanya berpura-pura peduli, meniru sifat saudarinya.


"Farel hanya terjatuh dari mainan jungkat jungkit, tapi begitu dicemaskan. Benar-benar anak jelek yang menyebalkan..." jawabnya terlihat jengkel.


"Iya, anak yang jelek manja..." Kinara berucap hati-hati membenarkan kata-kata Daniel.


"Omong-ngomong sebentar lagi ulang tahun Farel, hadiah apa yang akan kamu berikan?" Daniel memaksakan dirinya tetap tersenyum.


"Eeemmm... mobil remote control..." jawab Kinara, terpancing dengan kata-kata Daniel.


"Jallang..." ucap Daniel tersenyum menatap sinis. Berjalan menjauh, mengambil gelas wine kosong, menuangkan hanya seperempat gelas, kemudian meminumnya.


"Daniel, apa maksudnya?" Kinara mengenyitkan keningnya berjalan mendekat.


"Jika berani menggunakan identitas Kanaya lagi, aku akan membuatmu merasakan lebih baik mati daripada hidup..." ucapnya menatap tajam, meminum seteguk wine-nya. Kembali duduk di sofa, membuka laptopnya.


"Apa maksudnya? Aku Kanaya..." Kinara mengeluarkan keringat dingin, mencoba untuk tetap tenang.


"Kamu tau, orang yang dipuja-puja Kanaya bagaikan selebriti? Namanya Farel, usianya saat ini 29 tahun. Mobil remote control..." Daniel tertawa kecil, kembali meminum seteguk wine-nya. Mengalihkan perhatian pada pekerjaan yang dikirimkan ayahnya melalui e-mail.


Kinara menghebuskan napas kasar,"Memangnya kenapa jika aku bukan Kanaya? Wajah kami hampir sama, aku menyukaimu dari saat pertama kali bertemu denganmu," ucapnya berjalan mendekat. Tidak mendapatkan respon dari Daniel yang masih konsentrasi pada laptopnya.


"Aku tulus padamu, kakakku masih mencintai Kemal. Mereka saling mencintai sejak dulu, saat aku masih bersama Kemal, Kanaya menjalin hubungan dengannya di belakangku, aku hanya ingin kamu, tidak bernasib sama denganku," dustanya, menangis tertunduk, terisak, diam-diam menyunggingkan senyuman di bibirnya.


Daniel tidak menanggapi sama sekali, jemari tangannya menari di laptopnya, sesekali menenggak minumannya.


Kinara berjalan mendekat mulai, berniat menggoda duda incaran di hadapannya."Kanaya dia..." kata-kata Kinara disela.


"Karena wanita sepertimu mantan istriku meninggalkanku!! Sekarang melepaskan Kanaya demi tipuan yang sama? Aku tidak begitu bodoh," ucapnya, tersenyum menatap penuh hina.


"Daniel, aku tidak berbohong, kakakku tidak sebaik..."


Prang...


Pecahan gelas wine berhamburan tepat di hadapan Kinara."Dengar, kamu tau apa yang aku lakukan pada wanita keji yang sudah membuatku bercerai? Aku membuatnya bersenang-senang, digiliri bodyguard sepupuku..." ucapnya.


Jemari tangan Kinara gemetar ketakutan. Digiliri? Bagaikan kasus penculikan dan pemerkosaan. Bagaimana pria dia hadapannya dapat berkata dengan enteng. Apa benar-benar terjadi?


Tentunya iya, Daniel pernah menyerahkan Renata pada dua orang pengawal milik Tomy. Untuk membalas mulut dustanya, yang sudah menghancurkan hidup setiap wanita yang mendekati Daniel.


Melakukan kesalahan yang sama? Melepaskan wanita yang tulus padanya hanya untuk wanita keji? Pemuda itu tidak cukup bodoh untuk mengulangi kesalahannya.


Kinara masih tertegun, diam tidak ingin kalah dari kakaknya, perlahan berjalan berniat menggoda lebih nekat lagi. Walaupun, pemuda di hadapannya ini terlalu menakutkan untuknya.


"Tidak pergi juga? Tetap ingin kesenangan? Aku bisa membayar beberapa karyawan villa untuk memuaskanmu. Membuatmu enggan untuk bergerak, bahkan saking banyaknya menjerit, kesulitan untuk bangkit," Daniel menghela napas kasar.


Wajah Kirana pucat pasi, menyerah, mundur untuk keluar tanpa mengatakan apapun.


"Bodoh..." cibir Daniel.


***


Ken menghela napas kasar sempat melihat Kinara yang disangkanya Kanaya memasuki villa Daniel, beberapa puluh menit yang lalu.


Pemuda itu perlahan, berjalan menuju villa tempat Candra menginap. Mengusir rasa jenuhnya yang tidak begitu banyak mengerjakan sesuatu.


Bel ditekannya...

__ADS_1


Hingga sosok Sumi membukakan pintu. Menatap pemuda yang membawa beberapa cemilan anak-anak.


"Boleh aku masuk?" tanyanya penuh senyuman, masuk kedalam tanpa menunggu ijin.


Sumi berlalu, mengambilkan minuman, sementara Candra telah tertidur sedari tadi. Namun, satu hal mengalihkan perhatiannya suara tawa wanita terdengar dari kamar Ega.


Dengan cepat Ken bangkit dari sofa membuka pintu kamar,"Kamu kenapa bisa disini? Kenapa berpakaian begitu?" tanyanya tidak mengerti, menatap Kanaya hanya memakai celana pendek dan tank top, berbeda dengan wanita yang menyerupainya memakai celana panjang, dengan kaos sebagai atasannya.


"Main game..." jawabnya polos, masih memegang stik menjadi lawan Ega.


"Tadi kamu masuk ke dalam villa Daniel, pakaiannya juga tidak seperti ini..." Ken heran.


Kanaya membulatkan matanya,"Gantikan aku!!" ucapnya pada Ken, memberikan stiknya. Berjalan cepat keluar dari villa, bahkan tanpa mengenakan alas kaki.


Kanaya sudah menduga perbuatan saudarinya. Namun, Daniel? Tidak ingin cinta yang diperjuangkannya susah payah direbut.


"Apa yang mereka lakukan..." ucapnya berjalan cepat terengah-engah, sembari menangis, membayangkan Daniel yang akan salah sangka, mengira Kinara dirinya.


Brak...


Pintu yang tidak terkunci dibukanya. Menatap pemuda yang terkejut dengan kedatangannya. Daniel perlahan bangkit, bersamaan dengan Kanaya yang memeluk tubuhnya.


Perasaan yang nyata, berbeda dengan tadi, sosok serupa namun tidak sama. Daniel tersenyum sudah memastikan, namun ingin lebih yakin.


Tank top Kanaya sedikit disingkapnya, mencium pelan leher jenjang di hadapannya.


"Apa dia kemari dan membohongimu?" tanya, Kanaya terisak.


"Jangan khawatir, aku dapat mengenalimu dengan mudah..." ucapnya, tertawa kecil.


"Tapi kami mirip, kalian tidak..." kata-kata Kanaya disela.


"Jangan menangis..." jemari pemuda itu menghapus air mata gadis yang menatapnya dengan mata berkaca-kaca.


"Dasar mesum!! Kalau warna tali braa nya sama bagaimana?" ucapnya memandang jengkel.


"Maaf, Ibuku akan menunda kepulangannya, sepupuku Farel mengalami cidera serius..." Daniel menghebuskan napas kasar.


Kanaya membulatkan matanya tidak percaya,"Farel adalah sepupumu? Di...dia cindera? Apa sudah menghubungi ambulance? Bagaimana keadaannya? Bisakah kita menjenguknya?" tanyanya memelas.


Daniel mengenyitkan keningnya kesal, jemarinya menyentil dahi gadis dihadapannya.


"Sakit!!" pekik Kanaya mengusap-usap dahinya yang kebas."Tidak berprikemanusiaan..."


"Satu lagi bukti nyata kalau kamu Kanaya. Radarmu akan keluar setiap mendengar kata Farel. Dasar tukang selingkuh," Daniel menghembuskan napas kasar, kembali duduk mengerjakan tugasnya.


"Maaf, tapi dia tampan, baik, pintar..." kata-kata Kanaya terhenti, Daniel menutup laptopnya. Berjalan acuh menuju kamarnya.


"Pak Daniel, maaf aku tidak bermaksud..." ucapnya berlari mengejar, hingga tepat di hadapannya pintu kamar tertutup.


"Aduh!!" pekik Kanaya, mengusap-usap hidung serta dahinya."Aku hanya berkata jujur, dia seperti selebriti idolaku..."


Daniel membuka sedikit pintunya, menatap tajam,"Lalu aku, seperti apa dihatimu?" tanyanya posesif.


"Sama seperti pendapat ibuku, jin Aladin..." jawabnya sungguh-sungguh.


"Aku bukan makhluk halus bertubuh raksasa," Daniel berusaha tersenyum, terlihat jengkel, hendak menutup pintu, namun tangan Kanaya menahannya.


"Bukan itu, anda membawa keajaiban dalam hidup saya. Saat saya hampir menyerah akan hidup ini karena Coky, namun anda merubah semua keadaan. Karena itu... karena itu..." kata-kata Kanaya terhenti bingung harus mengatakan apa.

__ADS_1


Daniel tersenyum, menarik gadis itu kedalam kamarnya, menutup pintu. Tubuh sang gadis di sudutkannya pada pintu yang tertutup,"Karena itu kamu menyukaiku?" tanyanya.


"Bukan, tapi lambat laun, aku menyayangimu. Tidak ingin kehilanganmu, selalu mencemaskan keadaanmu. Aku..." Kanaya menghentikan kata-katanya, baru menyadari jarak tubuh mereka yang terlalu dekat. Jantungnya terasa berdebar tidak teratur, menatap wajah rupawan yang tersenyum padanya.


Daniel mendekatkan wajahnya, mulai berbisik,"Aku...?" tanyanya, dengan nada sensual.


"Aku belakangan ini selalu berfikiran negatif setiap dekat denganmu!! Jangan terlalu dekat, setiap melihatmu rasanya jantungku mau keluar!! Aku..." kata-kata Kanaya kali ini disela.


"Karena kamu mencintaiku..." ucap Daniel, memejamkan matanya, mulai menikmati bibir gadis di hadapannya. Celah demi celah bibir Kanaya ditelusurinya.


Kanaya? Gadis itu perlahan membalas, memejamkan matanya, menikmati bibir Daniel yang seakan tidak pernah puas padanya. Tangannya mencengkram sweater yang dikerjakan Daniel, bagaikan limbung terhanyut akan suasana yang tercipta.


"Aku merindukanmu..." bisik Daniel, menelusuri lekuk leher, hasratnya bagai bergejolak tiba-tiba.


Kanaya menggigit bibirnya sendiri, menahan nuansa geli yang tercipta kala kedua tangan pemuda itu meraba perut dan punggungnya yang masih berbalut tang top. Bagaikan membiarkan Daniel berbuat semaunya.


"Bagaimana jika kita bekerja keras malam ini?" tanya sang pemuda rupawan berbisik di telinganya.


Tidak jangan!! Katakan 'tidak' dengan tegas, pertahankan mahkota dan harga dirimu... tegasnya dalam hati sembari berusaha menggeleng, menahan desiran di tubuhnya.


Namun mata Daniel yang menatapnya penuh kasih, membuatnya luluh, mengangguk mengiyakan.


Yang terjadi... terjadilah... ucapnya dalam hati pasrah, dengan fikiran tidak dapat dikondisikan.


***


Kanaya mengenyitkan keningnya, menghebuskan napas kasar kecewa. Bekerja keras? Ini memang dapat dikatakan bekerja keras. Tapi...


"Sudah..." ucapnya menatap jenuh, bagaikan dipenuhi rasa lelah, menyusun laporan yang berantakan dalam laptop Daniel.


"Sudah?" tanya Daniel membaca berkas yang sudah di print.


Aku sudah mempersiapkan hatiku, untuk membiarkan seorang pemuda menatap tubuhku yang indah tanpa sehelai benangpun. Bahkan menjerit, meracau, menahan rasa sakit guna membuat keturunan. Terbang ke surga ke tujuh....tapi malah pemuda menyebalkan ini malah menyuruhku bekerja. Aku ingin merasakan disentuh... sesalnya dalam hati sudah mempersiapkan mentalnya.


"Terimakasih..." ucap Daniel tersenyum, mencium kening dan bibir Kanaya


"Aku mencintaimu!! Mana berkasnya lagi!?" teriak Kanaya penuh semangat, bagaikan baterainya diisi kembali.


***


"Kamu mau kemana!?" Fahri membentak istrinya yang mulai mengemasi barang-barangnya.


"Ke kota, rumah dan tanah orang tuaku adalah milikku dari awal. Akan aku jual, untuk biaya hidup!!" bentak Kinara tidak peduli.


"Kita akan tinggal bersama di kota, aku sudah menjual sapi untuk tambahan membuka butik..." ucapnya, mencengkram tangan istrinya yang tengah berkemas.


"Aku berubah fikiran!! Kita bercerai saja!! Kakakku yang hanya lulusan SMU, dapat sukses, kuliah sambil bekerja di kota tanpa kiriman uang ayah dan ibu!! Lulus S1, kerja di perkantoran, memiliki pacar bos kaya,"


"Orang sepertinya yang dulu selalu dibawahku, ke kota dengan modal nekad dapat menjadi seperti sekarang. Bagaimana denganku yang sudah memiliki bekal dari awal. Mungkin saat kembali nanti, aku dapat menginjakmu, bertemu pria yang berkali-kali lipat daripadamu!!" bentaknya menepis tangan suaminya.


Tidak mengetahui kerasnya hidup di kota? Benar, itulah sosok Kinara, mengira kota adalah tempat gemerlap yang menawarkan berjuta peluang.


Tidak mengetahui bagaimana kerasnya kehidupan saudarinya dulu. Yang mengambil beberapa pekerjaan sambilan untuk membiayai kuliah. Bahkan kekurangan tidur, dan makan hanya dua kali sehari, hanya untuk berhemat.


Ditolak berkali-kali ketika melamar pekerjaan tanpa pengalaman. Hingga akhirnya dapat bekerja di kantor Ananta Group.


"Kota tidak semudah yang kamu duga!! Aku sudah memiliki banyak pengalaman!! Kamu akan menyesal!!" Fahri memperingatkan.


"Aku tidak akan menyesal!! Saat pulang nanti kalian akan takjub padaku!!" bentaknya melempar surat gugatan cerai yang sudah ditanganinya di hadapan Fahri.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2