
.......Banyak cara yang digunakan untuk menyayangi seseorang anak. Bekerja keras memberikan segalanya adalah contohnya. Tapi dapatkah sang anak berdiri sendiri saat masa dewasanya, tanpa mendapatkan kasih sayang dan pendidikan moral!? Apakah phonecell pintar dapat memeluk dan mendengarkan keluh kesah, atau memberinya nasehat saat dirinya salah......
Author....
Mengadu, dalam masa pemberontakannya, mungkin itulah yang dilakukan Dimas. Anak itu, terdiam di kamarnya tanpa ada niatan untuk makan. Menunggu kedatangan Jeny yang tidak kunjung datang.
Hingga suara ketukan pintu untuk ke sekian kalinya didengarnya.
Kriuk...
Suara perutnya berbunyi, namun rasa kesepiannya tanpa smartphone yang selalu di genggamannya membuatnya bertahan.
Aroma daging ayam tercium, mengalun-alun menggoda imannya yang kini tengah bertapa, guna mendapatkan kembali smartphonenya.
"Ini panggilan terakhir, jika tidak ingin makan juga. Silahkan mati kelaparan di dalam!!" ucap Farel dari luar sana, kemudian kembali duduk di ruang tamu membuka laptopnya.
"Panggilan terakhir...aku lapar..." ucap Dimas memegang perutnya."Tidak boleh, iblis itu tidak boleh menang,"
Suara jarum jam terdengar, perutnya terasa hampa. Begitu juga dengan hatinya, tanpa beberapa game yang sering dimainkannya.
"Ini neraka, aku fikir Ren yang dipuja kakakku baik bagaikan malaikat. Ternyata hanya iblis..." ucapnya menyerah, tepat pada pukul 9 malam.
Dengan mengendap-endap membuka pintunya, matanya menyelidik mencari keberadaan Farel. Hingga, sampai di dapur, membuka tudung saji.
Terlihat meja makan yang kosong,"Tadi benar-benar panggilan terakhir..." gumamnya penuh penyesalan.
Apakah ini yang dinamakan zaman penjajahan Belanda!? Zaman penjajahan Belanda masih ada singkong untuk dimakan...Aku dijajah oleh iblis... gumamnya dalam hati, menghebuskan napas kasar.
"Akhirnya keluar juga..." Farel tersenyum simpul.
"Mana makanannya!? Aku akan mengadukanmu pada kakak!!" ucapnya membentak.
"Aku berikan pada pengasuh, dia punya tiga orang anak. Jadi sisa makanannya akan lebih berguna," Farel mulai tersenyum, mendekati Dimas,"Ayo kita memasak..."
"Seorang pria memasak!? Yang harusnya memasak adalah seorang wanita!!" ucapnya, memberi alasan.
"Prinsip hidup manusia, walaupun laki-laki atau perempuan. Jika lapar, harus mencari makanan," Farel menyentil dahi Dimas menarik tangan anak itu menuju dapur.
"Ambil sayuran, daging, dan udang di lemari pendingin..." ucap Farel, mulai mengenakan appron nya.
Tangan Dimas mengambil bahan dengan cepat, tidak dapat menahan rasa laparnya. Mengabaikan semua egonya.
"Potong sayurannya, kupas bawangnya..." Farel memberi intrupsi, sementara dirinya sibuk memotong daging dan beberapa bahan lainnya dengan cepat.
Dengan masih kaku, untuk pertama kalinya, Dimas memakai pisau. Sejenak kemudian melirik, menatap Farel penuh rasa kagum, mengiris beberapa bahan layaknya chef profesional yang ada di TV.
__ADS_1
Hingga beberapa puluh menit kemudian, asap mengepul, aroma makanan menyeruak ke dalam seluruh ruangan,"Cobalah, ini adalah masakan pertamamu..." ucap Farel penuh senyuman, menyodorkan sesendok makan.
"Enak..." entah mungkin karena rasa laparnya, setiap hidangan yang mereka buat terasa enak di lidah Dimas.
Hingga, terdengar suara mobil milik Jeny. Wanita itu, nampak kelelahan mulai berjalan menuju dapur.
Kata 'Aku akan mengadu' seperti dilupakan Dimas,"Kakak, aku bisa memasak!!" ucapnya kagum dengan dirinya sendiri. Dengan tidak sabaran, menyajikan makanannya satu persatu ke atas meja.
Adikku yang manja memasak!? Apa tadi pagi matahari terbit dari barat. Atau ini adalah pertanda kiamat... Ren apa yang kamu lakukan pada manusia materialistis yang arogan ini... gumam Jeny dalam hatinya.
"Ini Dimas yang memasaknya!?" tanyanya heran.
"Iya, aku adalah chefnya dan kak Farel adalah..." kata-kata Dimas terhenti wajah anak itu tiba-tiba pias.
Aku lupa akan mengadu!? Sialan!! Tapi aku terlanjur berkata baik pada kakak. Bagaimana ini... gumam Dimas dalam hatinya.
"Jangan bengong!!" Farel tersenyum lembut, menyuapi makanan pada mulut Dimas yang sedikit terbuka.
"Dasar penjajah!! Firaun!! Kakak ipar kejam!!" Dimas memaki dengan mulut penuh, namun ajaibnya hatinya tiba-tiba ramai, walaupun tidak menggenggam smartphone di tangannya.
Farel hanya dapat tertawa kecil, kemudian kembali ke kamarnya meraih Rafa yang tiba-tiba menangis terbangun dari tidurnya.
Dia sibuk dari pagi sampai malam!? Apa dia manusia atau robot!? Tidak aku tidak boleh kagum pada musuh sepertinya. Kak Daniel harus kembali pada kakak Jeny, dan ayah serta ibu harus kembali bersama.... gumamnya dalam hati, ingin kembali ke zona nyamannya. Tinggal dengan berbagai fasilitas dan tidak ada yang melarangnya melakukan apapun.
***
"Kenapa tugasku salah semua!? Dasar manusia tidak punya otak!!" bentak Dimas, mendorong teman sekelasnya di area belakang sekolah.
"Benar, dasar bodoh!!" salah seorang teman Dimas memukul dengan kencang.
"Kalian sedang apa!?" seorang pria paruh baya berpakaian guru, membentak geram. Menatap pembullyan yang dilakukan Dimas dan Fandi (teman sekelas Dimas) pada salah seorang siswa.
Ketiga orang siswa duduk di ruang guru. Satu persatu orang tua mereka dihubungi. Hingga giliran Dimas diminta untuk memberikan nomor telepon orang tuanya.
Tapi siapa yang sekarang dapat dihubunginya? Anak itu tengah memberontak pada ayah dan ibunya agar tidak bercerai. Sedangkan jika menghubungi Daniel, nomornya saja anak itu tidak punya. Akhirnya Dimas menghebuskan napas kasar, memberikan nomor telepon rumah kakaknya.
Bukan kali ini saja Dimas membuat masalah di sekolahnya. Setiap ada masalah, asisten ayahnya dulu akan datang, menyelesaikan semuanya cukup dengan uang, agar Dea tidak mengetahui tentang perilaku Dimas yang memiliki banyak celah. Membuat anak itu semakin arogan, bagaikan berkuasa atas segalanya.
Beberapa puluh menit setelah Farel dihubungi, setelah teman sekelasnya Fandi yang ikut membully mendapatkan wejangan dan pulang bersama orang tuanya, kini tinggal Dimas dan korban pembullyannya.
"Bapak sudah menghubungi kakak iparmu, dia akan segera sampai. Dimas, ini sudah yang kesekian kalinya kamu..." kata-kata guru BK dipotong oleh sang anak.
"Pembangunan perpustakaan baru, dan beberapa perbaikan di sekolah. Itu karena saya membuat masalah, jadi asisten ayah saya memberi kompensasi. Bapak tidak pantas menaseha..." kali ini kata-katanya yang arogan dari mulutnya terhenti. Telinganya ditarik kencang, oleh sosok kakak iparnya yang masih memakai celemek.
"Sakit!! Ini kekerasan dalam rumah tangga, penganiayaan terhadap anak!! Aku akan melaporkan pada komisi perlindungan anak!! Ayahku akan marah besar, dan membawamu ke penjara!!" ucap Dimas, berusaha melepaskan tangan Farel yang masih menarik telinganya.
__ADS_1
"Kamu tinggal di rumahku, jadi mau tidak mau mengikuti aturanku!!" Farel mengenyitkan keningnya kesal, sejenak kemudian menghembuskan napas kasar.
Menunduk di hadapan guru BK,"Maaf, ini kesalahan saya. Saya yang tidak mendidiknya dengan baik..." ucap Farel.
"Tidak masalah, hanya saja dia harus di skors tiga hari..." guru BK menghebuskan napas kasar, memijit pelipisnya sendiri.
"Ayo minta maaf..." Farel memaksa Dimas untuk menunduk tanda menyesal di hadapan sang guru.
"Tidak mau!!" Dimas kali ini menepis tangan Farel, melangkah cepat keluar dari ruangan merasa dipermalukan.
***
Anak itu melangkah entah kemana meninggalkan sekolah. Dirinya masih cukup egois untuk meminta maaf dan menerima kesalahan, egonya tidak mengijinkan. Hingga hari semakin sore, Dimas terus berjalan dengan perut laparnya. Langkahnya semakin lemas saja, hingga tiba-tiba seorang pemuda ada di hadapannya.
"Bodoh, ini sudah sore..." Farel menghebuskan napas kasar, kemudian sedikit membungkuk, "Naik..." ucapnya.
"Aku tidak perlu di gendong, supir ayahku akan..." kata-katanya terpotong.
"Kamu sudah memilih tinggal dengan kami, berarti kamu tidak berniat tinggal dengan mereka. Cepat naik, kamu melangkah seperti siput yang kekurangan air saja tadi..." Farel berucap tersenyum tulus, mencemaskan adik ipar yang sudah dicarinya beberapa jam.
Dengan ragu Dimas naik ke atas punggung Farel, digendong di usianya yang sudah hampir remaja cukup memalukan baginya. Namun, terasa nyaman baginya, hatinya terasa lebih hangat. Bagaikan menemukan sosok ayah atau kakak laki-laki.
"Kakak ipar..." Dimas berucap dari punggung Farel yang tengah berjalan perlahan.
"Emmm...apa?" Farel menghebuskan napas kasar, masih berjalan melewati jembatan gantung yang cukup panjang.
"Aku punya banyak uang tabungan, jangan pernah meremehkanku lagi," Dimas menyombongkan diri menunjukkan kelebihannya.
"Aku juga, waktu seusia denganmu mempunyai banyak tabungan. Tapi aku habiskan semuanya..." Farel tertawa kecil.
"Untuk apa!?" Dimas mengenyitkan keningnya.
"Ada anak perempuan manja, yang selalu bergantung padaku. Aku membelikan beberapa hal kecil untuk menjaganya tetap tersenyum... saat itulah aku bahagia..." Farel menghebuskan napas kasar, menatap ke arah aliran sungai dengan latar langit yang mulai memerah.
"Adakah orang yang ingin kamu bahagiakan!?" lanjut Farel sambil terus berjalan.
"Ada... kakakku, saat denganmu dia tersenyum..." ucapnya dengan ragu.
"Karena aku adalah kakak iparmu..." Farel tertawa kecil.
"Aku lebih menyukai kak Daniel!!" Dimas berucap. Memegang pakaian Farel erat, menemukan sosok orang yang bagaikan seperti pelindungnya.
Sial!! Berat!! Makan apa saja anak ini, seharusnya aku memesan taksi online saja, dari pada membuat adegan mengharukan yang menyiksa diriku sendiri...
Bersambung
__ADS_1