
Mobil mulai melaju dengan kecepatan sedang, di tengah hujan deras yang mengguyur. Senyuman di wajah sang pria bertopi menghilang,"Sayangnya tidak dapat melihat detik-detik kematiannya. Anak Lery itu!! Dasar p*lacur tengik tidak sabaran..." umpatnya merasa tidak puas.
Jeny menghembuskan napas kasar, jam sudah menunjukkan pukul 10 malam."Aku pulang terlambat..." gumamnya, mulai menginjak pedal gasnya lebih dalam, ingin segera bertemu dengan suami dan putranya yang menggemaskan.
Perlahan mobil mulai melaju di jalanan menurun. Wanita itu, menginjak pedal remnya pelan, namun kecepatannya tidak berkurang. Malah bertambah akibat kontur jalanan.
"Kenapa begini?" ucapnya dalam kepanikan, berkali kali kembali menginjak pedal remnya. Namun, tanpa hasil, Jeny mulai menangis ketakutan dalam kepanikan.
Beberapa menit mobilnya melaju dengan kecepatan tinggi, sulit untuk dikendalikan. Hingga, sebuah tikungan tajam yang berbatasan dengan sungai terlihat...
Druak....
Suara memekik terdengar, pecahan kaca berserakan. Gelap dan dingin, itulah yang dirasakan Jeny setelahnya.
***
Waktu sudah menunjukkan pukul empat dini hari, Dimas sedari tadi telah makan terlebih dahulu, kemudian masuk ke dalam kamarnya. Sedang Farel, tiada hentinya menatap ke arah pintu masuk. Menunggu kedatangan istrinya. Sesekali pergi ke kamar, menidurkan putranya jika terbangun.
"Nona kemana?" gumamnya membaringkan tubuhnya di sofa, telah berkali-kali mencoba menghubungi istrinya. Namun, tanpa hasil.
Hingga akhirnya Farel menyerah, mulai menghubungi ibunya. Untuk menggantikannya menjaga Rafa yang saat ini tengah tertidur lelap.
***
Mobil milik Farel melaju menuju kantor EO istrinya. Matanya menelisik mengamati jalanan yang dilaluinya, hingga sebuah mobil hampir hancur sempurna terlihat di tepi jalan.
Polisi mengatur lalu lintas seusai kecelakaan besar yang terjadi. Mata Farel membulat sempurna, mulai memarkirkan mobilnya di tepi jalan raya.
"Nona..." panggilnya dalam kepanikan menatap mobil istrinya, berlari keluar di tengah derasnya hujan.
"Tenang dulu, anda siapa?" seorang pria berpakaian polisi menanyakan.
"Itu mobil istri saya!!" ucapnya menatap mobil hitam yang remuk, akibat di tabrak oleh mobil lainnya.
"Korban kecelakaan sudah dibawa ke rumah sakit Permata..." sang polisi menghembuskan napas kasar, kembali mengatur lalu lintas sembari menanti lokasi kecelakaan yang masih dibersihkan.
Mata Farel memerah menahan air matanya, berharap istrinya baik-baik saja.
Dengan cepat kembali melajukan mobilnya menuju rumah sakit, sesekali mengusap kasar wajahnya."Nona..." ucapnya dalam penyesalan, kenapa tidak dirinya saja yang menjemput Jeny? Aku memang suami yang tidak berguna... mungkin begitulah umpatan dalam hatinya pada dirinya sendiri.
***
"Apa ada pasien kecelakaan yang baru masuk?" tanyanya dengan pakaian yang basah kuyup, air hujan masih menetes dari pakaiannya membasahi lantai.
"Pasien dengan kartu identitas atas nama Jeny dan satu lagi Indra..." ucap sang staf administrasi rumah sakit permata, memeriksa data pasien yang baru masuk.
"Atas nama Jeny!!" jawabnya dalam kepanikan.
__ADS_1
"Ruang inap Mawar no 27..." sang staf memberikan informasi.
***
Seorang pemuda berlari menelusuri lorong, berharap tidak terjadi apapun pada istrinya. Sesekali langkahnya tergelincir akibat air hujan yang sebelumnya membasahi pakaian hingga sepatunya.
"Jeny..." lirihnya, bangkit setelah terjatuh di lantai. Kembali berjalan cepat, dengan perasaan cemas. Hatinya terasa berat, bagaikan ditikam. Berharap nonanya baik-baik saja, kembali tersenyum padanya, bahkan marah dan memerintahnya, itulah harapannya.
Ruangan itu mulai terlihat, sebuah ruangan yang mungkin tidak dapat disewa sembarang orang. Farel menghentikan langkahnya, membuka pintu ruang rawat.
Lega? Begitulah perasaannya saat ini. Menatap Jeny yang berada di tempat tidur pasien.
"Nona..." ucapnya berjalan cepat menuju tempat tidur, menggengam erat jemari tangan istrinya.
"Ren? Lepas!!" Jeny menepis jemari tangan dingin suaminya, setelah mendengar suara yang sangat dikenalnya."Pergi!! Aku membencimu!!" ucapnya berteriak histeris.
"Nona, ini aku Ren!!" Farel menitikkan air matanya, memeluk erat tubuh Jeny. Namun, penolakan yang didapatkannya.
"Lepas!! Pergi!! Dasar tidak tau malu!! Benalu!! Br*sek!! Kurang ajar!!" bentaknya penuh umpatan, mendorong tubuh Farel.
"Pergi sekarang!! Suami tidak berguna!! Aku tidak ingin melihat wajahmu!! Aaaarrrgghhh..." Jeny terus-menerus mengumpat kesal, tangannya meraba ke arah meja, menjatuhkan vas bunga, serta segelas air yang terletak disana.
"Indra usir dia!!" lanjutnya dengan intonasi tinggi, meminta bantuan pemuda yang duduk di sofa ruangan VVIP itu.
Seorang pemuda yang juga terluka di bagian kepala dan lengannya. Memegang bahu Farel, membantunya bangkit dari lantai setelah di dorong istrinya.
Pintu di tutupnya bagaikan telah mengusir Farel pergi dari ruangan. Namun, Farel masih tetap disana menyaksikan istrinya terisak dengan mata yang masih di perban.
"A... apa dia sudah pergi?" tanyanya dengan nada suara bergetar, pada sosok pemuda yang menungguinya sedari tadi.
"Sudah..." dustanya, duduk di kursi samping tempat tidur Jeny, sedikit melirik ke arah Farel yang terdiam di sudut ruangan dengan air mata yang menetes.
"Saat aku mendorongnya, dia terjatuh. Apa dia terluka?" Jeny nampak cemas,"Bagaimana raut wajahnya? Apa dia kecewa? Apa dia akan membenciku?'' tanyanya.
"Jika mencemaskan suamimu, jangan mengusirnya..." Indra menghembuskan napas kasar
"Tapi, aku sekarang cacat!!" Jeny terisak menepuk-nepuk dadanya yang terasa sesak.
"Dokter mengatakan, jika kamu mendapatkan donor kornea maka kamu akan dapat melihat lagi. Jadi jangan menyerah, jangan mendorong orang yang menyayangimu menjauh..." Indra memberikan nasehat.
Suara Jeny lebih berat, menahan tangisannya,"Kamu tidak mengerti!! Aku yang dulu, hanya sampah dan barang bekas mantan suamiku, lalu sekarang wanita yang bahkan tidak bisa melihat!! Aku disandingkan dengannya yang baik dan sempurna? Itu adalah lelucon,"
Farel diam tertegun, air matanya tidak hentinya mengalir di pipinya. Suami yang tidak becus? Itulah dirinya. Bahkan istrinya sampai saat ini, masih menyimpan rasa rendah diri yang tidak diketahuinya.
"Dia kelihatannya, menyayangi dan bisa menerima bagaimanapun keadaanmu..." Indra menghebuskan napas kasar meyakinkan.
Jeny menunduk menggeleng gelengkan kepalanya,"Dia terlalu baik, dia pantas mendapatkan yang lebih baik,"
__ADS_1
"Tapi..." Indra melirik ke arah Farel.
"Aku masih memiliki harga diri, aku tidak ingin membuatnya mengurus dan mengasihaniku seumur hidupnya. Sekali lagi, terimakasih..." Jeny berusaha tersenyum, namun dari nada suaranya bagaikan menahan tangisnya.
"Aku keluar dulu..." Indra kembali menghebuskan napas kasar, mulai bangkit dari kursi. Diikuti langkah Farel yang keluar mengikutinya.
"Apa yang terjadi?" tanyanya setelah jauh dari ruang rawat Jeny.
"Perkenalkan, namaku Indra, beberapa hari ini ada orang yang menugaskanku menjaga istri dan putramu," Indra tersenyum, mengulurkan tangannya.
Farel tidak merespon malah kembali bertanya,"Siapa yang menugaskanmu? Apa kakekku?"
Indra menurunkan tangannya, mengurungkan niatnya untuk berkenalan secara formal,"Begini, akulah yang menabrak mobil istrimu..."
Tangan Farel mencengkram kerah pakaian Indra,"Dengar jangan bermain-main denganku, atau aku akan pastikan hidupmu sepenuhnya akan hancur..." ucapnya menatap tajam, bagaikan iblis.
"Tenang dulu, aku sudah bilang aku yang ditugaskan menjaga istrimu kan? Rem mobilnya blog, dia hampir menabrak tiang pembatas jalan, yang di bawahnya ada sungai. Jadi aku terpaksa menabraknya agar dia tidak mengalami luka lebih parah. Kamu lihat sendiri, aku juga terluka kan...?" Indra menunjukkan luka di kepalanya.
"Siapa yang menugaskanmu? Dan siapa yang ingin mencelakai istriku? Jeny tidak punya musuh..." Farel mengenyitkan keningnya, tidak mengerti.
"Fikirkanlah! Besok jika ada wanita yang sengaja atau tidak bertemu denganmu, mungkin dialah pelakunya. Bagaimana rasanya menjadi cucu menantu dari Tuan Taka sekaligus istri dari pemilik JH Corporation? Terkadang rasa iri seorang wanita sangat mengerikian..." jawab Indra ambigu,"Tentang yang menugaskanku melindungi istrimu, dia berkata, nanti siang akan menemuimu secara khusus," lanjutnya.
Farel melangkah hendak kembali masuk, namun tangan Indra menghentikannya."Kamu ingin istrimu mengamuk dan mengata-ngataimu lagi,"
"Aku harus menemaninya..." Farel bersikukuh.
"Aku ada ide..." Indra menyeringai tersenyum licik.
***
"Perawat," tangan Jeny meraba saklar yang berada di samping tempat tidurnya.
"Ada apa? Saya perawat yang ditugaskan khusus di ruangan ini..." ucap Farel menahan rasa malunya, mengingat ruangan VVIP di rumah sakit itu memang terdapat satu perawat yang ditugaskan khusus mengurusi satu pasien. Sementara Indra mati matian menahan tawanya, menatap dari jendela pintu kamar.
"Tolong, saya ingin ke kamar mandi, perut saya sakit," ucap Jeny, mencari asal sumber suara mulai meraba-raba.
"Akan saya antar..." Farel menghebuskan napas kasar, membimbing jemari tangan Jeny, yang sedikit meraba pakaiannya.
"Saya mungkin akan menginap beberapa hari disini, dan sering meminta bantuan suster..." ucap Jeny, dalam bimbingan Farel.
Suster? Benar suster, siapa yang mau di layani ke kamar mandi oleh perawat pria. Jadilah, seorang Farel mengenakan rok putih, mengubah sedikit suaranya bagaikan perempuan. Hanya untuk menjaga istrinya.
Indra mulai tertawa lepas memegangi perutnya,"Suster yang cantik!!" ucapnya kembali tertawa mengingat sosok pemuda yang memakai rok putih lengkap dengan topi seorang suster.
Farel menghebuskan napas kasar mendengar suara tawa dari luar, Sudahlah, yang terpenting nona tidak menolakku lagi... gumamnya tersenyum tulus, membimbing Jeny menuju kamar mandi.
Bersambung
__ADS_1