Asisten Nona Muda

Asisten Nona Muda
Pacar Tomy?


__ADS_3

Seorang anak berkacamata dengan tubuhnya pendek, mengulurkan tangannya. "Ini untukmu..." ucapnya, penuh senyuman.


"Enak..." ucap Jeny remaja, tersenyum meraih sebungkus coklat yang diberikan seorang remaja, kemudian memakannya.


"Ren... sekarang sudah siang, ayo kita berangkat," Dony tersenyum menatap dari luar.


"Sebentar lagi, bolehkah aku bermain sedikit lebih lama dengan nona?" tanyanya pada Dony, dijawab dengan anggukan oleh pria yang memakai seragam dinasnya itu.


"Kalian akan kemana?" Jeny mengenyitkan keningnya.


Ren tidak menjawab, menarik tangan Jeny keluar dari kamar. Remaja itu, berjalan menelusuri lorong rumah, posisi barang mirip dengan 14 tahun yang lalu.


Jeny tertegun mengamati sekitarnya, sejenak perhatiannya teralih menatap punggung kurus remaja yang berjalan di hadapannya.


"Ren, kita akan kemana?" tanyanya.


Remaja itu terus berjalan tanpa menoleh ke belakang, kemudian berucap,"Aku ingin tumbuh besar bersama nona..." jawabnya.


Pintu utama rumah mulai terbuka, jemari tangan Jeny ditarik. Tubuh Ren terlihat sedikit lebih tinggi, kulitnya semakin bersih,"Aku membuatkan sarapan..." ucapnya penuh senyuman, duduk di bangku taman halaman rumah lama mereka.


Satu suapan demi satu suapan dimasukkannya ke dalam mulut Jeny yang tersenyum padanya. Aneh, sekaligus bahagia, Jeny hanya tersenyum menikmati semuanya saja.


"Nona, bagaimana jika kita setelah ini ke sekolah?" tanyanya.


"Sekolah? Bukannya kamu sudah..." kata-kata Jeny terhenti, Ren remaja berlari meninggalkannya ke area belakang rumah. Tubuhnya sedikit lebih meninggi lagi, kacamata juga sudah tidak dikenakannya. Memakai seragam SMU.


Jeny terdiam, piama yang dikenakannya berubah menjadi seragam SMU."Naiklah..." ucap Ren menepuk kursi belakang sepeda tuanya.


Angin menerpa wajah kedua orang remaja itu, Ren tersenyum tanpa banyak bicara, mengamati Jeny memeluk erat punggungnya.


Hangat, begitulah perasaan Jeny saat ini, tidak ingin melewati satupun moments tidak masuk akal ini. Jalanan menurun penuh tikungan dilalui mereka, guguran daun kering terjatuh di sepanjang jalan.


"Ren...aku menyukaimu..." ucap Jeny.


Ren hanya tersenyum, tanpa membalas kata-kata nonanya. Sepeda mereka terhenti di sebuah sekolah SMU, tempat Jeny bersekolah dulu. Masa SMU dimana seharusnya Ren tidak ada di dalamnya.


Guru menjelaskan beberapa materi yang tidak mereka dengarkan. Duduk berdampingan dengan remaja yang dicintainya. Jeny menatap wajah itu tanpa berkedip sedikitpun, wajah yang nampak lebih rupawan. Tangan Ren, menggengam jemari Jeny di bawah meja, seakan takut akan kehilangan.


"Ren kenapa kamu menyukaiku?" Jeny kembali bertanya dengan suara kecil.


Ren menggeleng-gelengkan kepalanya,"Tidak memerlukan alasan untuk mencintaimu..." jawabnya, tersenyum tulus.

__ADS_1


Bel berdering...


Para siswa keluar dari ruangan. Remaja itu kembali menarik tangan Jeny, seolah-olah terburu-buru tidak ingin waktunya yang sedikit habis.


"Kenapa buru-buru?" Jeny mengenyitkan keningnya.


"Kita akan berkencan," jawabnya, menarik jemari Jeny keluar dari kelas.


Suasana kembali berubah, koridor sekolah lenyap berganti hamparan lahan kosong luas dengan rumput dan beberapa pepohonan. Jeny menoleh menatap remaja di sampingnya, namun bukan remaja lagi, kali ini sosok Ren yang sudah dewasalah yang terlihat.


Sosok yang dikenal dengan nama Farel, tersenyum padanya, membawa keranjang piknik. Pakaian yang dikenakan Jeny juga berubah, menjadi pakaian santai, dengan tubuh sudah terlihat dewasa.


Alas duduk diletakkan Farel di bawah pohon, keranjang piknik diletakkan di atasnya. Duduk menyender dengan pohon menyangga punggungnya. Jeny mulai duduk berdampingan dengannya, menyenderkan diri pada dada bidang Farel. Headset yang dikenakan Farel salah satu ujungnya dikenakan pemuda itu pada telinga Jeny.


"Apa nona senang?" tanyanya pada Jeny.


Jeny mengangguk, menikmati udara sore yang segar, serta music yang mereka dengarkan dari earphone.


"Aku mulai serakah, ingin menghabiskan masa tua dengan nona, menggenggam tangan keriput nonaku..." ucapnya tersenyum pahit.


Jeny menonggakkan kepalanya, menggengam erat jemari tangan Farel. Senja berganti gelap, seiiring kunang-kunang yang terbang terkena terpaan angin.


"Nona, terimakasih sudah mencintaiku, terimakasih membalas perasaanku yang pengecut ini," Farel mengeluarkan darah dari pelipis serta mulutnya.


"Ren..." Jeny terbata-bata, meraba pelipis suaminya. Tidak satupun kata dapat keluar dari mulutnya.


"Aku mencintaimu..." air mata Farel mengalir. Luka di tubuhnya bertambah, darah mengalir dari kemeja putih yang dikenakannya bagaikan luka tembakan yang menembus dari dada hingga punggungnya.


Pemuda itu, meraba wajah Jeny, "Jika aku tidak ada nanti, anggaplah aku hanya menyatu dengan udara. Agar kamu dapat menemuiku di semua tempat, agar nona tidak merindukanku lagi..." ucapnya.


Samar-samar terlihat Dony berdiri di belakang Farel, bagaikan menanti putra angkatnya, lengkap memakai seragam dinasnya. Jemari tangan Farel, berusaha meraih wajah Jeny, namun tubuh itu berubah menjadi ribuan kunang-kunang yang beterbangan. Sama halnya dengan tubuh Dony yang menghilang bersama tubuh Farel.


"A...ayah...Ren!!" Jeny menangis berteriak, berusaha menggapai cahaya yang terbang menghilang entah kemana.


Napas Jeny terengah-engah, bangkit duduk di tempat tidurnya, keringat dinginnya bercucuran. "Mimpi...?" gumamnya, dengan air mata yang mengalir mengamati keadaan sekitarnya.


"Nona?" Farel terlihat cemas, mengenakan pakaian tidurnya, memeluk Jeny erat.


"Bisakah kamu meminta orang lain menggantikanmu? Tidak, maksudku, kita melarikan diri bersama-sama. Kita akan tinggal di tempat yang jauh, hidup dan menua bersama..." Jeny terisak, berucap gelagapan, mengingat mimpi buruknya.


"Apa nona bermimpi buruk?" tanya Farel tersenyum lembut.

__ADS_1


"I...iya, pelipis, dada dan mulutmu mengeluarkan darah. Jangan pergi aku mohon..." tangisnya semakin lirih.


"Itu hanya mimpi, lihat aku tidak apa-apa..." Farel berusaha menenangkan Jeny.


"Darah di tanganku terasa nyata!!" Jeny membentak, kembali menitikkan air matanya tidak terkendali.


"Sudah sejauh ini, kita tidak bisa mundur..." pemuda itu menghela napas kasar, menghapus air mata istrinya.


"Kalau kamu tetap berangkat dan mati di lautan Arktik. Aku akan menikahi Tomy!!" ucapnya putus asa, berharap Farel tidak pergi.


"Aku akan pulang..." suara hangatnya terdengar, memeluk Jeny erat, mengetahui kata-kata itu keluar hanya karena emosi sesaat.


"Jangan pergi..." Jeny masih menangis, dalam pelukan suaminya.


***


Okinawa? Itulah tempat tujuan pesawat tiket yang diberikan Farel padanya. Bersembunyi selama acara pertunangan berlangsung. Sedangkan Rafa berada di Singapura, di bawah pengawasan Dilen.


Namun siapa sangka, mimpi buruknya membuat Jeny menyamar sebagai pelayan. Pelayan wanita dengan rambut pirang dan softlens biru laut. "Ini apa?" tanyanya pada Tomy.


"Alat kejut listrik, untuk melindungi diri," Tomy menghela napas kasar, menyesali keputusannya menolong Jeny untuk membohongi Farel.


"Aku tidak memerlukan alat untuk melindungi diri. Aku memerlukan alat untuk melindungi Farel" Jeny menghebuskan napas kasar.


"Jeny, Farel dilindungi orang-orang kami yang menyamar menjadi tamu dan pelayan, kali ini tidak akan ada kecerobohan seperti dulu," ucap, Tomy meyakinkan.


"Aku hanya ingin yakin, suamiku akan selamat. Aku mohon..." Jeny memelas.


"Kamu sedang hamil, bagaimana jika terjadi sesuatu pada kandunganmu?" tanyanya lagi, sebelum menaiki tangga yang terhubung dengan kapal pesiar.


"Aku akan meminta pertolongan pada dokter Tomy..." Jeny berucap penuh senyuman menarik kopernya.


"Aku ini asisten, bukan dokter!!" Tomy membentak, kesal.


"Menjadi detektif hebat bisa, koki yang memasak asinan bisa, kenapa dokter tidak?" Jeny tersenyum, mengenyitkan keningnya, berjalan berlalu meninggalkan Tomy, menapaki tangga menuju kapal pesiar.


"Dokter Tomy?" Tomy tertawa kecil, "Suami istri sama saja. Aku benar-benar membenci manusia menyusahkan sepertimu!!" bentak Tomy mengikuti langkah Jeny dengan cepat.


Farel yang tengah berbincang dengan beberapa orang pengusaha mengenyitkan keningnya, menatap Tomy mengikuti langkah seorang wanita. "Pacar Tomy?" gumamnya tidak dapat melihat wajah wanita itu dengan jelas.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2