Asisten Nona Muda

Asisten Nona Muda
Kapten Tomy


__ADS_3

Beberapa heli terlihat di sebuah area pelabuhan yang luas. Serta beberapa kapal speed boat khusus untuk pengejaran. Tidak begitu banyak kepolisian dari berbagai negara yang dikerahkan, mengingat peraturan untuk menangkap tersangka di wilayah laut negara yang berbeda.


Sulit? Tentu saja cukup sulit menangkap orang dengan memiliki kekuasaan di bidang ekonomi dan bisnis dunia gelap. Jika kali ini Lery melarikan diri ke perbatasan negara lain. Maka, kepolisian federal dari beberapa negara tersebut, harus meminta ijin kembali ke perbatasan negara lain, yang mungkin tidak langsung disetujui. Dengan begitu dalam waktu beberapa jam saja jejak Lery akan kembali menghilang.


Bagi kepolisian federal mungkin ini hanyalah penangkapan buronan internasional. Namun, bagi Gabriel ini adalah kesempatan hidup dan mati keluarganya.


Pria berjas hitam itu, mengirim kordinat keberadaan kapal pesiar di tengah alunan music klasik tempat pesta berlangsung. Meminum minumannya dengan tenang, wajahnya nampak tersenyum, namun dalam dirinya memiliki firasat buruk.


Beberapa pengawal Lery memang berjaga disana. Jumlahnya, tidak sebanding dengan jumlah polisi federal serta orang-orang kepercayaan Taka. Ada yang janggal, begitulah yang ada dalam fikiran Gabriel, tidak menyadari pergerakan Lery.


Mengetahui semuanya? Tidak semuanya, hanya mengetahui tentang Farel yang telah memberikan data-data kejahatannya pada kepolisian federal, hanya itulah yang diketahui Lery. Mengantisipasi keadaan? Mungkin hampir semuanya sudah ada dalam kendali pria tengah di buru kepolisian federal itu.


Suasana tenang dari musik buffett yang mengalun. Kini telah berubah, music klasik yang terkesan romantis terdengar, bersamaan dengan senyuman dua orang muda-mudi yang memasuki ruang pesta. Pasangan yang nampak serasi walaupun sang wanita terlihat jelas berdarah barat, sedangkan sang pria berdarah Asia timur.


Menapaki karpet merah menuju panggung, menjadi pusat perhatian semua orang. Termasuk Lery, yang hanya tersenyum ke arah Farel.


Mata Farel menelisik, pengawalnya yang menyamar sebagai pelayan dan tamu undangan lengkap berada di dekat panggung. Ini akan segera selesai, aku dapat hidup bersama nona dan kedua anak kami setelah ini... gumamnya dalam hati.


Entah kenapa setetes air mata pemuda yang berjalan sembari tersenyum itu mengalir. Haruskah menaiki panggung di hadapannya? Dirinya tiba-tiba tidak ingin, namun ini harus dilakukannya.


Tidak akan terjadi apa-apa... Farel meyakinkan dirinya sendiri.


Clarissa mengenyitkan keningnya, "Kamu kenapa?" tanyanya dengan suara kecil, tidak sengaja melihat setetes air mata mengalir dari salah satu mata sepupunya.


"Tidak apa-apa, kita hanya perlu melangkah beberapa langkah lagi, semuanya akan berakhir dengan baik..." ucapnya menggenggam jemari tangan Clarissa, bagaikan ketakutan.


Ketakutan? Entah kenapa semua sudah sesuai perhitungan. Namun, terasa menyakitkan. Dari mana berasalnya rasa sakit ini? Dirinya tidak tahu sama sekali.


***


Sementara itu di tempat penyimpanan barang-barang...


"Maaf..." Tomy menghebuskan napas kasar, setelah mengikat tubuh Jeny, dan melakban mulutnya.


Pintu tempat penyimpanan di tutupnya. Pemuda itu, kembali menghebuskan napas kasar berjalan menelusuri lorong, enggan menuju ballroom. Geladak kapal yang sepi menjadi tujuannya berkeinginan menenangkan diri ditengah beban pekerjaannya.


Beberapa langkah dirinya berjalan hingga terlihat seorang pengawal Lery diikuti beberapa orang bersenjata, mencari posisi untuk bersembunyi.


Gawat... Tomy membulatkan matanya, segera bersembunyi di balik beberapa kotak kayu.


Farel, aku harus melapor padanya... tangan dan kakinya gemetar mengingat jumlah orang yang memasuki kapal diam-diam tidak sedikit. Menyelamatkan bos pelitnya? Itulah prioritasnya saat ini. Dengan cepat mencoba melangkah, namun sial, sebuah tali besar menyandung kakinya yang memang sudah lemas akibat ketakutan.


"Siapa!?" salah satu pengawal Lery melangkah mendekati asal suara.


"Meaw..." suara kucing ditirunya.


Sial... dengan cepat Tomy berlari asal, mengingat jalan masuk menuju tempat pesta dilalui orang-orang Lery, akhirnya Tomy masuk ke dalam anjungan kapal (ruang kemudi).


"Kamu siapa!?" sang kapten kapal mengenyitkan keningnya.


"Tolong bantu saya..." Tomy memelas, memegang tangan sang kapten kapal.

__ADS_1


***


Brak...


Pintu anjungan kapal dibuka paksa oleh sekelompok orang bersenjata. "Ini pembajakan, ikuti perintah kami angkat tangan kalian!! Jika tidak kru dan penumpang akan kami bunuh satu persatu!!" bentak salah seorang tentara bayaran yang disewa Lery.


Hampir semua orang mengangkat tangannya kecuali kapten kapal yang memakai baju kebesaran. Pria yang nampak berusia muda itu mengenyitkan keningnya.


"Kalian mau kapal ini tenggelam kalau kami semua angkat tangan?" tanyanya menatap tajam.


"Kami yang akan mengemudikan kapal!! Angkat tangan atau kami tembak satu persatu!!" tentara bayaran Lery kembali membentak.


Pemuda berpakaian kapten kapal itu nampak gusar,"Aku tidak ingin mati di lautan Artktik. Kami sudah biasa mengendalikan kapal di tengah es yang mengapung. Kalian tentara tau apa?" Tomy mulai menangis, menitikkan air mata palsunya.


"Titanic adalah contoh nyata menyepelekan gunung es yang tersembunyi!! Ribuan nyawa orang di kapal ini apa kalian peduli!!" ucapnya bagaikan kapten kapal yang baik.


Istilah lainnya jangan bunuh kami... gumam Tomy dalam hatinya.


Orang-orang profesional itu mulai saling melirik, rute laut Arktik yang di penuhi es memang cukup sulit bagi kapal pesiar berukuran besar. Mengendalikan kapal pesiar? Mungkin mereka dapat melakukannya, namun di rute alam yang buruk seperti laut Arktik?


"Baik, kalian yang mengendalikan mesin, tapi kami akan mengawasi kalian!!" bentak salah seorang yang memegang senjata.


Bos pelit, maaf aku baru bisa menyelamatkan diriku sendiri. Semoga saja kamu bisa tetap hidup... Tomy menghebuskan napas kasar.


"Kemudikan sesuai perintah mereka..." ucap Tomy pada kru kapal, mengeluarkan kharisma seorang kapten kapal.


Perlahan Tomy melangkah mendekati seorang pria paruh baya yang tengah konsentrasi mengemudikan kapal. "Terimakasih..." ucap kapten kapal yang sebenarnya.


"Itu baru aku pakai sekali, tapi temanku tidak sengaja muntah di bagian belakangnya. Tenang dia hanya mengeluarkan air, dia belum sempat makan sedikitpun, sebelum muntah. Tapi sayangnya belum sempat aku cuci setelah itu..." kapten kapal yang telah melepaskan semua atributnya itu, menipiskan bibir menahan tawanya.


"Aku mual..." Tomy menutup mulutnya, menahan rasa mual, masih berdiri penuh kharisma.


Untuk pertama kalinya aku menjadi kapten Tomy dan memakai baju yang pernah terkena muntahan? Tenang jaga kharisma, tahan rasa jijik mu... ucapnya dalam hati meyakinkan dirinya sendiri.


***


Langkah pasangan itu menaiki panggung, seorang gadis datang membawa sepasang cincin.


Farel memejamkan matanya sejenak, setelah dirasanya tenang, pemuda itu berjalan melangkah merebut microfone dari MC acara.


Semua orang tertegun diam, alunan musik indah terhenti sejenak.


"Maaf..." Farel menuduk di hadapan tamu undangan. Kemudian kembali berdiri tegak, mulai berbicara.


"Hari ini saya telah menyia-nyiakan waktu kalian, saya minta maaf untuk itu,"


Taka yang melihat dari lantai dua ballroom tersenyum, menanti dendam kematian putrinya akan terbalaskan walaupun bukan dengan membunuh Lery. Namun, pria itu membusuk di penjara, sudah cukup untuknya. Menatap cucu kebanggaannya sendiri yang akan menangkap pembunuh putrinya.


"Tujuan saya mengadakan pesta ini bukan untuk bertunangan melainkan..." kata-kata Farel terhenti, dalam kesunyian itu Lery tertawa, bertepuk tangan, mulai bangkit dari kursi tempatnya duduk.


Sniper yang bersembunyi di ballroom mulai menampakkan diri. Bersamaan dengan orang-orang Taka yang berada di antara para tamu dan undangan, mengacungkan senjata mereka menjadikan tubuh mereka sebagai perisai melindungi Farel. Para tamu berteriak ketakutan, berjongkok hanya itu pilihan mereka mengingat pintu keluar dijaga orang-orang bersenjata.

__ADS_1


"Sial!!" Gabriel yang berdiri di dekat Taka mengumpat, berjalan cepat meninggalkan ruang perjamuan.


Sedang, kakek tua yang dijaga oleh pengawal kepercayaannya itu membisu, tangannya gemetar untuk kedua kalinya. Menatap Farel di atas panggung, bagaikan jenazah putrinya yang mendingin dalam keadaan tergantung.


"Kepolisian federal? Kamu kira dapat menghentikanku? Kamu masih terlalu muda, Taka terlalu memandang tinggi dirimu, hanya untuk membalas dendam menggunakan cucu tunggalnya...?" ucap Lery tertawa, berjalan mendekati panggung.


Wajah dingin Farel terlihat. Takut? bukan itu, dia akan melakukannya jika ini adalah satu-satunya cara untuk melindungi dan hidup bahagia bersama keluarga kecilnya,"Keadaan kita seimbang..." ucapnya.


"Benar, jika dipaksakan kita akan mati disini, untuk itu. Bagaimana jika kamu mati terlebih dahulu..." Lery masih setia tersenyum menghentikan langkahnya.


"Putramu ada dimana? Singapura? Kami tidak bisa mengambilnya karena ayahmu (Dilen) membawanya berkunjung ke rumah pejabat bersamanya. Tapi istrimu? Okinawa?" lanjutnya.


Wajah Farel pucat pasi, menatap Lery yang kembali melangkah mendekatinya seakan tidak peduli dengan pengawal Taka yang menodongkan senjata padanya.


"Jauh di villa daerah pelosok, dengan penjagaan yang ketat. Orang-orangku sudah mengepung villa. Hanya sekitar sebelas orang penjaga? Mereka akan dihabisi dengan mudah..." ucapnya berada tepat di depan Farel.


"Aku tidak mencintai istriku," Farel mengepalkan tangannya, menghela napasnya berusaha tersenyum.


"Jika tidak menyukainya, aku akan membunuhnya..." ancam Lery.


Farel tidak bisa menahan emosinya lagi, air matanya mengalir,"Biarkan dia hidup, jangan memberi perintah untuk menyerang villa, aku akan mengikuti semua keinginanmu..." ucapnya putus asa.


"Aku ingin kamu mengakhiri nyawamu sendiri..." Lery mendekat kemudian berbisik, memberikan senjata api ke tangan Farel.


Farel tertunduk,"Turunkan senjata kalian..." perintahnya pada penjaga di sekitarnya, pertanda dirinya menyerah.


Lery tersenyum, "Taka!! Hari ini cucu angkatmu yang akan mati!! Sama seperti putrimu..."


"Tembak dia!! Apa yang kalian lakukan!!" Taka membentak berteriak dari atas sana, air mata mengalir di pipi keriputnya.


"Kakek, hentikan!! Ini keputusanku, jika dia ingkar janji dan tetap membunuh Jeny. Tolong balaskan dendam cucumu yang nakal ini..." ucap Farel tersenyum, meneteskan air matanya, menggengam erat senjata api pemberian Lery di tangannya.


"Ayah, tidak bisakah..." Clarissa mendekati Lery.


"Kamu bukan putriku lagi, orang yang berpihak pada pengkhianat..." ucapnya menatap sinis pada Clarissa.


"Seret dia..." perintah Lery pada orang-orangnya.


Dua orang bersenjata menyeret Farel, menuju geladak kapal. Diikuti puluhan sniper lainnya. Geladak? Kenapa harus di geladak kapal? Tentunya untuk mempermudah Lery melarikan diri setelah kematian Farel.


Kaki tua yang gemetar melangkah mencoba mengejar punggung cucunya yang diseret dua orang tentara bayaran milik Lery... Apa ini karena keinginanku untuk balas dendam? Apa membalaskan dendam kematian putriku salah...


Mungkin keadaan mentalnya yang tiba-tiba melemah, Taka terjatuh. Salah seorang pengawalnya membantunya berdiri, "Jangan biarkan cucuku mati..." ucapnya dalam tangisan.


Angin berhembus meniup rambut seorang pemuda rupawan, langit malam di penuhi bintang dilihatnya."Saatnya mengembalikan nyawa yang aku pinjam darimu..." gumamnya mengingat sosok ayah mertuanya.


Bersambung


......Aku merindukanmu. Memimpikan saat kebersamaan kita yang sederhana. Lelahnya kakiku mengayuh sepeda tua, tidak akan terasa kala jemari tanganmu memeluk erat pinggangku, kepalamu menyender di punggungku seakan telah melewati hari yang lelah, aku bahagia......


...... Jika bisa mengulangi waktu, aku ingin menghabiskan masa remaja hingga dewasa denganmu. Menggenggam jemari tanganmu dibalik selimut hangat di pagi yang dingin, hingga kita menua nanti......

__ADS_1


Farel...


__ADS_2