Asisten Nona Muda

Asisten Nona Muda
Tidak Mampu Mencintai (love for psycopath)


__ADS_3

Tomy bangkit dari tempatnya berjongkok, memasukkan semprotan luminol kecil di sakunya. Kemudian melanjutkan dramanya berusaha untuk tersenyum,"Aku hanya ingin mengenangnya, paman tidak akan mengerti..." ucapnya menitikkan air mata di hadapan Hans. Mulai berjalan pergi terhuyung penuh kedukaan beberapa langkah.


Dia jangan-jangan adalah fans fanatiknya. Matilah aku jika diajak membicarakan tentang Renata... Tomy berjalan penuh kecemasan dalam hatinya.


Dan benar saja,"Tunggu..." pria itu berucap.


Keringat dingin mengucur di pelipis Tomy,"Ada yang ingin aku tanyakan" lanjutnya, memasukkan kembali pisau lipatnya, tanpa disadari Tomy.


Wajah Hans nampak tersenyum ramah, tepatnya berpura-pura tersenyum, menatap Tomy yang menoleh padanya."Tentang apa?"


"Kita bicara di tempat lain..." mata Hans menelisik mencari tempat yang tenang dan sepi.


***


Angin malam yang dingin menerpa rambut terikat rapi seorang pria yang meminum sekaleng soda di tangannya. Sesekali, dirinya menutup matanya, tidak pernah mengerti dengan emosi seseorang. Berpura-pura tersenyum dan mengiba, melakukan banyak kebohongan. Tinggal di dunia yang dianggapnya munafik ini.


"Paman ingin bertanya tentang apa?" tanyanya, mengeluarkan keringat dingin, ikut meminum soda yang dibelinya. Satu hal yang ditakutkannya, jika dirinya ditanyakan tentang Renata oleh orang yang mengaku fansnya ini.


"Kamu bilang wanita yang meninggal itu cinta pertamamu kan? Bagaimana rasanya jika dia tidak ada?" tanyanya menunjukkan senyuman palsunya, dilantai teratas gedung pencakar langit tersebut.


"Hanya itu?" Tomy mengenyitkan keningnya, melepaskan kacamatanya, membayangkan jika dirinya jatuh cinta untuk pertama kalinya pada seseorang.


"Iya, aku tidak mengerti dengan perasaan seseorang. Dia tiba-tiba tersenyum, tiba-tiba menangis, dan tiba-tiba mati..." ucap Hans sembari tersenyum, namun jika melihat ke dalam matanya. Terlihat banyak luka yang disembunyikan. Mati rasa, mungkin itulah yang terjadi pada hatinya.


"Cinta pertama ya? Mungkin lebih seperti rasa syukur, dapat menyukai seseorang untuk pertama kalinya. Bahagia dan berdebar jika dengannya. Mungkin itulah kesan yang tertinggal dalam hati cinta pertama," Tomy tersenyum menatap pria beda usia yang duduk di sampingnya.


"Jika bersyukur kenapa memutuskan untuk mati? Jika bersyukur kenapa harus menangis? Benar-benar munafik..." umpatnya tertawa kecil.


"Bukan munafik, tapi naif, terkadang orang seperti itulah yang terkuat. Dapat menekan luka di hatinya..." Tomy menghembuskan napas kasar.


"Tapi dia mati..." Hans mulai berhenti tersenyum, meminum sodanya menatap ke arah deretan gedung pencakar langit."Jika Tuhan memang ada, orang senaif dirinya akan hidup dengan bahagia. Tuhan? Itu hanya lelucon..." umpatnya kembali tertawa kecil.


"Kadang aku juga berpikir begitu, apakah yang disebut Tuhan itu ada,? Tapi setiap melihat kebaikan orang lain, aku melihat Tuhan di dalam diri mereka. Itulah yang aku yakini... Bagaimana?" Tomy mengenyitkan keningnya.


"Bagaimana apanya?" Hans menatap pemuda yang duduk di sampingnya.


"Apa paman melihat Tuhan dalam senyuman tulusnya?" tanyanya.


Hans terdiam, sedikit tersenyum, kemudian mengangguk."Bukan, sosok Tuhan yang manis dan welas asih. Tapi Tuhan yang menghujat ku..."


30 tahun yang lalu...


Hans menyunggingkan senyumnya, kembali memakai maskernya, di usianya yang kini menginjak 19 tahun. Tubuh seorang pria yang lebih besar darinya diseretnya dalam keadaan belum benar-benar meninggal, ke dalam hutan, menuju arah sungai, kemudian menenggelamkan dengan pemberat. Tersenyum membayangkan penderitaan pria tenggelam kehabisan napas menjelang ajalnya.


Pemuda itu kembali keluar dari hutan, hendak menyetir mobilnya. Namun, di tengah hujan gerimis itu seorang gadis berpakaian SMU yang sedikit robek menghentikannya, memakai tubuhnya sebagai perisai menghentikan mobil.


"Terimakasih..." ucapnya menunduk sembari menangis penuh haru, mendekati jendela mobil pengemudi.


"Aku lupa ada saksi disini..." Hans turun dari mobilnya, nampak tersenyum. Hendak menyingkirkan satu-satunya saksi tunggal pembunuhan yang dilakukannya atas keinginan Lery. Seorang saksi yang hampir dilecehkan guru privatnya.


Wajahnya tersenyum, mencekik Hyeri yang tidak melawan sama sekali, hanya senyuman yang ada di wajah gadis itu.


"Kenapa tersenyum?" Hans mengenyitkan keningnya, menatap tidak suka. Seharusnya menikmati sensasi ketakutan dari calon korbannya. Tapi ini apa? Tersenyum?


"Di...dia pantas mati. Temanku bunuh diri karena dilecehkan olehnya, tadi jika kamu tidak datang aku juga dipaksa melayaninya..." ucapnya terbata-bata.


Hans melepaskan cekikan tangannya,"Lalu?" tanyanya.


"Kamu pahlawan yang keren..." ungkapan anak SMU yang tidak tahu apa-apa, entah tulus atau terlalu naif. Pembunuh iblis? Mungkin itulah imajinasinya menatap sosok Hans.


Hans tertawa lepas,"Kamu orang pertama yang mengatakan aku pahlawan setelah melihatku membunuh orang..."


"Kakak benar-benar keren, aku fans pertamamu. Hyeri..." ucapnya memperkenalkan diri mengulurkan tangannya.


Han terdiam tidak mengerti dengan gadis di hadapannya, hingga Hyeri berinisiatif menarik tangan Hans untuk berjabatan dengannya.


"Kakak namamu?" tanyanya pada pemuda yang kini tertegun diam.


"Hans..." jawabnya.


Hyeri mengeluarkan sapu tangannya, berjinjit, membersihkan sedikit noda darah yang mengotori pipi pemuda yang lebih tinggi darinya."Sudah terlihat lebih baik..." ucapnya.


Hans menghembuskan napas kasar,"Jangan pernah katakan hal yang terjadi hari ini. Jika tidak, kamu akan mati..." ancamnya untuk pertama kalinya tidak melakukan tugasnya dengan sempurna. Menyisakan seorang saksi yang tersenyum dengan naifnya padanya.

__ADS_1


"Baik, kak Hans!!" ucapnya memberi hormat, bagaikan tentara militer.


Fans? Seorang psikopat memiliki fans? Ini adalah sebuah lelucon di tengah dunia yang terlihat makin munafik saja dimata Hans...


"Tapi, bolehkah aku bertemu kak Hans lagi?" tanyanya.


Hans mengenyitkan keningnya, berucap dengan nada kesal,"Tidak, karena jika terlalu sering bertemu denganku. Lambat laun kamu akan mati!!" ucapnya kembali memasuki mobil.


Mesin mobil kembali menyala, tangan kecil mengetuk kaca mobilnya,"Bisa antar aku pulang..." tanyanya memelas.


"Tidak..." Hans tersenyum, menginjak pedal gasnya dalam-dalam, sengaja membuat gadis itu terjatuh.


"Kak Hans!! Aku tidak akan menyerah, kita akan kembali bertemu!!" ucapnya berteriak, menatap kepergian mobil pembunuh yang terlihat bagaikan pahlawan yang menyelamatkan kesuciannya di mata gadis itu.


***


Bertemu lagi? Mungkin itulah yang benar-benar terjadi. Hyeri menatap pantulan wajahnya di cermin, perlahan menancapkan hiasan rambut besi pada rambutnya. Tusuk konde dengan ukiran bunga yang menghiasi bagian ujungnya.


Hari itu adalah perayaan kelahiran putra saudara jauhnya. Kimono yang cantik menghiasi tubuhnya yang terlihat indah.


Namun di tengah acara gadis itu keluar rumah, menghirup udara segar. Berjalan mendekati sebuah toko kecil, membeli beberapa buah-buahan disana.


Dalam gang yang sepi terlihat kepulan asap dari atap sebuah rumah. Gadis itu segera berlari mendekat. Namun, matanya membulat sempurna melihat Hans tersenyum menengok dari luar jendela rumah. Penghuni rumah yang sudah tidak sadarkan diri di dalamnya karena menghirup gas karbon.


Hyeri berlari mendekat, memecahkan salah satu jendela dengan sandal jepit kayunya.


"Tunggu!! Jangan menolong, biarkan mereka mati perlahan..." ucapnya menghentikan Hyeri.


"Disana ada anak kecil!! Walaupun berbuat kesalahan, dia pantas hidup!!" Hyeri membentak.


"Berhenti!!" Hans mencengkram kuat lengan gadis itu, agar tidak menolong.


Hyeri melepaskan hiasan rambutnya, menusuk lengan Hans agar melepaskannya,"Aku harus menolongnya!!" ucapnya, mulai memasuki jendela yang pecah, tidak memperdulikan luka goresan dari kaca pada lengan dan kakinya. Hingga akhirnya membawa anak itu keluar, memberinya napas buatan berkali-kali.


"Aku akan membunuh kalian..." ucap Hans kesal.


Hyeri hanya dapat tersenyum,"Kakak akan membunuhku? Itu adalah hak mu, karena dari saat kamu menolongku. Aku adalah orangmu..."


"Bodoh!!" bentaknya.


Tidak takut? Naif? Bagaimana sifat aneh itu ada dalam diri Hyeri? Bagaimana bisa mencintai monster yang haus darah? Jalan fikiran yang sulit dimengerti. Bagaikan seekor anak kucing kecil yang diselamatkan serigala dari gonggongan anj*ng. Mengikuti serigala yang bisa kapan saja menganggapnya sebagai mangsa.


***


Anak itu ditinggalkan mereka, mungkin semua orang yang ada di dalam rumah telah meninggal kecuali sang anak yang terbaring di halaman belakang rumahnya.


Hyeri mengikuti langkah Hans dalam apartemen yang tidak begitu besar. Hanya cukup dihuni satu orang. Gadis itu tidak bertanya apa alasan Hans membunuh, hanya terdiam dan mengikuti. Jalan fikiran yang benar-benar sulit dimengerti.


Antiseptik di oleskan Hyeri pada luka Hans. Tidak memiliki empati dan rasa kasih? Itulah dirinya, Namun, entah kenapa gadis kecil yang tidak takut padanya ini, menarik perhatiannya.


Sebagai hiburan? Mungkin awalnya akan terasa begitu."Kenapa tidak takut?" tanyanya.


"Orang yang memakai topeng kebohongan lebih terlihat mengerikan, seperti guru privatku," ucapnya menutup botol obat.


"Aku yang memangsanya, berarti aku lebih mengerikan darinya!!" Hans berucap mengintimidasi.


"Aku tau, tapi sayangnya aku sekarang barang milikmu, semenjak kamu menyingkirkan guru gendut yang hampir..." Hyeri menghebuskan napas kasar.


"Kamu sepertinya meremehkanku!! Aku lebih mengerikan darinya..." ucapnya mencium bibir Hyeri penuh hasrat.


Tanpa perasaan cinta? Memang Hans tidak memahami emosi seperti yang dirasakan orang lainnya. Namun, gadis ini menarik perhatiannya, bahkan tidak menunjukkan ekspresi marah, ketakutan, ditengah kegiatannya merenggut kesucian gadis yang baru dua kali ditemuinya itu.


Tidak perlu berpura-pura tersenyum atau baik di hadapannya. Hans, membuka paksa kimono yang dipakai gadis itu. Menjamah tubuhnya tanpa ampun, hampir semua bagian tubuhnya diberi tanda decapan bibir.


"Kenapa? Ingin melawan?" tanyanya dengan napas terengah-engah, menatap mata Hyeri yang kini tengah menggigit bibirnya sendiri, menahan rasa sakitnya.


Hyeri terdiam tidak melawan sama sekali. Matanya hanya menatap mata Hans lekat, mencari celah, ingin mengajari sebuah manekin kayu untuk memiliki hati.


***


Hans berbaring di samping tubuh Hyeri yang terlihat lemas,"Kenapa tidak melawan?" tanyanya penasaran.


"Aku adalah fansmu, apakah kakak bisa berhenti membunuh untukku?" Hyeri balik bertanya.

__ADS_1


"Aku tidak pernah jujur di dunia ini, kecuali padamu. Merasa beruntunglah karena kamu masih hidup. Jangan berharap lebih..." Hans mengenyitkan keningnya.


"Mengerti, dimataku kakaklah pahlawannya. Suatu hari nanti, kakak akan mengerti kata-kataku. Kemudian hidup dengan baik bersamaku..." ucapan naif, keluar lagi dari mulut gadis yang terlihat tulus itu.


"Jika dengan orang lain aku akan berkata, aku akan berubah. Khusus denganmu aku akan jujur, aku tidak akan pernah berubah..." ucapnya kesal, menutup tubuh polosnya dengan selimut, membelakangi Hyeri yang berbalut selimut yang sama dengannya.


Suara dengkuran halus terdengar, pertanda Hyeri telah tertidur.


Hans kembali berbalik, menatap wajah wanita yang aneh itu. Bagaimana caranya menyiksanya? Bahkan dengan merenggut kesuciannya saja, wanita itu masih menempel padanya.


"Apa harus membunuhmu?" tanyanya, namun niatannya berubah mengingat mata Hyeri yang sering menatap tajam padanya, bagaikan sebuah hujatan untuk wajah senyuman palsunya.


Hyeri yang ketika tidur tidak bisa diam, posisinya berpindah memeluk Hans."Bodoh!!" umpatnya.


Hubungan tanpa status? Itulah yang dijalani Hyeri. Hampir semua tetangga Hans, ramah pada pemuda yang terlihat dari luar bersahaja itu, memasang wajah senyuman palsunya yang menjijikkan.


Terjerat dengan rasa terimakasih, dan cinta naifnya, yang tumbuh menjalar, membuatnya menginginkan Hans merasakan emosi, walaupun, sedikit saja. Ingin Hans belajar untuk mencintai, merupakan hal yang sulit, bahkan hampir tidak mungkin untuk seorang psikopat.


Sosok asli seorang psikopat bukan seperti sesuatu yang ada di novel romantis komedi dimana psikopat dapat menjadi budak cinta. Tidak seperti itu, bahkan untuk belajar memiliki empati merupakan sesuatu yang sulit.


Hari ini Hyeri menolong seekor kucing kecil, membawanya ke apartemen Hans. Namun, sang kucing mengasah asah kukunya pada kaki meja, hingga meninggalkan goresan. Hasilnya, salah satu kaki kucing kecil itu dipatahkan.


Tidak langsung di bunuh? Jika dibunuh, sang kucing tidak akan tersiksa kan? Itulah yang ada di fikiran Hans.


"Aku sudah membawa kucingnya ke dokter hewan..." Hyeri menghebuskan napas kasar.


"Emmm..." hanya itu jawaban yang keluar dari mulut Hans yang tengah konsentrasi makan.


"Apa kakak mencintaiku? Kita sudah beberapa bulan ini melakukannya, dan..." Hyeri menghentikan kata-katanya.


"Dan apa?" Hans mengenyitkan keningnya.


"Jika aku hamil, apa kakak bersedia menikahiku?" tanyanya ragu.


"Gugurkan saja..." jawabnya acuh.


"Tidak, aku putuskan akan merawatnya sendiri..." Hyeri mengelus perutnya yang rata.


"Mengorbankan sekolah dan masa depanmu demi anak adalah hal yang konyol," ucapnya.


"Kakak peduli padaku? Apa kakak sudah belajar mencintaiku?" tanyanya dengan nada ceria, memeluk tubuh Hans.


"Tidak," Hans menjawab sedikit tersenyum.


Apa itu tadi? Tersenyum? Benar, untuk pertama kalinya sebuah keajaiban terjadi, dirinya merasa perasaan aneh, seperti ketenangan ketika duduk di hamparan bunga.


***


Beberapa kali Hyeri memergoki Hans membunuh seseorang atas perintah Lery. Tidak akan pernah berubah? Hyeri mulai putus asa, sudah beberapa hari dirinya tidak datang menemui Hans di apartemennya.


Hans terdiam mengamati apartemen kecilnya yang kosong,"Dia tidak datang lagi..." gumamnya, mulai mencuci wajahnya, melepaskan sarung tangannya yang berlumuran darah.


"Aku harus menemuinya," ucapnya merasa ada yang kosong, sesuatu yang sulit diisinya.


Perut Hyeri sudah sedikit membuncit, sweater hangat serta syal dikenakannya. Memberi makan beberapa hewan liar di jalanan.


"Hyeri," Hans berlari menghampirinya."Kenapa tidak pernah datang lagi?" tanyanya.


"Kakak benar, aku menyerah, kakak tidak akan pernah mencintaiku..." jawabnya mengelus pelan perutnya.


"Diam!!" Hans memeluk Hyeri erat,"Kamu tau aku tidak pernah berbohong padamu?" tanyanya, dijawab dengan anggukan kepala oleh Hyeri.


"Aku tidak pernah merasakan berdebar, atau perasaan ingin melindungi. Hanya saja, belakangan ini aku terkadang merasa duduk di hamparan bunga saat bersamamu. Ada yang kosong saat kamu tidak ada..."


"Apa itu yang dinamakan menyukai?" tanyanya ragu.


"Benar..." Hyeri menitikkan sedikit air matanya, kemudian menyekanya, melepaskan pelukan Hans. Hati manekin yang terbuat dari kayu, mungkin sudah sedikit melunak.


Matanya menatap tajam pada pemuda itu, seakan menghujat perbuatannya,"Maukah kakak belajar berhenti membunuh?" tanyanya.


"Tapi Lery..." Hans menghembuskan napas kasar, kemudian tersenyum, entah itu senyuman palsu atau dari dalam hatinya,"Baik, tapi jangan menghindariku," ucapnya.


Hyeri tersenyum mengangguk, memeluk Hans erat. Mungkin untuk menikah, belum bisa, karena hanya sebagian kecil hatinya yang luluh. Begitulah fikiran Hyeri yang selalu naif.

__ADS_1


Fikiran naif yang berusaha menghidupkan sebuah manekin kayu menjadi manusia seutuhnya.


Bersambung


__ADS_2