Asisten Nona Muda

Asisten Nona Muda
Alasan Aku Mencintaimu


__ADS_3

Angin menerpa rambut seorang pemuda yang menengok ke arah atas memejamkan matanya, merasakan secercah cahaya matahari yang menembus pepohonan. Perlahan matanya terbuka.


Apa sebenarnya yang terjadi? Banyak pertanyaan dalam fikirannya. Taka? Kenapa tuan besarnya itu, tiba-tiba ingin menyelidiki kasus 29 tahun yang lalu?


Tomy menghebuskan napas kasar, hal pertama yang dilakukannya, mencari profil sang guru privat yang meninggal. Tersangka pembunuhan mungkin memiliki hubungan dekat dengan Hyeri.


***


Beberapa jam perjalanan, terlihat gedung sekolah asrama tua ditinggalkan, yang hampir rubuh. Seorang penjaga yang tengah tertidur ditanyainya. Tidak mendapatkan jawaban? Benar, sudah 30 tahun bagaimana bisa mendapatkan data dengan mudah.


Tomy menghela napasnya, meminta ijin memasuki gedung tidak berpenghuni itu. Dekat dengan hutan yang memiliki aliran sungai, tempat ditemukannya kerangka. Namun, seorang gadis dengan berat badan 55 kg, tidak mungkin dapat menyeret orang dengan berat 90 kg.


Tidak ada petunjuk atau hal istimewa yang ditemukannya, setelah menggeledah seisi kantor tua, dengan dokumen lama tanpa penjagaan di sekolah yang sudah tutup selama 8 tahun itu. Namun, setelah beberapa jam mencari barulah kejanggalan ditemukannya. Dokumen dengan nama Jimy, beberapa barang miliknya masih tertinggal di sekolah tersebut. Salah satunya foto tua, seseorang yang dikenal Tomy.


Tiga puluh tahun, dapat merubah wajah seseorang, namun jika diperhatikan dengan seksama. Dari warna rambut, letak tahi lalat, atau beberapa ciri fisik lain mungkin akan sedikit dapat di duga siapa orang tersebut.


"Lery?" gumamnya, menatap foto Jimy yang merangkul seorang pemuda berkewarganegaraan asing.


Tomy menatap jengkel, memaksakan senyumannya. Mulai merogoh sakunya, melakukan panggilan internasional dengan kesal.


"Tomy?" terdengar suara pria tua dari seberang sana.


"Ini ada hubungannya dengan Lery kan!? Makanannya baru menyelidiki sekarang!? Sebenarnya, informasi apa saja yang anda ketahui!?" bentaknya emosi, karena tidak mendapatkan satu petunjukpun dari Taka.


"Lery? Jadi Gabriel benar?" Taka mengenyitkan keningnya.


"Maksudnya?" Tomy menghela napas kasar, meminum minuman isotonik, agar menambah ion di tubuhnya, duduk di sebuah kursi lapuk.


Taka menghembuskan napas kasar, "Seseorang bernama Gabriel memberikanku informasi, putriku meninggal bunuh diri bukan karena cercaan orang. Tapi karena ancaman Lery. Karena itu, aku ingin memastikan kata-kata Gabriel. Informasi apa saja yang kamu dapatkan?"


Beberapa teguk minuman isotonik kembali masuk ke kerongkongannya sejenak, kemudian mulai berucap,"Aku baru menyelidiki selama tiga hari, informasi masih terlalu minim. Tapi memang ada keanehan. 30 tahun yang lalu, Hyeri menjadi saksi kunci hilangnya seorang guru privat bahasa Inggris di sekolahnya,"


"Tapi, anehnya dia menjawab datar, sang guru pulang ke rumah meninggalkan sekolah asrama. 15 tahun yang lalu kerangka guru itu ditemukan di sungai dekat sekolah. Kesimpulan yang aku ambil, Hyeri melindungi tersangka utama,"


Taka mengeratkan tangannya, masih memegang handphonenya. Hans? Benar, dia adalah tangan kanan Lery, pembunuh berdarah dingin. Tapi, belum tentu Lery atau Hans terlibat, masih terlalu dini untuk mengambil kesimpulan.


"Aku baru menemukan kejanggalan lainnya. Jimy, guru privat yang meninggal mengenal Lery. Saya belum dapat menyimpulkan apapun tanpa bukti..." ucap Tomy menghela napas kasar.


Taka memejamkan matanya sejenak, menghebuskan napas berkali-kali menenangkan diri. Puzzle demi puzzle memang mengarah pada kebenaran dari kata-kata Gabriel,"Pulanglah... Jangan selidiki lagi..." ucapnya.


"Tapi..." Tomy terdengar ragu untuk menghentikan penyelidikannya.


"Jika, kamu melanjutkannya seorang diri, nyawamu mungkin akan ada dalam bahaya," Taka terdengar cemas.


"Dalam bahaya?" tanyanya tidak mengerti.


"Setelah ini apa yang akan kamu lakukan!?" Taka mengenyitkan keningnya.


"Mencari tersangka pembunuhan guru privat..." jawabnya walaupun ragu akan mendapatkan petunjuk.


"Dia mati dengan cara apa?" tanya Taka kembali.


"Diduga, pukulan berkali-kali dengan benda tumpul, karena tengkorak kepalanya retak. Potongan tali terdapat di kaki yang memanjang, mungkin ditenggelamkan setelah tidak sadarkan diri..." ucapnya, dengan berbagai prediksi, mengikuti nalarnya.


"Jika begitu, antara pembunuh profesional atau seorang psikopat. Itu sama saja, jika menemukan tersangkanya, kamu akan menjadi korban berikutnya..." Taka, menutup panggilan sepihak.


Tomy menghela napas kasar, memecahkan kasus setengah-setengah bukanlah gayanya. Tapi, berhenti menjadi detektif mungkin lebih baik. Pemuda itu melepaskan kacamata dan dasi kupu-kupunya.


Mulai berjalan menelusuri lorong sekolah terbengkalai, merasakan kebebasannya, tersenyum penuh kebahagiaan. Tidak lama kemudian sebuah panggilan merusak suasana bahagianya.'Bos Pelit' itulah nama yang tercatat.


"Ada apa tuan!?" tanyanya berusaha untuk tersenyum.


"Kakek mengatakan urusanmu di Jepang sudah selesai. Mau kembali membantuku menjadi ulat parasit?" terdengar suara Farel dari seberang sana.


"Tidak, aku ingin hidup bebas dan bahagia, menjalani kehidupanku sebagai asisten yang sebenarnya..." jawabnya penuh kedamaian.


"Baiklah, jalani kehidupanmu yang bebas dan bahagia," Farel menghela napas kasar bagaikan kecewa, "Terpaksa, hasil jarahan kita beberapa minggu yang lalu, berupa jam antik dengan harga 10 juta dolar aku berikan pada orang lain..."

__ADS_1


"Ja...jam antik 10 juta dolar!?" Tomy membulatkan matanya.


"Benar, sudah aku bilang, kalung pemberianku pada Clarissa akan mendapatkan hadiah balasan. Hadiah yang lebih mahal..."


"Kita akan menjarah lebih banyak lagi, data perusahaan mereka ada padaku. Hati ayah dan anak perempuannya itu milikku, kalau kamu tidak mau, kesempatan ini akan aku berikan pada..." kata-kata Farel di potong.


Tomy menyingsingkan lengan kemejanya penuh semangat,"Kita makan mereka sampai kering!!" ucapnya sebagai ulat parasit yang bersemangat, dengan 10 juta dolar sudah pasti ada di tangannya.


"Bagus, cepatlah pulang, karena kita akan kembali ke sarang penyamun..." Farel menutup panggilannya sepihak.


Tomy menatap celah-celah matahari yang melewati pepohonan, tempatnya keluar dari gedung sekolah,"Aku akan menjadi ulat yang kaya. Persetan dengan pucuk daun teh yang menghilang karena dipetik petani. Lebih baik makan beberapa singa saja..." gumamnya penuh tawa.


***


Tok ... tok...tok...


Suara ketukan pintu terdengar, perlahan pintu yang tidak terkunci itu dibuka olehnya. Sudah dua minggu, Jeny acuh padanya. Farel menghebuskan napas kasar, berusaha bersabar.


"Nona..." panggilnya, pada Jeny yang meringkuk di bawah selimut.


Tidak mendapatkan jawaban juga. Farel melonggarkan dasinya, melempar jasnya asal, menutup pintu kamar mereka. Dengan satu tarikan, selimut disingkapnya. Terlihat Jeny meringkuk pura-pura tertidur.


"Nona," panggilnya, mulai merayap di atas tubuh Jeny.


Aku masih marah, aku masih marah... aku masih marah... gumamnya dalam hati, menahan debaran di hatinya.


Napas Farel menyapu pelan wajahnya, bibirnya mendekat, menyentuh pelan bibir Jeny. Kecupan yang singkat, namun terasa lembut.


"Kita bercerai saja..." bisiknya, perlahan bangkit dari atas tubuh Jeny.


Berpisah? Jeny tidak pernah berpikiran akan sejauh ini. Dirinya hanya ingin Farel lebih berusaha membujuknya dan memberikan pelajaran agar lebih setia padanya. Tapi bercerai? Ini pasti hanya acaman. Itulah yang mungkin ada di fikiran Jeny, hingga terus memejamkan matanya.


"Saham perusahaan sudah aku serahkan atas nama anak kita. Beberapa properti, untuk nonaku, sekarang aku hanyalah pria yang tidak punya apa-apa..." ucapnya tersenyum lembut.


"Maaf, sudah membuatmu menangis..." Farel meraih jasnya yang teronggok di lantai, berjalan meninggalkan kamar.


Bruk...


Bercerai? Bercerai bukanlah tujuannya, dia hanya ingin Farel tidak mudah tergoda oleh Clarissa. Tidak ingin hati suaminya teralih, dari berpura-pura mencintai menjadi sungguh-sungguh mungkin saja terjadi kan? Jeny hanya ingin mencegahnya.


Air matanya mengalir, penglihatannya masih sedikit kabur. Dengan cepat bangkit dari tempat tidur memegang hendel pintu. Lorong rumah terasa lebih gelap, hanya ada beberapa cahaya remang-remang di sekitarnya.


"Ren..." panggilnya, tanpa melihat satu orang pun disana. Menangis dalam kepanikannya.


Lantai yang terasa aneh, terdapat benda dingin yang bertebaran tidak dipedulikannya. Langkahnya terselip, tidak melihat anak tangga yang tidak terlalu tinggi. Terjatuh, berusaha bangkit namun sulit. Dalam kegelapan dan cahaya remang-remang di sekitarnya. Entah karena penglihatannya yang masih kabur, dalam tahap penyembuhan.


"Ren...aku hanya berpura-pura!! Aku tidak marah!!" racaunya berteriak dalam tangisan, keputusasaan.


Samar-samar terlihat seorang pria mengenakan kemeja putih mendekatinya, Jeny berusaha memfokuskan penglihatannya. Semakin dekat, wajah itu semakin terlihat jelas,"Lain kali hati-hatilah..." ucapnya dengan nada suara hangat.


Tubuh Jeny mulai diangkatnya, didudukan diatas sebuah kursi.


Jeny berusaha keras memfokuskan penglihatannya, benda yang diinjaknya merupakan kelopak bunga mawar. Sinar remang-remang yang dilihatnya adalah lilin indah yang disusun berjejer dalam ruang tamu gelap.


Dentingan suara piano mulai terdengar, dari pemuda yang duduk di sampingnya. Seluruh ruangan gelap, kini terasa hangat.


Jemari tangan kurus yang panjang, menari diatas tuts piano. Suara indah dari seorang pemuda yang dicintainya terdengar.


Mengalun indah, menyanyikan lagu bermaknakan kesetiaan dan ketidak berdayaannya tanpa wanita yang dicintainya.


Nada terakhir terdengar, Jeny yang sedari tadi diam tertegun menatap wajah teduh penuh senyuman hangat.


"Maaf, selalu membuatmu menangis... selamat ulang tahun..." ucapnya.


"Perceraian, aku tidak ingin kita..." Jeny nampak cemas, kembali menitikkan air matanya.


Farel menggeleng kepalanya pelan, tersenyum hangat,"Tidak akan, aku sekarang hanya suami miskin yang tidak punya apa-apa. Tidak mungkin aku meninggalkan istri dan anakku yang kaya..." ucapnya, menghapus air mata Jeny.

__ADS_1


"Jangan, jangan pernah memberikan apapun padaku. Aku bisa mencari uang dengan kedua tanganku sendiri!! Walaupun bukan kehidupan yang mewah, aku masih bisa. Asalkan kita tidak berpisah..." Jeny terisak, memeluk Farel erat.


"Sudah aku bilang, aku hanya bercanda. Bagaimana mungkin aku melepaskan nonaku dengan mudah. Tapi untuk pengalihan semuanya, akan aku lakukan, sebagai jaminan aku tidak akan menyukai wanita lain selain nonaku..." ucapnya tersenyum lembut, menepuk pelan punggung Jeny yang masih memeluknya terisak.


"Tidak, aku menyukaimu karena hatimu, bukan karena uang. Uang masih bisa aku cari, tapi tidak ada yang mencintai dan menjagaku dengan tulus. Aku tidak ingin semuanya...!!" Jeny meninggikan intonasi suaranya, memeluk Farel lebih erat.


"Karena inilah, aku tidak bisa mencintai wanita lain..." Farel mulai melonggarkan pelukannya, mengambil kotak kecil dari sakunya, cincin yang berbentuk matahari kecil disematkan pada jemari istrinya.


"Tanpamu aku adalah sinar yang redup. Kita hanya dapat bersinar jika bersama-sama," lanjutnya.


"Tentang pengalihan perusahaan, jangan..." kata-kata Jeny dihentikan ciuman singkat suaminya. Hatinya berdebar hebat, tubuhnya ingin kembali memeluk tubuh itu. Namun, enggan...


Farel tersenyum simpul,"Ini bukan hanya milikku, tapi juga milik kalian..."


Jeny tertunduk bersikeras, menggeleng-gelengkan kepalanya menolak.


Pemuda itu, menghebuskan napas kasar,"Nonaku yang kuat dan mandiri. Aku menyerah, lalu bagaimana caranya membuktikan aku tidak akan pernah meninggalkanmu?" tanyanya.


"Tidak perlu dibuktikan..." Jeny mengalungkan tangannya pada leher Farel, mengecup bibirnya pelan, perlahan berubah menjadi gerakan bagaikan menuntut lebih.


Farel membulatkan matanya, sejenak kemudian ikut memejamkan matanya. Membelit, saling menyesap, hingga tautan itu terlepas sejenak,"Selamat ulang tahun, aku mencintaimu..." ucap Farel, dalam ruang tamu yang gelap, hanya berpenerangan puluhan lilin.


Jeny tidak menjawab, bibirnya menjalar menuju leher Farel. Agresif? Mungkin begitulah dirinya saat ini, terpenjara dengan hasrat, rasa cinta kasih, dan takut kehilangan.


"Ki...kita ada di ruang tamu..." kali ini Farel, mengigit bibir bawahnya sendiri, menahan hasratnya.


Jeny bagaikan tidak mendengarkan, tangannya melepas kacing kemeja suaminya.


"Hentikan," ucapnya, memegang jemari tangan Jeny. Mulai bangkit mengangkat tubuh wanita itu, ke atas sofa, merebahkannya perlahan.


Menatap mata sayu, di tengah kegelapan ruangan dengan penerangan minim.


Entah kebetulan atau tidak, sebuah selimut putih terlihat di atas meja. Satu persatu pakaian mereka teronggok di lantai, tidak henti-hentinya saling menautkan bibir, seakan tidak pernah puas.


Tubuh mereka mulai saling memberi tanda satu persatu. Berguling kecil saling berganti posisi di bawah selimut putih yang hangat.


Aku mencintaimu tanpa alasan, tapi jika didesak untuk mencari alasan. Sebuah kesederhanaan itulah alasanku ... Karena nonaku satu-satunya wanita yang tidak menginginkan kesempurnaanku. Hanya menyukai diriku sebagaimana adanya...


Farel...


***


Sementara itu, di dalam mobil yang tengah melaju...


"Ini bukan perjalanan menuju rumah..." Taka mengenyitkan keningnya.


"Kita, akan liburan di hotel," Ayana, mendekap Rafa dalam gendongannya.


"Hari ini ulang tahun cucu menantuku, aku sudah mempersiapkan kadonya. Tapi kamu malah mengajakku makan di luar, dan sekarang menginap di hotel?" Taka menghela napas kasar kesal.


"Aku melihat semuanya, Farel mempersiapkan dengan sepenuh hati. Wanita mana yang tidak tergoda, alunan musik yang merdu, sinar lilin yang redup, kejutan manis yang indah. Saling menatap di bawah balutan selimut..." kata-kata Ayana terhenti menyadari kesalahan dirinya dalam bicara.


Selimut? Itu memang dipersiapkan Ayana, memperkirakan hal yang akan terjadi. Cucu kedua? Mungkin hal itulah yang paling diinginkannya.


"Kamu mengira Farel akan melakukannya di ruang tamu!?" Taka menatap aneh pada putrinya.


"Iya...coba fikirkan, bagaimana jika setelah ini kedua mesin pencetak keturunan itu membuat cicit kedua? Jika kita pulang hanya untuk makan kue yang ada di lemari pendingin, kedua mesin itu tidak akan bekerja untuk mulai mencetak..." ucapnya tertawa kencang.


"Mama...papa..." Rafa bergumam kecil sendiri, kemudian kembali mengigit mainannya, dengan liurnya yang menetes, membasahi mainan kecilnya.


"Lihat cucuku sudah bisa mengatakan mama dan papa..." Ayana tersenyum gemas.


"Cicitku sayang..." Taka mencubit pelan pipi Rafa.


"Omong-ngomong, kenapa ayah membiarkan Farel memberikan perusahaannya pada Rafa dan Jeny? Biasanya, ayah tidak akan mudah percaya pada orang lain..." tanyanya penasaran.


"Jeny pasti akan menolak, menurut sifat mandiri dan kerasnya. Selain itu jika diterimapun itu juga untuk cicitku. Lagipula, sampai kapan Farel akan bermain-main dengan perusahaan kecilnya. Seharusnya, dia sudah mulai belajar mengurus perusahaanku dan usaha perdagangan saham milikmu, aku sudah tidak muda lagi..." Taka menghembuskan napas kasar.

__ADS_1


"Karena itulah, kita harus memerah kedua mesin pencetak anak itu untuk membuat keturunan lebih banyak lagi..." Ayana, tertawa penuh semangat.


Bersambung


__ADS_2