Asisten Nona Muda

Asisten Nona Muda
Saingan Farel


__ADS_3

Suara shower terdengar, air dingin menerpa tubuhnya. Perlahan memakai jubah mandi, mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk kecil. Harum aroma parfum menyeruak, menyamarkan aroma apel hijau di tubuhnya, setelan jas hitam dikenakannya, jam tangan melingkar di pergelangan tangannya.


Pemuda itu menatap cermin merapikan rambutnya. Mengenakan antingnya yang hanya sebelah. Menatap cermin penuh senyuman.


"Hari pertama berkerja..." ucapnya.


Pedal gas diinjak, musik yang lumayan keras terdengar. Dengan penuh semangat, Farel mengawali paginya. Walaupun, waktu masih menunjukkan pukul 4 pagi.


***


Emmmnnngghhh...


Jeny menggeliat sembari tersenyum, menghirup aroma harum dari masakan. Namun, kemudian membuka matanya dengan cepat.


"Aku tidak sedang di rumah papa Jony atau Daniel. Siapa yang memasak!?" racaunya duduk di tempat tidur dengan rambut yang masih acak-acakan.


Dengan membawa sebuah balok kayu yang didapatkannya entah dari mana, Jeny berjalan mengendap-endap. Jemari tangannya gemetar ketakutan.


"Selamat pagi nona..." seorang pemuda menyapa menunduk memberi hormat. Sembari menghidangkan beberapa menu untuk sarapan.


"Kenapa kamu disini sepagi ini!?" Jeny membentak menjatuhkan balok kayunya.


"Nona baru saja selesai melahirkan, tinggal disini tanpa pelayan. Itu akan sulit untuk nona membuat sarapan," Farel berucap penuh senyuman, lengkap memakai appron nya.


"Kamu masuk dari mana!!" Jeny berteriak kesal.


"Pintu di kunci, jadi aku masuk lewat jendela belakang rumah. Lain kali, ini ingat memeriksa semua jendela. Jika tidak..." Farel sedikit mendekat.


"Jika tidak apa!?" ucap Jeny meninggikan intonasi suaranya.


"Mungkin lain kali aku akan masuk ke kamar dan tidur di tempat tidur nona..."jawabnya tersenyum cerah.


"Bajingan, kurang ajar, mesum!!" Jeny mengumpat, mengambil kembali balok kayu yang tadi dijatuhkannya.


"Aku cuma bercanda!!" teriak Farel dengan cepat.


"Sudahlah, leluconmu tidak lucu," Jeny menghembuskan napas kasar, mulai duduk di atas kursi meja makan.


"Sebenarnya ini bukan bagian dari tugasmu. Tapi terimakasih..." lanjut Jeny berucap penuh senyuman.


"Nona, kenapa nona kemarin menolak mereka!?" Farel mengenyitkan keningnya.


"Ada orang yang aku sukai dari dulu. Dia baik, perhatian, dan satu-satunya orang yang peduli padaku. Tapi dia sudah pergi jauh disana, dia hanya dapat mengawasiku dari jauh," Jeny mengaduk aduk makanya, kemudian menghela napasnya. Matanya terlihat sedikit berkaca-kaca, air mata tertahan di pelupuk matanya.

__ADS_1


Ren, andai saja kamu masih hidup. Mungkin aku akan menentang ibuku dari dulu, tidak pernah menikah dengan Daniel. Hidup bahagia di rumah sederhana denganmu, dan membesarkan anak-anak kita dengan baik... jemari tangan Jeny gemetaran, berusaha menahan rasa duka yang masih terpendam bertahun-tahun.


Benarkan aku keduluan!? Jika begini tidak ada cara lain aku harus memaksanya menikah. Entah tikus darimana yang lebih sempurna dan menyayangi nona lebih dariku. Dia masih pergi jauh, jika dia kembali. Aku akan memasukkannya ke dalam amplop dan mengirimkannya ke Ukraina... batin Farel menendang-nendang udara kesal, pada sosok pemuda yang dijabarkan wanita itu.


Jeny menyeka air matanya yang hendak keluar, beralih menatap Farel yang masih bertingkah aneh. Antara kesal dan cemburu,"Kamu sedang apa!?" Jeny mengenyitkan keningnya.


"Ada banyak lalat, aku sedang mengusirnya," Farel berucap penuh senyuman, berhenti menendang nendang udara.


"Mungkin karena kamu jarang cuci sepatu atau kaos kaki," Jeny berucap dengan mulut penuh.


"I...iya mungkin," jawabnya sedikit kesal.


Aku lupa dengan sifat penindas dan mulut nona yang terkadang pedas. Tapi entah kenapa aku tidak bisa tidak menyayanginya... gumam Farel dalam hatinya.


Sejenak pemuda itu mengamati Jeny yang tengah makan. Terlihat, kulit putih halus, tanpa riasan jemari tangannya terlihat tidak begitu terawat seperti dulu. Beberapa bekas luka akibat Jeny berlatih memasak untuk Daniel, ketika masih menjadi istri Daniel terlihat. Bahkan ada beberapa tanda luka di lututnya akibat didorong oleh mantan suaminya itu.


"Maaf..." Farel menatap iba, mengambilkan tissue menyeka, sisa makanan di bibir Jeny. Jeny menonggakkan kepalanya, tidak mengerti dengan sikap pemuda yang kini tersenyum padanya.


Maaf, 13 tahun ini aku menghilang. Maaf, 13 tahun ini aku tidak dapat menjaga nona. Maaf, karena aku tidak ada, nona tidak memiliki orang untuk mengobati luka nona... kata-kata yang tertahan di bibir Farel, mengepalkan tangannya penuh rasa penyesalan.


"Omong ngomong, karena kamu sudah membuatkanku makanan, kenapa tidak sekalian minuman saja!? Ice chocolate dengan toping meses coklat," Jeny tertawa kecil cengengesan, entah kenapa sedikit merasa nyaman dengan pemuda yang mungkin baru dikenalnya.


"Teh hijau!!" Farel membentak penuh intimidasi. Berjalan berlalu kembali ke dapur.


"Dia kalau marah ternyata menyeramkan..." Jeny mengeluarkan keringat dingin, kembali makan beberapa suap.


***


"Itu siapa!? Tampannya!! Suami nona ya!?" Rita (karyawan EO) melihat dari balik etalase kantor.


"Tidak, katanya itu asisten untuk mengelola bisnis nona sementara. Dia baru kamarin sore mengirimkan CVnya setelah terlebih dahulu diwawancarai nona," Helen menghela nafasnya tersenyum menatap kagum pada sosok Farel yang baru pertama kali ditemuinya.


"Keluarga yang terlihat bahagia dan menggemaskan. Tapi syukurlah bukan suami nona, kerennya...Menjadi pelakorpun aku rela!!" ucap Rita masih menatap kagum, mengusap air liurnya yang keluar.


"Yang ini untukku!! lebih baik kamu dengan pak Firman saja!! Satpam di depan," Helen tertawa kecil.


"Tapi benar-benar keren, apa nona tidak tertarik ya!? Tapi nona janda beranak satu, orang itu tidak mungkin mau, jadi cuma kamu sainganku!!" teriaknya pada Helen dengan nada mengancam.


"Jangan berfikir dapat menyaingiku," Helen mengenyitkan keningnya, aura saling tidak suka keluar dari dua orang gadis yang bersahabat itu.


***


Beberapa karyawan berbaris, Jeny yang menggendong anaknya mulai memperkenalkan Farel.

__ADS_1


"Saya akan cukup sibuk merawat putra saya hingga beberapa bulan lagi. Karena itu saya merekrut orang untuk menggantikan dan membantu tugas saya sementara. Namanya Farel, dia akan membatu tugas saya menggantikan Helen yang beberapa hari ini mengerjakan tugas rangkap," jelasnya.


"Perkenalkan saya Farel, mohon bantuannya..." Farel sedikit tertunduk berucap penuh senyuman ramah.


"Pak Farel sudah menikah belum!?" Rita mengangkat tangannya bertanya.


"Belum, beberapa hari yang lalu, lamaran saya ditolak..." jawabnya.


"Pak Farel Facebooknya apa!? Nomor WA nya berapa!? Tipenya pak Farel yang bagaimana!?" para karyawati bertanya satu persatu pada pemuda yang terlihat ramah itu. Farel hanya tersenyum, merasa sedikit risih.


"Sudah aku duga ini akan terjadi..." Jeny menghela napas jenuh.


Hingga seorang klien tiba-tiba datang,"Dimana pemilik EO ini!!" ucapnya kesal.


Perhatian semua orang teralih pada pasangan calon mempelai yang baru masuk.


"Saya pemiliknya ada apa ya!?" Jeny mengenyitkan keningnya.


"Saya membatalkan garden party untuk pesta pernikahan saya tiga hari lagi," sang calon mempelai wanita tersenyum kecil.


"Kenapa!? Persiapan kami sudah berjalan 80%, jika anda membatalkannya, deposit anda sebesar 40% akan hangus. Kita sama-sama rugi, apa alasan anda membatalkannya!?" Jeny meninggikan intonasi suaranya.


"Aku tidak ingin menikah dengan EO yang dimiliki oleh seorang wanita jalang, selingkuh dari suaminya dan hamil di luar nikah," calon mempelai wanita berucap.


"Benar... maaf kami akan mencari EO lain..." calon mempelai pria menghebuskan napas kasar.


Jeny tertunduk berusaha menenangkan diri. Kemudian tersenyum,"Baik, kami menghargai keputusan anda," ucapnya.


"P*lacur!!" mempelai wanita mengumpat sembari tersenyum kecil, hendak pergi.


"Berhenti!!" Farel menatap penuh senyuman.


Plak...


Satu tamparan mendarat di pipi calon mempelai wanita,"Aku biasanya tidak pernah memukul wanita," pemuda itu tertunduk tertawa kecil menyeramkan.


"Tapi untuk penipu seperti kalian, ini perlakuan khusus," ucapnya.


"Kamu!!" sang calon mempelai pria hendak menyerang. Namun dengan cepat Farel menghindar, membanting tubuh orang yang lebih besar darinya. Kemudian menginjak punggungnya.


"Kamu bekerja di Pioner Corporation (perusahaan milik Jony, ayah tiri Jeny) kan??" tanyanya tersenyum menyeringai.


"Sialan, siapa kamu!? Jangan ikut campur!!" calon mempelai pria berteriak.

__ADS_1


"Aku!? iblis..." jawab Farel menginjak jemari tangan pemuda di bawah telapak kakinya.


Bersambung


__ADS_2