
Hari mulai terasa dingin, matahari terlihat akan segera terbenam. Sinar kemerahan yang memancar di atas hamparan kebun teh, nampak memudar redup. Seiiring dengan perjalanan sepasang muda mudi.
Bergandengan tangan menuju rumah kecil yang hanya berisikan dua kamar. Beberapa orang pemuda desa menggoda dengan bersiul, atau menyapa gadis yang awalnya diacuhkan semua orang.
"Besok selesai masak dan mengurus ladang sayuran belakang rumah tidak perlu mandi lagi. Jika perlu aku akan membantumu supaya lebih dekil lagi..." Gabriel mengenyitkan keningnya kesal dengan ulah para pemuda menggoda gadis yang sepertinya sudah resmi menjadi kekasihnya.
Citra menghebuskan napas kasar menatap tajam. Bukannya kamu yang menyuruhku membersihkan diri, agar tidak dihina orang lain. Katanya menjaga? Baru satu hari saja sudah menyerah... gumamnya mengeluh dalam hati.
"Jangan melihatku seperti itu," Gabriel tersenyum mengacak-acak rambut Citra gemas.
Dering suara jangkrik terdengar, makanan hangat telah terhidang. Citra mulai duduk, dengan rambut setengah kering.
Gabriel tertunduk menelan ludahnya, tinggal berdua berdekatan dengan wanita yang dicintainya merupakan godaan terberat untuknya. Apalagi, ulat buruk rupa yang dicintainya, ternyata adalah kupu-kupu yang cantik.
Jika dengan menjadi ulat saja hati Gabriel telah luluh, apalagi dengan wujud kupu-kupu. Pakaian sederhana, namun si pemakainya nampak rupawan, kulit leher dan bahu yang putih. Menggoda siapapun pria normal, untuk mengotori dengan cap bibirnya.
Tangan pemuda itu gemetaran lagi, pemain cinta profesional? Tidak, Gabriel bahkan tidak pernah memiliki kekasih."Aku akan makan di kandang kambing saja!!" ucapnya gelagapan, mengambil nasi dengan tangan gemetaran. Bahkan sendoknya sempat terjatuh.
Citra menghebuskan napas kasar, meraih jemari tangan Gabriel, membantunya mengambil nasi dan sayuran. Namun, jemari tangan halus itu, membuat sang pemuda menatap Citra lebih lekat.
Godaan apa lagi ini!! Aku ingin menggigitnya, menerkamnya tanpa ampun... tangan Gabriel bertambah gemetaran lagi.
"Aku tidak enak badan!!" ucapnya dengan cepat, berlari keluar dari rumah tanpa mengambil makanan.
Dia kenapa... Citra kembali bergumam dalam hatinya.
***
Gabriel duduk di kandang kambing yang telah bersih beralaskan karpet, memegangi dadanya yang berdebar tidak menentu. Sedikit demi sedikit, kewarasan fikirannya kembali, tangannya tidak gemetaran lagi.
"Jika tidak melihatnya, aku rindu ingin melihatnya. Jika sudah di dekatnya, aku ingin menerkaamnya," Gabriel mengacak-acak rambutnya frustasi.
Hingga, sesuatu mengalihkan pandangannya, Citra mendekat dengan sepiring nasi berlaukkan sayur bayam dan tahu.
Hanya sabun, harum aroma sabun dan shampo murah yang bahkan juga digunakan Gabriel tercium. Seiring semakin dekatnya Citra, menyodorkan sepiring makanan pada Gabriel.
"I...ini untukku?" tanyanya.
Citra mengangguk, kemudian duduk di samping Gabriel, hendak menunggui pemuda itu makan.
Dengan cepat Gabriel makan, agar godaan di sampingnya segera menyingkir. Hingga, jemari tangan halus, menyentuh sisi bawah bibir pemuda yang terlalu normal jika dekat dengan Citra, menyeka nasi yang tidak sengaja menempel.
Senyuman menggemaskan terukir di wajah gadis itu. Gabriel berkali kali menelan ludahnya, menghentikan aktivitas makannya.
Tidak dipungkiri, kali ini dirinya kesulitan menahan diri. Tanpa aba-aba, menyambar bibir yang bagaikan narkotika untuknya. Menyesapnya perlahan, memangut di tengah tempat sempit berpenerangan minim.
Citra membulatkan matanya terkejut, mulai membalas perlahan. Namun, Gabriel semakin menuntut mungkin terjerat hasratnya yang semakin memanas. Tubuh Citra dibaringkannya di atas karpet, mulai ditindihnya tanpa menghentikan tautan bibirnya.
Tangannya menyusup dalam pakaian kekasihnya, hingga kewarasannya kembali. Malam pertama di bekas kandang kambing? Bahkan melepaskan keperjakaanku sebelum menikah? Aku pasti sudah gila...
Gabriel melepaskan tautan bibirnya dengan napas tidak teratur, mati matian menahan dirinya yang untuk pertama kalinya, jatuh cinta dan berhasrat pada wanita.
"Aku pergi sebentar...!!" ucapnya bangkit dari atas tubuh Citra. Berlari dengan cepat entah kemana, sesekali melirik ke arah belakang.
Citra tertegun diam, kemudian ikut berlari melarikan diri ke dalam rumah. Menutup pintu kamarnya, Apa itu tadi? Dia berniat melakukan... Kenapa aku tidak melawan...
Citra mengacak-acak rambutnya, merutuki kebodohannya. Yang hampir terbawa suasana. Walaupun tidak begitu mengetahui, tapi ada beberapa adegan film TV yang disensor, saat dia dulu menonton dengan teman-temannya di rumah pak Kepala Desa. Dan adegan panas yang terpotong itu, mirip dengan hal yang dilakukannya dengan Gabriel hari ini.
Seorang pria mencium seorang wanita, kemudian merebahkannya.
***
Hari mulai pagi namun masih terlalu gelap, Citra yang baru terbangun pukul 04.30 mengerjap-ngerjapkan matanya, bersiap memetik bunga melati di halaman depan rumahnya untuk dijadikannya teh, penghangat pagi yang dingin. Matanya sedikit melirik ke arah kandang kambing, kemudian mengalirkan pandangannya dengan wajah bersemu merah, mengingat kejadian tadi malam.
Gadis itu masih berjongkok, hingga tiba-tiba dua pasang kaki terlihat di hadapannya. Citra menonggakkan kepalanya, terlihat dua orang pekerja di tempat penimbangan daun teh.
"Bapak minta maaf, lebih baik kamu setuju menjadi istri ke empat pak Wijoyo," ucapnya pada gadis yang sama sekali tidak dapat bicara. Berharap dapat meyakinkan Citra, agar majikannya tidak perlu mempermalukan nama gadis itu hanya untuk menikahinya.
Citra mulai bangkit, menggeleng gelengkan kepalanya. Kedua orang pria yang sudah berusia itu menghela napas kasar, menarik paksa Citra, melalui jalan perkebunan agar tidak berpapasan dengan warga desa lain.
Gabriel!! Tolong aku, kamu bilang akan melindungiku kan... gumamnya sembari menitikkan air mata, berusaha meronta-ronta. Melirik ke arah bekas kandang kambing, berharap pemuda itu akan keluar.
Namun, tidak dapat bicara merupakan kelemahan terbesar dalam hidupnya. Bagaimana cara meminta pertolongan? Jika tangis, atau tawanya tidak terdengar. Bagaimana cara untuk menjelaskan apa bila dipermalukan? Hanya dapat menunduk dalam diam, berusaha meronta-ronta. Menepis tangan dua orang pria yang lebih kuat darinya.
__ADS_1
Pembohong... umpatnya dalam hati, saat dilempar ke dalam gudang.
Lampu redup, di pagi yang dingin dalam gudang berpenerangan minim. Pria paruh baya berdiri di hadapannya,"Pergi!! Kunci pintunya dari luar!! Sebarkan berita agar sekitar satu jam lagi warga desa kemari," ucapnya penuh senyuman.
Kedua orang yang menyeret Citra tertunduk melirik penuh rasa bersalah. Mengorbankan kesucian seorang gadis yang tidak tau apa-apa, hanya demi dapat tetap bekerja pada Wijoyo, untuk menghidupi istri dan anak-anak mereka di rumah.
Kedua orang itu, segera pergi pintu gudang mulai tertutup dikunci dari luar. Citra menangis, mengetahui hal yang akan terjadi, berlari menuju pintu besar mengetuk-ngetuknya, tanpa bisa berteriak meminta pertolongan.
"Adek Citra, ini akibatnya terlalu sombong? Abang harus pakai cara kasar kan?" Wijoyo berjalan mendekat, hendak memeluknya dari belakang.
Tubuhnya gemetar ketakutan, gadis itu menangis sekencang-kencangnya, tidak dapat mengeluarkan suara. Menepis tangan pria yang sudah keriput.
"Tenang, nanti awalnya saja sakit. Dek Citra tenang saja, Abang akan pelan-pelan..." ucapnya kembali mencoba menyentuh Citra.
Gadis itu terus menerus menggedor gedor pintu besi. Berharap ada yang akan menolongnya. Tapi harapan yang sangat tipis memang, mengingat waktu yang masih menunjukkan pukul 5 pagi.
Menatap Citra yang tidak mau menghadap dirinya. Pria beristri tiga itu tidak kehilangan akal. Kaos tangan panjang berbahan spandek lusuh yang memang sudah rapuh akibat sudah terlalu sering dipergunakan itu dirobeknya dari belakang. Hingga punggung putih mulus itu terlihat.
Citra menggedor gedor pintu, semakin keras, penuh rasa putus asa. Tolong... ucapnya lirih dengan suara yang tidak dapat keluar, terus menerus mengeluarkan air matanya. Merasa jijik dengan tangan tua yang terus ditepisnya menggerayangi perutnya. Kemudian mencium punggungnya.
Gabriel kamu pembohong!! Seharusnya aku tidak mempercayaimu... gumamnya dalam hati, tidak ingin berbalik, tidak ingin melihat pria yang berusaha menjamahnya.
Hingga, suara pukulan terdengar. Wijoyo roboh dengan satu pukulan, tidak sadarkan diri. Wajah Gabriel terlihat murka, menendang dada pria beristri tiga itu berkali-kali. Menarik rambut, menyeretnya mendekati dinding, membenturkan kepala pria yang sudah tidak sadarkan diri.
Wajah dingin Gabriel nampak tersenyum, meraih sebatang kayu hendak memukul tubuh pria paruh baya itu. Namun, tangan seorang gadis terulur memeluknya sembari menangis. Tidak ingin melihat Gabriel dalam kemurkaannya.
"Maaf..." Gabriel menjatuhkan sebatang kayu di tangannya. Berbalik memeluk Citra erat penuh rasa bersalah.
Maaf meragukanmu... gumam Citra, masih terisak tanpa suara dalam dekapan hangat Gabriel.
Pemuda itu, melepaskan pelukannya, memakaikan sweater miliknya pada kekasihnya. Sedangkan dirinya masih memakai kaos didalamnya."Jangan menangis lagi," ucapnya penuh kasih, mengusap lembut air mata Citra
***
Gudang masih terkunci, Gabriel menghebuskan napas kasar. Bingung apa yang harus dilakukannya pada pria paruh baya yang tengah tidak sadarkan diri.
Hingga, ide gila tercetus,"Cici... tutup matamu, jangan mengintip..." ucapnya.
Gabriel, mulai menelanjangi tubuh Wijoyo yang tidak sadarkan diri kemudian menyeretnya. Perlahan menumpuk kotak kayu, menaiki tumpukan kotak kayu yang cukup tinggi. Sedikit tersenyum, melempar Wijoyo yang bertelanjang bulat ke hamparan tanaman teh, di belakang tempat penimbangan, sekaligus gudang.
Tubuhnya tidak membentur tanah secara langsung, tertahan oleh tanaman teh.
Satu persatu kotak kayu kembali ditempatkannya pada tempat semula.
"Sekarang buka matamu..." ucap Gabriel penuh senyuman.
Citra membuka matanya, menatap tumpukan pakaian pria, bahkan terdapat dompet dan ****** *****. Gabriel menggeledah mencari korek api, mengambil daun teh kering, kemudian membakar pakaian Wijoyo lengkap dengan dompet, pakaian dalam, bahkan uang, menjadi api unggun penghangat mereka dalam gudang terkunci yang dingin.
Citra melirik Gabriel penuh pertanyaan di benaknya, diam duduk berdua menghangatkan diri.
"Kenapa? Ingin bertanya bagaimana bisa aku masuk?" ucapnya, dijawab dengan anggukan oleh Citra.
"Aku tidak pulang semalam. Sejujurnya aku selalu mempunyai niatan buruk padamu," Gabriel tersenyum, melirik ke arah Citra penuh rasa bersalah. Sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
Citra tidak menggubris, menatap Gabriel dengan serius seakan menunggu penjelasan.
"Di desa ini aku hanya pernah ke rumah Cici, dan gudang teh. Jadi semalaman aku tidur disini sebelum gudang ditinggalkan penjaganya. Syukurlah Cici-ku cukup pintar untuk membuat suara gaduh sehingga aku bisa terbangun tepat waktu..." ucapnya, tersenyum mengacak-acak rambut Citra.
'Aku mencintai mu...' Citra menggerakkan tangannya, berucap dengan bahasa isyarat, kalimat isyarat yang mungkin semua orang dapat memahaminya.
"Aku juga..." Gabriel, mendekap kembali tubuh hangat kekasihnya.
Citra melepaskan pelukannya, melirik ke arah pintu gudang, dengan cemas. Mengetahui warga desa mungkin akan segera datang.
Apa yang akan terjadi pada Gabriel jika ketahuan memukuli pak Wijoyo? Tanyanya dalam hati, seakan tidak memikirkan kehormatan dan nama baiknya. Karena dikabarkan menggoda tengkulak kaya, beristri tiga itu.
Gabriel menghembuskan napas kasar,"Kamu cemas? Jika cemas, tugasmu adalah mengangguk mengiyakan semua kata-kataku," ucapnya.
Citra mengangguk tanda setuju.
"Satu lagi, kita harus menyingkirkan abu ini segera," lanjutnya, mulai bangkit mengambil sapu lidi, hendak membersihkan abu, dari pakaian Wijoyo.
***
__ADS_1
Teng...teng...tang...
Suara gembok pintu besi...
Pintu gudang yang terbuat dari besi terbuka, terlihat Citra yang meringkuk pura-pura tertidur. Dengan Gabriel di dekatnya juga memejamkan matanya, pura-pura masih tertidur.
"Eh, bisu jalang!!" seorang wanita muda yang merupakan istri ke dua Wijoyo menarik rambut Citra yang pura-pura tertidur.
Gadis itu mulai duduk di lantai seakan akan baru terbangun. Gabriel yang juga pura-pura tertidur, ikut membuka matanya.
"Ada apa...?" tanya pemuda itu sembari menguap, seakan kesadarannya dari alam mimpi baru saja pulih.
"Mana suami saya!?" tanyanya membentak.
Gabriel melirik ke arah Citra, seakan keduanya tidak mengerti apa-apa."Kami ingin mengambil barang yang tertinggal semalam, dan tidak sengaja terkunci disini. Kami tidak bertemu dengan seorang pun," ucap Gabriel, menatap kerumunan warga desa yang baru datang.
"Tapi pak Paijo bilang, melihat Citra menggoda suami saya dan membawanya kemari..." istri pertama Wijoyo kesal, tidak percaya, mulai menggeledah isi gudang yang luas dengan dinding dan jendela tinggi itu. Dan tentu saja hasilnya nihil.
"Lalu dimana suami saya?" tanya istri pertama membentak. Sedangkan, warga desa yang menyaksikan semuanya hanya dapat terdiam masih menyimak.
"Tidak tau, yang jelas dari tadi malam kami terkunci di sini. Kunci cuma dipegang penjaga gudang kan? Karena itu kami tidak dapat keluar. Lagipula, saya tidak akan membiarkan calon istri saya mendekati atau tidur dengan pria lain..." jawaban yang masuk akal keluar dari mulut Gabriel.
Hingga, teriakkan memekik kesal terdengar, seorang pria telanjang bulat dengan banyak luka, menutupi bagian tubuh di paha depan dan bokongnya dengan cabang tanaman teh. Hingga hanya sesuatu yang sering disebut burung, tidak terlihat.
"Bocah kurang ajar!! Beraninya memukuli saya!!" ucapnya membentak menembus kerumunan. Melupakan rasa malunya.
Gabriel dan warga desa lain mati matian menahan tawanya. Bahkan ada salah seorang warga memberikan sarungnya pada pak Wijoyo agar tidak terlalu terlihat sensual.
Wijoyo segera mengenakan sarung, masih bertelanjang dada dalam keadaan marah besar.
"Kamu berani memukuli saya!?" ucapnya kembali membentak.
"Tunggu sebentar, saya punya alibi dan saksi. Sedangkan anda tidak punya bukti satupun..." jawab Gabriel bagaikan pengacara handal.
"Pak siapa saja yang punya kunci gudang ini?" tanyanya pada penjaga gudang.
"Ha... hanya saya, jika pak Wijoyo ingin ke gudang baru meminta pada saya," jawabnya gelagapan menjawab sejujurnya, walaupun mengetahui rencana pria paruh baya, yang ingin berbuat mesum.
"Bapak mendapatkan luka benturan di kepala dan beberapa memar, tanpa busana atau barang berharga. Seperti korban perampokan..." Gabriel sedikit melirik, merubah asumsi warga yang mulai berbisik bisik tentang keamanan kampung mereka yang memang rendah.
"Kamu yang memukul saya, saya ingat betul!! Pakaian dan dompet saya pasti kamu sembunyikan!!" ucapnya tegas, penuh keyakinan.
"Silahkan geledah..." Gabriel tersenyum, mempersilahkan warga masuk memeriksa.
Beberapa saat, warga desa keluar,"Tidak ada..." ucap salah seorang warga.
"Secara logika, kami terkunci di gudang semalaman tanpa bisa keluar. Benar begitu Cici?" tanya Gabriel, dijawab dengan anggukan oleh gadis itu, seperti perintah kekasihnya.
"Lalu baru terbangun saat warga datang, benarkan Cici?"Gabriel kembali bertanya, dijawab dengan anggukan tanpa ragu oleh gadis itu.
"Lalu kapan aku sempat bertemu dengan anda? Mungkin kepala anda terbentur saat di dirampok. Sehingga menjadi bingung..." kata-kata bagaikan pengacara dengan bayaran tinggi keluar dari mulut Gabriel, meyakinkan semua orang.
"Tapi, Citra menggodaku untuk ke gudang, lalu kami melakukannya. Kamu memukulku dan membuangku ke belakang gudang!!" dustanya.
Melakukan apa!? Dasar tua bangka, kamu hanya sempat merobek bajunya saja. Untungnya aku tidur dan terkunci di sini dari semalam... Gabriel tetap tersenyum menahan kekesalannya.
"Maaf, kemarin bukannya kamu menolak pak Wijoyo untuk menjadi istri keempatnya di depan umum? Tidak mungkin menggodanya kan?" tanya Gabriel pada Citra, ditanggapi dengan anggukan oleh gadis itu.
"Kamu di gudang ini semalaman hanya denganku kan?" tanyanya kembali pada Citra, Citra hanya kembali mengangguk.
"Satu-satunya jalan keluar dari gudang selain pintu adalah, jendela kecil setinggi dua meter. Dan aku bukan Gatot kaca, yang bisa terbang melewati, kemudian menjatuhkan pak Wijoyo di belakang gudang lalu kembali masuk," pernyataan Gabriel ditanggapi kembali dengan anggukan tanpa ragu oleh Citra. Meyakinkan warga, tentang pernyataan tengkulak kaya itu, tidak sesuai logika.
"Pak Wijoyo tidak ada dalam gudangkan!?" Gabriel bertanya lagi, Citra spontan mengangguk, yakin dengan kebohongan kekasihnya.
"Jadi, kamu akan menikah denganku karena tidak sengaja terkunci di gudang semalaman denganku kan!?" tanyanya lagi. Citra mengangguk tanpa ragu.
Sejenak kemudian membulatkan matanya, menatap ke arah Gabriel, yang tersenyum senang. Dengan keberhasilan perangkapnya.
Me ... Menikah? Aku tidak salah dengarkan? Kenapa aku mengangguk tanpa ragu ... Wajah Citra seketika pucat pasi, mendengar kata-kata pernikahan yang disetujuinya dengan mudah.
Melamar dengan cara unik, yang tidak mungkin gagal...Aku terlalu gemas untuk tidak menggerogotiya, malam ini dia tidak akan menjadi dessert lagi. Melainkan hidangan utama... Gabriel tertawa senang dalam hatinya, tidak ingin menahan diri lagi, untuk tinggal tanpa ikatan dengan gadis pertama yang mencuri hatinya.
Bersambung
__ADS_1