Asisten Nona Muda

Asisten Nona Muda
Istri Yang Terlalu Baik (Ana)


__ADS_3

Hembusan angin menerpa wajah seorang pria yang terbilang tidak berusia muda lagi. Terdiam di balkon kamarnya, menatap pemandangan kompleks perumahan yang tidak terlalu banyak dilewati orang.


Plak...


Satu tamparan mendarat tepat di pipinya. Amarah terlihat di wajah istrinya,"Apa magsudmu dengan bercerai!?" teriak wanita yang menatapnya tajam.


"Aku tidak menyukaimu dari awal, kamu juga kan!? Jangan kira aku tidak tau kebiasaanmu bersenang-senang dengan pria muda di luar sana..." ucapnya menatap tajam.


"Jony!! Status, nama baik, semuanya akan hancur!! Aku bahkan membuka cabang perusahaan di negara ini untuk membantu mengembangkan bisnismu!!" wanita itu membentak menatap tajam pada suaminya.


"Apa yang ada di fikiranmu hanya uang dan status!? Jika kamu rela berusaha membunuh putrimu sendiri, kenapa tidak tega berusaha membunuhku atau Dimas suatu hari nanti!! Aku muak!!" Jony membentak.


"Almarhum istrimu ingin kita menikah, jangan lupa itu!?" Dea menyunggingkan senyuman di bibirnya.


"Memang, karena kamu hamil akibat perselingkuhan kita. Juga karena itu aku kehilangannya, yang mati akibat penyakit jantungnya!!" Mata pria itu memerah air mata tertahan di pelupuk matanya.


Aku berselingkuh karena membalas perselingkuhanmu. Jika aku menikah dengan Nana, mungkin aku dapat mengubur perasaan sakit hati karena kehilangannya, membalas perbuatanmu, dengan menikahi keponakan yang paling kamu benci. Tapi semua tidak semudah dugaanku, jika kamu tega berniat membunuh Jeny. Mungkin suatu saat hal yang sama akan terjadi pada Dimas...


Flashback on


Tiga belas tahun yang lalu...


Setelah Jeny remaja yang dirasanya tidak memiliki kelemahan. Remaja yang masih dirundung duka dan kesepian itu ditinggalkannya sendiri oleh Dea.


Sementara itu di sebuah rumah, seorang wanita berpenampilan cantik alami tanpa makeup menatap suaminya penuh senyuman. Seorang gadis desa yang baik hati bernama Ana. Menemani suaminya merintis usaha dari nol, bertahan menatap Jony penuh kasih. Hingga usaha kecil suaminya kini menjadi perusahaan yang terbilang baru merintis ke tahap menengah.


"Maaf, rumah ini jadi sepi karenaku..." ucap wanita dengan memakai daster motif bunga.


"Tidak apa-apa, cuma kita berdua sudah cukup," Jony mengaduk-aduk makanannya, sesekali tersenyum, namun ketika tertunduk senyuman menghilang dari wajahnya.


Sudah lima tahun pernikahan mereka, namun selalu berakhir sama. Ana tidak disarankan sementara waktu untuk hamil, sebelum mendapatkan donor jantung, akibat penyakitnya.


Wajahnya nampak pucat, setiap hari mengkonsumsi obat. Melayani suaminya pun jarang dapat dilakukannya.


Maaf... mungkin hanya itu kata yang tertahan di hatinya. Mengganggap Jony adalah pria tertegar dan terlembut yang pernah dikenalnya.

__ADS_1


"Aku nanti malam harus lembur..." ucap Jony penuh senyuman menghentikan aktivitas makannya.


"Tidak apa-apa, aku akan menunggumu..." Ana berucap dengan bibir putih pucatnya.


Hanya menunggumu dirumah, hal yang dapat aku lakukan untuk mengatakan aku mencintaimu... ucap wanita itu dalam hati, menatap iba pada suaminya, berusaha untuk tegar dan tersenyum. Walaupun mengetahui dirinya bagaikan wanita tidak berguna.


"Tidak perlu tidurlah lebih awal, jaga kesehatanmu ya!?" ucapnya pada istrinya, mengacak-acak rambut Ana penuh senyuman. Mulai bangkit dari kursinya guna untuk pergi ke kantornya.


Pintu mulai tertutup, tangisan Ana yang sedari tadi berusaha tersenyum terdengar,"Aku hanya menjadi beban," ucapnya.


Tuhan, tolong sembuhkan aku. Namun, jika aku memang tidak bisa sembuh. Panggillah aku ke pangkuan-Mu, agar dia dapat menata hidupnya... doanya.


***


Jony melajukan mobilnya penuh rasa bersalah, menatap anak-anak berlarian di kompleks perumahan tempat tinggalnya sudah membuatnya cukup tersiksa.


Namun, tidak terbersit niat sedikitpun untuk meninggalkan Ana yang telah menemaninya dari masa sulit saat kuliah. Wanita yang selalu membagi makanannya dengan Jony.


Pria yang merantau dari desa hanya dengan modal kerja keras dan nekad, bertemu dengan gadis yang sama-sama merantau dengan cita-cita yang sama tingginya.


Mobil milik Jony tidak serta merta berhenti di gedung perkantorannya. Namun, terhenti di sebuah apartemen yang dibelinya hanya untuk bertemu dengan seorang wanita yang dapat menghiburnya di sela-sela hasratnya sedang timbul. Ana tidak dapat selalu melayaninya, keadaan yang lemah, dan terkadang membutuhkan banyak istirahat.


Saat itulah, Dea yang sama-sama kesepian setelah kematian Dony hadir di hidupnya. Memberikan kebutuhan yang tidak selalu didapatkannya dari Ana. Apakah itu salah!? tentu tidak. Tapi apakah tindakannya ini benar!? tidak juga dapat dibenarkan.


Malaikat yang pulang setiap larut malam disambut penuh rasa bersalah oleh istrinya. Tidak mengetahui wajah di belakang malaikat yang terlihat bersabar itu.


***


"Emmgghhh....Jony..." Dea berucap, memeluk erat tubuh pria yang kini tengah menikmati setiap jengkal tubuhnya.


"Puaskan aku ..." ucapnya mulai mulai menggerakkan tubuhnya di bawah selimut putih tebal.


Suara parau Dea terdengar menggema di ruangan apartemen yang kedap suara itu. Wanita yang sudah sebulan ini tidak menemui Jony akibat harus menyingkirkan Ren sejauh mungkin. Menumpahkan hasrat sebisanya, bahkan keduanya terlihat tidak pernah puas.


Hingga menjelang siang,"Aku harus pergi ke kantor," Jony yang sudah membersihkan dirinya, memakai kembali pakaiannya.

__ADS_1


Dea menggunakan selimutnya untuk menutupi tubuhnya yang tanpa busana, berjalan menghampiri Jony,"Aku hamil..." ucapnya.


Jony membulatkan matanya entah harus senang atau kesal,"Saat terakhir melakukannya sebulan yang lalu, kamu tidak meminum obat kontrasepsi!?" tanyanya.


Dea menggeleng gelengkan kepalanya,"Kamu ingin seorang anak bukan!?" tanyanya.


"Tapi bukan darimu!!" Jony membentak kesal.


"Kita hanya bersenang-senang, tapi anak ini tidak tau apa-apa. Kamu tega pada darah dagingmu!?" tanya Dea menatap tajam mengetahui kelemahan pria di hadapannya.


"Aku akan memikirkannya..." Jony berucap, mengenakan sepatu dan jam tangannya. Meninggalkan apartemen tanpa menoleh.


Sementara Dea, berjalan berlalu menuju ke kamar mandi. Memiliki putri yang mewarisi harta kekayaan ayahnya, suami yang memiliki status dan reputasi baik akan dimilikinya. Hidupnya terasa sempurna. Wanita itu mulai bersenandung senang di bawah derasnya shower yang menerpa tubuhnya.


Jony berkali-kali mengumpat, berusaha menenangkan dirinya. Waktu sudah menunjukkan pukul satu siang, seorang wanita berwajah pucat dengan pakaian yang tidak kelihatan mewah menunggunya di loby. Membawa sebuah rantang.


"Jony..." ucapnya senyuman menyungging di wajah pucatnya.


"Kenapa kemari!?" Jony menghampiri istrinya, membelai pucuk rambut Ana.


"Resepsionis bilang kamu sedang keluar menemui klien, jadi aku membawakan makan siang untukmu dan menunggu disini..." ucapnya tersenyum cerah, seakan tidak memiliki beban di hidupnya.


"Kita makan di ruanganku ya!?" Jony membimbing istrinya memasuki lift. Pemuda itu, menatap senyuman di wajah istrinya, tidak tau harus bicara dari mana.


Tangannya gemetar, penuh rasa bersalah, seakan benar-benar berlumuran lumpur kotor.


Pintu besar ruangannya akhirnya terlihat, Ana membuka rantangnya menata makanan satu persatu.


Jony menghebuskan napas kasar, mungkin dalam kondisi emosi yang baik seperti ini, tidak akan mempengaruhi kondisi kesehatan Ana begitulah fikirnya.


"Ana aku..." kata-katanya terhenti, wanita yang bersetatus istrinya itu memeluknya sembari menangis.


"Terimakasih sudah bersabar, rumah sakit sudah menemukan donor untukku...Aku mencintaimu. Aku dan anak yang akan kita miliki suatu hari nanti, akan menemanimu selama lamanya..." ucapnya menangis penuh rasa syukur.


Terimakasih Tuhan telah mendengarkan doaku... Ana tersenyum dalam tangisannya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2