
Tirta mengikuti langkah Zen tanpa mengetahui magsud dari kata-kata pemuda yang diduganya sebagai suami almarhum kakaknya, perlahan pintu mobil dibukanya. Tangannya gemetar menatap sosok wanita yang membesarkannya,"Kakak," lirihnya, bergegas masuk ke dalam mobil, memeluk Citra erat.
"Maaf, aku lupa... Maaf aku tidak tau..." ucapnya dengan nada suara bergetar, tidak dapat menahan tangisnya.
Citra berusaha tersenyum, sembari mengangguk, mengusap-usap punggung adiknya penuh kasih. Sejenak kemudian, pemuda itu melepaskan pelukannya,"Maaf, aku baru kemari, kakak tinggal denganku di kota ya?"
Citra menggeleng gelengkan kepalanya, mengusap air mata yang mengalir di pipi adiknya."Aku merindukan kakak, aku sudah menikah sekarang, istriku bernama Gina, putra kami bernama Daniel. Usianya sudah 7 tahun saat ini," ucapnya bicara cepat tanpa henti, mengambil dompetnya menunjukkan foto anak dan istrinya.
Citra tersenyum, namun air mata kembali menetes di pipinya,'Kamu menjaga anakmu dengan baik,' ucapnya menggerakkan tangannya menggunakan bahasa isyarat.
"Aku dengar dari pak Dirjo, kakak dan anak kakak meninggal dalam kebakaran. Kakak bisa selamat, apa keponakanku juga selamat?" tanyanya antusias, dengan mata menelisik, mencari keberadaan anak yang mungkin bersembunyi.
Citra tetap berusaha tersenyum, sembari menggeleng gelengkan kepalanya,'Aku tidak dapat menjaganya dengan baik, karena itu Tuhan mengambilnya dari kami. Mungkin Tuhan lebih menyayanginya...'
Pandangan wanita bisu itu sedikit teralih menatap ke arah bekas rumahnya. Gabriel terlihat memejamkan matanya, berdoa untuk putranya yang tidak sempat mendapatkan kasih sayangnya.
Kami orang tua yang buruk... gumamnya dalam hati.
Tirta tertegun diam, menenangkan tangisan kakaknya pun tidak bisa dirinya lakukan. Membayangkan jika dirinya berada di posisi kakaknya, dan yang meninggal adalah Daniel. Dirinya mungkin akan kehilangan kewarasannya. Namun, pasangan suami istri itu nampak tegar, atau mungkin berpura-pura tegar.
***
Kembali ke 20 tahun kemudian...
"Pinset..." seorang pria berpakaian operasi menadahkan tangannya."Penjepit..." lanjutnya, sedangkan seorang petugas medis lain memberikan benda-benda yang dimintanya.
Matanya sesekali melirik ke arah monitor, mengamati detak jantung pasien. Beberapa jam operasi berlangsung, sang pria keluar dari ruangan operasi melepaskan sarung tangan, masker serta pakaian yang dikenakannya khusus untuk operasi.
"Tuan..." Zen tertunduk memberi hormat.
"Panggil semua staf medis di rumah sakit, sisakan 10 orang untuk berjaga-jaga jika ada pasien gawat darurat..." ucapnya dengan wajah yang masih kotor terkena cipratan darah pasien.
"Tapi tuan, rumah sakit sebesar ini, menyisakan 10 orang..."Zen nampak ragu.
"Hanya beberapa belas menit saja, aku tunggu mereka di ruang konferensi, satu jam dari sekarang..." ucapnya menyunggingkan senyuman.
Darah telah dibersihkan dari wajahnya, pakaiannya telah diganti dengan setelan jas berwarna hitam. Berjalan penuh keangkuhan di hadapan semua staf rumah sakit.
Semua orang bangkit memberi hormat padanya. Siapa para staf rumah sakit ini? Semuanya adalah orang-orang dengan keahlian khusus, dan kecerdasan tinggi. Orang-orang yang dibuang Lery jika tidak berguna lagi.
Nyawa mereka diselamatkan dengan berbagai cara oleh seorang dokter bedah, yang selama puluhan tahun memakai topeng kesetiaan pada kakak beda ibunya. Mendirikan beberapa rumah sakit besar, mendirikan kekuasaannya sendiri.
__ADS_1
Rumah sakit biasa yang menerima pasien umum? Tentu saja, semua orang dapat berobat disana. Namun semua stafnya bukan orang biasa, kedok sempurna untuk mengecoh Lery.
Gabriel menyunggingkan senyumnya di hadapan semua orang. Yang satu persatu wajah mereka dulu, sedikit banyaknya telah dirubah olehnya.
Pria dengan jas hitamnya itu, mendekatkan bibirnya pada microfone,"Apa kalian merindukan keluarga kalian?" tanyanya.
Beberapa diantara mulai berbisik-bisik, berdiskusi dengan suara kecil.
"Waktunya, sudah dekat kalian sebentar lagi dapat pulang. Kita akan menghancurkan Hans..." ucapnya di hadapan semua orang, sembari tersenyum.
Semua orang bertepuk tangan, penuh senyuman seakan hari-hari penantian mereka tidak sia-sia.
Salah satu orang berpakaian suster mengangkat tangannya,"Tapi untuk dana dan sumber daya..." ucapnya nampak ragu.
"Beberapa perusahaan boneka (istilah untuk perusahaan yang digerakkan di belakang layar, pemilik perusahaan yang dicantumkan, bukan pemilik sebenarnya) yang kita bangun sudah cukup banyak menghasilkan sumber dana. Hanya tinggal satu langkah saja, kerjasama dengan tuan Taka harus terlaksana," jawab Gabriel.
"Aku memanggil kalian kemari untuk mempersiapkan diri kalian. Saat untuk mempertaruhkan semuanya sudah dekat..." Gabriel kembali tersenyum, meninggalkan ruangan konferensi.
Dokter, perawat, staf rumah sakit, bahkan tukang bersih-bersih berjalan keluar dari ruang konferensi.
Seorang pria berpakaian cleaning service membuka ruangan kecil untuk peralatan bersih-bersihnya. Mulai membuka kotak besar yang disembunyikan di belakang tumpukan peralatan.
Terlihat berbagai macam senjata api, sang cleaning service terlihat tersenyum,"Saatnya membersihkan koleksiku," gumamnya.
Sedangkan beberapa dokter mengikuti langkah Gabriel menuju ruangannya,"Bukannya ini terlalu gegabah, tidak bisakah kita menunda? Lery memiliki akses di perdagangan gelap, sumber dana dan semuanya... Jika hanya dengan bantuan Taka, orang itu tidak akan berbuat..." kata-kata sang dokter yang mengikuti Gabriel terhenti.
"Kamu tau rasanya kehilangan seorang anak? Anak kedua Taka meninggal akibat bunuh diri dalam keadaan hamil, setelah diperkosa. Aku tau siapa pelakunya, itu sudah cukup untuk membuat orang tua kaku itu marah besar..." ucapnya penuh senyuman. Mulai duduk di kursinya.
Suara ketukan pintu terdengar, terlihat Zen masuk membawa sebuah surat,"Tuan ada undangan..." ucapnya.
"Dari siapa?" Gabriel mengenyitkan keningnya.
"Tirta, putranya akan bertunangan..." jawabnya, menyerahkan undangan dengan warna merah.
"Buang saja," Gabriel menghembuskan napas kasar.
"Tapi, ini bersamaan dengan pengumuman ahli waris JH Corporation, perusahaan milik cucu angkat Tuan Taka. Satu lagi Lery akan hadir..." sanggah Zen.
"Kenapa dia hadir?" tanya Gabriel mulai tertarik.
"Clarissa(anak Lery), muda dan cantik. Mungkin Lery ingin mendekatkannya dengan cucu angkat Taka, memperkokoh kekuasaannya," sangkaan Zen.
__ADS_1
"Cucu angkatnya didik dengan keras, namun sangat disayangi Taka. Saya rasa, jika Clarissa mendekatinya..." Zen menghentikan kata-katanya.
"Bukannya mengumumkan ahli waris berarti sudah menikah?" tanya Gabriel mengenyitkan keningnya.
"Memang sudah, tapi hanya untuk menyingkirkan seorang ibu dan anak..." jawab, Zen menghebuskan napas kasar.
"Lindungi istri dan anaknya diam-diam!! Awasi gerak gerik Hans!! Aku akan hadir di acara pembukaan cabang perusahaan sekaligus pertunangan Daniel," ucap Gabriel terlihat cemas.
***
Tomy mengenyitkan keningnya menatap persiapan acara pembukaan cabang perusahaan JH Corporation, sekaligus pertunangan Daniel dan pengumuman ahli waris perusahaan milik tuannya.
"Tuan, apa ini acara ulang tahun anak-anak? Selain itu sudah ada EO milik nona Jeny. Kenapa anda mempermalukan diri anda..." ucapnya memegangi tangga.
"Ini adalah acara putraku, jadi harus ada banyak lampion Doraemon, dan harus ayahnya ini yang memasang sendiri. Menurutmu, apa tidak sebaiknya di ganti Spongebob saja?" tanyanya dari atas tangga, tengah memasang lampion serta dekorasi balon.
Spongebob? Dasar ayah budak anak, anakmu baru berusia 7 bulan!! Jika kamu memasang dekorasi Cinderella pun, Rafa hanya akan tertawa, tidak protes atau dapat bicara... Tomy merajuk kesal.
"Kita ganti saja Naruto mungkin lebih baik..." Farel, kembali melepaskan lampion berbentuk kepala Doraemon yang baru dipasangnya.
Tuan, bagaimana jika anda turun sekarang, agar aku dapat menggunakan jurus ninja untuk memukul kepala anda, agar anda sedikit lebih waras... hujat Tomy dalam hatinya, menendang nendang udara kesal.
"Kenapa anda tidak sekalian menjadi badutnya saja. Agar Rafa senang..." cibir Tomy menahan amarahnya.
"Benar juga, aku akan memakai kostum Doraemon!!" Farel kembali memasang lampionnya.
Pemilik perusahaan yang tidak waras menjadi badut. Tuan Farel benar-benar sudah gila ... Tomy membulatkan matanya, tidak menyangka ide anehnya, yang hanya sebuah sindiran, ditanggapi serius oleh Farel.
"Kenapa tidak Spongebob atau Naruto?" Tomy mengenyitkan keningnya.
"Kostum Spongebob sulit untuk dibuka sendiri, kalau Naruto, tata rias cosplayernya lumayan mahal. Selain itu kalau aku berdandan ala Naruto, Rafa akan sulit mengenaliku..." Farel mulai tersenyum turun dari tangga yang dipegangi Tomy.
"Bilang saja terlalu pelit untuk menyewa tata rias efek khusus..." cibir Tomy dengan suara kecil.
"Aku tidak pelit!! Aku hanya hemat, untuk masa depan!!" Farel membentak kesal, setelah turun dari tangga.
Tomy berjalan mendekati meja, meminum jus melon dingin miliknya. Seteguk, dua teguk, dan hal yang bagaikan tradisi terjadi lagi.
"Aku minta ya!? Aku haus, kamu ambil yang lain saja..." Farel tersenyum, merebut minuman Tomy yang bahkan belum puas diminumnya.
Ya Tuhan, memang tidak ada makhluk sempurna di dunia ini. Kaya, tampan, pintar, tidak ada yang kurang. Hanya saja, tidak tau malu dan pelit. Entah... ngidam apa ibunya, sehingga putranya seperti ini... Tomy menelan ludahnya, mengamati Farel yang tersenyum sembari meminum jus melon miliknya.
__ADS_1
Bersambung