
......Walaupun sudah terlambat untuk mengakui, kini aku mengerti dari arti sebuah keluarga. Jalan salah yang aku ambil, karena terlalu dalam lubang di hati ini ketika kepergianmu. Aku tutupi dengan kebahagiaan palsuku......
Dea...
Tubuh yang mendingin itu dibawa ke rumah sakit terdekat, tetesan darah terus saja mengalir. Sang karyawan memang datang sebelum waktu yang dijanjikan. Tangannya gemetar ketakutan, menatap wajah pucat pasi. Terlebih dokumen transplantasi kornea yang sudah di tanda tangani.
Dokter keluar dari ruangan ICU, melepaskan maskernya, menggeleng-gelengkan kepalanya,"Maaf, pasien terlalu banyak kehabisan darah, kami sudah berusaha semaksimal mungkin..." ucapnya. Terlihat dari pintu yang sedikit terbuka, tubuh Dea mulai ditutupi kain putih.
"Ibuk Dea meninggal...?" tangan sang karyawan gemetaran. Jemari tangannya meraih handphonenya mulai menghubungi Jeny, satu-satunya nomor keluarga atasannya yang diketahuinya, mengingat Jeny pernah bekerja di perusahaan milik Dea.
Namun, bukanlah Jeny seorang pria yang mengangkatnya...
***
Derap langkah Farel berjalan lemas menelusuri lorong sanatorium, setelah sebelumnya pergi ke rumah sakit, menyetujui prosedur pengangkatan kornea, yang harus dilaksanakan sebelum 6 jam pasca kematian.
Hati pemuda itu saat ini terluka, bukan karena kehilangan sosok ibu angkat yang dianggapnya sebagai majikan. Namun, bagaimana harus menghadapi nonanya saat ini.
Pintu ruang rawat Jeny dibukanya dengan ragu,"Si... siapa?" wanita itu meraba ke area sekitarnya.
"Nona..." Farel memeluk erat istrinya, bingung harus berkata apa.
"Ren? Kenapa menangis?" tanyanya.
"Nyonya Dea..." Farel menghela napasnya, melonggarkan pelukannya.
"I...ibu?" Jeny mengenyitkan keningnya tidak mengerti.
"Nyonya Dea menitipkan surat, aku akan membacakannya. Tapi berjanjilah untuk tetap tenang..." ucap Farel, dijawab dengan anggukan oleh Jeny.
This's Dea (ini Dea), seperti yang ibu katakan sebelumnya, jangan memaafkan ibu. Hari ini ibu berbuat dosa yang mungkin Tuhan sekalipun tidak akan mengampuninya. Ibu divonis menderita alzheimer beberapa minggu yang lalu.
Dimensia (ilusi bagaikan nyata)? Adalah hal yang paling menyenangkan dari penyakit itu. Ibu dapat melihat ayahmu yang bodoh, kapanpun ibu menginginkannya. Dea yang idiot ini, baru menyadari merindukan pria bodoh yang tersenyum dengan seragamnya.
Ibu ingin meminta pertolonganmu...ibu ingin memeluk ayahmu dan mengatakan padanya pria bodoh berseragam adalah keluargaku. Tapi ibu juga masih ingin melihat adikmu tubuh dewasa. Karena itu, turuti permintaan ibu sebagai anak yang baik... kali ini, bantu ibu melihat Dimas tubuh dewasa menggunakan matamu. Maafkan ibumu yang egois dan kekanak-kanakan ini...
Dea...
"Ibu!! Apa yang terjadi pada ibu?" tanyanya lirih.
"Nyonya Dea, mengiris pergelangan tangannya sendiri. Nyonya meninggal di rumah sakit. Beliau menandatangani dokumen persetujuan transplantasi donor kornea sebelum beliau meninggal..." jawab Farel, menggenggam erat jemari tangan Jeny, berusaha menegarkan.
Wanita itu menepis tangan suaminya, mulai menangis, berteriak histeris,"Ibu...!! Aku lebih baik tidak melihat selamanya...!! Biarkan aku ikut denganmu dan Ayah!!"
Farel menggeleng gelengkan kepalanya, meneteskan air matanya, memeluk tubuh istrinya erat, walau Jeny meronta sekalipun."Jangan berkata seperti itu lagi, aku dan Rafa memerlukanmu. Apa kamu akan membuangku dan Rafa?" tanyanya dengan air mata menetes segera diseka olehnya.
"I...i...ibu..." ucapnya terisak, mengeratkan pelukannya pada Farel."Aku tidak ingin dioperasi, aku ingin ibu hidup kembali. Alzheimer? walaupun ibu menjadi tidak rasional sekalipun aku akan merawatnya..." racaunya mengeluarkan air mata.
__ADS_1
"Nyonya tidak dapat hidup lagi. Jika nona menolak, aku akan meminta pihak rumah sakit memberikan pada orang lain. Namun, nyonya yang sudah terlanjur pergi mungkin akan kecewa, karena tidak dapat melihat Dimas tubuh dewasa..." Farel menghela napas kasar, melonggarkan pelukannya, perlahan menghapus air mata yang menetes di pipi nonanya.
Jeny tertunduk terisak,"Ibu..." ucapnya lirih."Aku akan membantumu merawat Dimas jika itu keinginanmu..." lanjutnya, menepuk nepuk dadanya yang sesak.
"Nyonya akan tetap melihat dunia melalui nona..." ucapnya menggenggam erat jemari tangan Jeny yang masih tertunduk meneteskan air matanya.
***
Seorang anak berusia 12 tahun, memakai setelan jas hitam menyisir rapi rambutnya. Menatap pantulan dirinya di cermin, "Sudah tampan, bukankah anak-anak ibu harus terlihat sempurna?" tanyanya dengan derai air mata yang menetes, menatap pantulan dirinya di cermin. Jony segera menghampiri putranya, berlutut mensejajarkan tingginya. Memeluk anak itu erat.
"Maaf..." ucapnya, dalam tangisan.
Dimas menggeleng-gelengkan kepalanya,"Terakhir kali ibu sudah pernah tersenyum penuh kasih padaku. Itu artinya ibu pernah bahagia. Aku akan menjadi anak yang baik dan sempurna untuknya, agar ibu bahagia di sana..." racaunya dengan suara bergetar, membalas pelukan ayahnya.
Karangan bunga dari berbagai perusahaan terlihat berjejer rapi di rumah duka. Tubuh dalam peti itu mulai diangkat ke dalam ambulance setelah didoakan. Hanya beberapa kerabat yang ikut mengantar hingga pemakaman yang cukup jauh di pelosok desa, dekat rumah lama mereka.
Benar, disamping Doni. Mungkin polisi baik hati itu benar-benar menunggunya, menerima apapun kekurangan.
'Aku ingin menjadi sesuatu yang sabar menunggumu merindukanku. Seperti tanah musim kemarau yang akan merindukan hujan. Hingga ada saatnya hujan akan turun, menghapus kerinduannya...'
Kata-kata yang dulunya diucapkan Doni ketika SMU, mungkin walau di neraka sekalipun pria baik hati itu akan menghapus kerinduan istrinya...
Dimas dan Jeny yang dituntun Farel pergi meninggalkan makam paling akhir. Terlihat dua nisan berdampingan dengan masing-masing nisannya berhiaskan bunga Lily putih.
***
"Itu surat dari siapa?" tanya seorang pemuda dengan nada posesif.
"Perusahaan kakek!! Perusahaan kakek diwariskan padaku!!" ucapnya melompat lompat, memeluk kekasihnya erat.
Key mengenyitkan keningnya, terlihat gusar. Kemudian menghela napasnya tersenyum dipaksakan,"Kapan kamu akan pindah?" tanyanya.
"Secepatnya, kita akan tinggal di Australia. Tante Dea terlalu fokus dengan perusahaannya di negara ini. Tapi aku akan mengembangkan..." kata-katanya terhenti, Key mengecup bibirnya sekilas.
"Aku tau, kejarlah cita-citamu..." ucapnya.
"Key?" Nana melonggarkan pelukannya, menatap manik mata pemuda itu."Kita akan pergi kan?" lanjutnya.
"Ibuku masih sakit, ijazahku hanya SMU, tidak memiliki pengalaman kerja apapun. Aku hanya akan menyusahkanmu..." jawabnya, merapikan anak rambut Nana.
"Ka...kamu bisa kuliah di sana. Ibumu juga, aku bisa membiayai perawatannya!!" ucap Nana antusias.
Key kembali mengeratkan pelukannya,"Dengar, aku sudah terlalu banyak memakai uangmu. Jangan buat aku tidak memiliki harga diri lebih banyak lagi. Begini saja, pergilah...! Besarkan perusahaan almarhum kakekmu. Aku akan berusaha sendiri sedikit demi sedikit hingga pantas bersanding denganmu..." ucapnya dengan nada lembut.
"Tapi, akan lebih mudah jika..." kata-kata Nana terhenti, pemuda itu melonggarkan pelukannya. Mulai memejamkan matanya, perlahan mencicipi bibir dari wanita yang beberapa bulan ini sudah bersetatus sebagai kekasihnya.
Pria tidak berpengalaman? Itulah dia, perlahan dirinya mungkin sudah terbiasa, menikmati bibir dengan lidah saling bertaut,"Ketahuilah, jika perasaan kita nyata. Berapa lamapun waktu yang diperlukan, kita akan dapat bersama..." ucapnya tersenyum, setelah tautan bibirnya terlepas.
__ADS_1
Key kemudian duduk di sofa, mengenyitkan keningnya menatap Nana,"Kamu tidak sedih?" tanyanya.
"Tentu saja, seburuk apapun sifat bibi Dea dia tetap keluargaku. Tapi, aku hanya dapat melihat ke depan dan mendoakannya tenang disana..." jawabnya.
Key menyunggingkan senyumannya, menatap wajah wanita yang berdiri di hadapannya,"Meninggal bunuh diri ya? Kamu tidak takut malam ini tidur sendirian?" tanyanya.
"Tidak, lagipula aku..." kata-kata Nana terpotong.
"Bagaimana jika terdengar suara ketukan dari jendela, memanggil Nana... Nana... Nana..." ucapnya.
Plak...
Wajah Key dipukul menggunakan bantal kecil di sofa."Key br*ngsek!! Sudah tau ibumu hari ini menginap di rumah saudara jauhnya!! Kenapa menakut-nakutiku!!" bentaknya.
"Seorang wanita berlumuran darah tiba-tiba menghampirimu dan..." kata-kata Key terhenti,
Nana mengunci pergerakannya yang duduk di sofa. Dengan posisi, wanita itu duduk di pangkuan Key, wajah mereka saling bertatapan. Perlahan kancing kemeja pria itu dibukanya.
"Apa ini maumu? Karena itu menakuti-nakuti ku?" tanyanya memastikan, dengan deru hembusan napasnya menerpa wajah sang pemuda.
Dengan satu gerakan, sang pemuda membalik posisi, menindih tubuh Nana di atas sofa. Menatap mata wanita itu intens, Nana menutup matanya, hendak menikmati ciuman. Sebagai pemain cinta profesional, tentunya wanita itu tau hal panas menggairahkan yang akan terjadi.
Pletak...
Key menyentil dahi Nana,"Dasar murahan!! Tahanlah dirimu!! Tunggu aku dapat mengangkat kepalaku untuk memperistrimu!! Aku akan memberimu pelajaran hingga tidak dapat bangun dari tempat tidur..." cemoohnya, bangkit dari atas tubuh Nana, tersenyum simpul.
"Dasar matre!! Aku lebih baik mencari sugar Daddy dari pada denganmu..." dustanya merajuk, mulai bangkit, duduk di atas sofa.
"Jika kamu sanggup meninggalkanku dan mencari sugar Daddy, kamu sudah melakukannya dari berbulan-bulan yang lalu..." ucapnya menguap, menggaruk-garuk punggung dan perutnya sendiri, berjalan menuju kamar tanpa menjaga etika.
"Entah bagaimana aku bisa bertahan dan jatuh cinta pada makhluk perhitungan, sok alim itu..." gumamnya menatap kagum.
Key menengok keluar kamar,"Kita boleh tidur bersama, tapi hanya sekedar saling memeluk..." ucapnya memperingatkan, tidak ingin menerima godaan.
"Aku tidak janji!!" Nana, berjalan cepat memasuki kamar Key, kemudian menutup pintunya.
Beberapa saat berlalu terdengar suara tidak lazim dari kamar itu.
"Nana, aku bilang hanya peluk!!"
"Satu ciuman sebelum tidur saja!!"
"Aku juga pria normal!! Keluar!! Nanti aku bisa khilaf!!"
"Tidak mau!!"
Bersambung
__ADS_1