
Mobil yang terlihat berharga fantastis, setelan jas rapi, lengkap diikuti seorang pria bagaikan pelayanannya. Mata Candra menelisik.
"Pak, Daniel kenapa kemari?" Kanaya mengenyitkan keningnya, mengingat pembicaraan mereka sebelumnya.
"Tentu saja aku kemari untuk menjemput si tukang selingkuh," Daniel memasuki rumah, mengamati keadaan rumah gadis yang membuatnya mati kutu.
Tuan muda arogan dengan kebudayaan berbeda? Itulah dia, masuk, kemudian duduk di ruang tamu tanpa permisi, diikuti asistennya.
Kemal yang sedari tadi duduk di teras, ikut masuk ke dalam. Seekor naga, dari atas sampai bawah kesombongan yang terlihat menyebalkan. Orang kaya, berkuasa yang sombong... gumamnya dalam hati mulai duduk di kursi rotan ruang tamu, memaksakan dirinya untuk tersenyum.
Kanaya mengenyitkan keningnya, menyuguhkan teh serta beberapa cemilan."Kenapa kakak kemari?" tanyanya berbisik, sarkas mengingat Daniel mengatakan mengganggapnya sebagai adik.
"Kakak? Bukannya beberapa bulan lalu kita bertunangan?" tanyanya tersenyum tanpa dosa.
Ken (asisten Daniel) menghela napas kasar, menatap paperbag yang dibawanya... Rumahnya tidak begitu bagus, tuan Daniel mengejar wanita dari kalangan bawah sampai kesini. Orang tua Kanaya setidaknya harus menyambutnya, mungkin mereka sedang bersorak gembira dalam hatinya. Belum menjadi menantu saja, ratusan juta sudah habis untuk sekedar oleh-oleh...
Gadis itu menatap sinis, duduk di samping ibunya. Tidak mengerti? Mungkin itulah perasaannya saat ini. 'Pemberi harapan palsu' julukan itu terlanjur melekat di jidat Daniel.
"Anda atasannya Kanaya kan? Maaf hanya dapat menyuguhkan ini," Candra tersenyum, tepatnya berpura-pura tersenyum.
Dipermainkan pria kota? Kinara sudah pernah mengalaminya, membesarkan putranya sebagai orang tua tunggal, mendapatkan cemoohan dari tetangga.
Awalnya, kata-kata bahagia dari Kanaya, yang jatuh hati pada atasannya, tidak membuat Candra cemas. Tapi tidak dapat datang? Dan kini berubah fikiran tiba-tiba datang?
Kanaya hanya dijadikan mainan oleh pria kota ini. Mungkin begitulah anggapan Candra, menatap sinis pada Daniel yang tersenyum padanya.
"Tidak apa-apa, aku membawakan oleh-oleh untuk kalian," ucap Daniel, bersamaan dengan Ken meletakkan dua buah paperbag ke atas meja.
Dengan canggung Sumi mulai membuka isi paperbag. Dan benar saja, satu set perhiasan yang mungkin berharga ratusan juta. Sebuah jam tangan bermerek, dan dua buah handphone keluaran terbaru.
Candra menghebuskan napas kasar,"Apa maksud kedatangan anda kemari?" tanyanya, menatap tajam.
"Saya ingin mengunjungi orang tua dari kekasih saya. Saya harap paman dan bibi merestui hubungan kami..." jawabnya, masih setia tersenyum.
Kanaya mengenyitkan keningnya, menatap Kemal dan Daniel bergantian. "Ibu, mereka salah minum obat..." bisiknya pada Sumi, mengingat kata adik yang kedua pemuda itu dulu ucapkan.
"Apa kamu akan menikahinya?" tanya Candra pada pemuda yang duduk di hadapannya sembari menyesap cangkir tehnya, menghembuskan napas kasar.
"Paman!?" Kemal menatap ke arah Candra, seakan tidak setuju dengan pernyataan sang pria paruh baya.
Daniel sedikit menunduk, kemudian kembali tersenyum,"Aku ingin mengenalnya lebih dekat dulu. Menjalani hubungan sebagai kekasih, sebelum melangkah ke jenjang selanjutnya,"
Candra menghebuskan napas kasar,"Sudah aku duga," ucapnya.
"Pria kota hanya dapat memberikan janji palsu!! Menjadikan wanita desa sebagai mainan di ranjangnya dengan status kekasih. Setelah bosan, tinggal melarikan diri ke kota, menikahi wanita yang sepadan," lanjutnya, menatap sinis.
Bagus, paman benar!! Usir si br*ngsek ini... Kemal menyemangati dalam hatinya, menahan diri, menipiskan bibir menahan tawanya.
"Saya bukannya tidak serius, tapi kami baru saja menjalin hubungan. Lebih baik saling mengenal dulu, setelah itu melangkah ke jenjang berikutnya. Benar kan Kanaya?" tanyanya, menatap wanita yang tidak mengerti dengan tingkah atasannya saat ini.
"Kakak, kamu tidak mungkin ingin menikahi adikmu sendiri kan? Kemarin bukannya menganggapku sebagai adik?" jawabnya menghebuskan napas kasar.
Kemal yang sedari tadi menipiskan bibir, tidak dapat menahan tawanya lagi. "Kakak? Dia menganggapmu sebagai kakak, kamu dengar sendiri kan?" ucapnya memegangi perutnya, tidak sadar diri.
"Kamu juga! Kenapa bersikeras ingin menikahi adikmu sendiri? Bukannya dulu kamu yang menolakku, dengan alasan hanya menyimpan perasaan padaku hanya sebagai adik!?" Kanaya meninggikan intonasi bicaranya.
__ADS_1
Ken yang dari tadi terdiam dengan wajah tanpa ekspresi, tiba-tiba tertawa dengan kencang. Tawa yang terdengar memenuhi ruangan.
Mereka ternyata sama saja, mungkin di kehidupan sebelumnya mereka tiga bersaudara, yang terlalu menyayangi adiknya... gumamnya dalam hati.
Gadis itu bangkit dari kursi tempatnya duduk, berjalan dengan cepat menuju kamarnya. Hingga langkahnya terhenti di ambang pintu.
"Kakak pertama!!" Kanaya menunjuk pada Kemal, "Kakak kedua!!" jemarinya kembali menunjuk pada Daniel."Kenapa tidak sekalian saja kita pergi ke barat mencari kitab suci!!" bentaknya, masuk ke kamarnya kemudian membanting pintu dengan keras.
"Dia menolakku?" Daniel tertegun sejenak, menghembuskan napas kasar."Paman, bibi, saya permisi dulu. Sudah terlalu larut, saya harus mencari penginapan..." ucapnya bangkit, tersenyum pada dua orang di hadapannya.
"Bawa oleh-olehmu!! Kami tidak menjual putri kami!!" bentak Candra, melempar dua buah paperbag yang ada di atas meja ke hadapan Daniel.
"Saya tulus menyayanginya, mungkin saya belum bisa meyakinkan anda. Tapi saya akan berusaha..." ucapnya menunduk, melangkah pergi diikuti Ken, tanpa mengambil kembali paper bag yang isinya berhamburan di lantai.
Pemuda itu, memasuki mobil diikuti asistennya. Duduk menyender, menatap pantulan dirinya dari spion mobil.
Karena aku bodoh, aku dapat melangkah kemari. Karena aku bodoh, aku bisa jatuh cinta padamu. Karena aku bodoh, aku menekan harga diriku. Karena aku bodoh, aku terus merindukan dan mencintaimu.
Jika aku berakhir kembali menangis, itu semua karena kebodohanku. Sebuah kebodohan yang membuatku bahagia hanya dengan melihat
senyumanmu...
"Tuan, apa kita akan pulang?" tanya Ken dari kursi pengemudi.
"Tidak, sewa sebuah villa di dekat sini. Hubungi ayah, minta orang untuk mengalihkan pekerjaanku sementara..." jawabnya, tersenyum simpul.
"Tuan, kenapa anda tersenyum? Keluarganya sudah menghina anda," tanya Ken tidak mengerti.
"Aku bahagia ketika melihat wajahnya. Aku hanya ingin mengatakan merindukan dan menyukainya. Tidak peduli akhirnya akan bagaimana," jawabnya, menyenderkan tubuhnya di kursi penumpang.
***
Kemal menghembuskan napas kasar, menatap isi paperbag yang berceceran di lantai. Jemari tangannya mengepal, Untuk pertama kalinya ada pria yang mengejarmu, tapi hatiku sudah terasa sesakit ini. Bagaimana perasaanmu 7 tahun yang lalu...? Maaf...
"Paman, bibi, aku pulang dulu..." Kemal tertunduk, tersenyum pada pasangan suami istri yang masih duduk di kursi rotan.
"Iya, tiga hari lagi bawa orang tuamu kemari. Kita bicarakan rencana pernikahan kalian," ucap Candra mengambil keputusan.
"Paman masih tetap setuju padaku?" tanyanya tidak mengerti, mengingat status Daniel yang jauh lebih tinggi.
"Kami tidak menjual putri kami, uang dan status bukan segalanya. Paman yakin kamu dapat menjaga Kanaya dengan baik..." ucapnya, menghebuskan napas kasar.
"Terimakasih paman," Kemal tersenyum, pergi meninggalkan rumah tetangganya.
***
Kamar yang tidak begitu besar, sang pemuda terlihat gelisah. Bukan karena anacondanya, tapi karena merasa bersalah pada gadis yang dicintainya.
Hingga pukul satu dini hari, matanya belum juga dapat tertutup sempurna. "Aku harus menemui, dan minta maaf padanya..." gumamnya, mulai bangkit.
Tak...Tak...
Suara kaca jendela kamar gadis perawan diketuk oleh pemilik anaconda yang katanya berukuran besar. Perlahan, pantulan wanjah putih nan cantik itu terlihat dari kaca jendela yang transparan, jemari tangannya membuka jendela kamarnya.
"Ada apa!?" bentak Kanaya dengan mimpi indah yang terpotong.
__ADS_1
"Mau kabur dari rumah, seperti waktu kecil?" tanya sang pemuda.
"Tidak, kamu merusak mimpi indahku yang sedang menunggu bis bersama Farel..." jawabnya, menghembuskan napas kasar, hendak kembali berlalu.
"Berhenti!! Kita pergi bersama atau aku mencari jalan masuk ke kamarmu. Menggerayangimu, supaya kamu bisa melihat anacondaku!!" ancam Kemal.
"Aku akan teriak..." sahut Kanaya tegas.
"Teriak saja, warga akan datang kemudian menikahkan kita," ucapnya penuh senyuman, tidak terbantahkan.
"Dasar anaconda menyebalkan, bisakah kamu berhenti memanfaatkan anacondamu," Kanaya naik ke jendela kamarnya, yang tidak begitu tinggi, dengan rambut yang masih acak-acakan.
"Jika nanti tidak memanfaatkan anacondaku, aku bisa tidak punya keturunan," jawabnya tertawa kecil, menarik tangan Kanaya.
"Sejak kapan seorang Kemal, mesum begini?" Kanaya menghebuskan napas kasar.
"Semenjak anacondaku mengetahui sarangnya dimana..." jawabnya tertawa.
Plak...
Satu pukulan mendarat di kepalanya,"Jangan katakan tentang anaconda lagi!!" bentaknya, berjalan mengikuti Kemal di tengah gelapnya malam.
***
Dari pantulan matanya kini, terlihat cahaya jutaan bintang. Indah, dan hangat, begitulah perasaan pemuda itu saat ini.
Pematang sawah? Benar, disanalah mereka berada saat ini.
Hujan komet bagai tiada hentinya melewati langit malam, menghiasinya diantara jutaan bintang.
"Kakak tau dari mana?" tanya Kanaya menatap takjub.
"Komet Herry melintasi orbit bumi setiap 4 tahun sekali. Ini hadiah untukmu..." jawabnya, mengamati bintang, jemarinya bergerak perlahan. Menggengam erat jemari tangan gadis yang duduk di sampingnya.
"Maaf..." ucapnya.
"Kenapa minta maaf?" Kanaya mengenyitkan keningnya.
"Bukan apa-apa, hanya ingin minta maaf," jawab Kemal ambigu.
"Kemal, apa saja yang kamu lakukan beberapa tahun ini?" Kanaya mengalihkan sedikit pandangannya, menatap ke arah pemuda yang duduk di sampingnya.
"Menjalani pelatihan di asrama. Aku jarang pulang kampung, aku adalah junior kebanggaan. Walaupun terkadang membuat kesalahan, rangkaian pelatihannya..." kata-kata Kemal terhenti, terasa sesuatu menyender di bahunya.
Wajah gadis yang tertidur lelap terlihat, wajah damai yang kelelahan. Kemal perlahan merubah posisi Kanaya, meletakkan kepala gadis itu di pahanya. Memberikan porsi yang lebih nyaman.
"Yang aku lakukan beberapa tahun ini adalah merindukanmu. Kutu buku, bodoh berkacamata..." gumamnya, merapikan anak rambut, gadis yang tertidur di pematang sawah.
Aku tau status dan kekayaanku bukan apa-apa dibandingkan dengannya. Tapi aku berjanji akan menjaga dan membahagiakanmu.
Namun, jika kamu memilihnya, aku akan tetap tersenyum melihat senyumanmu. Walaupun terasa sakit aku akan bahagia, saat kamu bahagia...
"Emmgghhh..." Kanaya merubah posisi tidurnya, menggosok-gosokkan kepalanya di paha Kemal, bagaikan merasakan bantal yang empuk, tangannya terulur, mendekap erat pinggang Kemal.
"Sial!! Anacondaku bagun..." cibirnya kesal, berusaha melepaskan tangan Kanaya.
__ADS_1
Bersambung