Asisten Nona Muda

Asisten Nona Muda
Ayah dan Anak


__ADS_3

"Ada apa?" pasangan suami istri serentak menoleh bersamaan.


"Bukan apa-apa, ada lalat..." Farel menghembuskan napas kasar, mulai memakan sarapannya.


Kesal? Tentu saja, saat dirinya berkecamuk ingin balas dendam atau tidak. Ketika dirinya kelaparan di jalanan, saat dirinya menjadi anak angkat yang tidak begitu dihargai. Ibu dan ayahnya hidup bahagia di sebuah villa, bagaikan pasangan pangeran dengan putri dalam istana.


Istilah anak yang tidak berbakti, tidak ada dalam dirinya. Namun, istilah anak terlantarlah selama ini yang melekat dalam diri Farel.


Hingga, beberapa menit berselang, Citra menyendok sedikit demi sedikit makanannya. Kedua pria beda usia itu mulai menatap tajam, pada seorang wanita bisu yang tengah konsentrasi pada makanannya.


"Sayang, aku mencintaimu..." Gabriel, menatap Citra dengan mata berkaca-kaca.


"Masakan anda sungguh enak, bolehkah saya minta lagi..." jemari tangan Farel tanpa malu, mulai menarik piring ibunya dengan sisa makanan yang masih setengah.


Insting ayah dan anak itu seperti terhubung, memiliki watak serupa.


"Sebagai tamu, tidak baik menyuguhkan makanan sisa..." jemari tangan Gabriel, menarik kembali bekas piring Citra dari hadapan Farel.


"Tidak perlu sungkan, aku makan apa saja..." jawabnya, menarik kembali dari hadapan Gabriel.


"Ini makanan sisa istriku, lebih baik kamu pulang dan minta pada istrimu...!!" Gabriel kembali menarik dengan cepat, menahan kekesalannya.


Plak ...Plak...


Citra memukul jemari tangan pasangan ayah dan anak itu, menatap jengkel,'Aku masih lapar!!' ucapnya dengan bahasa isyarat, mengambil piringnya, memakan makanannya dengan cepat.


Wajah ayah dan anak itu semakin memelas,"Ini karena paman!!" Farel mengenyitkan keningnya kesal, melirik ke arah Gabriel.


"Ini karenamu!! Setiap hari biasanya, aku selalu mendapatkan makanan bekasnya!!" ucap Gabriel gusar, tangannya bagaikan gatal, ingin menghentikan Citra yang makan dengan lahap.


Dasar tidak tau malu, dengan anak saja tidak mau mengalah, apa dia benar-benar ayahku? Haruskah aku melakukan tes DNA... gumam Farel dalam hatinya.


***


Farel menghela napasnya, menatap pasangan suami istri yang mengantarnya hingga jalanan area depan villa. Terlihat ibunya tersenyum penuh kebahagiaan, itu sudah cukup untuknya mempercayai apapun alasan ayahnya nanti.


Reuni keluarga? Mungkin akan terjadi namun tidak sekarang.


"Farel, aku menitipkan salam pada kakekmu..." Gabriel tersenyum, menepuk pundak putranya.


Pasangan adik dan kakak, mungkin begitulah pasangan ayah dan anak itu terlihat dari jauh. Mengingat wajah Gabriel yang terlihat awet muda. Hanya terlihat sedikit lebih dewasa dari pada dulu, dengan tatanan rambut dan kacamatanya.


'Bertemu denganmu, membuatku lega seperti melihat putraku yang sudah meninggal hidup kembali. Terimakasih...' Citra berucap menggunakan bahasa isyaratnya, tersenyum ke arah Farel.


"Aku ingin memeluk anda, bolehkah..." Farel penuh haru, merentangkan tangan hendak memeluk ibunya, menumpahkan kerinduannya.


"Berhenti!!" Jas Farel ditarik Gabriel, menghentikan pelukan penuh haru putranya dengan sang ibu.

__ADS_1


"Istriku memang terlihat lebih muda dari usianya, tapi tidak seharusnya menjadi sasaranmu untuk berselingkuh dari istrimu...!!" Gabriel mengenyitkan keningnya kesal, penuh rasa cemburu pada putranya sendiri.


Farel menghebuskan napas kasar, mulai tersenyum. Membuka pintu belakang mobil, supir sudah bersiap-siap di kursi pengemudi terdengar menyalakan mesin.


"Jika memeluk istri anda tidak boleh, memeluk anda apa boleh?" tanyanya pada Gabriel.


Gabriel tersenyum, merentangkan kedua tangannya. Entah kenapa dirinya juga menginginkan hal yang sama. Hingga sebuah mantra terdengar,"Aku memiliki satu ayah lagi, selain Dilen dan polisi yang mengadopsiku, yaitu, ayah kandungku. Ketika aku kecil, ibuku yang bisu menceritakan, Ayahku sering tidur di kandang kambing milik kami," bisiknya, tidak dapat didengar oleh Citra.


Gabriel tertegun, otaknya masih mencerna semuanya. Farel melepaskan pelukannya tersenyum cerah,"Lain kali jika melakukan hubungan suami-istri ingatlah mengunci pintu kamar. Agar anak kecil yang terlantar tidak dapat memergoki orang tuanya," ucapnya.


Dengan cepat Farel memasuki mobil, semasih Gabriel terdiam, tepatnya tengah melamun. Otaknya mencerna dengan lambat setiap kata-kata Farel seakan tidak percaya.


"Pak jalan!! Cepat!!" Farel berteriak, tidak ingin ayahnya segera sadar. Mungkin keisengan anak pada sang ayah.


Mobil segera melaju dengan kecepatan tinggi, di atas jalanan area depan jalan villa.


Gabriel masih terdiam, sejenak kemudian Citra menepuk bahunya. 'Ayo kita ke dalam...' ucap Citra dengan bahasa isyarat.


"Anak kita melihat yang kita lakukan semalam..." ucapnya masih tertegun.


'Anak?' Citra mengenyitkan keningnya tidak mengerti.


"Farel!! Dimana b*jingan kecil itu!?" bentaknya baru mengetahui mobil di hadapannya menghilang.


"Farel!!" Gabriel berteriak, mulai berlari mengejar mobil putranya yang sudah melaju.


"Kalian memberikan tontonan tidak pantas pada putra kalian. Bahkan menghadapkannya pada dilema balas dendam dan kasih keluarga. Sungguh orang tua yang kejam..." gumamnya, mulai memejamkan matanya, tersenyum senang.


***


Napas Gabriel terengah-engah, mobil Farel mulai menghilang. Pria itu, duduk berlutut di jalanan beraspal, suara tawanya terdengar dengan jelas.


Citra yang mengejar Gabriel menatap aneh dengan tingkah suaminya, menepuk pundak pria itu.


"Anak bodoh!! Anak itu masih hidup, dia sudah besar dan melihat hal yang memalukan..." Gabriel tertawa, sembari menangis penuh haru.


'Sayang?' Citra berucap dengan bahasa isyarat.


"Kita harus memberi hadiah padanya, pada cucu kita juga...!!" Gabriel, mengeluarkan phoncellnya menghubungi seseorang.


"Zen!! Aku ingin kamu membeli perlengkapan bayi untuk anak usia 8 bulan!! Hadiah untuk pria dewasa sebanyak mungkin!!" ucapnya antusias, sejenak kemudian menghela napasnya berusaha untuk tersenyum.


"Tentang donor kornea, tolong carikan segera..." lanjutnya, ingin memberikan hadiah pada keluarga kecil yang dimiliki putranya.


***


Jony menutup matanya, menghela napas lega, menerima putusan perceraian dari pengadilan. Hal yang pertama ingin dilakukannya, bersenang-senang dengan putranya. Ayah yang baik? Bukan, selama ini dirinya adalah ayah yang buruk.

__ADS_1


Jemarinya meraih foto di laci kantornya, bayi mungil yang dulu tidak begitu diperhatikannya. Ingin memiliki anak? Benar dia menyayangi anak itu, namun membenci ibunya. Hingga, jarang pulang ke rumah, tidak ingin melihat wajah memuakan dari Dea yang membuat Ana kehilangan kesempatannya untuk hidup.


"Kali ini ayah akan lebih memperhatikanmu..." gumamnya penuh senyuman, mengambil dua tiket ke taman hiburan.


***


Suara pintu diketuk terdengar, Dimas yang tengah melipat bajunya sendiri berjalan membukanya.


"Ayah!?" ucapnya menatap aneh.


"Apa Dimas anak kesayangan ayah masih kesal? Maaf, tapi lebih baik kami berpisah, dari pada saling menyakiti..." ucapnya tersenyum, sedikit membungkuk, mengacak-acak rambut putranya.


"Pergi!!" anak itu membentak, hendak membanting pintu. Belum dapat menerima apapun alasan perceraian kedua orangtuanya.


Tangan Jony menahan pintu agar tidak tertutup,"Jangan begitu, ayah punya dua tiket ke taman hiburan..." ucapnya.


"Tidak tertarik!!" Dimas menatap sinis.


Jony menghembuskan napas kasar, merogoh sakunya, dompetnya mulai terlihat.


"Apa cukup? Untuk menyewamu?" tanyanya menyodorkan lima lembar uang seratus ribu rupiah.


"Tidak!!" Dimas kembali mendorong pintu dengan tangan gemetar.


Itu lima ratus ribu, uang sakuku lebih dari sebulan... Tidak boleh, aku sedang marah...


"Bagaimana dengan ini?" Jony kembali menahan pintu agar tidak tertutup. Menyodorkan sepuluh lembar uang seratus ribu rupiah.


"Tidak mau!!" Dimas, menahan hasratnya, ingin rasanya meraih sepuluh lembar uang itu.


Tahan...tahan... jika aku melakukannya sekali lagi, mungkin akan menjadi 15 lembar... fikirnya.


Kali ini, pintu tidak ditahan Jony, membiarkannya tertutup sempurna. Pria itu menghela napas kasar, wajahnya nampak tersenyum.


Perlahan duduk di teras rumah milik Jeny, "Ana, kamu ibu yang baik bagi anak-anak di panti asuhan. Tapi aku ayah yang buruk untuk seorang putra yang aku acuhkan..." gumamnya.


Brak...


Pintu dibuka dengan kencang, Dimas telah lengkap memakai ranselnya. Meraih tiket dan uang tunai di tangan ayahnya.


"Aku terima...!!" ucapnya mulai menghitung uang.


"Anak nakal..." Jony tertawa kecil, menatap putranya.


Syukurlah ayah belum pergi, jika tidak uang tunainya akan lenyap... batinnya, memastikan jumlah uang yang sesuai.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2