
🍀🍀🍀🍀 Alasan lain, aku tidak crazy up, karena terkadang satu bab, kata-katanya sama banyak dengan dua bab novel orang lain tanpa kalian sadari. Jangan ngos-ngosan bacanya hari ini, 2427 kata 🍀🍀🍀🍀 Maaf kemarin telat update, maraton baca komik "Duel pendekar & superhero"🍀🍀🍀🍀Happy reading 🍀🍀🍀🍀
Untuk apa menemui Yogie? Dirinya konyol bukan? Hanya menjadi bahan lelucon dari pria yang mempermainkan hatinya bagaikan boneka. Namun, dirinya harus tetap bicara, bukan untuk meminta penjelasan, hanya untuk mendengar kata maaf.
Mobil akhirnya berhenti di sebuah club'malam, Kinara hanya dapat masuk tidak banyak bicara. Menatap banyaknya wanita berpakaian minim. Saling merangkul dengan pria, atau orang mabuk yang berjalan sempoyongan.
Tempat yang tidak nyaman baginya, hanya untuk bicara. Dentuman musik yang membengkakan telinga, bau alkohol dan asap rokok yang menyengat.
Wanita br*ngsek? Dirinya memang sering berbuat hal salah. Namun, untuk memasuki tempat seperti ini? Ini pertama kali untuknya.
Mengikuti langkah Yogie, jemari tangannya masih mengepal memberanikan diri untuk bicara. Hingga menembus kerumunan orang yang menari setengah sadar menuju ruangan VVIP yang lebih nyaman untuk bicara.
"Minumlah," Yogie tersenyum padanya, menyodorkan minuman keras yang diisinya seperempat gelas.
"Aku tidak terbiasa minum, bagaimana hidupmu 7 tahun ini?" tanya Kinara tersenyum, masih memberikan pemuda di hadapannya kesempatan untuk jujur.
"Beberapa tahun ini aku merindukanmu, orang tuaku melarang agar aku menemuimu. Tinggallah disini, aku akan mencarikanmu tempat tinggal sementara," jawabnya, menggenggam jemari tangan Kinara.
Wanita yang pernah dijamahnya, tidak dipungkiri masih secantik dulu. Bahkan semakin rupawan saja. Memiliki istri seorang model? Apa gunanya? Saat digunakan pada malam pertamanya sudah tidak perawan. Bahkan untuk punya keturunanpun, wanita sombong itu enggan, menjaga bentuk tubuhnya menjadi alasan. Model yang cantik? tentu saja, namun wanita desa di hadapannya ini, terlihat jauh lebih cantik.
Kinara kembali menarik tangannya, wajahnya tidak selalu tersenyum seperti dulu, "Jika aku mempunyai uang yang cukup, apa orang tuamu akan setuju?" tanyanya menguji.
Yogie mengangguk, "Karena itu aku akan mencarikanmu pekerjaan sementara, bagaimana jika bekerja menjadi pelayan di tempat ini?"
"Ketika uang yang terkumpul sudah cukup maka kita akan menemui..."
Plak...
Satu tamparan mendarat di pipi Yogie, mata Kinara berkaca-kaca menahan tangisannya,"Kamu ingin aku menjual diri disini?" tanyanya.
"Bukan itu!! Kalau kamu tidak suka, jangan bekerja. Aku dapat membiayai hidupmu," ucapnya menggenggam tangan Kinara meyakinkan.
Wanita itu tersenyum,"Berapa uang yang dibutuhkan untuk meyakinkan orang tuamu?" tanyanya.
Yogie mengamati penampilan Kinara yang sederhana. Jika nominal yang dikatakannya terlalu besar, wanita cantik ini akan menyerah dan pergi bukan? Namun jika terlalu kecil, Kinara mungkin dapat mengumpulkannya dan kebohongan akan terbongkar dengan cepat,"300 juta..." jawabnya asal, berharap dapat menahan Kinara.
"Aku punya 500 juta. Tapi tidak berminat lagi menikah denganmu," Kinara tersenyum, tubuhnya gemetaran meneteskan air matanya."Aku sekarang mencampakkanmu! Tanpa sadar aku menjadi murahan karena mengejar orang-orang br*ngsek sepertimu..."
Tangisan pilunya terdengar, Kinara tertawa kecil, menertawakan dirinya sendiri. "Aku memang materialistis, tapi untuk menjadi simpanan? Harga diriku terlalu tinggi. Jaga wanita kota yang kamu cintai, aku yang rendah ini pamit..." ucapnya, berusaha tersenyum. Meninggalkan ruangan VVIP.
Yogie awalnya terdiam menunduk, merasa tidak ada yang salah, meminum seteguk minuman keras di hadapannya. Menatap pintu yang tertutup, bayangan 7 tahun yang lalu kembali berkutat di fikirannya.
"Hanya wanita desa murahan..." ucapnya, menggenggam erat gelas minumannya. Bayangan senyuman Kinara yang kini berubah menjadi isak tangisan kembali berkutat.
Bermain? Dirinya hanya ingin bermain-main dengan seorang gadis desa bodoh. Tapi apa rasanya sesakit ini dicampakkan?
Prang...
Gelas minuman dilemparkannya pada pintu yang tertutup sempurna, mengacak-acak rambutnya, berharap dapat melupakan bayangan yang terlintas di benaknya ketika menatap wajah wanita itu kembali. Wanita bodoh yang rela memberikan kesuciannya 7 tahun yang lalu.
Mainan yang dilemparkan nya ke dalam tempat sampah setelah usai dipergunakannya. Yogie minum lebih banyak lagi, namun bayangan wanita yang menangis di hadapannya kembali terlihat.
Langkahnya gontai, membuka pintu ruangan VVIP. Berusaha mensejajarkan tubuhnya yang mulai limbung akibat pengaruh alkohol. "Aku harus membohonginya lebih banyak lagi, agar dia tinggal denganku..." racaunya menitikkan air matanya.
Menitikan air mata? Bukannya menganggap Kinara hanya sebagai pelampiasan napsu? Memang, namun kata-kata dicampakkan membuatnya mengerti, bagaimana rasanya menjadi mainan yang ditinggalkan?
Yogie, mendorong beberapa pengunjung, mencari Kinara diantara ramainya hiruk-pikuk orang-orang yang menikmati musik. Tidak ada, wanita itu sudah pergi entah kemana. Wanita yang ingin kembali diperdayainya.
Tidak berselera mungkin begitulah dirinya, meninggalkan club'malam miliknya, diantarkan oleh supir pribadi. Hingga tiba kembali ke dalam kediamannya.
Lampu kamar yang padam dinyalakannya, membaringkan tubuhnya menatap langit-langit kamar. "Dicampakkan?" Yogie tertawa miris, menatap foto pernikahannya. Berjalan mengambil foto pasangan pengantin yang tersenyum.
Prang...
Foto dilemparkannya hingga pecah. Wanita baik-baik? Karier yang cerah? Sempurna bukan? Namun Yogie mengetahui perselingkuhan istrinya, hanya untuk mendapatkan job sebagai model. Awalnya menatap Kinara yang datang mencarinya, dirinya ingin membalas perselingkuhan istrinya, dengan memiliki wanita simpanan. Tapi wanita polos yang ditiduri nya 7 tahun yang lalu, sudah tidak sebodoh dulu. Bahkan telah lenyap, menatapnya penuh air mata.
Satu hal yang disadarinya saat menatap kamar besar yang kosong. Mungkin jika dirinya menepati janji pada gadis desa yang direnggut kesuciannya, kamar ini tidak akan kosong. Diisi oleh tangisan seorang anak yang enggan dimiliki Istrinya yang kini masih berada di puncak karier sebagai model.
Senyuman dan tawa dirinya dan Kinara, yang akan menyambutnya dengan wajah cantik alami tanpa riasan, terdengar di dalam kamar yang sepi. Bergurau di atas tempat tidur. Mengisi malam dengan membicarakan hari mereka yang melelahkan.
***
Sempurna bukan? Hujan turun mengguyur kota yang baru pertama kali diinjaknya. Kinara menghapus air matanya, menadahkan tangannya, menikmati terpaan air hujan yang membasahi jemarinya.
"Apa orang sepertiku tidak boleh bahagia?" tanyanya, pada jemarinya yang basah. Berteduh di halte bus pada malam hari.
Seorang karyawati cantik ikut berteduh disana, mengutak-atik phoncellnya. Terdiam menunggu seseorang, hingga seorang pria memakai jas hujan tiba, dengan helm lambang ojek online diatas kepalanya.
"Sayang..." ucapnya tersenyum, meraih helm yang disodorkan kekasihnya, masuk ke dalam mantel, membiarkan celana panjangnya sedikit basah. Memeluk pinggang pemuda yang tidak begitu tampan, berprofesi sebagai ojek online.
__ADS_1
Nampak bahagia bukan? Tidak tampan dan tidak kaya. Namun, menjemput kekasihnya di tengah derasnya air hujan.
Iri? Benar iri hati adalah sifatnya. Kinara sudah sempat melihat brosur kampus, namun biaya kuliah yang besar. Tempat tinggal kumuh harganya juga tidak murah. Sekarang dirinya mulai mengerti kehidupan yang dulu dijalani kakaknya.
Hidup nyaman di desa mungkin lebih baik. Apa Fahri akan kembali menerimanya? Dirinya terlalu banyak menyakiti Fahri bukan?
Harus! Fahri harus menerimanya, walau harus berlutut, atau melukai diri sendiri sekalipun. Hanya Fahri yang menjadi tempatnya untuk pulang. Pemuda kaku, sinis, yang tidak pandai merayu.
"Maaf..." hanya satu kata yang keluar dari mulutnya, menyadari kesalahannya. Untuk pertama kalinya tersenyum menatap air hujan, senyuman yang ditujukan pada pemuda yang sudah bertahun-tahun menunggunya.
***
Lengkap sudah, hanya dua minggu dirinya tinggal di kota. Mengerti akan segalanya, lingkungan kota dengan hidup yang tidak mudah, mengemasi barang-barangnya, lengkap dengan uang hasil penjualan rumah yang belum disentuhnya. Hanya menggunakan uang tabungannya untuk bertahan hidup dua minggu ini.
Dengan cepat pergi menuju halte bis, jemari tangannya menyentuh jendela menatap ramainya hiruk-pikuk orang-orang berpakaian biasa, bahkan lusuh di terminal. Berbeda dengan hal-hal mewah yang dilihatnya di televisi.
Kinara menghela napas kasar berharap bis segera berjalan. Berharap Fahri belum membawa surat yang ditandatangani nya ke pengadilan.
"Maaf aku salah, apa sifatmu masih kaku, menulikan telinga dan menutup matamu, untuk masih menungguku?" gumamnya, penuh harap.
Bis melaju meninggalkan terminal, gedung-gedung pencakar langit masih terlihat di sela perjalanannya. Matanya terpejam, merendam rasa lelah, menginginkan kembali pada satu-satunya orang yang berpihak padanya. Saat dunia menghujatnya.
***
Perjalanan bis yang menelan waktu 10 jam. Cukup melelahkan bukan? Jemari putih Kinara terburu-buru menenteng kopernya dengan cepat. Bingung harus minta maaf dengan cara apa, atau bagaimana meminta Fahri kembali padanya jika surat cerai sudah sampai di pengadilan.
Wanita itu melangkah cepat, dalam gelapnya malam. Rumah yang sudah dua minggu ditinggalkannya terlihat.
Teng...teng...
Pintu gerbang besi, dibukanya tanpa permisi. Masuk kedalam rumah, hendak menemui suaminya. Tempat satu-satunya untuknya berlindung.
Matanya menelisik, tidak menemukan kebenaran Fahri. Hanya ART yang tengah menyetrika pakaian.
Kinara mulai memasuki kamarnya, menggeledah mencari sesuatu penuh harap. Dan benar saja, surat cerai belum ditandatangani suaminya.
Wajahnya tersenyum, jemari tangannya, merobek-robek surat menjadi serpihan kecil, kemudian menginjak-injaknya. Semua pakaian di koper kembali dimasukkannya ke dalam lemari.
Hingga terdengar suara pintu terbuka,"Kinara?" Fahri mengenyitkan keningnya, masuk kedalam kamar kemudian menutup pintu.
Sandiwara, aku harus berlutut minta maaf. Pura-pura ingin bunuh diri, jika diceraikan... gumamnya dalam hati dengan wajah pucat, tidak ingin kehilangan satu-satunya tempat untuk pulang.
Fahri tertawa kecil,"Bodoh, jika tidak bisa hidup di kota, jangan pergi meninggalkanku," ucapnya.
Kinara mengeratkan pelukannya,"Maaf, aku mencintaimu..." satu kalimat lagi keluar dari mulutnya.
"Istirahatlah, kamu pasti kelelahan di perjalanan bukan," kata-kata lembut keluar dari mulut Fahri, tidak membentak atau menanyakan kemana saja Kinara pergi.
Lemari dibuka Fahri mengambil selimut tebal, sebagai alasnya akan tidur di karpet, mengingat tubuhnya yang letih seusai memberikan uang pada beberapa petani yang menitipkan hasil panennya untuk dibawa ke kota. Namun, jemari tangan Kinara menghentikannya."Bisakah lebih romantis!? Katakan kamu mencintaiku juga?" tanyanya.
"Romantis?" tanya Fahri tidak mengerti.
"Kaku!! Kalau suka bilang suka," ucapnya mengalungkan tangannya pada pundak Fahri. Perlahan berjinjit mencium bibir pemuda di hadapannya. Namun, tidak sedikitpun balasan didapatkannya.
"Kenapa diam?" Kinara mengenyitkan keningnya.
"Tadi kita berciuman!?" Fahri mengenyitkan keningnya.
Kinara memijit pelipisnya sendiri, baru mengetahui suaminya yang memiliki mulut sinis, ternyata tidak pernah berciuman sama sekali.
"Kamu pernah menonton video dewasa?" tanya Kinara, dijawab dengan anggukan oleh Fahri.
"Aku akan mengajarkanmu prakteknya. Ikuti keinginan tubuhmu..." ucapnya dengan nada sensual. Menekan saklar lampu.
Kinara kembali berjinjit mencium bibir Fahri,"Buka mulutmu..." bisiknya.
Dengan ragu, Fahri membuka mulutnya, membiarkan lidah Kinara bertindak semaunya. Memejamkan matanya, perlahan membalas gerakannya mencari kepuasan.
Tubuh Kinara dirabanya perlahan, entah kenapa hasrat aneh timbul dalam dirinya. Diikuti perasaan berdebar.
"Apa kamu mencintaiku?" bisik Kinara.
"Aku mencintaimu..." jawab Fahri tidak kuasa menahan dirinya. Mencium leher istrinya perlahan.
Membuka hatiku untuknya mungkin tidak akan sulit. Jika saja dari dulu aku tidak membandingkan cinta dengan rupa dan kekayaan... tapi hanya dengan tulusnya hati...
Kancing kemeja Fahri dibuka jemari tangannya. Menimbulkan hasrat yang semakin dalam.
Bruk...
__ADS_1
Kedua tubuh itu terjatuh sempurna di atas tempat tidur dalam kamar yang gelap. "Kinara..." ucap Fahri lirih.
Hati Kinara mulai berdebar kala tubuh mereka mulai saling bersentuhan di malam yang dingin. Menanggalkan satu-persatu pakaian mereka, yang akhirnya tergeletak di lantai, dan tempat tidur.
Maaf sudah menyia-nyiakanmu...Aku tidak akan mengecewakanmu lagi...
Kinara melenguh sesaat, menggigit bibirnya, menahan suara erotis yang hendak keluar. Sesekali pemuda di atas tubuhnya, mencium bibirnya, ditengah tubuh mereka yang berguncang seirama.
Hanya mencintaiku? Apa kamu tidak lelah, mencintai seseorang wanita keji? Wajahmu tidak jelek, sawo matang yang terlihat manis...
Kinara tersenyum memeluk tubuh suaminya yang lemas masih menindihnya. Setelah erangan panjang mereka, menikmati malam yang dingin untuk pertama kalinya.
***
Tubuh mereka masih sama-sama polos, berbaring di atas tempat tidur. Fahri memeluk tubuh istrinya dari belakang, hanya berbalut selimut tebal.
"Fahri..." Kinara memulai pembicaraan.
"Emm..." jawabnya masih memeluk tubuh istrinya dari belakang.
"Aku akan mengembalikan uang ibu dan ayahku. Bisa membantuku meminta maaf?" tanyanya.
"Aku akan membantumu," jawab Fahri tanpa menolak.
Kinara tersenyum tulus, menggenggam jemari tangan suaminya. "Bodoh, kamu bisa menolak bukan?" tanyanya.
"Tidak, aku tidak menolak," kembali menjawab singkat, mengeratkan pelukannya.
"Satu lagi, bantu aku, aku sudah ke kota. Ada kios dengan sewa murah disana. Letaknya dekat pasar, bagaimana jika kita menyewanya untuk menjual sembako, kamu sering membawa beras ke tangan ke-tiga bukan?"
"Biar aku yang menjaga kiosnya, kita bisa menyewa kontrakan kecil yang murah. Kemudian menjual beras dengan harga bersaing, pasti akan laku di kalangan agen," ucapnya penuh gagasan.
"Iya," Fahri tersenyum, mendengar nada ceria dari istrinya. Bukan sosok iri hati yang senang membentak lagi. Namun, suara yang terdengar antusias.
Kali ini Kinara bersungguh-sungguh menginginkan tempat hangatnya untuk pulang, tetap berada di sisinya,"Aku tidak ingin membuka butik lagi. Istri juragan beras lebih menyenangkan. Aku juga akan belajar merawat Ega dengan baik, walaupun hak asuhnya masih dimiliki ibu dan ayah," ucapnya cerewet, tersenyum, menggenggam tangan Fahri, agar memeluknya lebih erat.
Mulai menerima? Memang begitulah siklus hidup yang membuat seseorang menjadi lebih dewasa, bukan?
"Jangan banyak bergerak, aku kesulitan menahannya..." ucap Fahri mengerang halus menahan sesuatu, karena istrinya yang terlalu banyak bergerak.
Kinara tertawa kecil,"Malam ini, dan malam lainnya. Aku akan menjadi wanita murahan khusus untukmu..."
Kinara berbalik, mencium kembali bibir suaminya, "Jangan menahannya lagi," bisiknya, mulai menerima kebahagiaan yang sering dielaknya karena rupa dan kekayaan.
Memulai kembali kegiatan mereka sebagai pasangan suami istri yang seutuhnya.
Udara hangat terasa hari sudah mulai pagi, Kinara memulai hidup barunya. Mengecup pipi suaminya yang berkulit sawo matang, lengkap dengan lesung pipi, pemuda yang membuka matanya penuh senyuman.
"Kamu mengirim pesan pada siapa?" tanyanya, menatap Kinara mulai meraih phoncell, mengetikan sesuatu. Tangannya memeluk tubuh polos istrinya dari belakang.
"Kanaya, aku pernah hampir merayu pacarnya," jawabnya jujur.
Fahri terdiam, melonggarkan pelukannya, namun tangan Kinara menarik, agar tetap memeluknya. Menghangatkan tubuhnya.
"Aku sekarang sudah mengerti, jika bukan pangeran tampan saja yang memiliki hati tulus. Penjual gandum, pembuat roti, mereka juga tulus pada orang yang mereka kasihi. Maaf, itu kesalahanku..." Kinara tertawa kecil, mengusir rasa canggung.
"Tidak masalah," Fahri tersenyum.
Tidak masalah dicampakkan, berapa kalipun aku akan tetap menunggumu. Mengemis cintamu? Aku bodoh bukan...
"Mulai hari ini, aku adalah istri juragan beras," ucapnya penuh semangat, mengecup wajah Fahri berkali-kali, yang bertambah manis saja dimatanya. Mulai berusaha menerima hati pemuda yang menunggunya dengan sabar.
***
Pagi menjelang, di tempat lain, tepatnya dalam mobil Daniel yang melaju menuju kantor pusat Ananta Group.
Kanaya tertawa kecil, menatap saudarinya, yang mengirim foto setengah mesum. Satu-satunya kesamaan kakak dan adik itu, otak mereka yang tersetting mesum.
Foto Kinara dan Fahri, dengan pemuda itu yang masih tertidur, hanya berbalut selimut. Tanpa busana? Benar mereka hanya berbalut selimut, satu foto yang tidak diketahui pengambilannya oleh Fahri. Mencium bibir suaminya, tanpa disadari sang suami yang tertidur.
Satu kalimat dikirimkan Kinara dalam foto itu. 'Menghabiskan malam dingin dengan suamiku, kasihan yang masih jadi perawan, kedinginan di atas ranjang,'
Kanaya melirik ke arah Daniel yang masih konsentrasi menyetir. "Kapan aku merasakan hangatnya malam yang dingin..." racaunya, memegang salah satu tangan Daniel.
"Otakmu benar-benar mesum," Daniel menghela napas kasar. Tidak ingin dilempar singkong oleh mertuanya, jika menjamah Kanaya sebelum menikah. Pasangan itu mulai turun dari mobil, berjalan memasuki area kantor Ananta Group.
Tangan seorang pemuda rupawan, menarik lengan Kanaya,"Aku minta maaf, sudah mengingkari janji. Aku benar-benar mencintaimu," ucapnya terlihat tulus.
"Hah!?" Kanaya tertegun merasa tidak mengenal sang pemuda. Matanya sedikit melirik Daniel yang menatap tajam padanya.
__ADS_1
Bersambung