Asisten Nona Muda

Asisten Nona Muda
Menyertai Kematian


__ADS_3

🍀🍀🍀🍀 Sesuai request kalian, kabar Farel. Daniel aku save dulu. Tapi ini novel, jangan membandingkan dengan realita 🤗 aku pernah membaca artikel orang koma berada antara hidup dan mati, rohnya dapat mengembara. Entahlah 🍀🍀🍀🍀🤔 Karena aku nggak pernah koma😱😱😓 Happy reading 🍀🍀🍀🍀


Tiga bulan kemudian Singapura...


Sinar matahari yang menembus jendela kini sinarnya semakin memudar, banyak hal telah diceritakan Jeny. Wajah rupawan itu tetap saja masih tertidur, sekujur tubuhnya masih terpasang alat-alat medis.


"Sudah sore, Rafa menungguku pulang, besok aku akan menceritakan lebih banyak lagi," ucapnya, hingga terasa tendangan halus dari perutnya.


"Dia menendang lagi," tangan Farel diangkat Jeny perlahan, di dekatkan pada perutnya.


Jemari tangan pemuda itu sedikit bergerak, "Dokter!! Dokter!!" panggil Jeny, menekan sakelar di sebelah tempat tidur berkali-kali.


Ren, aku mohon kali ini bangunlah, aku dan kedua anak kita memerlukanmu... gumamnya dalam hati penuh harap


Hingga seorang dokter dan perawat tiba, memeriksa keadaan pasien yang masih memejamkan matanya dengan wajah tenang.


Mata pasien disorotnya menggunakan senter kecil, kemudian sang dokter menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Ta... tapi jari tangannya tadi bergerak..." ucapnya penuh harap, meneteskan air matanya.


"Gerakan refleks, biasa terjadi pada pasien koma," sang dokter menghela napas kasar, bingung harus berkata apa, pada wanita yang menatapnya penuh harap. Menepuk pundak Jeny bagaikan memberi dukungan, kemudian berjalan kembali keluar dari kamar rawat.


"Ren..." ucapnya, menghapus air mata kekecewaannya, berusaha tersenyum pada pemuda yang masih terbaring."Jika aku bercerita lebih banyak, apa kamu akan bangun?" tanyanya.


"Besok aku akan cerita lebih banyak lagi..." ucapnya.


***


Jeny berjalan keluar dari ruang rawat, masih berusaha tersenyum. Memasuki mobil yang melaju, matanya menatap banyaknya pejalan kaki, serta pemandangan perkotaan yang asing baginya. Jeny mengelus perutnya pelan,"Ayahmu, sangat menyayangimu..." gumamnya tersenyum.


Mobil hendak memasuki halaman rumah yang terlihat besar, dua penjaga membuka pintu gerbang. Wanita itu perlahan turun dari mobil, memasuki rumah besar yang terasa sepi.


"Jeny..." panggil Ayana, menggendong Rafa yang kini sudah berusia satu tahun. Diikuti seorang pengasuh.


"Dia tidur?" tanyanya, meraih Rafa dari gendongan Ayana.


"Iya, ibu baru pulang dari yayasan, dia mengulurkan tangannya. Jadi ibu gendong, dia malah tertidur," ucap Ayana penuh senyuman, menatap wajah tenang cucunya.


"Jeny kamu masih muda ibu mengerti jika... Farel..." Ayana menghela napasnya, nampak ragu mengatakannya.

__ADS_1


Jeny tertunduk sejenak, kemudian tersenyum,"Aku akan menunggunya, bahkan jika pada akhirnya dia tidak bangun sama sekali. Ibu jangan mencemaskanku,"


Wanita yang tengah hamil, menggendong putranya menuju kamar bekas suaminya, meletakkan tubuh kecil itu perlahan di atas tempat tidur. Wajah yang mirip dengan pemuda yang terbaring di rumah sakit, malaikat yang dititipkan Tuhan untuk membuatnya tegar menunggu pemuda yang mencintainya dengan tulus terbangun.


Tegar? Apa Jeny setegar itu? Air matanya mengalir tidak terkendali. Menepuk dadanya yang terasa sesak, menatap seisi ruangan yang baru ditempatinya tiga bulan ini. Tangisannya terdengar, air matanya menetes tidak terkendali.


Haruskah merelakannya? hidung, mulut, tangan, semuanya terhubung dengan alat medis. Menyakitkan, mungkin itulah yang dirasakan Farel, bertahan hidup dengan tubuhnya yang rusak.


Sejenak pernah terfikir dalam benaknya, jika pemuda itu meninggalkannya, dirinya akan mengikutinya. Mungkin mati bersamanya lebih baik.


Wajah anak yang tengah tertidur menegarkannya, benih kecil menendang halus. Dua malaikat yang dititipkan suaminya.


Matanya menelisik, menatap ke arah balkon kamar yang terbuka. Sinar bulan memasuki ruangan, Jeny hanya terdiam dengan air mata tidak terkendali.


Ibu (Dea) apa semenyakitkan ini, hingga ibu memutuskan untuk mengikuti ayah... gumamnya dalam hati, mengalihkan pandangannya ke arah foto suaminya yang terlihat tersenyum.


***


Seorang pemuda tertunduk diam, mengamati seorang wanita berlari ke sebuah ruang rawat.


"Ini untukmu sayang..." ucapnya pada putrinya yang rewel, menyodorkan sebuah boneka bermotif putri Elsa (Frozen). Namun, anak itu tidak menanggapi ibunya, sang anak masih duduk diam dengan baju pasien. Bagaikan masih merajuk, meminta mainan.


Seorang pria berpakaian jas rapi, menatapnya menghela napas kasar, bagaikan sang anak juga tidak dapat melihat wujud pemuda berjas yang memasuki kamarnya.


"Giovanni? Meninggal akibat serangan jantung, setelah berlari dari toko mainan menuju rumah sakit," ucapnya tegas.


Sang wanita mengangguk, baru mengingat dan menyadari segalanya. Menatap wajah anaknya yang masih terduduk merajuk, seusai aktivitas kemoterapinya.


"Ikutlah, ini bukan tempatmu lagi..." sang pria menghebuskan napas kasar.


"Putriku, berjuanglah untuk tumbuh dewasa. Ibu mencintaimu..." ucapnya lirih dengan nada suara bergetar, mencium kening putrinya. Gadis kecil itu hanya terdiam tidak merasakan apapun.


Di sebelah sang pria berjas, muncul pintu yang entah kemana tujuannya. Pintu putih dengan ruang gelap didalamnya, mungkin dengan ujung lorong yang terlihat terang. Sang wanita mengepalkan tangannya dalam tangisannya, berjalan menegarkan dirinya meninggalkan putri tunggalnya, masuk ke dalam pintu yang kemudian menghilang dengan sendirinya.


"Anak malang, bertahanlah hidup, tetaplah tegar. Setelah dewasa, hingga tiba saatnya nanti, aku akan menjemputmu..." ucap pria berjas pada anak yang tidak dapat melihatnya.


Sang pria berjas keluar dari kamar sang anak. Bersamaan dengan lewatnya mayat sang ibu yang sudah tertutup kain, di dorong beberapa orang perawat, jemari itu masih memegang boneka Elsa (Frozen), terjatuh tepat di depan kamar rawat putrinya.


"Masih ada satu lagi..." ucap sang pria berjas, menghebuskan napas kasar, menatap pemuda yang duduk tersenyum padanya. Pemuda yang juga tidak dapat dilihat orang lain.

__ADS_1


"Bukan aku yang ditugaskan menjemputmu, mungkin ada yang lalai," pintu putih yang tadinya sudah menghilang kembali muncul bagaikan bias ratusan api kecil, di samping pria berjas, seolah mempersilahkannya masuk.


"Aku belum mati..." sang pemuda masih setia tersenyum, dengan wajah murung.


Pria berjas, menjentikkan jemarinya, bersamaan dengan hilangnya pintu di sampingnya.


"Lalu? Kembalilah ke tubuhmu, kenapa masih disini?" tanyanya.


"Aku ingin, tapi tidak bisa. Pernahkah kamu melihat tubuh yang seharusnya tidak dapat diselamatkan kembali bernapas?" Farel bertanya kembali.


Pria berjas terdiam, masih menatap pemuda di hadapannya.


"Aku mengalaminya, mereka tidak merelakan kepergianku, karena itu aku tidak pergi. Tapi tidak juga dapat kembali, menatap semua orang tersenyum di depan tubuhku. Kemudian menangis saat tidak lagi berada di hadapan tubuhku yang terbaring..." air matanya mengalir tidak terkendali. Namun wajah itu tetap tersenyum. "Kamu melihat banyak kematian bukan? Mungkin diposisikulah yang paling sulit,"


"Namamu Syailendra bukan?" tanya sang pria berjas, duduk di samping sang pemuda."Orang yang tadi aku antar adalah seorang ibu sekaligus istri yang baik, suaminya berselingkuh, anaknya menderita kanker. Anak itu terlalu manja pada ibunya, suaminya tidak memperhatikan istrinya sama sekali,"


Sang pria berjas menghebuskan napas kasar, "Kematian dapat mendatangi siapa saja, orang jahat atau baik. Orang sakit ataupun orang sehat. Tinggal bagaimana kita dapat menghargai orang-orang yang tidak kita ketahui usianya sepanjang mana. Karena itu, ketika kematian datang, hanya akan ada penyesalan,"


"Mereka gigih mencintai orang yang mereka kasihi ketika masih hidup, namun hanya dapat tunduk dan menyerah pada kematian, untuk meninggalkan semuanya,"


"Apa Tuhan belum memanggilmu? Kalau begitu tinggallah. Namun jika Tuhan sudah memanggilmu, aku akan ada disana saat itu..." ucapnya menghilang perlahan, bagaikan percikan api yang hangat.


Farel duduk menyender, menatap tubuhnya yang terbaring dengan berbagai alat yang penunjang, dari depan kamar rawatnya.


Anak kecil yang berada di sebelah ruangannya keluar, memungut boneka yang dimintanya pada sang ibu. Boneka yang sebelumnya, terjatuh dari mayat ibunya,"Kenapa diletakkan disini? Dimana ibu?" gumamnya, masih terlihat kesal.


Hingga, seorang pria berjalan cepat, dalam keadaan kacau, memeluk putrinya," Caca, ibumu sudah tidak ada..." ucap sang ayah menangis lirih, baru mendapatkan telfon dari rumah sakit tentang kematian istrinya.


Sang ayah, menggendong putrinya yang menangis. Gadis kecil itu menggenggam erat boneka Elsa-nya, dengan wajah pucat memakai pakaian pasien. Berlalu menuju kamar jenazah, dalam gendongan sang ayah yang menitikan air matanya.


Membiarkan istrinya tidur selama tiga bulan di rumah sakit hanya untuk menjaga putri mereka. Sementara dirinya hanya mengirim uang, menghabiskan waktu dengan rekan bisnisnya dan wanita-wanita yang disewanya.


Penyesalan? Benar, kematian hanya membawa penyesalan.


***


Farel menghela napas kasar, berjalan kembali ke dalam ruang rawatnya, menatap tubuhnya yang pucat pasi,"Jika bisa, aku ingin hidup..." lirihnya dalam tangisan, tidak ingin satupun orang yang disayanginya menangis lebih dalam lagi untuknya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2