Asisten Nona Muda

Asisten Nona Muda
Pengampunan


__ADS_3

"Kekasih kecilmu membuatmu berniat berhenti," Lery tersenyum menghembuskan napas kasar,"Tidak ada yang benar-benar berada di sisiku selama ini..." ucapnya, menonggakkan kepalanya sejenak, menatap ribuan bintang di atas sana.


Sejenak Lery kembali tersenyum, menatap orang-orang yang ada di hadapannya.


"Bukan kami yang mengkhianatimu, tapi kamulah yang membuat kami melakukannya..." Hans tersenyum, menembak lengan Lery yang kini tanpa penjagaan. Bagaikan, menikmati kematian perlahan pria di hadapannya.


Lery terdiam masih tetap tersenyum, entah apa arti senyuman itu.


"Gabriel, jika dapat mengulangi waktu, apa kamu akan membiarkanku mati di gudang?" tanyanya memegangi lengannya, dengan raut mata yang berbeda.


"Tidak, aku tetap akan menolongmu, ingin tetap berada bersamamu..." Gabriel mulai bangkit dari tempatnya tersungkur.


"Kenapa...?" tanya Lery, tanpa ada niatan untuk menghindar, dari sasaran senjata api milik Hans.


Dor...


Hans kembali menembak bahu Lery.


"Karena kakak adalah kakakku, kita tinggal di rumah yang sama. Berbeda namun ibu sama cerewetnya, biarlah hanya mereka yang bertengkar. Kamu tetap kakakku..." ucap Gabriel, memegang ujung senjata yang ditodongkan Hans. Bagaikan mencegah pria itu kembali menembak.


Lery terdiam, menghela napasnya,"Aku membunuh istri dan putramu. Kenapa menghentikan Hans...?" tanyanya.


"Maaf..." Gabriel tertunduk, kemudian tersenyum,"Orang yang pertama kali mengkhianatimu adalah ibuku. Aku tidak pernah meminta maaf padamu. Aku sering mencuri perhatian ayah ketika kakak menghilangkan rasa trauma dengan kuliah di luar negeri..."


"Aku sudah angkuh dan sombong, menganggap diriku malaikat. Dan kakakku iblis yang sesungguhnya, karena membunuh ibuku. Aku menjadi begitu angkuh... maaf..." ucapnya menitikkan air matanya.


Kakaknya terluka? Untuk kedua kalinya Gabriel menatap hal yang sama, hari ini, dan keluar dari gudang 35 tahun yang lalu. Tidak mengerti dengan perubahan sifat kakaknya. Namun, hari ini tatapan kesepian dari mata coklat keemasan itu, membuatnya mengetahui segalanya.


Semua telah meninggalkan dan mengkhianatinya. Apa yang membuat orang yang berhati paling tulus, menjadi pembunuh berdarah dingin? Hari ini Gabriel mengerti segalanya dari mata kakaknya menatap banyaknya luka di hati yang disembunyikannya.


"Jangan cegah Hans, biarkan dia membunuhku." Lery kembali tertawa, tawa yang memilukan,"Aku tidak memiliki apa-apa lagi..." ucapnya, tersenyum dengan mata berkaca-kaca, menahan air matanya yang hendak mengalir.


Gabriel menggeleng-gelengkan kepalanya, tanpa disadarinya, dirinya ikut andil menciptakan monster di hadapannya.


"Jika aku katakan aku masih menyayangi kakak, apa kakak percaya?" tanyanya.


Lery mengepalkan tangannya yang gemetaran, menatap mata tulus adiknya yang tidak pernah terlihat lagi setelah kematian wanita yang membuatnya memandang dunia dengan cara yang berbeda. Satu-satunya orang yang tulus menyayanginya? Itulah Gabriel kecil dalam ingatannya. Adik yang menghadapi dunia yang sepi bersamanya.


Apa aku melihat dunia dari sisi yang salah? Orang yang berkhianat harus mati, lalu kenapa dia tidak membenciku? Ibu, istri, dan anaknya mati di hadapannya... Seharusnya... kata-kata yang tersirat dalam hati Lery terhenti. Kembali memandang satu-satunya orang yang tumbuh dewasa dengannya.


"Hans, apa kamu akan membunuh Lery?" tanyanya pada pria yang masih menggenggam erat senjatanya.


"Iya..." Hans menitikkan air matanya,"Darahnya akan aku persembahkan untuk..." kata-katanya di sela.


"Boleh aku menggantikannya?" tanyanya pada pria di hadapannya.


"Gabriel!!" suara bentakan Lery terdengar.


"Akulah yang merubah sifat kakakku. Andai saja aku tidak terlahir, ibuku tidak akan membencinya. Dia juga tidak perlu mengalami hal mengerikan..." ucapnya, berada tepat di hadapan Hans, menjadikan tubuhnya sebagai perisai.


Menganggap tidak terjadi apa-apa, itulah kesalahan terbesar yang dilakukan Gabriel remaja. Keadaan kakaknya yang menyedihkan diketahui olehnya. Ruangan pengap dengan bau kotoran yang menyengat. Tidak ada toilet di sana, dikunci selama lebih dari seminggu. Bungkusan makanan kotor berceceran. Puluhan luka lebam, dan gores pada tubuh kakak laki-lakinya.


Pengecut dan memilih diam? Itulah dirinya menatap kakaknya yang setelah pulang ke rumah dari lokasi penyekapan masih dapat makan dengan tenang. Bagaimanapun itu adalah ibu kandungnya... Gabriel tidak dapat mengadukan perbuatan ibunya pada ayahnya.


Jika kakaknya memilih diam semua akan baik-baik saja bukan? Mungkin begitu dalam hatinya saat itu. Namun, luka dan dendam, bahkan adik yang hanya terdiam memilih tidak bicara, semua mengubah hati kakaknya yang hangat.


"Bodoh, minggir...!!" ucap Lery membentak.


Adik? Mungkin itulah kata yang dilupakan Lery, merubah status adiknya bagaikan orang asing. Hari ini satu-satunya tubuh yang melindunginya, sama dengan tubuh yang membuka gudang pengap 35 tahun yang lalu.


Gabriel menggeleng-gelengkan kepalanya, menatap dari jauh tubuh putranya yang berlumuran darah tengah mendapatkan pertolongan dari beberapa pegawai rumah sakit yang disusupkannya dalam kapal. Air matanya mengalir tidak terkendali."Keadaan putraku saat ini seharusnya kritis. Heli kepolisian federal jika sampaipun, mungkin akan terlambat membawanya ke rumah sakit terdekat. Dari pada menghadapi wajah duka istriku, lebih baik mati menebus kesalahanku bukan?"

__ADS_1


Lery tertegun tertunduk sejenak, air mata mengalir di pipinya,"Ayah benar, kamu terlalu baik..." ucapnya berlutut di lantai kapal.


Speed boat miliknya telah siap, kendaraan yang akan dipergunakannya untuk melarikan diri.


"Hans, Gabriel orang yang keras kepala. Jika aku memohon kata maaf... akankah kamu memaafkanku?" tanyanya mengetahui sifat Gabriel yang tidak akan bersedia menyingkir. Menjadikan tubuhnya sebagai perisai untuk kakaknya.


"Tidak," Hans menjawab, kembali menarik pelatuk, seolah tidak mempedulikan Gabriel yang berada di hadapannya.


Lery berusaha bangkit, wajahnya yang pucat akibat mengeluarkan terlalu banyak darah segar, tersenyum,"Apa yang akan kamu lakukan setelah aku mati?" tanyanya.


"Tidak ada, membunuhmu adalah tujuan terakhirku. Aku tidak ingin berada di dunia yang munafik ini..." Hans tersenyum, jemari tangannya gemetaran, kemudian kembali mengeratkan pegangannya pada senjata dalam genggamannya.


"Baik, tangan kita memang sudah terlalu banyak berlumuran darah..." Lery tersenyum, berjalan mendekat, angin menerpa perlahan rambut pirangnya.


"Aku mempunyai hadiah untuk adikku, satu kilometer ke arah barat. Ferry milikku ada di sana, walaupun tidak lengkap ada beberapa peralatan medis disana," Pria itu melangkah perlahan mendekati mereka.


"Gunakan sebaik-baiknya..." Lery tersenyum tulus, senyuman yang tidak pernah dilihat Gabriel semenjak 35 tahun yang lalu.


Tubuh Gabriel dibantingnya dengan sisa tenaganya, hingga tersungkur di lantai.


Dor...


Suara tembakan terdengar, menembus tubuhnya. Gabriel berusaha bangkit, menatap perut kakaknya yang terkena luka tembakan. Hendak kembali menolong kakaknya.


Namun pria itu tersenyum,"Terimakasih," ucapnya. Menarik tubuh Hans untuk jatuh ke dalam laut bersamanya.


Tidak ingin adiknya mengorbankan diri, menjadikan dirinya perisai tembakan berikutnya.


Tubuhnya terjatuh ke dalam lautan yang dingin, jejak darah mengalir dari perut dan lengannya.


Tidak terlihat jelas, namun wajah adik laki-lakinya menatapnya dari atas kapal pesiar.


Saudara? Hubungan darah? Apakah itu yang membuatnya tetap bodoh. Adikku yang menyebalkan... gumam Lery, tersenyum menatap pantulan lampu yang terlihat dari dalam air. Rasa dingin air di lautan Arktik dirasakan menusuk kulitnya. Bagaikan ribuan jarum yang menancap kulitnya.


Bulir-bulir gelembung udara keluar dari mulutnya. Ribuan jarum bagaikan menghujam tumbuhnya yang perlahan tenggelam dalam kegelapan.


Saat yang paling melegakan dalam hidupku adalah saat ini. Memiliki satu saja orang yang aku yakini mencintaiku dengan tulus itu sudah cukup untuk menjadi perlindungan untukku... menghadapi dunia kejam dengan penuh kecurigaan, hal yang melelahkan bagiku...


Lery memejamkan matanya, membiarkan dirinya tenggelam lebih dalam lagi.


"Kakak..." panggilan lirih dari mulut Gabriel.


***


Terang mulai menghangat itulah yang dirasakannya. Mata seorang pria mulai terbuka, mengamati keadaan sekitarnya. Dari jendela kapal pemandangan laut terlihat.


Benar, ini adalah di dalam kapal Ferry milik Lery. Memiliki beberapa fasilitas medis walaupun tidak selengkap rumah sakit.


Hans duduk terdiam di sana, ruangan luar dijaga oleh kepolisian federal.


"Ugghhh..." Lery meringis berusaha kembali bergerak, melepaskan selang oksigennya. Menahan rasa sakit di tubuhnya.


"Kenapa aku masih hidup?" tanyanya.


"Aku tidak berselera lagi untuk membunuhmu, matamu tidak terlihat seperti orang yang sudah membunuhnya (Hyeri)..." kata-kata yang tidak dimengerti keluar dari mulut Hans.


"Dimana Gabriel sekarang?" tanyanya.


"Putranya masih kritis, kamu benar-benar meremukkan tubuhnya. Gabriel cukup gila untuk tetap melindungimu..." jawabnya, menghela napas kasar.


***

__ADS_1


Sesaat setelah Lery terjatuh ke dalam air...


Hans menutup mata sesaat, merasakan rasa dingin yang menusuk. Matanya kembali terbuka, berenang menuju tempat Lery tenggelam.


Menyelamatkannya? Kenapa? Melihat Tuhan, itulah keinginan Hans. Sejenak saat Lery mendorongnya agar jatuh bersama, tidak ingin Gabriel menjadikan dirinya sebagai perisai. Hans menyadari sesuatu, raut wajah yang sama, penuh kesedihan untuk berkorban, mirip dengan mata Hyeri.


...... Tidak ada orang yang terlahir dengan keburukan. Tuhan menyertai kehadiran setiap makhluk-Nya, berpadu dalam rasa kasih yang ada dalam hatinya. Saat rasa kasih itu terlihat dalam diri dan prilakunya, maka saat itulah aku dapat melihat Tuhan dalam rasa kasih yang ada dalam diri setiap orang......


Author...


Perlahan tubuh itu dinaikkannya ke atas speed boat. Bersamaan dengan kedatangan kepolisian federal. Gabriel tertunduk menitikkan air matanya menatap dari atas sana.


Beberapa pengawal serta tentara bayaran Lery mulai ditangkap atas tuduhan pembajakan. Sedangkan pria paruh baya itu, masih dalam pengawasan kepolisian mendapatkan perawatan.


Tomy berlari ke arah geladak kapal, setelah memastikan tidak ada jenazah Jeny di dalam tempat penyimpanan.


Gabriel dan Jeny naik ke atas heli kepolisian federal, tubuh Farel terlihat terbaring berlumuran darah dinaikkan dalam heli yang sama menuju kapal Ferry milik Lery.


"Tuan besar..." Tomy tertunduk tidak mengerti dengan situasi saat ini.


Taka tidak menjawab, dengan cepat menaiki heli berikutnya.


Tubuh Hans nampak basah, setelah menyelamatkan Lery yang dibawa pergi menggunakan speed boat menuju kapal Ferry miliknya, guna menerima pengobatan, berbalut sebuah handuk tebal menghangatkan dirinya.


"Paman, kenapa semua orang kelihatan panik?" tanyanya dengan seluruh tubuh masih berlumuran darah, dari mayat-mayat yang diperiksanya.


"Dokter!! Masih ada pasien disini!!" Hans memanggil seorang pria yang diketahuinya sebagai salah satu dokter di rumah sakit milik Gabriel.


"Siapa yang terluka?" tanya Tomy tidak mengerti.


"Kamu..." mata Hans menatap dari atas sampai bawah. Pakaian kapten kapal yang benar-benar berlumuran darah segar.


"Ini darah orang lain..." ucapnya tersenyum."Omong-ngomong apa Farel juga menggeledah mayat sepertiku. Pakaiannya tadi juga berlumuran darah?" tanyanya belum mengetahui situasi.


Hans menghebuskan napas kasar meminum teh hangat sedikit meredam rasa dingin yang menusuk, enggan menjelaskan situasi pada Tomy.


"Dia memang orang bodoh yang jatuh cinta. Pasti ribuan mayat yang digeledahnya hingga menemukan Jeny. Tapi aku beruntung Jeny masih hidup dia tadi naik ke helikopter bersama dengan Farel kan...?" ucapnya tersenyum, tidak menyadari bos pelitnya sedang dalam kondisi kritis.


"Aku jenuh mendengarkan mu bicara..." Hans bangkit, pergi meninggalkan Tomy.


Tomy masih terdiam, menyaksikan keributan yang tengah dibereskan. Hingga...


"Anda kapten kapal ini? Kami dari kepolisian federal, mohon bekerja sama dengan kami memberikan keterangan..." ucap dua orang berpakaian polisi.


"Aku bukan kapten kapal!!" jawabnya cepat.


"Tidak perlu sungkan, kami tau cukup sulit mengendalikan situasi dalam kapal pesiar yang tengah dibajak. Kami hanya ingin meminta keterangan tentang lantai berapa yang sempat dikuasai, jumlah penumpang, dan kemana saja radar diarahkan pembajak..." ucap kedua petugas kepolisian itu, membimbing Tomy.


"Aku bukan kapten kapal!! Orang itu, orang yang baru turun..." Tomy menunjuk kapten kapal yang asli.


Maaf memberikan keterangan kejadian pada petugas kepolisian, sangat menyulitkan... gumam kapten kapal yang asli mendekat.


"Saya kapten kapal sebelum pembajakan terjadi. Tapi setelah pembajakan, orang inilah yang menjadi kapten sementara, dialah pahlawan sesungguhnya. Terus menghadapi pembajak di tengah tubuhnya yang berlumuran darah," ucapnya meninggikan Tomy yang hanya pandai berekting.


"Dialah pahlawan sesungguhnya, mintalah keterangan padanya..." lanjutnya


"A...aku tidak tau..." kata-kata Tomy terhenti.


"Pahlawan memang tidak pernah mengakui kehebatannya. Mari ikut kami..." ucap salah seorang polisi federal, menarik tangan Tomy.


Sang kapten yang asli menipiskan bibir menahan tawanya, kemudian menaikan tangan memberi hormat pada Tomy yang ditarik pergi.

__ADS_1


Kapten br*ngsek... gumamnya dalam hati, bingung harus bicara apa.


Bersambung


__ADS_2