Asisten Nona Muda

Asisten Nona Muda
Bonus Chapter 10


__ADS_3

"Belum pernah?" Daniel memastikan pendengarannya, dijawab dengan anggukan oleh Kanaya.


"Ma... maksudnya kamu, masih..."


Kanaya kembali mengangguk, mengeluarkan raut wajah mengiba.


Daniel menghela napas kasar, kemudian tersenyum. "Diam, dan rasakan, jika bisa ikuti atau balas," bisiknya, bertindak lebih hati-hati.


Bibir Kanaya digerakkannya pelan, malu? Tidak lagi, dirinya hanya mengikuti kata-kata Daniel. Jemari tangannya meremas rambut pemuda itu, merasakan sensasi luar biasa, kala ciuman itu mulai turun. Menyentuh pelan, bibir itu bergerak bagaikan mendamba, dan memuja.


Apa begini rasanya? Aku tidak rugi... mungkin begitulah sensasi luar biasa yang membuatnya tidak menyadari apapun.


Fikirannya benar-benar menerawang. Lama, benar-benar lama tubuhnya dimanjakan. Suara parau tidak jelas keluar dari bibirnya.


Hingga Daniel mengangkat kepalanya tiba-tiba, menatap lekat penuh kasih, dengan deru napas tidak teratur.


Bibir Kanaya entah kenapa kembali dinikmatinya. "Emmgghhh..." Kanaya mencengkram kain sprei, benar-benar rasa sakit tidak tertahankan.


Daniel semakin merapatkan tubuhnya, membiarkan tangan Kanaya terangkat mencakar punggungnya. Masih memangut bibir itu.


Sakit, aku tidak kuat lagi... mungkin begitulah pada awalnya. Namun siapa sangka pada akhirnya...


Semua berubah 180 derajat, ketika jam telah menunjukkan pukul 4 pagi.


Kanaya menatap langit-langit kamar, masih teringat kejadian beberapa jam yang lalu. Sejenak kemudian gadis, salah maksudnya wanita yang sudah sepenuhnya mesum itu mulai memeluk tubuh suaminya dari belakang.


Tubuh polos mereka yang berbalut selimut kembali bersentuhan. "Pak Daniel, aku ingin lagi..." pintanya membangunkan duda impiannya yang kini telah resmi menjadi miliknya.


"Lagi? Katanya masih perih? Ini sudah tiga kali," ucap Daniel, dengan suara khas orang bangun tidur.


"Saran dari Kinara, harus sering-sering supaya tidak perih..." ucapnya tersenyum tanpa dosa.


"Dasar..." Daniel menghela napas kasar, menyingkap selimut. Meraih sepasang jubah mandi mereka.


Perlahan memakaikannya pada tubuh Kanaya, "Badanku lengket, sebaiknya kita mandi," ucapnya mengangkat tubuh Kanaya, tidak ingin terlalu menyakiti wanita yang kini dicintainya.


Air hangat disiapkannya dalam bathtub, mencumbui tubuh itu perlahan. Guna memberi sensasi berbeda? Tidak, hanya untuk mengurangi rasa sakit wanita yang berstatus istrinya.


Benar-benar tidak ingin menyakitinya...


Pengalaman hidup mengajarkan seseorang untuk berbuat lebih baik. Jeny, adalah sebuah kesalahan terbesar dalam hidupnya.


Memperlakukan wanita yang dahulu dikasihinya dengan kasar, bahkan mengkhianatinya. Mungkin karena itulah Jeny memutuskan untuk meninggalkannya. Lebih memilih Farel, yang dapat memberi kebahagiaan untuknya.

__ADS_1


Ikhlas? Daniel telah merelakan segalanya, ini adalah kesalahannya. Pengalaman hidup yang membuatnya dewasa untuk lebih mengasihi dan mencintai pasangannya. Tidak akan membiarkannya terluka, mengkhianati, menjaganya dengan baik.


Tidak ingin, Kanaya yang tulus padanya berbalik pergi dari hidupnya. Meninggalkannya seorang diri...


"Aku mencintaimu..." ucapnya menikmati bibir itu lagi, dan lagi. Seakan tidak pernah puas dengan rasa kasihnya pada Kanaya.


***


Pagi mulai menjelang, pasangan itu sarapan di dalam kamar. Tidak turun, menuju restauran hotel.


Tapi siapa yang peduli? Gina dan Tirta harus kembali mengurus bisnis mereka. Sedangkan orang tua Kanaya serta keluarga kecil yang baru dibangun Fahri, tidak terbiasa dengan sarapan ala hotel berbintang.


Salah satu warung makan menjadi tempat mereka berada saat ini.


Makan lalapan menggunakan tangan. Kinara tersenyum, menatap wajah ceria putra serta suaminya.


Kaku? Pria bernama Fahri itu memang masih kaku, jarang tersenyum, namun setiap tersenyum lesung pipinya selalu terlihat. Membuat Kinara entah kenapa ingin menyentuhnya.


"Singkong, maksud ayah, Daniel menawarkanmu bekerja menjadi karyawan gudang perusahaannya, juga ingin membantumu untuk kuliah," Candra menghela napas kasar, mengingat pesan menantunya yang mungkin telah dibujuk Kanaya.


Kinara menggeleng-gelengkan kepalanya, mencocol sambal menggunakan tempe lalapan di tangannya,"Aku sudah memutuskan, untuk jadi istri juragan beras. Mau buka toko di kota, bisa sekalian jadi agen sembako," ucapnya tersenyum, memasukkan tempe serta nasi ke dalam mulutnya.


Candra tersenyum,"Itu baru anak ayah..." ucapnya.


Hidup yang terlihat sempurna bukan? Namun, kebahagiaan tidak hanya ada pada restauran mahal beserta kemewahannya.


Bahkan di warung lalapan pinggir jalanan pun terdapat ke bahagian, tidak menggunakan setelan jas, Candra hanya mengenakan baju batik dengan celana panjang berwarna hitam. Tidak mengenakan setelan jas, suaminya Fahri hanya mengenakan kaos putih dengan celana jeans hitam, namun dapat tersenyum mencintai anak yang bukan darah dagingnya sendiri.


Ibunya yang renta, bahkan hanya mengenakan pakaian santai sama seperti dirinya. Sesekali meminum es teh manisnya.


Semua sama rata, kebahagiaan tidak hanya terasa pada orang kaya yang mengiris steak. Mereka bahagia? Entahlah...


Tapi orang biasa, juga berhak bahagia bukan? Walaupun bahagia dengan cara mereka masing-masing.


Kinara menghela napas kasar mengambil foto lalapan di atas mejanya. Kemudian mengunggahnya di media sosial dengan nada sindiran.


'Kasihan yang harus belajar kenyang makan roti isi...'


Kanaya yang memang masih sarapan sembari membuka media sosial mengenyitkan keningnya.


"Lalapan..." gumamnya tertunduk menatap roti bakar, selada, tomat, daging ayam dengan dua jenis saus. Chili sauce, dan mayonaise.


"Kenapa tidak dimakan?" tanya Daniel yang bahkan lebih aneh lagi, memakan steak setengah matang, sesuatu yang sudah biasa untuknya.

__ADS_1


"Aku ingin lalapan," jawabnya penuh harap.


"Nanti saat malam kita makan di luar hotel..." ucapnya penuh senyuman.


Hingga sebuah pesan kembali masuk, dengan nama pengirim Kinara.'Berapa kali semalam? Mau resep supaya cepat hamil?'


Kanaya mengenyitkan keningnya, mulai membalas.'Kamu saja belum hamil lagi...'


Tidak lama kemudian sebuah balasan di dapatkannya.'Aku sudah hamil, baru beberapa minggu. Bagaimana mau resep tidak!?'


Kinara menghela napas kasar, perlahan mengetik.'Bagaimana caranya?'


Balasan dari Kinara kembali didapatkannya.'Mudah, bukan bulan madu yang menentukan hamil atau tidak. Tapi situasi yang memacu adrenalin, goda suamimu, melakuannya dalam mobil pinggir jalan yang sepi, atau toilet umum, ruangan kantor juga boleh,'


Kanaya mengenyitkan keningnya, wajahnya nampak lebih dongkol dan lugu lagi. Mengusulkan dengan ragu,"Pak Daniel, bagaimana jika kita melakukannya di dalam mobil!?"


Daniel membulatkan matanya terkejut, spontan terbatuk-batuk. Gadis polos berotak setengah mesum, yang bahkan baru melepaskan segelnya tadi malam dan sekarang ingin mencoba dalam mobil? Dirinya tidak salah dengar kan?


"Kenapa dalam mobil?" tanyanya.


"Kinara bilang agar aku cepat hamil, harus melakukannya di tempat yang memacu adrenalin..." ucapnya menunjukkan handphonenya.


Daniel menipiskan bibir menahan tawanya, kemudian menghela napas kasar.


"Kamu ingin segera hamil?" tanyanya kembali dijawab dengan anggukan oleh Kanaya.


"Kita lakukan di roller coaster, agar lebih memacu adrenalin. Maka anak kita akan kembar sepuluh..." pemuda itu mulai tertawa kencang, merutuki kepolosan istrinya. Wajahnya mendapatkan lemparan bantal dari Kanaya.


......🍀🍀🍀🍀......


Sampai sini saja, sesuai janji, jika "Extraordinary Husband (Suami Yang Luar Biasa)" tamat maka bonus chapter yang terakhir akan aku update.


Bagi yang belum mampir, cerita selengkapnya tentang Tomy ada disana.



Sekitar dua chapter lagi end...


Sekalian promosi, "My Kenzo"



Keep healthy 🍀🍀🍀🍀

__ADS_1


KOHAPU


__ADS_2