
Arogan? Benar itulah sosok seorang Daniel, berbeda dengan sepupunya Farel yang bertindak lebih halus di depan, namun menusuk di belakang.
"Ternyata benar-benar, penjaja tubuh..." cibir Atha, menarik putranya untuk bangkit.
Tubuhnya masih lemah, wajahnya masih terlihat pucat. Namun tatapan menusuknya yang biasa berhadapan dengan bawahan setingkat direktur dan klien sulit diatur terlihat,"Kemal, ayahmu tidak mengetahui tentangku? Tapi kamu mungkin tau. Katakan pada ayahmu untuk diam disini. Jika tidak, menyuap beberapa orang agar polisi kecil sepertimu dimutasi, menjadikan lahan pertanian sebagai tempat pembuangan sampah, dapat aku lakukan dengan mudah..."
Aura yang benar-benar mengintimidasi, Kemal menarik tangan ayahnya. Mengetahui? Benar awalnya Kemal hanya mengetahui sedikit tentang pemuda di hadapannya, itupun hanya karena pertunangan pemuda itu dengan Kanaya yang disiarkan stasiun televisi.
Namun, lambat laun dirinya mulai mengerti setelah mencari informasi lebih dalam, tentang sosok pria yang hanya beberapa kali tampil di televisi. Betapa mengerikannya kekuasaan keluarga pemuda di hadapannya.
"Kamu sudah sadar? Jangan ikut campur urusan keluarga kami!! Sebaiknya kamu keluar!!" ucap Candra, mempertahankan harga diri terakhirnya.
Daniel memejamkan matanya sejenak, menghembuskan napas kasar berusaha bersabar, "Aku mendengar semuanya, kalian ingin cucu kalian bukan? Menurut dan ikuti kata-kataku. Percuma mempertahankan harga diri dengan menjelaskan pada orang-orang udik, telinga mereka sudah tuli dengan prasangka buruk..." kata-kata menusuk keluar dari mulutnya.
Beberapa kerabat Kemal maupun Kanaya yang hadir mulai berhenti berbisik, namun tetap saja menatap sinis ke arah mereka.
Jemari tangan Candra diraih putrinya, Kanaya menggeleng-gelengkan kepalanya. Seolah, meminta ayahnya untuk diam, mempercayai Daniel kali ini.
"Kamu masih menyukainya? Dia bahkan mencoba akan menikah dengan pria lain?" tanya Kinara, pada pria yang menatap dingin dengan wajah pucatnya.
"Menjajakan tubuhnya?" Daniel tertawa kecil, mengingat kata-kata yang sebelumnya didengarnya dari balik pintu,"Memangnya kenapa? Tapi jika memang Kanaya menjual tubuhnya, aku akan membelinya dengan harga berapapun,"
"Jadi, kita selesaikan semuanya hari ini. Tuan (Atha) dari segi mana dirimu dirugikan oleh calon mertuaku?" tanyanya mulai duduk di kursi yang diambilkan Ken.
"Acara pertunangan putraku berantakan 7 tahun yang lalu. Dan sekarang lamaran? Dia ingin menikahkan putrinya yang menjijikkan dengan putraku, kemudian menumpang hidup?" cibirnya tersenyum menghina.
"Ken, berikan cekku..." ucapnya, menadahkan tangan.
Buku kecil disodorkan pemuda yang berdiri di belakang Daniel. Menuliskan sesuatu kemudian merobeknya, meletakkan kertas itu di hadapan Atha,"Ini kompensasi kerugian anda, apa tidak cukup?" ucapnya.
Atha membulatkan matanya, menatap nilai fantastis di cek yang diterimanya."I...ini sangat cukup..."
"Sekarang minta maaf pada gadis yang kamu yakini menjajakan tubuhnya dan pria yang kamu anggap akan menjadi benalu bagi putramu!!" ucapnya menatap tajam.
Atha menelan ludahnya, menatap cek senilai seratus juta yang diberikan Daniel. Hanya meminta maaf saja pada Kanaya dan Candra, maka uang ini akan menjadi miliknya bukan? Tidak apa-apa, menurunkan sedikit harga diri.
Matanya terpejam sejenak, kemudian terbuka, berusaha tersenyum, mendekati Candra dan Kanaya,"Saya meminta maaf atas apa saja yang saya katakan hari ini. Kanaya begitu baik tidak mungkin melakukan perbuatan tercela. Maaf, sudah menganggapmu sebagai benalu..." ucapnya menunduk di hadapan pasangan ayah dan anak itu.
"Bagus, anda boleh pulang, cairkan cek yang saya berikan..." ucap Daniel tertawa kecil menghina, bagaikan mempermainkan boneka tali yang dikendalikannya dengan mudah.
Atha tersenyum, membayangkan apa saja yang dapat dilakukannya dengan cek yang baru saja didapatkannya. "Ayo kita pulang..." ucapnya pada Kemal yang hanya terdiam, mulai bangkit, merasa tidak memiliki harga diri lagi di hadapan sahabat kecil dan keluarganya.
Hingga kata-kata cibiran lain keluar dari mulut Daniel,"Menjual harga diri hanya dengan seratus juta? Bingkisan pemberianku pada ayah mertua saat pertama kali kemari, bernilai berkali-kali lipat,"
Pemuda berwajah pucat itu, menyenderkan punggungnya di kursi, tersenyum,"Tapi bingkisan itu dilempar di hadapanku. Katanya anaknya tidak dapat dibeli dengan uang,"
"Ternyata nilai harga diri Tuan Atha jauh lebih rendah dari pada calon mertuaku..." senyuman menghilang dari wajahnya.
Malu? Kesal? Mungkin itulah perasaan Atha saat ini. Cek pemberian Daniel digenggamnya erat, menarik tangan putranya, guna segera pergi dari rumah tetangganya. Diikuti oleh beberapa anggota keluarga besarnya, yang mulai menahan tawa, sembari mencibir dengan suara kecil.
***
Kinara diam terpaku, menatap pemuda yang masih duduk dengan keangkuhannya, "A...aku, namaku Kina..." ucapnya beranjak dari tempatnya duduk mengulurkan tangannya, ingin memperkenalkan diri.
"Jangan banyak bicara, berapa!?" ucapnya menatap tajam.
"A... apanya yang berapa?" tanya Kinara gelagapan, menurunkan tangannya yang hendak berkenalan dengan perasaan canggung.
"Aku sedang tidak sehat, Kanaya, ambilkan sertifikat rumah dan tanah keluargamu..." ucapnya, masih duduk dengan tenang.
Candra kali ini hanya dapat terdiam, melakukan apapun juga percuma. Nama baik keluarga, harga diri putri sulungnya sudah hancur.
"Ayah?" Kanaya meminta ijin.
"Turuti saja..." ucapnya tertunduk, mengepalkan tangannya, menahan amarah dan perasaan malunya.
Beberapa menit kemudian, Kanaya keluar membawa map dengan beberapa surat berharga di dalamnya. Memberikan pada Daniel, "Tanah yang tidak begitu luas..." cibirnya.
"Bawa ini!!" Daniel melemparkan map ke atas meja.
"Sebenarnya aku hanya merasa tidak adil mendapatkan perlakuan dari kakakku yang..." kata-kata dusta yang hendak keluar dari mulut Kinara terhenti. Kata-kata yang hendak dipergunakan menjaga imagenya sebagai wanita baik hati, menjatuhkan nama kakaknya. Wanita baik hati? Siapa yang tidak ingin memiliki pemuda rupawan yang royal di hadapannya?
"Ambil berkas itu, kemudian pergi! Malam ini asisten dan calon mertuaku akan mengambil anak yang kamu gunakan untuk mengancam mereka..." ucapnya menatap tajam.
__ADS_1
"Tapi..." Kinara tidak menyerah, ingin menggunakan mulut berbisanya lagi.
"Pergi!!" bentak Daniel.
Kinara meraih map diatas meja, serta tasnya hendak melangkah pergi. Hingga langkah kakinya terhenti di ambang pintu. Mendengar kata-kata Daniel pada Candra.
"Aku yang mengambil rumah dan sumber pendapatan kalian. Jadi, aku akan bertanggung jawab..." ucapnya, tersenyum tulus.
"Ken, urus pembelian villa tempat kita menginap. Atur kepemilikannya atas nama Candra," lanjutnya.
Tangan Kinara menggengam erat map yang dibawanya. Villa yang terletak di desa mereka? Bukan hanya sebuah villa, tempat itu terdiri dari dua puluh villa, dilengkapi dengan fasilitas restauran, spa, bahkan setiap villa memiliki kolam renang kecil. Serta kolam renang besar yang terletak dekat dengan restauran. Tempat yang biasanya disewa oleh kalangan menengah keatas untuk liburan.
Membelinya semudah membalikkan telapak tangan? Pemuda seperti ini menjadi milik kakaknya yang jelek? Tidak terima, mungkin itulah perasaannya saat ini, memiliki wajah serupa dengan nasib yang berbeda. Perasaan yang ditahannya, saat meninggalkan rumah.
Andai saja dapat mengulangi waktu, dirinya tidak akan hamil oleh pria lain. Tidak melahirkan anak sialan itu, pergi ke kota menjerat pria seperti Daniel.
"Dulu aku yang lebih cantik dan dipuji, andai anak sialan itu tidak ada..." gumamnya, mulai meninggalkan halaman rumah.
***
Mengemasi barang-barang mereka? Benar itulah yang dilakukannya, mobil Daniel dipenuhi beberapa koper pakaian.
Pemuda yang duduk di kursi penumpang bagian depan itu, sesekali terbatuk-batuk dalam mobil yang melaju perlahan, membelah jalanan perkampungan. Ken hanya menghembuskan napas kasar sembari menyetir.
Iba dan merasa bersalah? Mungkin itulah perasaannya saat ini menatap punggung pemuda yang dibiarkannya menunggu di depan rumah berjam-jam dalam cuaca yang dingin. Satu-satunya orang yang membela pria tua miskin sepertinya.
"Tidak perlu membelikan kami villa. Kami masih punya sedikit tabungan, kami akan menyewa..." kata-kata canggung dari mulut Candra terhenti.
"Ibuku masih di Kanada, tunggulah satu bulan lagi, dia akan datang meminta putrimu untukku. Aku tidak akan mempermainkan Kanaya..." ucapnya.
"Tapi, aku tidak menjual putriku. Aku hanya ingin putriku dapat mengangkat kepalanya di hadapan mertuanya nanti. Tolong jangan berikan kami apapun..." mata Candra berkaca-kaca menahan air matanya yang hendak keluar.
Daniel menghela napas kasar, masih tersenyum tulus mengetahui betapa Candra menyayangi putrinya."Tidak apa-apa, saudari Kanaya sudah mengambil warisannya. Villa yang aku berikan pada kalian adalah investasiku untuk Kanaya dan anak kami nanti yang belum, mendapatkan warisan dari kakek dan neneknya,"
"Hiduplah dengan tenang disana, aku juga akan menambahkan area bermain anak-anak, mungkin suatu saat nanti, anak kami akan ingin menginap dengan kakek dan neneknya..." lanjutnya.
Candra hanya tertunduk, tidak dapat berkata-kata lagi, hanya satu kata yang keluar dari mulutnya,"Maaf..." ucapnya lirih, air matanya mengalir.
Kanaya menghebuskan napas kasar, menatap luluhnya hati ayahnya. Harga diri? Bukan karena itu, sang pria tua menolak Daniel. Namun, demi menjaga Kanaya, tidak ingin putrinya dibodohi serta disakiti. Ditinggalkan bagaikan sampah setelah dipakai, seperti Kinara.
Mobil terhenti di area depan Weed Villas and Spa.
Daniel turun, masih sedikit terhuyung, "Ken, sewa satu villa yang kosong. Lusa, pembelian seluruh villa harus sudah selesai..." ucapnya berusaha berjalan ke villa yang disewanya.
"Tuan, biar saya bantu..." Ken mendekati atasannya.
"Tidak, aku bisa sendiri, antar mereka dulu..." ucapnya, sesekali berpegangan.
"Antar dan bantu dia..." Sumi menghebuskan napas kasar, menatap putrinya yang ragu untuk bergerak.
"Terimakasih ibu," Kanaya berjalan cepat, beberapa langkah. Hingga suara ayahnya yang terdengar.
"Jangan melakukan hal buruk yang ada di otakmu, selama kalian belum menikah..." ucapnya menatap tajam, ke arah putrinya bagaikan sudah mengetahui isi fikiran kotor, gadis setengah polos itu.
"I...iya..." Kanaya melanjutkan langkahnya, memapah Daniel yang masih sedikit demam.
Ayah tau saja, sial...tapi tidak apa-apa, sabar Kanaya tunggu satu bulan lagi. Yang terjadi...maka akan terjadilah... gumamnya dalam hati.
***
Ruangan bernuansa minimalis, perabotan yang terlihat mewah. Mata Candra menelisik, menghebuskan napas kasar.
"Aku tidak ingin tinggal disini..." ucapnya enggan.
"Ini keinginan tuan," Ken tersenyum pada pasangan suami istri paruh baya dihadapannya.
"Tapi, jika orang tua singkong, maksudku orang tua majikanmu tau..." kata-kata Candra yang tidak menginginkan dirinya akan menjadi beban, hingga keluarga Daniel akan memandang rendah putrinya, disela.
"Tuan besar (Tirta) juga berasal dari desa, merintis usahanya dari nol. Beliau tidak memandang orang dari status dan harta, namun prilakunya. Jadi, jangan sungkan..." ucap Ken.
Mata Candra menelisik, duduk di tempat tidur yang terasa terlalu empuk baginya.
Sumi, wanita itu berjalan menuju kamar mandi, menyalakan air dalam bath tub, memenuhinya kemudian mematikan kerannya.
__ADS_1
"Pak, kita harus pulang..." Sumi keluar dari kamar mandi menghebuskan napas kasar.
"Kenapa?" Candra mengenyitkan keningnya.
"Air di bak mandi sudah aku isi penuh, tapi airnya terlalu panas. Gayung juga tidak ada, bagaimana mau mandi? Kipas angin, masih ketinggalan di rumah, ibuk bisa tidur kalau udara terlalu panas..." ucapnya.
Ken menepuk jidatnya sendiri menghebuskan napas kasar, mengambil remote AC. "Maaf sebelumnya, ini remote AC. Anda bisa mengatur suhu ruangan,"
Tombol itu di tekan Ken, seketika udara dalam ruangan mendingin.
Perlahan Ken berjalan ke dalam kamar mandi,"Ini keran untuk air panas, dan ini untuk air dingin. Kalian dapat mengatur suhunya. Pernah menonton iklan sabun atau sinetron?" tanyanya, dijawab dengan anggukan oleh Sumi.
"Nah ini sama dengan itu, jika ingin mandi, tuangkan sabun cair, kemudian masuk saja ke dalam bathtub. Kalian bisa berendam, terakhir jika sudah selesai, tarik tali di bawah, maka airnya akan terkuras secara otomatis. Membilas diri dan keramas dapat menggunakan shower..." ucapnya.
Mata Ken melirik toilet duduk, mungkin canggung untuk menjelaskan. Hingga kata-kata Candra membuatnya lega,"Itu toilet duduk, kami pernah menggunakannya saat bepergian ke kota, menjenguk Kanaya di tempat kostnya..."
Ken mulai bangkit, berjalan beberapa langkah meninggalkan kamar mandi."Jika ada pertanyaan dan hal yang tidak dimengerti mohon hubungi saya. Nanti malam, saya akan menjemput anda untuk menjemput cucu anda (anak Kinara)," ucapnya hendak undur diri, namun wajah pasangan suami istri itu, nampak masih gusar.
Gusar? Tentu saja khawatir dengan pandangan tetangga dan saudara dekat mereka. Mungkin rasanya sekarang, keluar dari tempat inipun enggan.
Ken kembali menghela napasnya, mengetahui kecemasan kedua orang di hadapannya,"Kekuatan uang, apa anda tau? Tidak semua orang sebaik dan berpendirian sekuat anda. Moral? Terkadang dapat ditaklukkan oleh uang,"
"Saat anda ingin bepergian keluar dari villa, jangan menunduk!! Angkat kepala anda!! Sekarang anda adalah calon besan dari Daniel Ananta, tidak boleh menunduk pada orang yang lebih rendah dari anda. Merekalah yang pantas menunduk..." ucapnya.
"Tapi..." Candra nampak ragu.
"Apa anda dan putri anda berbuat kesalahan atau perbuatan tercela?" tanya Ken menatap tajam.
"Tidak..." Candra menghebuskan napas kasar.
"Bagus, angkat kepala anda, jangan tertunduk di hadapan cibiran berita tidak benar. Tunjukkan keangkuhan anda seperti saat mengusir tuan saya, pada orang-orang yang memiliki hati dengki pada anda. Namun, tetaplah sayangi dan peduli pada orang-orang yang menyayangi anda tanpa memikirkan status," ucapnya masih setia tersenyum, menutup pintu, membiarkan pasangan suami istri itu beristirahat.
Masih dalam kecemasannya, pasangan suami istri paruh baya yang tidak mengetahui bagaimana munafiknya dunia ini. Yang kaya dipuji-puji? Tidak semua orang bersikap begitu, tapi sebagian besar orang memang berlaku demikian.
***
Seorang kerabat Candra berjalan menuju pos ronda, menghembuskan napas kasar.
"Pak Candra sekarang sudah hidup enak, punya calon menantu orang kaya..." ucapnya di hadapan beberapa pria yang tengah meminum kopi, sembari menikmati waktu istirahat mereka.
"Bukannya Kanaya cuma wanita simpanan ya?" salah seorang warga mencibir.
"Hus, saya tadi sore pergi ke rumah kepala desa, orang berjas kasih sumbangan untuk pembangunan balai desa. Nah, orang itu bawahan pacarnya Kanaya..." ucapnya membela gadis yang seharusnya memiliki nama buruk di desanya.
"Wah, kalau begitu pak Candra sekarang benar-benar hidup enak ya..." salah seorang warga lainnya, menikmati kopinya, sambil memikirkan sesuatu. Mendekati Candra mungkin lebih baik, jika suatu hari keluarganya dalam kesulitan mungkin dapat meminta pertolongan, begitulah dalam fikirannya.
Benar? Kekuatan uang memang begitu bukan? Membuat semua orang mengelu-elukan, memuji, di sisi lain akan sulit menemukan orang yang benar-benar tulus berpihak padamu.
***
Kanaya menghela napasnya, menatap wajah pucat pemuda di hadapannya, "Kenapa tidak mau ke dokter?" tanyanya, memeras air, kembali mengompres kening pemuda yang tengah terbaring.
"Aku sudah minum obat, lagipula senang rasanya diurus olehmu..." Daniel tersenyum dengan wajah pucatnya."Aku akan menutup mata, ciumlah aku lagi. Kamu bebas melakukan apapun..." ucapnya, memejamkan matanya kembali.
Ingin merasakan sensasi yang sama saat dirinya berpura-pura pingsan? Mungkin itulah yang kini diinginkannya.
"Tidak mau!!" Kanaya bersungut-sungut, malu atas kelakuannya sendiri.
"Jika tidak mau? Tidak apa-apa. Aku yang akan membalasmu," Daniel mulai bangkit duduk di tempat tidur, mendekatkan tubuh Kanaya.
Seluruh wajah gadis itu tidak luput dari kecupan bibir, pemuda yang kini tersenyum padanya,"Aku mencintaimu..." ucapnya, memandang lekat mata gadis di hadapannya, hingga kecupan itu bermuara di bibir sang gadis, menaut, menyatu, perlahan.
Tautan yang terhubung, saling mengulum dan menyesap, bagai saling menutut tidak pernah menemukan kepuasan dalam hati yang berdebar.
"Aku lapar, buatkan aku bubur..." napas Daniel terengah-engah, bibirnya nampak tersenyum.
Sial, kenapa berhenti? Aku ingin lebih, tapi ... Kanaya menghebuskan napas kasar berjalan penuh kekecewaan.
"Kanaya-ku yang memiliki otak paling mesum. Sabarlah, aku tidak ingin ayahmu melemparku dengan singkong lagi, jika membuat cucu untuknya sebelum pernikahan..." teriak Daniel dari tempat tidur, bagaikan mengetahui isi fikiran Kanaya.
"Aku tidak memikirkan hal itu!!" bentak Kanaya mengelak dengan wajah memerah.
Dia dapat membaca fikiran? Tapi bentuk badannya, wajahnya... aku ingin segera ditaklukkan di tempat tidur... gumamnya dalam hati berlari ke arah dapur.
__ADS_1
Daniel menghela napas kasar,"Wanita nakal..." cibirnya menahan tawa, dapat menebak dengan jelas isi otak mesum Kanaya.
Bersambung