
Tangan Farel tidak dapat dikontrol, menyentuh tubuh Jeny tanpa henti, terbuai dengan bibir bertaut. Hingga suara tangisan bayi terdengar nyaring.
"Rafa bangun," ucap Jeny mendorong tubuh Farel, berlari dalam kegelapan menuju kamar mereka yang lebih terang.
"Aku gagal mendapatkan bayaran," Farel menghembuskan napas kasar berjalan dengan langkah lemas menuju kamar mereka, meraih tubuh kecil Rafa dari dekapan Jeny yang tidak kunjung berhenti menangis.
"Biar aku saja..." ucapnya penuh senyuman, menggendong Rafa yang semakin dekat dengannya.
"Kamu seperti ayah kandungnya," Jeny tertawa kecil, menatap Rafa yang mulai kembali terlelap.
"Aku memang ayah kandungnya. Kita membuatnya bersama-sama," jawab Farel dengan wajah serius.
Jeny malah tertawa semakin kencang mengganggap itu sebuah candaan. Orang yang memiliki JH Corporation adalah Ren? Orang yang mengejarnya dengan menjadi seorang asisten adalah pengusaha terkemuka? Siapapun akan menyangka itu adalah lelucon termasuk Jeny.
"Kenapa tertawa!?" Farel mengenyitkan keningnya.
"Jika kamu pemilik JH Corporation, aku adalah ratu Elizabeth pertama yang memasuki lorong waktu..." canda Jeny tertawa semakin kencang.
"Ssssttt...diam nanti Rafa bangun..." ucap Farel, enggan menjelaskan.
"Maaf..." Jeny kembali meraih putranya yang menggeliat terbangun, akibat mendengar suara tawa ibunya. Perlahan menyusui putranya, yang memiliki kulit putih kemerahan itu.
"Anak pintar," Farel tersenyum lembut, duduk di samping Jeny, membelai rambut putranya yang tengah menyusu.
Aku cukup bahagia dengan ini, tinggal di rumah sederhana, memiliki usaha kecil. Hidup dengan Ren dan Rafa walaupun tanpa pelayan dan kemewahan. Ren...pria yang tulus menyayangi dan melindungi kami dengan caranya sendiri...
"Ren, apa kamu bahagia!?" tanya Jeny penasaran.
Farel menggeleng-gelengkan kepalanya,"Aku belum bahagia, karena belum dapat membahagiakan kalian," ucapnya, masih mengamati wajah mungil putranya yang terlihat kehausan. Bahkan sempat terbatuk kecil, kemudian kembali menyusu, menggenggam erat kulit ibunya, seakan takut direbut.
Jeny tertegun kagum, mendengar kata-kata Farel menatap wajah pemuda yang dikenalnya dari remaja.
Hingga satu kalimat, membuat mood Jeny buruk,"Kamu akan menghabiskannya!? Sisakan untuk ayah, jangan minum sampai kenyang..." ucapnya pada Rafa.
Plak...
Jeny melempar bantal, tepat di wajah Farel dengan satu tangannya.
"Ren!! Hari ini kamu sebaiknya tidur di ruang tamu!!" Jeny menahan rasa geramnya, akibat rasa kagum yang terlalu tinggi, dijatuhkan oleh kalimat mesum suaminya pada putranya sendiri.
__ADS_1
"Kenapa!? Setelah Rafa tidur kita akan melakukannya di ruang tamu!?" tanyanya penasaran.
"Tidak!! Menyebalkan!! Keluar!!" ucap Jeny meninggikan intonasi suaranya.
Farel tertawa kecil,"Kamu bercanda kan!?"
"Tidak!! Dasar genit!!" Jeny berucap lebih kesal lagi.
"Baiklah yang mulia istri..." Farel memaksakan dirinya tersenyum, mulai mengambil selimut serta bantal, berjalan keluar dari kamar.
"Tidak peka, baru saja aku kagum. Tiba-tiba kata-kata mesum keluar dari mulutnya. Ren dulu tidak agresif, bahkan polos. Apa dia benar-benar Ren!?" Jeny menghembuskan napas kasar menatap pintu yang tertutup.
***
Waktu masih menunjukkan pukul tiga pagi, hari masih terlalu dingin. Jeny yang terbangun karena kehausan mengenyitkan keningnya menatap baby boxnya yang kosong.
Dengan panik wanita itu, membuka pintu menuju ruang tamu guna membangunkan Farel. Namun, Jeny hanya dapat menghela napas lega penuh senyuman. Menatap dua orang yang paling dicintainya tertidur di sofa yang cukup besar. Tangan Farel masih menggenggam botol susu yang berisikan stok ASI, yang mungkin diambilnya dari lemari pendingin, setelah dihangatkan tentunya.
"Ren bangun..." Jeny mengguncangkan tubuh Farel.
"Jeny..." ucapnya sembari menguap,"Maaf, tadi Rafa bangun lagi setelah kamu tidur. Aku tidak tega membangunkanmu. Jadi aku menghangatkan stok ASI untuknya,"
"Nona... maaf, aku hanya bermagsud bercanda tadi. Agar nona tetap tertawa, karena hari ini banyak terjadi hal yang buruk. Aku tidak tau nona akan marah dengan leluconku," ucapnya masih berjalan di depan Jeny.
"Ren bodoh!! Aku bahagia, selama bersamamu dan Rafa. Tidak peduli apapun yang mereka katakan," ucap Jeny penuh rasa bersalah."Terimakasih, untuk kemarin siang," lanjutnya.
Tidak terasa, langkah mereka telah memasuki kamar. Perlahan Rafa yang tengah tertidur di letakkan Jeny dalam baby box.
"Aku sudah bilang, aku adalah suamimu. Manfaatkanlah aku dengan baik, aku akan menjadi apapun demimu. Supir, pelayan, koki, aku akan melayani nona..." ucapnya tersenyum tulus.
Jeny menghebuskan napas kasar, menutup pintu, mematikan lampu kamar. Sedikit berjinjit, menarik dasi Farel yang tidak rapi, berbisik di leher suaminya,"Inilah, imbalanmu. Kita berpura-pura menjadi Casanova dan wanita penggoda, tapi hanya satu kali saja..."
"Dasar, jangan menyesal..." Farel tertawa kecil, memulai kegiatan panas mereka yang tertunda. Satu persatu pakaian mereka yang tanggal jatuh di bawah kaki mereka.
Saling membimbing menuju tempat tidur, menghangatkan pagi yang dingin. Dengan cumbuan dan sentuhan kulit tanpa pembatas.
"Ren..." panggil Jeny lirih penuh hasrat di sela-sela kegiatan mereka.
"Diamlah," terdengar suara Farel dengan napas tidak teratur, membungkam bibir Jeny dengan bibirnya yang bertautan.
__ADS_1
***
Pagi menjelang, aroma makanan tercium,"Nona..." panggilnya.
"Sebentar," terdengar suara Jeny dari dalam kamar. Beberapa menit berselang wanita itu keluar memakai pakaian kantor lengkap,"Maaf, aku terlambat bangun..." ucapnya, menatap makanan yang dihidangkan suaminya.
"Karena tadi aku diijinkan menjadi Casanova, pagi ini Chef Farel siap melayani anda, nona," Farel tertunduk seolah memberi hormat, kemudian tertawa kecil, diikuti tawa Jeny.
Jeny terdiam sejenak menghebuskan napas kasar,"Ren, nanti siang aku akan ke rumah ibu..." ucapnya ragu.
"Untuk apa!? Apa nona menyesal, dan ingin bercerai dariku, karena aku tidak berguna?" tanyanya dengan mata berkaca-kaca, mencari simpati.
"Dasar, siapa bilang Ren-ku tidak berguna," ucap Jeny tertawa kecil, kemudian menghebuskan napas kasar,"Dimas menghubungiku, ibu dan papa Jony memutuskan untuk berpisah. Dia ingin tinggal sementara di sini, karena tidak dapat memilih antara dua makhluk yang jarang di rumah,"
"Di...dia akan tinggal disini!?" Farel mengenyitkan keningnya.
Privasi saat bekerja, mengawasi bisnis dari rumah, kebebasan saat menggendong Rafa, menggoda Jeny di sembarang tempat, yang paling penting aku tidak bisa bermain peran Casanova dan wanita penggoda lagi... wajah Farel seketika pucat, mendengar kedatangan makhluk astral berusia 12 tahun itu.
"Aku akan membelikan apartemen mewah untuknya, lengkap dengan pelayan!!" Farel berucap cepat meninggikan intonasi suaranya.
"Jangan bercanda, kamu bahkan belum bekerja. Jaga rumah dengan baik dan jangan nakal," Jeny tersenyum menghebuskan napas kasar.
"Aku adalah ayah kandung Rafa!! Pemilik JH Corporation!!" ucapnya membentak, dengan wajah serius tidak bisa membayangkan hidup dengan seorang adik ipar, berusia 12 tahun.
Jeny malah tertawa semakin kencang,"Masih dengan lelucon yang sama. Jika kamu adalah ayah kandung Rafa. Maka aku adalah titisan Roro Jonggrang..." ucapnya.
Dalam fikiran Jeny sosok pemilik JH Corporation, adalah pria kejam, arogan, yang mengerikan. Memiliki asisten yang sama kejamnya. Bahkan ayah kandung Rafa itu, lebih mengerikan dari sosok Tomy yang sudah seperti iblis.
Berbanding terbalik dengan sosok Ren yang terlihat baik hati, pria bercelemek yang lembut dan tulus. 'Tidak mungkin' dua kata itu ada dalam fikiran Jeny.
"Aku serius..." ucap Farel kesal.
"Iya...iya..." Jeny kembali tertawa.
Dilema yang aku hadapi, saat aku berbohong, nona dengan lugunya percaya. Namun, saat aku jujur, aku dijadikan bahan lelucon...
Farel menyerah menatap jenuh,"Roro Jonggrang, aku akan membuatkanmu seribu candi. Jika kamu percaya, aku adalah ayah kandung Rafa,"
Jeny malah tertawa lebih kencang, sambil memegangi perutnya.
__ADS_1
Bersambung