
Jeny tetap bergelayut manja, berniat menjadikan Farel sebagai kambing hitamnya. Menatap tidak suka pada dua makhluk yang duduk di atas sofa.
"Ini adalah pacarku, jadi Daniel maaf, aku tidak dapat bersamamu. Kembalilah pulang dan nikahi Renata!! Dan tuan Tomy, tolong sampaikan pada majikanmu, walaupun hujan badai menerpa, bagaimanapun rupanya, seberapa kaya pun dia, saya tidak akan pernah bersedia menjadi istrinya!!" Jeny membentak pada dua orang di hadapannya.
Siapa yang mau kembali hidup tersiksa dengan monster. Atau hidup dengan pemilik JH Corporation, orang yang memiliki asisten mengerikian, majikannya pasti 10 kali lipat lebih mengerikan... gumam Jeny dalam batinnya.
Farel mengenyitkan keningnya menatap kesal pada Tomy. Sejenak Tomy berfikir untuk menyelamatkan diri dari amukan Farel, hingga satu ide pun tercetus.
"Jadi ini pacar nona!? Namanya siapa!?" Tomy terlihat menelisik penampilan Farel.
Dengan sigap Jeny menyiku Farel agar menjawab pertanyaan Tomy.
"Perkenalkan nama saya Farel," ucapnya penuh senyuman.
"Tuan saya orang pintar dan baik. Apa orang ini serius dengan anda!? Jika tidak, lebih baik kalian berpisah dan nona ke Singapura untuk menikah dengan tuan saya," Mata Tomy berkedip sebelah tanpa disadari semua orang kecuali Farel, memberi kode agar tuannya diam dan mengikuti rencananya.
"Kami serius!! Iya kan sayang!?" Jeny membentak.
"Iya, saya serius dengannya," Farel mulai berusaha tersenyum, mengingat lamarannya yang ditolak mentah-mentah.
"Mana buktinya!? Ucapan dimulut untuk menjalani hubungan, siapa yang akan percaya!? Bisa saja dia pria yang nona sewa!! Benarkan tuan Daniel!?" Tomy tersenyum mengenyitkan keningnya mencari dukungan.
"Benar, bisa saja kamu menyewa orang, agar berpura-pura menjadi pacarmu," Daniel menatap curiga.
"Jika tidak memiliki bukti berupa ikatan atau surat yang meyakinkan, saya tidak akan percaya. Mungkin setelah ini lebih baik kita bertemu di pengadilan, untuk memperebutkan anak itu, karena tuan saya tidak ingin putranya tumbuh dewasa tanpa ayah..." Raut wajah Tomy nampak dingin dan kesal, beranjak bangkit dari tempat duduknya. Berjalan beberapa langkah hingga kata-kata yang ditunggunya terdengar.
"Ka...kami akan menikah minggu depan!!" Jeny membentak, panik mendengar kata pengadilan dan perebutan hak asuh. Namun, tiba-tiba menutup mulutnya, menyadari kesalahannya dalam bicara.
Matilah aku, kenapa malah jadi begini... Jeny merutuki nasibnya, menghela napasnya, kemudian melirik ke arah pemuda di sampingnya. Berharap pemuda itu merevisi kata-kata yang tidak sengaja diucapkan Jeny.
Wajah senyuman di paksakan dari Farel, tiba-tiba berubah menjadi senyuman tulus,"Benar, kami akan menikah!! Dan sebaiknya kalian pergi dari sini!!" ucapnya tegas.
Tomy menghentikan langkahnya, sedikit tersenyum, kemudian kembali berbalik dengan raut wajah tidak suka.
"Tuan kami, tidak suka dibohongi. Jadi, jika kalian ketahuan menipu. Aku tidak dapat menjamin nasib kalian!!" ancamnya, pada Farel dan Jeny. Kembali berbalik berjalan pergi menuju mobilnya.
Sedangkan, Daniel terlihat kesal."Aku akan menyelidiki tentangmu," ucapnya pada Farel.
Daniel kembali menghela napasnya sejenak tersenyum menatap Jeny,"Jangan berpura-pura seperti ini hanya untuk membuatku cemburu. Aku sudah menyadari kesalahanku, karena itu kembalilah padaku..." jemari tangan Daniel perlahan hendak menggengam tangan wanita yang dicintainya. Berharap dapat memperbaiki semuanya kembali.
"Tidak, terimakasih!! Dia adalah kekasih saya sekarang. Silahkan pergi," Farel menepisnya sembari tersenyum.
"Aku akan membuat perhitungan denganmu!!" Daniel pergi dengan langkah kesal, berjalan cepat keluar dari rumah itu.
***
Suara pintu mobil dibanting terdengar, Tomy mulai tersenyum menatap dari jendela mobilnya, kepergian pemuda dengan wajah kusut itu.
__ADS_1
"Aku selamat..." ucapnya menghebuskan napas kasar, menyenderkan punggungnya di kursi penumpang bagian belakang.
"Sekarang tinggal inisiatif dan cara anda merebut perhatian nona anda..." gumamnya sembari menahan tawanya.
***
Jeny menghebuskan napas kasar, duduk di atas sofa sembari menjambak rambutnya sendiri bagaikan menemukan jalan buntu.
"Namamu Farel kan!? Kamu lulusan universitas mana dan dimana CV mu!?" tanyanya berusaha untuk tenang.
Farel masih tertegun, menatap wajah Jeny yang selalu dirindukannya."Apakah melahirkan sakit!?" tanyanya terlihat cemas.
"Sakit, tapi dari mana kamu tau aku baru selesai melahirkan!?" Jeny mengenyitkan keningnya,"Apa dari Helen!? Karena aku sudah berjanji akan menerimamu sebagai asisten yang mengelola usahaku, nanti aku akan mengirimkan pesan pada Helen agar tidak membawa pelamar pekerjaan lainnya untuk kemari,"
Nona bertambah cantik, walaupun baru selesai melahirkan putra kami. Bagaimana kehidupan yang dijalani nona!? Apa nona dapat hidup dan makan dengan baik... tanyanya dalam hati, masih tetap tertegun dalam lamunannya.
"Omong ngomong mana CVmu!?" Jeny kembali bertanya.
Farel terdiam sejenak mengeluarkan keringat dingin, mencari alasan untuk berbohong.
"Tasku di todong orang tidak dikenal dalam perjalanan kenari, tapi setelah ini aku akan membuat salinannya lagi," jawabnya kembali tersenyum.
"Lulusan!? Gelar!? Pengalaman!?" Jeny mengenyitkan keningnya.
"Gelar master di bidang ekonomi dan management, aku tidak memiliki pengalaman kerja." jawab Farel.
Farel berjalan mendekat, membungkuk mendekatkan wajahnya pada leher Jeny,"Gaji bulanan yang aku minta adalah sebuah ciuman..." ucapnya mengingat tanda penghargaan mereka sewaktu remaja, setiap minggunya mereka akan berciuman. Jika wanita itu, tekun belajar selama seminggu penuh.
"Kamu sudah gila ya!?" Jeny berteriak membentak, mendorong tubuh Farel, jantungnya berdegup kencang, menghirup sedikit aroma apel hijau. Mirip dengan saat berada di dekat Ren.
"Maaf, saya hanya bercanda..." Farel tertawa kecil, memegang pinggangnya yang sakit akibat terjatuh di lantai.
"Bercanda juga ada batasannya!!" Jeny kembali berteriak, mengalihkan pandangannya. Tidak ingin menatap langsung wajah pemuda itu. Sembari berusaha menstabilkan detak jantungnya.
"Maaf, tapi kami hanya dapat memberikan gaji 8 juta per bulan, tanpa tunjangan," Jeny menghebuskan napas kasar.
"Tidak apa-apa, itu sudah cukup!!" ucap Farel mulai bangkit dari lantai penuh semangat.
Akhirnya aku bisa bersama nona seperti dulu ... batinnya.
"Besok bawa CV mu dan mulai..." kata-kata Jeny terhenti, suara tangisan bayi terdengar dari kamar.
Wanita itu, segera berjalan ke dalam kamar mencemaskan putranya. Terlihat Ayana yang tidak terbiasa menggendong bayi kebingungan, berusaha menghentikan Rafa yang menang sedikit rewel.
Jeny segera meraihnya, kemudian menggendongnya perlahan. Bahkan berusaha memberikan ASI namun bayi itu tetap menangis bagaikan menolak.
Seorang pemuda yang masih duduk di ruang tamu memilin jemarinya, terasa tidak tenang baginya mendengarkan suara tangisan bayi yang berada di dalam kamar.
__ADS_1
Farel menghebuskan napas kasar, memasuki kamar itu, kemudian meraih Rafa yang masih berusaha di tenangkan Jeny."Biar aku saja..."
"Shin'ainaru papa (anak papa sayang)" ucapnya sembari menggendong penuh senyuman.
Tangisan bayi mungil itu seketika terhenti, menggeliat kembali tertidur dengan tenang, bagaikan mengetahui keberadaan ayahnya.
Kenapa bisa langsung berhenti!? setiap menidurkan Rafa yang rewel aku memerlukan waktu satu jam untuk menggendongnya. Apa aku ibu yang buruk!? Apa aku salah cara mengasuh... Jeny tertunduk menghebuskan napas kasar dengan rasa iri karena putranya lebih tenang bersama orang asing.
"Mantera apa yang kamu pakai!?" tanyanya membentak, mendengar Farel sebelumnya berbicara bahasa asing.
"Aku mengatakan 'ibumu sangat cantik'," jawab Farel, menatap penuh senyuman ke arah Jeny.
"Menyebalkan, tidak tau malu, kurang ajar..." umpatnya dengan suara kecil.
Farel hanya dapat mati-matian menahan tawanya.
***
Hari sudah semakin gelap, Farel masih setia tersenyum, melajukan mobilnya menuju kediamannya. Meninggalkan Ayana yang masih ingin berada di sana bermain dengan cucunya.
Gerbang besar itu terlihat, Farel segera berjalan cepat menuju kamarnya, perlahan melonggarkan dasinya, matanya menatap langit-langit kamar penuh senyuman, sesekali bahkan tertawa kecil.
"Farel," Dilen masuk tanpa mengetuk pintu, ditemani seorang perawat.
"Ayah..." Farel tertunduk menghebuskan napas kasar.
Dilen tersenyum memegang jemari tangan putranya,"Ayah tidak dapat berjalan dari kecil, suatu keberuntungan bagi ayah menemukan ibumu dan mengadopsimu. Dua orang yang menyayangi ayah dengan tulus,"
"Ayah, akulah yang beruntung..." Farel memeluk ayah angkatnya. Rasa rapuh, berjuang dengan kehidupan keras dari kecil. Baginya memiliki Ayana dan Dilen adalah sebuah perlindungan di tengah badai.Dua orang yang selalu tersenyum, membantunya untuk berkembang.
Farel tertunduk dalam tangisan merasakan untuk pertama kalinya menjadi seorang ayah.
"Apa putramu sangat manis!?" tanya pria paruh baya itu. Farel mengangguk, kemudian tertawa kecil,"Dia menyukaiku. Aku harap rasa sukanya sama seperti aku menyukai ayah,"
"Ayah akan kembali ke Singapura, ibumu sudah menghubungi ayah, mengatakan tentang masalahmu. Berusahalah agar dapat merebut hati mereka," Dilen menghebuskan napas kasar.
"Ayah sudah pensiun, tidak memiliki kegiatan. Beberapa bulan ini ayah akan membantumu mengurus masalah perusahaanmu di sana," lanjutnya.
"Terimakasih, Farel menyayangi ayah..." ucapnya penuh senyuman.
"Anak manja..." Dilen tersenyum, mengacak-acak rambut putranya. Kembali berlalu keluar dari kamar Farel.
Pintu mulai ditutup oleh perawat yang menemani Dilen. Bersamaan dengan Farel yang mengeluarkan phoncellnya.
"Tuan, ada apa!?" terdengar suara dari seberang sana.
"Desak Jeny untuk segera menikah minggu ini..." ucapnya tersenyum menyeringai.
__ADS_1
Bersambung