
Kesal? Tentu saja, namun semua itu tertutupi oleh senyumannya yang terlihat tulus dari luar. Raut wajahnya terlihat cemas dan prihatin.
"Kita pernah bertemu sekali. Aku Clarissa, kita bertemu saat pesta pembukaan anak cabang perusahaan milik suamimu..." Clarissa tersenyum, tidak ingin menyerah.
"Usir dia!! Dia ingin membunuhku!!" Jeny berteriak histeris.
"Tenang dulu..." Farel tersenyum lembut, menggeleng gelengkan kepalanya pelan, memberi isyarat agar Clarissa pergi.
"Aku hanya ingin berteman denganmu, mungkin karena pengaruh obat, kamu mengalami halusinasi. Maaf jika aku berbuat salah..." ucapnya sedikit menunduk, masih terlihat cemas.
"Pergi!!" Jeny kembali membentak.
"Tunggu sebentar di sini ya?" Farel bangkit, hendak mengantar kepergian seorang wanita yang mengaku anak rekan bisnis kakeknya.
Jeny hanya mengangguk,"Usir dia pergi..." ucapnya pada seseorang berpakaian suster di sampingnya.
***
Farel melangkah diikuti oleh langkah Clarissa, wanita itu melangkah dengan cepat, agar dapat berjalan berdampingan dengan Farel.
"Kenapa berpakaian suster?" tanyanya penasaran.
"Dia histeris saat aku mendekatinya. Jadi lebih baik berpura-pura menjadi perawat saja, agar dapat menjaganya..." jawab Farel penuh senyuman.
Manis? Begitulah yang ada di fikiran Clarissa saat ini. Seseorang yang memiliki kekuasaan, lumayan kejam di bidang bisnis memakai rok, berbicara bagaikan wanita hanya untuk menyenangkan istrinya. Iri? Benar, perasaan itulah yang ada di hati wanita itu, membenci sosok Jeny yang menurutnya tidak secantik, dan bukan dari kalangan atas yang memiliki kekuasaan seperti dirinya. Namun, mendapatkan suami yang terlihat sempurna.
"Dia juga histeris tanpa sebab saat bertemu denganku, kamu tidak mencoba menghubungi psikolog?" tanyanya, mengarahkan asumsi Farel, agar menganggap Jeny menderita depresi.
"Tidak, karena aku adalah obat baginya. Omong ngomong, terimakasih sudah membela istriku saat di pesta. Aku harap selanjutnya kita bisa berteman..." ucapnya penuh senyuman.
"Aku harap juga begitu..." Clarissa tersenyum, telah sampai di area parkir rumah sakit, tepatnya di depan mobilnya."Mungkin menyenangkan, memiliki teman tampan dan humoris sepertimu..." lanjutnya tertawa kecil.
"Mungkin juga, akan menyenangkan memiliki teman cantik dan pintar sepertimu..." Farel ikut tersenyum, membukakan pintu mobil Clarissa,"Silahkan masuk..." ucapnya penuh canda.
"Dasar..." Clarissa tertawa kecil, memasuki mobil miliknya.
"Hati-hati di jalan..." ucap pemuda itu, bersamaan dengan mobil yang melaju.
Suara mesin mobil terdengar, mobil mulai meninggalkan parkiran. Mata Clarissa melirik ke arah spion terlihat bayangan Farel dari jauh, "Sulit didekati? Ternyata tidak, asalkan bersikap baik pada istrinya, suaminya akan luluh," gumamnya.
Sejenak kemudian, mengambil earphone, meletakkan pada telinganya. Menghubungi seseorang, sembari menyetir,"Saya ingin memesan dua gaun hitam yang terkesan cantik, simpel jangan yang seksi. Ini untuk menghadiri pemakaman..." ucapnya dengan identitas orang yang dihubunginya, salah satu desainer ternama.
***
Sementara itu, senyuman di wajah Farel menghilang. Entah apa yang ada di fikiran pemuda itu. Farel berjalan dengan cepat kembali ke ruang rawat istrinya.
Jeny terlihat diam termenung, memikirkan sesuatu. Perlahan jemari tangannya yang masih berbalut perban digenggam Farel,"Anda tidak apa-apa?" tanyanya.
"Dia bukan orang baik," gumam Jeny tertunduk.
"Benarkah? Tau dari mana?" tanyanya tersenyum simpul.
"Tolong hubungi suamiku, nomor kontaknya ada di kartu nama dalam dompetku di laci, namanya Farel..." Jeny terlihat penuh kecemasan.
"Baik, istirahatlah aku akan menghubungi suamimu ..." Farel menjawab penuh senyuman.
__ADS_1
Ya Tuhan, terimakasih akhirnya aku lepas dari rok terkutuk ini, dan bebas melakukan apa saja... gumamnya dalam hati, penuh syukur.
Farel mulai bangkit, tersenyum mengambil tas ranselnya. Berlari dengan cepat menuju toilet umum di lobby rumah sakit itu.
Beberapa belas menit berselang, sosok pemuda rupawan memakai sweater putih dan celana jeans hitam, keluar. Berjalan mendapatkan perhatian dari orang-orang yang dilaluinya, pemuda yang memiliki aura dingin menusuk hati wanita mana saja yang menatapnya.
Dengan penuh senyuman, Farel menekan tombol lift. Kembali menuju ruang rawat istrinya. Jemari tangannya, mulai mengetuk pintu.
"Nona..." ucapnya dengan nada suara pria normal.
"R... Ren?" Jeny memastikan pendengarannya.
"Iya, apa nona sudah tidak marah lagi padaku?" tanyanya sembari mengunci pintu, entah apa niat busuknya.
"Bu... bukan itu, ki...kita berpisah saja. Tapi jika ada wanita yang bernama Clarissa, tolong jauhi dia..." ucapnya gelagapan bingung bagaimana harus memperingatkan suaminya.
Farel mulai duduk di samping Jeny, mencium punggung tangan istrinya."Nona, ingin berpisah karena aku menjadi suami yang tidak becus kan?" tanyanya.
Jeny menarik jemari tangannya, "Bukan karena itu!! Kamu suami terlalu baik dan sempurna, karena itu kita harus berpisah,"
"Mata dan tangan nona terluka, karena aku tidak menjaga nona dengan baik, maaf... Jangan, buang aku ya..." ucapnya terdengar memelas.
"Itu tidak penting, tolong jauhi wanita yang bernama Clarissa. Jangan biarkan dia mendekati putra kita..." Jeny memperingatkan.
"Nona cemburu?" tanya Farel menahan tawanya.
"Tidak!! Kita akan berpisah setelah ini!!" tegasnya.
"Begini, secara logika ketika nona memutuskan berpisah denganku, wanita lain dapat masuk. Jika kakek atau ibu ingin aku menikahinya, aku tidak dapat berbuat apa-apa. Artinya, walaupun wanita itu orang yang bernama Clarissa atau siapapun. Dia akan menjadi istriku, ibu tirinya Rafa," ucapnya.
Dan benar saja...
"Jangan menikah lagi...!!" Jeny keceplosan, menutup mulutnya dengan wajah pucat.
Seharusnya, aku membentak dan bersikukuh meminta berpisah. Sambil memperingatkannya tentang Clarissa. Kenapa jadi seperti ini... gumamnya dalam hati, mulai terjebak kata-katanya sendiri.
"Tidak mau, setelah bercerai cepat atau lambat aku akan menikah lagi..." Farel tersenyum licik, menahan tawanya.
"Tidak boleh!!" Jeny membentak.
"Aku tetap akan menikah lagi, tanpa persetujuan nona" Farel bersikukuh.
"Jangan menikah lagi, atau Rafa akan..." kata-kata Jeny terpotong.
"Setelah perceraian, nona akan menjadi mantan istri. Mantan istri, tidak berhak melarang mantan suaminya menikah lagi. Jadi aku akan..." seringai senyuman terlihat di wajahnya.
"Aku tidak akan bersedia bercerai!! Jangan berharap menikahi wanita lain!! Siapapun wanita yang berminat menikah denganmu. Aku sendiri yang akan mengubur mayatnya!!" Jeny membentak kesal, emosi, bercampur rasa cemburu semuanya menjadi satu.
"Apa yang bisa nona tawarkan padaku agar kita tidak berpisah!?" Farel mendekatkan wajahnya, berbisik dengan nada sensual pada Jeny.
Jeny meraba wajah pemuda di sampingnya, belum menyadari dirinya terkena perangkap. Tangannya menangkup wajah Farel, mencium sembarang, perlahan menemukan jalan, menggerakkan bibirnya menuju bibir Farel.
Keduanya bertaut perlahan penuh hasrat,"Tubuhmu penawarannya? Jika begini aku tidak mungkin sanggup berpisah denganmu," ucap Farel berbisik di telinga Jeny.
Kancing baju pasien perlahan dibuka Farel satu persatu,"I...ini dirumah sakit..." Jeny gelagapan.
__ADS_1
"Hanya kita berdua disini, diam dan nikmati saja..." ucapnya, tindak ingin infus terlepas dari pergelangan tangan istrinya.
Kesadaran Jeny bagaikan menghilang, seperti terkena mantera pemuda yang menjamah tubuhnya perlahan. Melupakan niatan untuk bercerai? Memang itu yang terjadi.
"Emmmnnngghhh..." lenguhannya terdengar, tangannya meraba-raba tubuh Farel yang pakaian telah tertanggal sempurna.
"Jangan berisik..." Farel tersenyum, menikmati bibir istrinya, agar tidak kembali bersuara. Lenguhan dan erangan mereka tertahan oleh decapan bibir. Ditengah decitan tempat tidur pasien, seakan keduanya melupakan etika dan kepantasan tempat sejenak.
Satu setengah jam kemudian...
Farel tertawa kecil, setelah membersihkan tubuhnya dan nonanya seusai aktivitas panas mereka. Telah kembali mengenakan pakaiannya, dan membantu Jeny mengganti baju pasien.
Kesadaran di otak Jeny baru kembali... Aku ingin bercerai, kenapa malah jadi melakukannya di kamar rumah sakit? Bahkan aku yang menginginkannya duluan, agar kami tidak berpisah...Mantra apa yang dipakai orang ini...
Pemuda itu ikut berbaring di tempat tidur pasien. Memeluk tubuh Jeny erat,"Sering-seringlah minta bercerai..." Farel tertawa terbahak bahak.
Plak...
Bahunya di pukul oleh wanita dalam pelukannya,"Ini rencanmu dari awal kan!?" bentak Jeny.
Farel tersenyum tulus, menghebuskan napas kasar,"Nona adalah nyawaku, jadi aku mohon jangan pernah membuangku..." ucapnya memeluk erat tubuh Jeny.
"Aku tidak cocok lagi dengan..." kata-kata Jeny terhenti, jemari tangan Farel mengusap bibir istrinya.
"Lalu apa wanita cantik yang berhati busuk akan cocok denganku? Nona tidak iba padaku?" tanyanya.
"Diam..." Jeny tersenyum menahan debaran di hatinya. Hatinya bagaikan telah luluh, mengeratkan pelukannya pada tubuh suaminya.
Farel ikut tersenyum, Nona aku akan menjaga anda dengan baik. Alasan? Bukan hanya karena rasa cinta, walaupun itu alasan pertama. Alasan lainnya, nyawaku adalah milikmu semenjak tuan Doni membawaku dari tempat penjualan organ. Mungkin tanpa kalian, aku sudah dikubur bagaikan bangkai binatang, tanpa batu nisan, tanpa organ tubuh yang lengkap. Menjadi mayat anak tidak dikenal, yang dibuang sembarangan...
"Terimakasih..." ucapnya tersenyum lembut.
"Kamu bilang apa?" Jeny mengenyitkan keningnya.
"Terimakasih tidak membuangku, aku mencintaimu..."
***
Gedung apartemen sudah nampak sedikit sepi dari hiruk pikuk wartawan. Tomy kembali melanjutkan penyelidikannya. Hal pertama yang dilakukannya mengukur waktu hingga sampai ke gedung.
Kemudian menatap TKP dari jauh, tempat yang masih ada beberapa petugas kepolisian dan wartawan disana. Tepatnya di tempat Renata diperkirakan jatuh, dan lantai tempat wanita itu membentur tanah.
Satu tempat yang belum begitu terjamah wartawan dan petugas kepolisian, adalah gedung parkir apartemen.
Tomy, mendekati mobil Renata, dengan banyaknya darah di lokasi pembunuhan. Tidak mungkin, tidak ada jejak darah yang tertinggal di mobilnya. Untuk mengganti mobilpun memerlukan waktu, dalam kurun waktu yang singkat itu. Seharusnya, pelaku membawa kembali mayat menggunakan mobil korban.
Semprotan luminol digunakannya di area luar mobil. Senyuman menyungging di wajah Tomy, mendapati adanya reaksi di area jok belakang mobil.
Pintar? Tidak, tentunya pelaku kejahatan juga sama cerdasnya. Meninggalkan TKP dengan banyak celah? Bukanlah ciri khas dari Hans.
Hans tersenyum simpul membawa pisau lipat,"Maaf tuan, saya fans Renata. Apa anda dari kepolisian?" tanyanya menepuk pundak Tomy yang tengah berjongkok, menatap reaksi semprotan luminol yang telah menghilang dalam waktu 30 detik. Tomy mendongakkan kepalanya, menatap wajah Hans.
Hans menghembuskan napas kasar, bagaikan berduka. Mengetahui kematian artis yang bahkan tidak dikenalnya.
"Bukan, dia cinta pertama saya. Ini adalah mobil kenangan tempat kami sering berbuat..." kata-kata Tomy terhenti, memulai dramanya, menangis terisak-isak, memegang celana panjang Hans.
__ADS_1
Bersambung