
"Selamatkan cucuku!!" perintah seorang kakek air mata tidak terkendali mengalir melewati pipi keriputnya.
Putus asa? Untuk pertama kalinya dirinya putus asa, berjalan cepat setelah bangkit, tidak ingin dirinya terlambat bagaikan kejadian 30 tahun yang lalu terulang kembali. Andaikan dirinya pulang kerja lebih awal, andaikan dirinya tidak berkunjung terlebih dahulu hanya untuk membelikan kue kering yang disukai kedua putrinya. Mungkin Hyeri dapat dihentikannya, kursi yang menjadi pijakan putrinya tidak akan terjatuh, meninggalkan tubuh tergantung yang mendingin.
Dirinya dapat memeluk hangatnya tubuh putrinya yang ceria bagaikan sinar matahari. Gadis kecilnya tidak akan dapat mengakhiri hidupnya. Andai saja dirinya tidak pulang terlambat...
Keluar dari lorong terlihat geladak kapal yang luas, cucunya tersenyum menatapnya. Menggengam erat sepucuk senjata api, dikelilingi pengawal dan tentara bayaran milik Lery.
"Apa yang kalian lakukan!! Selamatkan cucuku!!" kata-kata itu kembali terulang, membentak pada pengawal yang berada di sekitarnya.
Para pengawal milik Taka mulai bergerak menodongkan senjata mereka.
Lery yang berada di samping Farel berbisik pada pemuda itu,"Perlihatkan ketulusan untuk menyerahkan nyawamu..."
Setetes air mata yang mengalir tidak diseka olehnya,"Ini keputusanku, jangan menyelamatkanku, jika menyelamatkanku, aku akan membencimu..." ucapnya masih setia tersenyum, senjata api di genggaman erat, jemari tangannya.
"Dia hanya seorang wanita!! Jangan menjadi bodoh dan mati hanya karenanya!! Kakek akan mencarikanmu wanita yang lebih cantik darinya..." Taka menagis dalam keputusasaannya,"Kakek mohon..." ucapnya berlutut.
Tawa kecil terdengar dari mulut Lery, orang tua yang angkuh berlutut? Ini menjadi semakin menarik saja baginya.
"Maaf, aku menyayangi kakek..." pemuda itu masih setia tersenyum, berharap senyumannya dapat sedikit menghibur pria tua kaku yang menyayanginya sepenuh hati. Senjata api diangkatnya, tidak tega melihat kakek tua itu terpuruk lebih lama lagi.
Perlahan diarahkannya pada kepalanya sendiri. Matanya terpejam menarik pelatuk pertama. Sesaat kemudian hendak menarik pemicu.
"Hentikan, tunggu sebentar lagi. Pengkhianat seharusnya tidak mati dengan mudah kan?" Lery memegang tangan Farel, agar menurunkan senjata apinya.
"Diam dan jangan melawan..." ucap Lery, mulai duduk di atas sebuah kotak kayu.
"Pukuli dia..." perintahnya pada pengawalnya.
Pandai bela diri? Apa gunanya di saat seperti ini? Dada pemuda itu di tendang hingga tersungkur. Sepatu tebal menginjak, bahkan menendang tubuhnya.
Sakit? Bukan itu yang terpenting baginya, matanya menatap pria tua yang terus berlutut menitikkan air matanya, berharap cucunya yang nakal merubah keputusannya.
Tidak bisakah aku segera mati saja? Menyakitkan melihat kakek kaku-ku menangis. Jika bisa aku ingin sisa takoyaki-mu sekali lagi saja, karena hanya kakekku yang kaku akan senang berbagi makanan sisanya padaku... gumamnya, menatap penuh senyuman pada pria tua tidak berdaya yang tengah berlutut, menginginkan cucunya merubah keputusannya.
Berbagi makanan? Pasangan kakek dan cucunya itu memang sering melakukannya, seberapa kerasnya pun didikan Taka, kasihnya pada cucu satu-satunya melebihi itu. Berjalan dengan remaja di bawah guguran bunga sakura. "Kamu mau?" ucapnya penuh senyuman, memberikan setengah porsi miliknya. "Aku menyayangi kakek..." Farel akan tersenyum meraihnya tanpa ragu. Kenangan serupa yang selalu terjadi membuatnya tersenyum.
***
Anjungan kapal...
Seorang pemuda berpakaian kapten kapal mengenyitkan keningnya. Tidak mengetahui situasi dengan jelas. Posisi anjungan kapal yang lebih tinggi dari geladak, membuatnya hanya menatap samar-samar terjadi keributan di luar sana.
Rasa penasaran menderu hatinya, pihak siapa yang akan menang? Dengan jumlah tentara bayaran yang naik seharusnya berimbang dengan jumlah pengawal Taka hingga kepolisian federal datang kan? Tapi ada yang aneh, tidak ada suara letupan senjata api.
"Kamu siapa!?" terdengar suara tentara bayaran Lery yang berjaga-jaga di luar anjungan kapal.
Seorang wanita berpakaian minim tersenyum, dengan cepat menghindari pria yang hendak menembaknya. Lengan pria itu dicengkramnya, dengan sekali bantingan pria berbadan besar itu roboh. Pistol dengan peredam milik sang tentara bayaran direbutnya. Dengan satu tembakan di bagian jantungnya, napas sang pria yang telah tersungkur di lantai tidak berhembus lagi.
__ADS_1
Tiga orang tentara lainnya mendekat, namun belum sampai menyerang sang wanita ketiganya roboh bersimbah darah.
Seorang pria berpakaian cleaning service melompat dari ketinggian membawa senjata laras panjang, mendarat di hadapan sang gadis berpakaian minim.
"Menembak tiga orang dari jarak jauh, aku hebat kan suster Eva? Kapan kamu akan menerima perasaanku?" tanya sang pria mendekati wanita berpakaian minim.
"Cleaning service rumah sakit sepertimu dengan seorang suster? Jadilah dokter dulu baru bicara..." ucapnya tersenyum menggoda.
"Ehmmm..." Gabriel mengenyitkan keningnya kesal.
"Maaf, dok..." ucap sang wanita menunduk.
"Masuk ke dalam anjungan kapal!!" benaknya, menatap sepasang muda mudi malah saling menggoda di tengah situasi yang kacau balau.
Kedua orang itu segera berlari cepat, masuk ke dalam anjungan kapal. Dalam anjungan kapal, terlihat beberapa tentara lagi. Lugas? Begitulah kedua orang yang disusupkan Gabriel dalam kapal pesiar. Sebenarnya bukan hanya dua, masih ada beberapa, namun mereka bergerak diam-diam sebagai tim pendukung.
Kapten kapal, salah maksudnya Tomy mengenyitkan keningnya menatap sepasang muda-mudi berkelahi melawan beberapa orang tentara bayaran yang berada di anjungan kapal.
Dua melawan delapan? Tidak seimbang memang. Namun, pasangan itu tersenyum saling memunggungi, kaki jenjang sang wanita menendang dada seorang tentara, hingga roboh, membenturkan kepala sang tentara di lantai berkali-kali. Sepatu hak tinggi menginjak tubuh besar sang tentara. Tangan wanita itu mencengkram bahu seorang tentara lainnya yang maju hendak memukulnya, membenturkan dada sang tentara pada lututnya berkali-kali, terakhir mematahkan lehernya.
Pria di belakangnya, hanya tersenyum, memegang senjata laras pendek yang baru direbutnya, setelah mengalahkan salah seorang tentara. Lima orang tentara lainnya terlihat roboh satu persatu terkena luka tembakan sang penembak jitu itu, "Skor kita 6:2, jadi terimalah cintaku..." ucapnya kembali menggoda, melirik dua jasad pria yang baru dikalahkan sang wanita.
"Sudah aku bilang, jadilah dokter dulu, baru suster ini akan menerimamu..." sang wanita berbisik mengeluarkan nada sensual.
"Keren..." Tomy yang berpakaian kapten kapal mengacungkan dua jempolnya.
"Apa yang terjadi...?" Tomy mengenyitkan keningnya menatap kepanikan di wajah Gabriel, mata pria yang berprofesi sebagai dokter itu memerah seperti menahan tangisnya.
"Dia memutuskan untuk mati, agar villa di Okinawa, tidak diserang..." ucapnya masih berusaha fokus mengirimkan pesan. Menahan air mata yang membuat penglihatannya sedikit buram.
"Okinawa..." Tomy sedikit ragu menyampaikan."Apa jika aku mengkhianati Taka dan Farel akan mendapatkan hukuman?" tanyanya masih ragu.
"Mengkhianati?" Gabriel mengenyitkan keningnya, setelah mengirim pesan pada kepolisian federal.
"Emmm... begini, bagaimana menjelaskannya ya? Jeny tidak berada di Okinawa..." jawabnya, bingung.
"Tidak berada di Okinawa...?" Gabriel membuka kacamatanya, menghapus air matanya yang hampir mengalir.
"Aku membantunya melarikan diri, yang ada di Okinawa hanya penjaga. Dia ada tempat penyimpanan barang di dalam kapal ini... maaf..." Tomy tertunduk, merasa tidak melakukan sesuatu sesuai perintah.
Gabriel mulai tersenyum, menemukan secercah harapan untuk putranya."Katakan pada Farel Jeny disini,"Gabriel berpikir sejenak,"Tidak, dia tidak akan mempercayaimu, jika tidak melihatnya sediri. Bawa Jeny ke hadapan Farel, sekarang..." ucapnya mendorong tubuh pria berpakaian kapten kapal itu.
Tomy segera berlari, dengan cepat menuju tempatnya mengikat Jeny, tepatnya tempat penyimpanan barang. Yang berada jauh di lambung kapal.
***
"Emmmnnngghhh..." wanita yang diberi obat bius dosis rendah itu mulai sadar. Dosis rendah? Tentu saja, Jeny tengah mengandung saat ini, dokter Tomy tidak akan mengambil resiko.
Ruang tempat penyimpanan barang yang cukup luas, puluhan, mungkin ratusan kotak kardus dan kotak kayu bertumpuk disana. Wanita itu menggeliat layaknya ulat, mencari benda tajam untuk memotong talinya.
__ADS_1
Sejenak perhatiannya teralih, jalur noda darah terlihat. Jumlah yang banyak? Benar, bukan jumlah darah yang sedikit. Langkah kaki terdengar, membawa benda bagaikan menyeret mengikuti jalur darah sebelumnya.
Jeny membulatkan matanya, wajahnya pucat, tangannya gemetaran. Pria dengan rambut panjang terikat rapi tersenyum, jemari tangannya berlumuran darah, bahkan wajahnya terkena sedikit noda.
Beberapa box kayu masih terbuka, satu persatu jenazah dimasukannya dalam beberapa box berukuran besar. Bertumpuk? Entah sudah berapa orang yang berada dalam beberapa kotak kayu besar yang disiapkannya sebelumnya.
Lambung kapal bagian dalam, tempatnya membereskan masalah, menghabisi orang-orang Lery yang berada di sana. Tidak diijinkan terlibat di ballroom. Alasan? Tentu saja karena dirinya terlibat terlalu jauh. Gabriel ingin Hans menjalani kehidupannya dengan baik setelah ini semua selesai. Tidak mengetahui tentang kepolisian federal yang akan terlibat? Hans tidak akan dapat menerima pembunuh kekasih kecilnya masih dapat bernapas, walau bernapas di penjara sekalipun.
Wanita yang ketakutan, menatap jenazah tidak utuh berlumuran darah yang diseret satu persatu. Bersembunyi di antara rak besar yang berada disana, hanya itu yang dapat dilakukannya.
Pria itu terdiam, setelah menutup salah satu box yang dipenuhi jenazah, tersenyum menyadari sesuatu.
Dengan sekuat tenaga, Jeny berusaha memotong talinya menggunakan sisi rak besi tajam. Berharap dapat segera pergi dari ruangan itu.
"Aku tidak menyangka disini ada tikus yang cukup berharga..." ucap Hans tersenyum, tiba-tiba berdiri di hadapan Jeny, mengangkat dagu wanita itu yang masih terikat, dengan pisau berlumuran darah.
Ada pembunuh dunia nyata... tolong aku Ren... gumamnya dalam hati tengah ketakutan dengan wajah pucat, jemarinya gemetaran mengingat adegan menyeret mayat yang dilakukan Hans layaknya menyeret kantung sampah.
***
Hup...
Mulut pemuda itu mengeluarkan darah segar, pelipisnya terluka setelah menerima beberapa kali tendangan dan injakan.
Bagian dada dan perutnya yang berbalut setelan jas, beberapa kali menjadi sasaran empuk memiliki lebih banyak luka lagi.
Jemari Taka masih gemetar, menyaksikan cucu satu-satunya mungkin sudah memiliki banyak luka dalam,"Lery, hentikan, seluruh harta, bukan seluruh kekuasaanku akan..." ucapnya lirih.
"Aku tidak tertarik, lebih menyenangkan melihat pengkhianat mati. Lagipula, tanyakan pada cucumu dia ingin berhenti atau melanjutkannya..." Lery masih tersenyum duduk di atas sebuah kotak kayu.
"Tolong buat ini cepat berakhir..." Farel berusaha untuk duduk di lantai, masih berusaha tersenyum. Sejenak dua orang yang memukulinya terhenti.
Taka mengepalkan tangannya,"Farel!! Masih banyak wanita lain!! Kamu akan melupakannya dengan segera!! Jangan menjadi bodoh!! Jangan mengorbankan hidupmu!! Apa kamu ingin meninggalkan kakek..." bentaknya.
Farel mengangguk, "Nyawaku adalah nyawa pinjaman, jika ayah Jeny tidak menolongku. Mungkin sejak usia lima tahun aku sudah tidak ada..." ucapnya, masih setia tersenyum.
Taka tertegun, 'Nyawa pinjaman'? Kasus pembunuhan guru privat yang dilakukan Hans. Apa itu alasan putrinya kecilnya mengakhiri hidupnya? Kenapa harus membayar hutang nyawa? Ini sama saja dengan 30 tahun yang lalu.
"Kenapa harus membayar hutang nyawa, ayahnya menyelamatkanmu suka rela...?" tanya Taka lirih, putus asa meyakinkan cucunya.
"Bukan hanya karena itu, aku mencintainya dengan tulus..." Farel berucap, namun bayangan Hyeri-lah yang terlihat menyatu dengan pemuda yang masih duduk di lantai. Sifat dan perilaku yang mirip.
"Aku bosan..." Lery mengenyitkan keningnya, menendang senjata api yang sebelumnya pelatuknya telah ditarik oleh Farel, tepat ke hadapan pemuda itu.
"Tembak tepat di jantungmu, jangan dikepalamu. Kematian akan sedikit lebih lama dan lebih menyakitkan jika di jantung kan?" Lery mulai berdiri, menyaksikan pertunjukan terakhir sebelum meninggalkan kapal pesiar.
Tangan Farel meraih senjata di hadapannya, mengarahkan tepat di dada kirinya. Jemari tangannya mulai meraih pemicu, tanda bersiap akan mengakhiri segalanya.
Bersambung
__ADS_1