Asisten Nona Muda

Asisten Nona Muda
Bayaran


__ADS_3

"Siapa yang menyuruhmu!!" Okta memberanikan dirinya membentak, mengingat mereka memang sudah diikat cukup lama. Tidak tahan pada bau pesing yang berasal dari wanita disebelahnya.


"Tuanku akan segera datang..." Tomy menghebuskan napas kasar.


Orang gila yang membuatku menunggu selama dua jam, sedangkan dirinya sedang menikmati makan malam romantis dengan istrinya... Saat sakit saja minta asinan, sudah sehat menempel pada dewinya, bahkan setiap malam pastinya meminta... sudahlah aku masih bujangan, hatiku akan sakit jika memikirkan kelakuan pengantin baru... ungkapan perasaan Tomy dalam hatinya.


Tidak lama terdengar suara mobil berhenti di villa pinggir kota. Seorang pengawal berlari kedepan, membukakan pintu untuk orang yang datang.


Farel kali ini berpenampilan rapi, sosoknya yang tidak sengaja mengenakan celemek di kantor polisi tidak terlihat lagi. Rambut tertata rapi, memakai setelan jas hitam, dengan senyuman dingin menyungging di wajahnya.


"Tuan..." Tomy berucap, sedikit membungkuk menyambut Farel.


Wanita yang masih tertegun itu, terdiam mencerna hal yang terjadi, hingga....


Plak...


Satu tamparan yang cukup kencang mendarat di pipinya,"Balasan atas yang tadi siang..." ucapnya tersenyum mengerikian.


"Ka...kamu, Aku...." sang pemilik butik gelagapan.


"Suami keponakanmu adalah kepala polisi!? Sudah gemuk, ditambah dengan bodoh..." Farel mencengkram pipi wanita itu dengan satu tangannya.


"Tuan sesuai perintah anda, semua kelemahannya sudah ada di tangan saya. Besok atau lusa kepala polisi wilayah ini akan diganti, karena beberapa pelanggaran..." Tomy tersenyum menyeringai.


Wanita itu tertunduk gemetaran, tidak mengetahui sosok asli pria remeh yang memakai celemek ke kantor polisi.


"Nyonya..." ucap pegawainya mengeluarkan air mata, ketakutan akan nasib mereka kedepannya.


"Bodoh!! Ini semua karenamu!! Memberikan aku usul untuk memanfaatkan situasi!!" Okta membentak kesal.


"Ini idenya!? Tomy urus dia...!! Lukis wajahnya dengan pisau bedah, lalu lepaskan..." ucap Farel dengan tenang.


"Baik tuan!!" Tomy berjalan ke ruangan lain diikuti dua pengawal yang menyeret paksa karyawati butik.


"Aaaa...tuan tolong maafkan saya. Tolong, saya dibayar, saya akan memberitahu orang yang membayar saya tapi lepaskan saya!!" ucapnya meronta-ronta, menangis ketakutan.


Langkah Tomy terhenti, seakan meminta persetujuan,"Tuan!?"


"Bawa dia..." Farel menghebuskan napas kasar, menatap jenuh, pada hal yang tidak hanya sekali terjadi.

__ADS_1


Wanita itu terus menjerit dan meronta ketakutan, diseret ke dalam ruangan. Hingga akhirnya suara jeritan yang lebih memilukan terdengar. Pegawai butik, keluar dengan diikat, matanya ditutup dengan kain. Agar tidak mengetahui jalan menuju villa. Luka goresan memanjang terlihat di pipinya, masih mengeluarkan darah segar, isak tangisannya terdengar lirih.


"Bebaskan dia, jauh-jauh dari sini..." perintah Farel, bersamaan dengan wanita itu diseret kembali dalam mobil.


Pemuda itu, kembali menghebuskan napas kasar menatap ke arah Okta yang masih dalam kondisi terikat.


Iblis yang kejam, bahkan tidak mendengarkan penjelasan apapun. Pada pegawaiku saja dia bisa melukai wajahnya. Apalagi aku yang mempersulitnya di kantor polisi, mungkin aku akan menjadi korban mutilasi... Tidak, tidak boleh aku masih punya satu perlawanan agar tidak di mutilasi. Aku akan membuatnya gentar, hingga tidak jadi membunuhku... batin Okta menemukan satu-satunya cara perlindungan baginya.


Dengan sekuat tenaga, wanita itu mencoba berdiri,"Hiat...!!" dengan ajaib ikatannya yang memang longgar terlepas. Bergerak secepatnya, mendekati Farel yang duduk dengan tenang.


"Tuan awas!!" Tomy yang saat itu berada di pintu depan dengan dua pengawal lainnya memperingatkan.


Namun bukannya adegan perkelahian bagaikan film action yang terlihat, wanita gemuk yang berusia tidak lagi muda itu berlutut dengan tatapan mengiba,"Tuan, aku mohon maafkan aku..." ucapnya memelas.


Tomy terdiam membatu, Adegan penyerangan macam apa ini... batinnya. Kemudian menghebuskan napas kasar, berjalan kembali mendekati tuannya, tepatnya berdiri di belakang Farel.


"Kenapa tadi siang tidak sepintar ini!?" tanya Farel kesal.


"Maaf, tuan tolong lepaskan saya..." ucapnya memelas dengan pesona wanita tua gemuk yang chabi.


"Baik, pertama bekerja samalah dengan EO istriku, berikan mereka potongan harga diatas 50% jika melakukan pemesanan pakaian untuk EOnya," Farel mengenyitkan keningnya.


"Kedua, besok istriku akan ke butikmu untuk mengambil mobilnya yang masih terparkir di sana. Hubungi semua pelangganmu yang kemarin menyaksikan istriku di bawa ke kantor polisi, agar mereka datang berikan diskon atau sebagainya. Kemudian berlutut, tampar dirimu sendiri dan meminta maaf pada istriku tersayang di depan umum, jika perlu puji dia setinggi langit di depan umum," ucap Farel tersenyum cerah.


"Akan saya laksanakan," Okta mengangguk, menyanggupi.


"Satu lagi, ini yang paling penting..." Farel berucap dengan nada serius. Seketika semua orang memasang telinga mereka baik-baik.


Tuan yang serakah akan meminta butiknya... anggapan Tomy menyunggingkan senyuman mengerikan.


Apa pria celemek ini akan meminta butikku. Ya Tuhan, semoga saja tidak, anakku masih kuliah, bagaimana aku membiayainya nanti... tangan Okta gemetaran, menunggu kata-kata yang keluar dari mulut Farel.


"Buatkan baju couple keluarga yang bagus, untuk bayi berukuran XS anak, Jeny mungkin zize M wanita, dan aku L pria," ucapnya tersenyum tulus tanpa dosa.


Okta menghembuskan napas lega, sekujur tubuhnya terasa lemas, saking leganya.


"Tidak waras..." Tomy mencibir dengan suara kecil.


"Kamu bilang apa!?" tanya Farel memastikan pendengarannya.

__ADS_1


"Wanita itu tidak waras!!" ucapnya cepat gelagapan.


"Sudah, antar dia pulang. Aku juga harus pulang menagih imbalan," Farel mulai berdiri, berjalan menuju mobil.


"Antar aku pulang sampai di depan rumah!! Agar Jeny tidak curiga!! Wanita itu, biar pengawal saja yang urus," lanjutnya melempar kunci mobil ke arah Tomy, berjalan keluar dengan langkah kaki cepat.


"Gila!! Tidak waras!! Tuan kapan anda akan lebih dewasa!!" cibirnya dengan suara kecil, menendang nendang udara kesal.


***


Sebuah mobil hitam melaju meninggalkan area villa. Tomy mengenyitkan keningnya mulai memberanikan dirinya bertanya,"Tuan, ini mobil siapa!?"


"Pengawal ibu..." jawabnya, mulai menyalakan laptopnya.


"Tuan, kenapa tidak beli saja butiknya. Buat dia bangkrut hancurkan keluarganya!?" tanya Tomy memanas-manasi, tanpa mengalihkan perhatiannya dari jalanan.


"Aku bukan tipikal bos sombong yang suka menghamburkan uang untuk hal kecil. Membeli butik tanpa pengelolaan yang jelas, itu adalah keputusan bisnis yang salah. Tapi jika bekerja sama dengan Jeny, usaha EOnya akan lebih diuntungkan. Satu lagi, menghancurkan keluarga orang lain, tidak akan mengembalikan nama baik Jeny. Tapi dengan berlutut dan minta maaf pada nona, itu sudah cukup untuk dapat membuat nonaku melangkah dengan lebih percaya diri," Farel menghembuskan napas kasar, mulai membaca puluhan e-mail berbahasa asing yang masuk hari ini.


"Owh, ternyata karena jiwa pelit anda..." Tomy menghebuskan napas kasar.


"Kamu bilang aku pelit!?" tanya Farel membentak.


"Magsud saya irit, irit untuk masa depan itu penting..." ucap Tomy tertawa kecil.


"Aku harus lebih memikirkan masa depan sebelum bertindak. Bagaimanapun, ini semua bukan milikku sendiri sekarang. Milik keluarga kecilku..." ucapnya tersenyum simpul, mengingat bayi kecil serta istrinya yang semakin manis saja dimatanya.


Pelit tetap saja pelit...Ada keistimewaan anda dengan budak cinta tidak waras lainnya. Anda waras jika soal uang... Tomy menghebuskan napas kasar.


Mobil mulai terparkir di depan rumah Jeny yang tidak begitu besar. Farel segera memasukkan laptopnya ke dalam tas, berjalan menuju teras rumah. Baru akan mengetuk pintu jemari tangan seorang wanita menariknya ke dalam rumah yang terlihat hanya lampu terasnya yang menyala, sedangkan lampu ruang tamu tidak.


"Benar-benar pengantin baru yang tidak sabaran. Aku harus segera menikah..." Tomy menghembuskan napas kasar, mulai melajukan mobilnya.


Sedangkan di dalam rumah, Jeny mengenyitkan keningnya mengetahui dari jendela, terlihat di lampu teras yang terang penampilan Farel yang tidak biasa. Menarik, pemuda itu masuk ke dalam rumah di ruang tamu yang gelap.


"Ren, kamu ingin menggoda wanita lain dengan berpenampilan seperti ini!? Jangan harap!! Aku tidak akan melepaskanmu!!," ucap Jeny perpaduan antara kesal dan protektif, mencium bibir Farel dengan agresif.


Tas laptop dijatuhkan pemuda itu, memeluk pinggang istrinya yang berjinjit menciumnya di tengah kegelapan.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2