Asisten Nona Muda

Asisten Nona Muda
Pangeran Yang Dilupakan


__ADS_3

Matahari telah tepat berada di atas kepala, beberapa pepohonan rindang terlihat. Guguran bunga kamboja jatuh ke atas tanah berumput. Jeny menggendong Rafa, diikuti Farel mendekati makam bertuliskan nama orang yang mereka kasihi.


"Ada bunga lagi..." Jeny menghebuskan napas kasar, menatap bunga krisan putih segar, yang selalu ada di makam ayahnya setiap peringatan kematian ayahnya.


Wanita itu, meletakkan buket bunga yang dibawanya, di samping buket bunga krisan putih.


"Ayah, aku akhirnya menikah dengan Ren," ucapnya mengusap batu nisan milik seorang pemuda yang telah lama pergi.


"Ayah, maaf baru mengunjungimu, ini putra kami Rafa..." Farel tersenyum, tidak terlihat kesedihan di raut wajahnya. Seakan sudah dari lama merelakan kepergian ayah angkat yang hanya dikenalnya selama tiga tahun.


"Aku sudah makan dan tinggal di rumah ayah, jadi sebagai bayarannya. Aku akan menjaga nona dengan baik," lanjutnya.


"Ayah...kami hidup dengan bahagia, tidak akan ada yang dapat memisahkan kami." Jeny menyunggingkan senyuman di bibirnya.


Perlahan pasangan suami istri itu mulai bangkit,"Kami pamit, ayah tolong restui ke dua anakmu ini..." ucap Jeny penuh senyuman, dengan mata berkaca-kaca menahan tangisannya.


Pasangan suami istri itu, melangkah meninggalkan makam ayah mereka, menapaki jalan yang sebelumnya dilaluinya,"Ren, sebelum bertemu dengan ayahku kehidupanmu bagaimana?" tanya Jeny penuh rasa ingin tahu.


"Anak yatim-piatu biasa, tidak ada yang istimewa..." jawabnya termenung, tidak ingin membahas keluarganya.


"Kalau saudara, apa kamu punya?" Jeny mengenyitkan keningnya.


"Tidak, aku anak tunggal, dari ibu yang tidak bisa bicara. Aku hanya ingat samar-samar..." jawabnya.


"Omong ngomong, aku bisa meminta bantuanmu? Salah satu polisi yang selamat dari kejadian 18 tahun yang lalu mengatakan ciri-ciri gembong narkotika yang membunuh ayah memiliki tato bar kode, sebagian besar seperti berkewarganegaraan asing. Bisa kamu meminta kakek menyelidikinya?" tanyanya.


Farel menghentikan langkahnya, wajahnya nampak pucat, jemari tangannya gemetar,"Sudah 18 tahun berlalu, mungkin pembunuh ayah sudah mati," ucapnya.


"Ren?" Jeny merasa aneh dengan perubahan sifat Farel.


"Berjanjilah, tidak akan pernah membahas penyebab kematian ayah lagi..." ucapnya, berlalu pergi sambil meraih Rafa dari Jeny, menggendong putranya yang tengah tertidur, tanpa menunggu jawaban dari istrinya.


"Dia kenapa?" gumamnya melangkah menyusul.


***


Mobil kembali melaju, mulai memasuki wilayah perkotaan. Jeny tidak henti-hentinya menatap wajah pemuda yang bersetatus suaminya itu."Kenapa menatapku seperti itu, aku memang tampan dari lahir..." ucap Farel penuh senyuman.


"Kamu sedikit mirip paman Tirta, aku baru sadar. Jangan-jangan kamu anak diluar nikah atau tertukar dengan Daniel di rumah sakit..." Jeny mengenyitkan keningnya.


"Jangan bergurau, aku masih sedikit ingat tentang ibuku, dan tentang ayah..." kata-kata Farel terhenti senyuman di wajahnya lenyap. Kemudian pemuda itu menghembuskan napas kasar.

__ADS_1


"Ayahku adalah ayah Doni dan Dilen," lanjutnya, mulai kembali tersenyum. Seperti enggan melanjutkan kata-katanya.


Hidup menyedihkan sebagai anak jalanan yang tidak memiliki orang tua? Yatim-piatu? Entah mana kata-katanya yang merupakan kebenaran atau kebohongan. Pemuda itu, melepaskan satu tangannya dari stir, mengacak-acak rambut Jeny gemas.


"Yang terpenting sekarang, membuat Tirta dan Daniel melakukan kesalahan. Jika mendapatkan dukungan dari kakek, kita dapat bersama. Aku akan mengembangkan bisnis di sini, jadi tidak perlu terlalu sering kembali ke Singapura," ucapnya.


Jeny hanya mengangguk, masih memangku Rafa yang tertidur dalam perjalanan pulang mereka.


***


Di tempat lain, tepatnya kantor cabang JH Corporation...


Seorang anak mengenyitkan keningnya, menatap resepsionis,"Kakak iparku, akan memakanmu hidup-hidup..." ucapnya.


"Maaf, pemilik perusahaan kami dipastikan bukan kakak iparmu. Pemilik perusahaan kami sudah berusia tua, walaupun memiliki adik ipar," kata-kata sang resepsionis terhenti tertawa kecil, memandang sinis menatap penampilan anak kecil di hadapannya.


"Tidak mungkin datang menaiki ojek dan sekolah di sekolah biasa," lanjutnya, menatap seragam sekolah Dimas, yang tidak terlihat seperti sekolah elit.


"Aku bilang, kakak iparku adalah Farel. Aku mengutak-atik laptopnya. Dia adalah pemilik perusahaan ini!! Aku ingin bertemu dengannya, karena ditinggalkan dengan seorang pengasuh, uang jajanku yang cuma 10 ribu per hari. Hari ini sudah habis jatahnya!!" bentaknya, sebagai anak yang ditinggalkan di rumah sendirian. Hanya ada bibi Resti beberapa hari ini yang memasak dan menjaganya.


"Farel siapa? Pemilik perusahaan ini? Dasar bocah penipu..." sang resepsionis tertawa kencang, memegangi perutnya. Karena memang tidak mengetahui sama sekali tentang Farel.


"Ayahku adalah Jony pemilik SF group, ibuku adalah Dea pemilik Giant Corporation. Sedangkan, mantan kakak iparku adalah Daniel, anak tunggal pemilik Ananta group!!" ucapnya tegas, mengancam, berharap dapat menemui Farel.


"Aku serius!! Aku adalah pangeran yang disiksa kakak ipar pelit!!" ucapnya membentak.


"Nak, berimajinasi juga ada batasannya, ini bibi memberikanmu uang 2000. Pakai untuk beli permen dan jangan menipu lagi..." sang resepsionis merogoh sakunya, memberikan selembar uang 2000 rupiah pada Dimas.


Anak itu menatap uang di tangannya, bergantian menatap wajah resepsionis yang menertawakannya. Serta kembali menatap uang yang hanya 2000 rupiah.


"Sewa ojek 20.000, ditambah uang jajan sampai minggu depan 70.000, tranportasi ke sekolah, rumah dan tempat les 140.000, per minggunya. Total 230.000, maka aku akan pergi..." ucapnya memasukkan uang 2000 rupiah ke sakunya. Kemudian kembali menadahkan tangan.


Anak materialistis yang menyebalkan... sang resepsionis berusaha untuk tetap tersenyum, menatap anak berusia 12 tahun itu.


"Security..." panggil sang resepsionis.


"Kamu berani memanggil security? Kakak iparku akan memecatmu!! Ayahku akan menuntutmu!! Ibuku akan memastikan kamu tidak diterima di masyarakat!! Mantan kakak iparku, akan menutup semua jalur pekerjaan untukmu!!" ucapnya mengeluarkan mantra kutukan keluarga konglomerat.


Dimas ditarik paksa, bahkan lengan bajunya sempat sobek. Hingga akhirnya, pintu lift terbuka, terlihat Tomy yang turun hendak ke parkiran.


Dengan cepat berjalan menghampiri sang anak... Gawat pangeran terbuang dianiaya... ucapnya dalam hati menahan tawanya.

__ADS_1


"Dimas? Kamu tidak apa-apa?" tanyanya, dengan raut wajah khawatir.


"Akhirnya ada juga orang bermartabat yang mengenaliku," Dimas menatap Tomy penuh rasa haru.


Seketika wajah sang resepsionis pucat, menatap Tomy yang mengenali sang anak.


"Ada apa kamu kesini?" Tomy kembali bertanya pada Dimas.


"Jatah mingguan yang diberikan kakak ipar sudah habis, aku malas mengeluarkan uang tabunganku. Jadi, aku membuka salah satu laptopnya yang tertinggal di rumah. Tidak disangka, orang sepelit dirinya, lebih kaya dari pada ibuku. Karena itu aku bertekad akan meniru tingkat kepelitannya..." ucapnya menadahkan tangan.


"Kenapa menadahkan tangan?" tanya Tomy tidak mengerti.


"Jatah mingguan 2.300.000," jawabnya.


"Bukannya tadi 230.000?" sang resepsionis, tidak sengaja menyela.


"Sebenarnya 230.000, tapi karena penghinaan, pakai yang sobek, pencemaran nama baik. Itu membuatku harus mengobati mental anak-anak dalam diriku yang tertekan. Jadi, 2.300.000," ucapnya menadahkan tangannya.


Anak ini benar-benar lintah serakah. Memang uangnya tidak banyak, tapi kenapa tuan bisa tahan dengan bocah materialistis ini... gumam Tomy dalam hatinya, berusaha tetap tersenyum. Melupakan tingkah Farel yang sama pelitnya, sering memakan dan meminum minuman sisa orang lain.


"1.500.000 ya?" Tomy menawar.


"2.300.000, jika tidak aku akan mengadu pada kakakku. Agar segera menceraikan kakak ipar. Kak Farel adalah suami tidak dicintai, sedangkan aku adik ipar yang berkuasa," dustanya, tersenyum masih menadahkan tangannya.


"Ini!! Omong ngomong sisa uangnya untuk apa?" Tomy merogoh sakunya, mengeluarkan hampir semua uang cash di dompetnya.


"Tabung..." ucapnya, mulai memasukkan uang ke dalam ranselnya."Terimakasih, aku akan meminta kakak ipar menaikan gajimu," kata-kata Dimas terhenti sejenak, matanya menelisik mencari name tag milik Tomy.


"Namaku Tomy, cukup katakan padanya untuk membalas semua e-mailku," ucap Tomy menatap jenuh.


"Baik kak Tomy, aku pulang dulu..." ucap sang anak berlalu beberapa langkah, kemudian langkahnya terhenti. Berbalik sejenak,"Keponakan Jokowi, anak dari perdana menteri Rusia dan ratu Elizabeth, aku akan selalu mengingat anda," ucapnya menyelidik kesal pada sang resepsionis, kemudian berlalu pergi.


Sang resepsionis mengeluarkan keringat dingin, melirik ke arah Tomy, selaku pimpinannya."Tu...tuan, anak tadi siapa?" tanyanya.


"Ini rahasia, tutup mulutmu!! Jangan katakan pada siapapun," Tomy mulai bangkit.


"Kakak iparnya adalah atasanku. Mantan kakak iparnya adalah Daniel, anak tunggal pemilik Ananta group, ayahnya pemilik SF group, dan ibunya pemilik Giant Corporation," bisiknya.


Mati aku, anak itu akan melenyapkanku tanpa sisa. Bagaimana ini.... gumamnya dalam hati.


"Karena dari 230.000 aku harus mengeluarkan uang 2.300.000. Sisanya 2.070.000 aku ambil dari gajimu," ucap Tomy, yang memang sama pelitnya, menepuk bahu sang resepsionis, yang masih terdiam menatap kepergian Dimas. Anggota keluarga konglomerat yang berkeliaran, bahkan tanpa penjagaan, hanya dengan menaiki ojek.

__ADS_1


"Aku harus menyewa pengacara. Tidak, kabur ke luar negeri saja menjadi TKI, tapi aku tidak memiliki paspor..." gumamnya ketakutan.


Bersambung


__ADS_2