
Tidak dapat melihat? Siapa yang ingin dunianya berselimut kegelapan. Berusaha terlihat setegar mungkin di hadapan Farel, itulah yang dilakukannya.
Tak...tak ...tak...
Suara tongkat penuntun yang diayunkan seorang wanita, jemari tangannya terulur mencoba meraba ke arah sekitar. Berusaha belajar mandiri, tidak ingin menyusahkan orang lain, atau menghabiskan sisa hidupnya dengan mengemis meminta belas kasih, walaupun dari suaminya sendiri.
Prang...
Sebuah vas bunga terjatuh di lantai, bersamaan dengan dirinya, kakinya tidak sengaja membentur kaki meja. Tangannya meraba-raba ke arah sekitarnya mencari keberadaan tongkat penuntunnya yang terjatuh.
Tangan Jeny meraba-raba ke arah sekitarnya, air matanya mulai mengalir, dalam keputusasaannya"Tongkat sialan!!,"umpatnya.
Tangannya yang sebelumnya telah sembuh akibat pecahan kaca, kembali terluka karena bertumpu pada lantai yang dipenuhi pecahan vas bunga.
Bau pesing mulai tercium. Benar, saat itu Jeny hendak pergi ke toilet. Menangisi ketidak berdayaannya. Indra dan seorang suster lainnya mulai masuk, setelah mendengar kegaduhan dari dalam.
"Nona!!" ucapnya, hendak menolong.
"Berhenti!! A...aku bisa sendiri!! Keluar!!" bentaknya penuh rasa malu dan tidak berdaya dalam tangisannya. Tangannya meraba pecahan vas bunga, mengarahkan pada pergelangan tangannya. Tidak ingin ditolong, terlalu melukai harga dirinya.
"Pergi!!" bentaknya. Dengan darah yang mengalir, tiada hentinya dari jemari tangannya yang terkena beberapa pecahan vas bunga.
"Nona, sebaiknya anda..." seorang suster asli yang ditugaskan di ruangan itu berusaha mendekat.
"Berhenti!! Aku benar-benar akan mati jika kalian mendekat..." ucapnya penuh ancaman, pergelangan tangannya mulai sedikit tergores. Masih duduk di lantai, terlihat menyedihkan celana panjang pasiennya dipenuhi air seni, melumber kemana-mana tanpa dapat dirinya bangkit, akibat kebutaannya, serta lantai yang licin karena urinenya.
"Tapi, kami hanya ingin menolong..." ucap Indra.
"Pergi!! Kalian mengerti bahasa manusia atau tidak!!" bentaknya air mata membasahi pipinya. Egonya tidak mengijinkan untuk mendapatkan pertolongan dari orang lain.
Memalukan...ini terlalu memalukan baginya, bagaikan kematian memang lebih baik.
Farel yang baru tiba dari cafetaria rumah sakit, berjalan mendekati Jeny. Merebut paksa pecahan vas bunga, hingga jemari tangan pemuda itu ikut terluka.
"Siapa!? Kamu siapa!? Pergi!! Keluar!!" Jeny kembali membentak, memukul mukul orang di hadapannya.
Farel menggelengkan kepalanya, ke arah sang suster dan Indra agar meninggalkan mereka berdua.
Tubuh Jeny diangkatnya secara paksa, tidak mempedulikan kaos yang digunakannya ikut dipenuhi bau pesing.
"Turunkan, aku!! Jika tidak aku akan meminta suamiku memecat kalian!!" bentaknya, meronta-ronta dari gendongan Farel.
Farel menendang pintu kamar mandi yang setengah terbuka, meletakkan tubuh istrinya dalam bathtub, kemudian menyalakan kran.
"Aku bisa sendiri!! Kalian tidak dengar!? Aku akan meminta Farel memecat kalian!!" Jeny menangis dalam keputusasaannya.
"Lebih baik aku mati!! Agar ada dokter yang bersedia mengoperasi kornea mataku untukmu!!" Farel membentak, untuk pertama kalinya dia membentak istrinya. Matanya memerah, menahan air mata yang hendak keluar. Wajah ceria nonanya, wajah penuh semangat, tidak terlihat saat itu.
"Jika bisa, aku ingin memberikan kornea mataku untukmu!!" suara Farel terdengar bergetar. Jeny mulai terdiam, satu persatu kancing baju pasiennya dibuka oleh Farel.
"Aku manusia tidak berguna..." ucapnya tertunduk, masih terisak."Ini memalukan!!" bentaknya dalam tangisan.
"Nona ingin dapat melihat?" Farel berusaha tersenyum,"Bagaimana jika menggunakan kornea mataku saja? Itu lebih baik..." ucapnya tertunduk putus asa, duduk bersandar pada sisi luar bathtub, tidak ingin melihat istrinya terpuruk seperti ini.
"Ren!!" Jeny membentak kesal, penuh penolakan.
Kata-kata untuk menghibur saja? Tidak, Farel serius dengan kata-katanya. Dulu ketika remaja itulah alasan mengapa pemuda itu tidak terlalu kukuh mempertahankan hubungannya dengan Jeny. Hanya satu alasannya, ingin melihat Jeny bahagia walaupun bukan dengannya.
Farel tertawa pahit,"Lebih baik aku mati saja, agar ada dokter yang bersedia memindahkan kornea mataku," kata-katanya terulang.
"Aku ingin nona selalu bahagia, tidakkah nona mengerti!!" ucapnya, duduk menunduk di lantai dengan bathtub sebagai sandarannya.
"Aku mencintaimu...Aku mencintaimu!! Karena itu aku hanya dapat menyusahkanmu!!" Jeny berteriak, mengeluarkan seluruh isi hati yang ditahannya.
"Nyawamu adalah nyawaku, aku tidak akan pernah dapat tersenyum bahagia jika kamu tidak ada. Pengelihatan bukan apa-apa bagiku, tapi hidup menjadi benalu..." kata-kata Jeny terpotong, Farel memeluknya erat.
"Nona bukan benalu, nona yang membimbing jalanku. Ratusan kali lipat kebahagian dalam hatiku, jika nona bahagia. Aku ingin mati jika nona putus asa akan hidup nona..." ucapnya memejamkan mata, memeluk Jeny lebih erat, tetesan air mata mengalir tidak dapat dikendalikan olehnya.
__ADS_1
Jeny membalas pelukannya,"Jangan pernah berpikir untuk terluka, sakit atau mati. Aku lebih baik buta selamanya daripada dapat melihat. Tapi, Ren-ku menghilang dari sisiku," ucapnya.
Farel melepaskan pelukannya, mengusap pelan pipi Jeny,"Jadilah kuat untukku, karena kamulah kekuatanku dan Rafa..."
Jeny menganggukkan kepalanya, mengiyakan...
"Jangan berpikir kamu adalah benalu, atau aku benar-benar akan mati agar nonaku dapat melihat," Farel menyentuh pelan pipinya.
"Jangan pernah berpikir nona tidak berguna, karena keberadaan nona dan almarhum tuan Doni adalah anugerah dari Tuhan untukku. Tangan penyelamat, yang dikirimkan-Nya..." lanjut Farel. Jeny kembali menggangukkan kepalanya.
Farel menghebuskan napas kasar, "Tukang ngompol..." ucapnya tertawa kecil, berusaha merubah suasana hati istrinya, membuka baju pasien, membantu Jeny melucuti pakaiannya.
"Hari ini tidak sengaja!! A... aku hanya pernah ngompol sekali saja saat usia 10 tahun!!" bentaknya gelagapan.
"Sekali?" Farel mengenyitkan keningnya. Membubuhkan sabun cair aroma terapi. Mulai menggosok punggung Jeny.
"Iya...iya... empat kali!!" ucapnya menahan amarah.
"Delapan..." Farel tersenyum simpul. Mulai menggosok tubuh Jeny.
"Delapan?" Jeny mengenyitkan keningnya.
"Aku tidak begitu ingat, tapi sekitar delapan kali ada bau pesing ketika mengantarkan sarapan. Mungkin lebih..." ucapnya mengingat masa kecil hingga remaja yang dihabiskannya bersama Jeny.
"Kamu menghitungnya!?" Jeny membentak, tangannya meraba-raba, mencari keberadaan rambut Farel, seketika rambut pemuda itu dijambak.
"Nona!! Aku suami anda!! Anda melakukan KDRT!!" ucapnya dengan rambut masih ditarik.
"Ren menyebalkan! Dasar tukang kentut! Memalukan menghitung ompolanku," Jeny membentak.
Setidaknya, nona tidak putus asal lagi... Akulah penyebab kebutaan Nona, Maafkan aku yang tidak berguna ini.... ucapnya dalam hati tersenyum tulus, menatap kemarahan Jeny. Kekaguman Clarissa pada dirinyalah yang membuat nonanya terluka, Farel menyahlakan dirinya sendiri.
***
Pemuda itu mengunci pintu dari dalam, tanpa mengenakan kaos atasan, hanya sebuah celana panjang berwarna hitam. Kaosnya ditinggalkannya dalam keranjang pakaian kotor, bersama pakaian pasien milik Jeny. Mulai membatu Jeny mengeringkan rambutnya.
"Sudah, diamlah..." ucapnya, menyisir rambut panjang istrinya.
"Tinggal mengobati lukamu saja. Ingin bantuanku atau dokter?" tanyanya.
"A... aku..." Jeny terlihat berpikir, sungkan.
"Aku saja..." Farel menghela napas kasar, mengambil kotak P3K kecil miliknya dari dalam ransel.
Mengobati perlahan tanpa mempedulikan luka di tangannya saat merebut pecahan vas bunga dari tangan Jeny.
"Mereka yang menolongmu tidak menganggapmu sebagai benalu. Mereka hanya peduli dan mencintaimu. Terimalah kasih sayang mereka, jangan berpikiran buruk tentang mereka..." ucapnya tersenyum.
"Tapi..." Jeny menghembuskan napas kasar.
"Dengar, aku tidak selamanya ada di samping nona. Bukan hanya aku orang yang menyayangi nona. Jadi biarkan mereka menyayangimu, selama aku tidak ada. Jika aku sudah kembali, aku akan menjaga nona, dan menjadi mata nona..." ucapnya, menggenggam tangan Jeny yang telah berbalut perban. Tersenyum menatap wajah satu-satunya orang yang dicintainya.
"Kapan aku berangkat ke sanatorium?" tanya Jeny.
"Besok, aku akan sering kesana, setelah urusanku selesai. Aku akan kembali bersama nona, melihat hamparan bunga kentang di belakang sanatorium," jawab Farel, tersenyum tulus.
"Apa bunganya indah?" tanyanya.
"Tentu saja...nona dapat melihatnya menggunakan mataku. Aku akan menjelaskan bentuk dan warnanya, aku berjanji..." jawab Farel.
"Aku hanya memilikimu... terimakasih, tetap menemaniku..." Jeny mulai dapat tersenyum penuh ketulusan. Farel bangkit, meraih ranselnya, mengambil pakaian ganti miliknya, kemudian dikenakannya.
"Nona, aku boleh bertanya, kenapa urinemu tidak berbau obat. Nona menyembunyikan obat dokter tanpa meminumnya ya? Karena takut pahit..." ucapnya tanpa rasa sungkan sedikitpun.
"Ren!! Kurang ajar!!" Jeny membentak, melempar bantal, dan beberapa benda yang dapat diraihnya. Mendengar kata-kata memalukan dari suaminya.
"Maaf yang mulia istri!! Hamba lancang!! Aku akan mengambil alat pembersih kemudian membersihkan cairan sisa ompolan..." kata-kata Farel terhenti Jeny terlihat lebih marah lagi.
__ADS_1
"Ren!! Br*ngsek!!" bentaknya, dengan cepat Farel melarikan diri keluar dari kamar. Menutup pintu dengan rasa berdebar, seolah adrenalinnya terpacu akibat mengundang amarah Jeny.
"Kenapa istri anda berteriak!?" Indra yang sedari tadi di luar kamar dengan suster mengenyitkan keningnya.
"Dia memintaku membuatkan anak kedua. Tapi karena masih siang, aku menolak..." ucapnya dengan wajah serius.
"Setelah kejadian tadi, nona Jeny meminta anak kedua?" tanya Indra tidak percaya begitu saja.
"Benar, aku juga heran pesona apa yang aku miliki. Lihat aku sampai harus mengganti pakaian, karena di gerayangi saat memandikannya..." ucapnya masih dengan wajah serius.
Benar-benar wanita agresif, di rumah sakit saja, begitu lepas dari infus langsung menyerang suaminya. Untung saja tidak dapat melihat, jika dapat, mungkin tuan Farel akan diperkosa istrinya... gumam pemuda itu dalam hati, percaya pada kata-kata Farel.
Indra menghela napas kasar,"Aku akan meminta cleaning service untuk membersihkan pecahan vas dan urine..."
"Tidak perlu, aku yang akan membersihkannya, Jeny akan merasa tidak nyaman," Farel, berlalu pergi, mencari alat pembersih.
Ini terlalu memalukan bagi nona. Nona dari kecil memang manja, sering bergantung padaku. Tapi untuk dilayani orang lain, harga dirinya tidak pernah jatuh sedalam hari ini...
***
Beberapa puluh menit berlalu, Farel masih fokus dengan laptop di hadapannya. Sedangkan, istrinya tengah duduk mendengarkan musik, telinganya tertutup earphone, tidak menyadari seringai kejam di wajah Farel.
Jemari tangannya, tiada hentinya mengetikan sesuatu. Memuluskan langkahnya untuk menjadi orang kepercayaan ayah dari wanita yang paling membenci istrinya.
Satu tombol terakhir di tekannya...
Sedangkan di tempat lain terjadi kepanikan, seorang pria berlari di sebuah koridor panjang. Pintu yang lumayan besar diketuknya dengan ragu...
"Masuk..." terdengar suara dari dalam sana.
Seorang pria menunduk memberi hormat pada Clarissa yang tengah berbincang dengan Lery.
"Tuan!! Keamanan kita dibobol, beberapa data dicuri!!" ucapnya menunduk memejamkan mata ketakutan.
Senyuman di wajah Lery menghilang,"Br*ngsek!! Apa saja yang kalian kerjakan!!" umpatnya, melempar gelas wine ke arah bawahannya, tepat mengenai kepala. Pria yang merupakan salah satu ahli di bidang IT itu, memegangi kepalanya yang sedikit mengeluarkan darah.
"Maaf tuan..." ucapnya tertunduk.
"Ayah, cucu dari tuan Taka, menurut profilnya bukannya ahli di bidang IT!? Kenapa tidak sekalian mencari kesempatan mendekatinya saja..." Clarissa tersenyum memberikan usul.
"Kita tidak boleh terlalu percaya pada orang asing. Dia terlalu mencintai istrinya, bagaimana jika dia..." Lery menghentikan kata-katanya.
"Tidak akan, istrinya tidak dapat melihat. Aku lebih cantik dan sempurna. Mana dapat disandingkan dengan wanita cacat kelas rendah. Ayolah ayah...." Clarissa memelas.
Lery berpikir sejenak, kemudian menghela napasnya,"Untuk anak ayah apa yang tidak..." ucapnya, membelai rambut Clarissa penuh senyuman. Namun, beberapa saat kemudian senyuman menghilang dari wajahnya, seakan waspada akan sosok Farel.
***
Di rumah sakit...
Farel tertawa kecil, setelah mendapatkan pesan dari Clarissa."Walau harus mati sekalipun, aku tidak akan pernah mengampuni kalian..." gumamnya penuh iba menatap wajah istrinya yang menikmati musik di earphone.
"Ren? Kamu bilang apa?" kata-kata Farel sedikit terdengar.
"Aku bilang, aku harap yang mulia istriku mengijinkanku melayaninya di tempat tidur malam ini..." ucapnya menggoda berjalan mendekati tempat tidur Jeny.
"Mesum!!" umpatnya.
"Jangan membasahi tempat tidur nanti malam, tukang ngompolku..." Farel tertawa kecil.
"Kamu sendiri sering kentut, baunya seperti bangkai tikus!!" Jeny kesal, kembali menjambak rambut suaminya.
"Nona, berhenti!! Ini sakit..."
Cinta adalah sebuah penderitaan yang membahagiakan. Dari remaja aku sudah disiksa oleh cinta, tapi ketagihan merasakannya. Kenapa aku hanya bisa mencintai nona muda tukang perintah? Ini masih sebuah misteri dalam hidupku....
Bersambung
__ADS_1