
Tangan seorang wanita terlihat cekatan, satu persatu tanaman kentang siap panen dicabutinya. Peluh yang bercucuran, bagai enggan disekanya. Topi bertengger di kepalanya sebagai pelindung dari sengatan matahari.
Wajah yang nampak teduh. Tangan seorang pemuda tiba-tiba terulur membantunya mencabut satu-persatu tanaman kentang siap panen.
Citra mengalihkan pandangannya, menatap wajah seorang pemuda yang menunduk tanpa ekspresi.
Lendra... gumamnya dalam hati.
Citra menepuk bahu sang pemuda, matanya berkaca-kaca,'Istirahatlah, biar ibu saja. Pakaianmu nanti...' ucapannya dengan bahasa isyarat terhenti, pemuda itu menitikkan air matanya.
"Syukurlah, ibu masih hidup..." Farel tertunduk, jemari tangannya, masih mencabut tanaman kentang satu-persatu.
Citra hanya terdiam, tangannya perlahan menggengam erat jemari tangan putranya, yang tengah berjongkok mencabuti tanaman kentang.
"Ibu, terkadang aku tidak berharap ibu tidak menikah dengan ayah. Terkadang aku setuju dengan kata-kata tetangga, kenapa ibu egois dan menunggu..." kata-kata Farel terhenti, Citra menitikkan air matanya memeluk putranya erat.
"Apa ibu sangat mencintai ayah?" tanyanya dengan nada suara bergetar.
Citra mengangguk, mengiyakan, memeluk putranya lebih erat lagi. Apa yang ada di hati Farel, tidak dapat diterka olehnya. Kerinduan? tentu saja itu yang ada di hati Citra, sesuatu yang membuatnya dan Gabriel tidak ingin memiliki keturunan lagi, selain putra mereka yang ternyata masih hidup hingga kini.
"Apa ayah orang baik? Apa dia pernah berselingkuh atau pernah memperlakukan ibu dengan buruk?" tanyanya masih menitikkan air matanya. Melepaskan kerinduan yang ditahannya selama lebih dari dua puluh tahun.
Citra melonggarkan pelukannya, menggerakkan jemari tangannya,'Ayahmu orang yang baik, semua yang dilakukannya untuk menyelamatkan ibu. Maaf, ayahmu tidak mengetahui keberadaanmu dulu jadi...' jemari tangan Citra yang cekatan menggunakan bahasa isyarat nya dihentikan Farel, menggenggam tangan ibunya erat.
"Aku percaya kata-kata ibu, aku tidak akan membenci ayah..." ucapnya tersenyum, menghapus air mata wanita yang melahirkannya.
Citra mulai membalas senyuman putranya,'Bagaimana kehidupanmu dulu, apa kamu makan dengan baik?' tanyanya.
"Aku diadopsi oleh keluarga kaya, disayangi dan dijodohkan dengan putri kandung mereka. Tapi karena terlalu banyak makan, mereka mengembalikanku ke panti asuhan,"
"Pasangan suami istri yang tinggal di Singapura mengadopsiku. Mereka memanjakan dan membelikan semua yang aku inginkan..." dusta Farel, tidak ingin ibunya merasa bersalah padanya.
'Maaf tidak dapat merawatmu...' Citra kembali memeluk putranya.
Gabriel tersenyum berjalan perlahan mendekati istri dan putranya, setelah menatap dari jauh cukup lama, pasangan ibu dan anaknya.
Entah apa yang ada di fikirannya, Farel mendorong tubuh Citra, agar pelukannya terlepas,"Ibu, seandainya ibu menjadi istri ke empat pak Wijoyo (tengkulak teh terkaya di desa mereka). Aku pasti akan dimanjakan dibelikan segalanya!! Tidak perlu berpisah dengan ibu!!" bentaknya tiba-tiba.
__ADS_1
Citra mengenyitkan keningnya tidak mengerti, dengan perubahan sikap putranya."Lebih baik ibu bercerai saja!! Kita sudah dicampakkan selama lima tahun!!"
Bercerai? Aku berharap reuni yang bahagia. Kenapa jadi bercerai? dan pak Wijoyo? pria tua mesum itu, kenapa dibandingkan dengan ku... batin Gabriel dengan wajah pucat mendekati putranya.
"Lendra magsudku Farel, ayah..." kata-kata Gabriel terhenti, putranya menatap tajam tidak suka.
"Ceraikan ibuku!! Aku akan mencarikan ayah yang penyayang sebagai ayah tiriku yang baru!! Pastinya tidak seperti ayah yang menelantarkan putranya..." Farel menatap tajam.
"Farel!! Ayah menyayangimu, tapi situasi saat itu..." kata-kata Gabriel terhenti.
Farel menggengam erat jemari tangan Citra,"Ibu memilihku atau ayah? Aku dari kecil tidak mendapatkan kasih sayang kalian..." ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
Jemari tangan Citra, membelai pipi putranya, belum sempat menjawab. Farel menarik ibunya dalam dekapannya, pemuda itu menatap penuh hina, menahan tawanya dalam hati.
"Ibu memilihku!! Wajah ibu masih cantik, jadi tidak akan sulit mencarikanku ayah baru yang akan memanjakanku!!" Farel membentak, hendak membimbing ibunya pergi.
"Farel..." Gabriel kali ini bertingkah aneh, putus asa, memeluk pinggang putranya dari belakang. Mengeluarkan raut wajah memelasnya.
"Kamu mengatakan tidak membenci ayah?" tanyanya.
"Aku berubah fikiran!!" jawab Farel cepat.
"Pak Wijoyo memanjakan anak-anaknya. Sedangkan, ayahku menelantarkan ku. Seandainya, ayahku adalah pak Wijoyo, aku akan dimanjakan penuh kasih sayang dari kecil..." gumam Farel menghela napas kasar.
"Kamu mau kasih sayang ayah kan? Ayah belikan ice cream ya?" tanya Gabriel memelas.
"Tidak..." Farel tetap berusaha melepaskan pelukan Gabriel.
"Coklat? Mobil mainan? Pesawat mainan? Motor? Mobil? Pesawat asli!?" tanya Gabriel berteriak, kembali mengingat kilas balik, apa saja yang akan diberikannya jika putranya masih hidup, memeluk Farel erat, tidak ingin putranya membuat dirinya bercerai dari Citra.
"Tidak..." Farel kembali menjawab.
"Rumah mainan? Rumah asli? Villa? Hotel?" Gabriel masih menahan pergerakan putranya.
"Aku sudah punya...!!" jawabnya bagaikan jengkel.
Akhirnya satu kalimat terpaksa tercetus dari bibir Gabriel, menyerahkan hartanya yang paling berharga,"Kamu boleh meminta makanan sisa ibumu, bahkan menginap di kamar kami sesukamu. Tidur diantara kami berdua, menjadi anak yang bahagia..." ucapnya antara rela dan tidak.
__ADS_1
Farel mengenyitkan keningnya, tertawa kecil,"Ayah dan ibuku masih agresif di tempat tidur. Jika usiaku masih lima tahun mungkin setiap malam aku akan menggangu kalian. Syukurlah aku lebih suka mengganggu istriku sekarang..."
Citra membulatkan matanya, menggerakkan tangannya,'Kamu benar-benar melihat semuanya malam itu?' tanyanya dengan wajah pucat.
"Tidak semua, hanya ayah yang mengeluarkan suara aneh dengan keras. Kemudian saat aku masuk pasangan suami istri yang..." Citra menutup mulut putranya, agar tidak melanjutkan kata-katanya.
Malu? Tentu saja, orang tua mana yang tidak malu dipergoki terang-terangan oleh anaknya. Apalagi mengingat, suara Gabriel yang memang tidak dapat diam ketika melakukannya.
"Aku hanya bergurau, aku tidak akan memisahkan kalian. Ayah, ibu, terimakasih..." Farel memeluk kedua orangtuanya, merasakan perasaan hangat yang dirindukannya. Mimpi yang menjadi kenyataan? Keajaiban? Itulah yang terjadi hari ini.
***
Satu minggu pasca operasi, perban di mata Jeny sudah dibuka. Wanita itu, memilih tinggal bersama Ayana, mengobati kerinduannya pada Rafa. Penglihatannya belum jelas sempurna, memerlukan waktu 3-6 bulan hingga sembuh total.
"Nyonya, ada tamu..." seorang pelayan menunduk memberi hormat pada Ayana.
"Siapa?" Ayana mengenyitkan keningnya.
"Seorang wanita yang bernama Clarissa..." jawab sang pelayan.
"Persilakan dia masuk," Ayana memberi perintah.
"Ibu, dia ..." Jeny terlihat cemas.
"Jangan biarkan orang itu tau kamu sudah bisa melihat, walaupun masih samar. Satu lagi, bersikaplah sinis, pernah menonton drama berseri kan?" Ayana yang tengah memangku Rafa mengenyitkan keningnya. Dijawab dengan anggukan oleh Jeny.
"Kamu adalah seorang j*lang tidak tau malu, istri tidak dicintai yang mengejar Farel, dengan akal licik. Berkata kasar atau mengumpat padanya tidak apa-apa. Karena dia sekarang adalah protagonis yang tersiksa, mendapatkan cinta Farel, tapi tidak dapat bersama karena kamu berada diantara Farel dan Clarissa," lanjutnya.
Mengumpat dan berkata kasar diperbolehkan? Ini merupakan suatu kesenangan bagi Jeny. Namun, tetap saja masih banyak pertanyaan dalam benak wanita itu.
"Ibu, kenapa harus bersandiwara...?" Jeny mengenyitkan keningnya.
"Ini demi keselamatan Rafa, lakukan saja..." jawabnya mulai bangkit, menatap penuh senyuman ke arah Clarissa yang datang membawa banyak paperbag.
"Maaf, kamu siapa? Cantiknya..." Ayana menyunggingkan senyuman ramahnya.
"Aku Clarissa teman baik Farel, bibi aku membawakan..." kata-kata Clarissa terhenti Jeny mengenyitkan keningnya.
__ADS_1
"Perebut suami orang..." cibirnya tersenyum menghina, bersiap-siap mengeluarkan mulut pedasnya.
Bersambung