
Bayi mungil sudah siap memakai pakaian beruang kecil yang menambah kelucuannya. Ditengah gerakan tangannya, bagaikan ingin meraih sang ibu.
"Rafa sayang..." Jeny meraih putranya, mendekap dalam gendongannya, mengelus pipi chubby putranya. Hingga kemudian Ayana meraih cucunya dari dekapan Jeny.
"Biar Rafa berangkat dengan ibu dan kakek kalian saja, ibu merindukan cucu ibu yang manis..." ucapnya menggendong Rafa sembari berlalu pergi dari kamar Farel di rumah Ayana.
"Sudah siap!?" Farel mengenyitkan keningnya, tersenyum.
Dress berwarna pich dengan harga yang fantastis, tatanan rambut yang terlihat klasik. Jeny mulai menyunggingkan senyumnya, mungkin inilah impiannya saat remaja, ketika memberanikan diri menyatakan cinta pada anak pendek berkacamata yang selalu menemaninya.
Sosok Farel yang tinggi, berkulit putih dengan wajah rupawan, bagaikan kembali menjadi remaja pendek, kurus, lengkap dengan kacamatanya.
Jeny tertawa kecil, kemudian memeluknya gemas,"Sudah aku bilang kita akan bersama kan?"
Farel tersenyum sembari mengganguk,"Nona benar, kita akan bersama selamanya," ucapnya melepaskan pelukan Jeny, menatap mata nonanya intens.
Impian yang menjadi kenyataan? Bahkan lebih dari itu. Dulu andaikan mengetahui Ren masih hidup, bahkan Jeny rela akan meninggalkan rumahnya. Menjalani kehidupan yang keras, asalkan bersama dengan remaja yang paling peduli padanya. Tapi saat ini Ren dewasalah yang datang, menjadi suami dan ayah dari putranya.
Jeny berjinjit, mengalungkan tangannya pada leher Farel, memulai ciuman yang mungkin sudah menjadi candu bagi mereka. Gerakan bibir yang perlahan, lidahnya bertaut saling menuntut,"Aku mencintaimu..." gumamnya.
"Jangan banyak bicara..." Farel berbisik pelan, kembali merasakan hangatnya bibir wanita yang beberapa bulan bulan ini bersetatus istrinya. Rasa nyaman menjalar dalam dirinya, memangut penuh hasrat.
Hingga, ciuman mereka terlepas, Jeny mulai tertawa kecil,"Sekarang aku tau perasaanmu ketika remaja, harus berjinjit setiap menciumku. Dasar pacar pendekku..." ejeknya.
"Tapi sekarang aku lebih tinggi dari nona kan? Dulu, saat tinggal di Singapura aku menjadikan nona sebagai tujuanku, karena itulah aku yang pemalas ini mendirikan JH Corporation agar pantas bersanding dengan nona," ucapnya tersenyum.
"Kita akan bersinar bersama sama, seperti kata kata yang aku tinggalkan dengan sepasang kalung matahari hadiahku untuk nona," lanjutnya.
Ren, aku ingin menangis karena terharu. Bagaimana kamu dapat hanya menyukaiku selama 13 tahun... mata Jeny berkaca-kaca menatap kagum.
"Nona, boleh aku minta sesuatu sebelum kita berangkat?" tanya Farel, nampak ragu.
"Kamu boleh minta apa saja..." Jeny menjawab penuh keyakinan.
"Nona, aku ingin disusui..." ucapan mesum tidak tahu malunya, membuyarkan rasa kagum dan haru di hati Jeny.
"Mesum!!" bentak Jeny, hendak keluar dari kamar, dengan wajah kesal.
"Tapi nona wanita pertama dan satu-satunya yang menyentuh dan aku sentuh, berarti nona yang mengajariku untuk berbuat mesum," Farel tertawa kecil, sengaja menggoda nona muda yang kini bersetatus istrinya.
"Aku sudah bilang, aku tidak mengajarimu!! Otakmu saja yang sudah ter-setting mesum!!" Jeny meninggikan intonasi suaranya, berjalan dengan cepat.
"Aku harus mesum, jika aku tidak mesum, bagaimana mungkin ada Rafa..." ucap Farel tersenyum, meraih tangan Jeny, berjalan bersamanya menuruni tangga.
***
Dalam ballroom hotel, alunan musik klasik terdengar mengalun, tempat dengan banyak dekorasi Doraemon.
Terlihat Renata yang datang mendapatkan perhatian dari wartawan, sekedar menanyakan tentang film terbaru, atau beberapa skandalnya. Kabar terakhir, Renata memutuskan pertunangannya dengan Roy, dengan alasan mengejar karir.
Namun, hati orang siapa yang tahu, wanita itu meraih segelas minuman menatap ke arah panggung, seusai berfoto dengan wartawan,"Setelah malam yang hangat dia belum juga menghubungiku. Dasar pria penggoda..." gumamnya dengan mata menelisik mencari sosok Farel.
Mobil mulai terparkir di parkiran bawah tanah, gedung hotel. Farel menghebuskan napas kasar seusai memarkirkan mobilnya,"Nona masuk duluan ya? Aku ingin membuat kejutan," ucapnya, membuka safety belt yang dipakai Jeny.
"Kejutan?" Jeny mengenyitkan keningnya tidak mengerti.
"Iya..." Farel mengganguk mencium kening Jeny."Carilah, dan temukan aku disana..." ucapnya tersenyum.
***
__ADS_1
Greet....
Suara resleting dinaikkannya, pergerakannya saat ini cukup sulit. Dengan berjalan bagaikan pinguin Farel mencoba meraih kepala Doraemonnya.
"Tuan... kenapa jadi badut?" Tomy mengenyitkan keningnya kesal.
Tidak bisakah dia menjadi orang kaya arogan yang normal? Berjalan di atas karpet merah dengan penuh kharisma, menjadi sorotan lampu di tengah kegelapan. Orang-orang bertepuk tangan menatap anda naik ke panggung. Tapi ini apa? Menjadi maskot Doraemon? Berkali-kali aku ingin berkata ini, apa anda masih waras tuan ... keluhnya dalam hati, melihat Farel bahkan kesulitan untuk berjongkok mengambil kepala Doraemonnya yang menggelinding.
"Aaaagghhh... akhirnya sampai," Farel berhasil meraih kepalanya. Salah, magsudnya kepala Doraemonnya.
"Karena usulanmu, selain itu jika muncul dan langsung menjadi sorotan, tidak akan menyenangkan..." gumamnya meraih dua kotak kecil yang berada di atas meja, menaruh dalam kantong yang terletak di perut kostum Doraemonnya.
"Itu apa?" mata Tomy menelisik.
"Kamu ingat berlian yang aku beli di pelelangan saat di Frankfurt (Jerman)?" tanyanya, sembari tersenyum.
"Ingat, benda dengan harga 8 juta dolar itu kan? Anda berkata untuk investasi," ucapnya memastikan.
"Benar, saat pulang ke Singapura mengurus perusahaan beberapa bulan yang lalu. Aku membawanya ke tempat pengerajin, dan memecah menjadi tiga perhiasan..." Farel berucap penuh senyuman, menunjuk anting di sebelah telinganya.
"Dua lainnya?" Tomy mengenyitkan keningnya.
"Kalung untuk Rafa, dan gelang kaki untuk Jeny," jawabnya menepuk nepuk kantong perut buncit kostum Doraemonnya.
"Kenapa gelang kaki?" Tomy tidak mengerti.
"Jika kalung, kami sudah memiliki sepasang," Farel menunjukkan kalung silver tipis dengan harga murah yang dipakainya,"Aku memberinya gelang kaki, agar dia tidak bisa lari dariku,"
Kenapa tidak sekalian berikan rantai pengikat hewan peliharaan? Pasang di lehernya... Tomy memasang wajah cerah masih berusaha tersenyum.
***
Dea menghembuskan napas kasar, meletakkan minumannya di atas meja, berjalan mendekati tempat Jeny berdiri.
"Kenapa kemari? Kamu memiliki undangan?" tanyanya pada putri yang beberapa bulan ini tidak ditemuinya. Mengingat saat ini Jeny hanya bersetatus sebagai pemilik EO, yang tidak begitu besar.
"Tidak punya, tapi jasa EO-ku yang dipakai oleh penyelenggara pesta ini," jawabnya penuh senyuman.
Dea menghebuskan napas kasar,"Andai saja, kamu menuruti nasehat ibu untuk kembali bersama Daniel. Mungkin kalian sudah akan kembali melangsungkan pernikahan. Sayang sekali, Ren yang tidak tau diri dan derajatnya datang kembali seperti parasit," ucapnya.
"Ibu sudah berjanji, asalkan semua saham kakek sudah aku berikan, ibu tidak akan pernah ikut campur dengan kehidupanku. Jadi jangan menghina Ren, walaupun dia pengemis atau raja sekalipun. Dari dulu aku hanya menyukainya saja..." Jeny berucap dengan tegas.
"Bodoh..." umpat, Dea hendak melangkah meninggalkan putrinya.
"Apa ibu bahagia? Dimas tidak ingin pulang, papa Jony menggugat cerai. Dulu, saat ayah Doni masih hidup setidaknya ada orang bodoh yang menunggu ibu pulang ke rumah..." ucapnya.
Dea menghentikan langkahnya, mengepalkan tangannya...Aku tidak menyesal, itu adalah jalan yang dipilih orang bodoh itu. Dia terlalu bodoh, sehingga mengingkari janjinya untuk selalu menungguku kembali...
Kali ini air mata, sedikit menetes di pipi Dea, sejenak kemudian wanita itu mengusapnya,"Aku bahagia..." dustanya. Untuk pertama kalinya, Dea meneteskan mengeluarkan air matanya walaupun hanya sedikit.
Wanita itu berjalan berlalu meninggalkan Jeny tanpa menoleh sedikitpun.
***
Di tempat lain tepatnya lantai dua gedung pesta, seorang wanita menatap ke arah lantai satu,"Kartun? Kekanak-kanakan..." cibirnya, mengamati dekorasi tempat pesta.
"Bukannya kamu kagum melihat fotonya?" Lery mengenyitkan keningnya, tersenyum ke arah putrinya.
"Benar, dari foto cara berpakaiannya lebih mirip seorang DJ yang menyukai dunia malam. Tapi tokoh kartun?" Clarissa tertawa kecil,"Benar-benar kekanak-kanakan," ucapnya.
__ADS_1
"Ini untuk anaknya, tidak mungkin membuat pesta seperti di club'malam jika putra kesayangannya ada di dalam pestanya kan?" Lery tersenyum mengelus rambut putrinya.
"Aku tidak ingin menjadi ibu tiri..." ucap Clarissa dengan nada serius, menatap tajam ke arah ayahnya.
"Dia orang yang sulit didekati. Dekati istrinya dulu, secara alami suaminya akan mendekat. Hans akan mengurus istri dan anaknya nanti, setelah kamu setidaknya bersahabat dengan istrinya," Lery mengulurkan tangannya, menunjuk ke arah Jeny."Istrinya lumayan cantik, Hans mungkin akan senang, mendapatkan rusa kecil tidak berdaya..."
***
Mata Renata tidak henti-hentinya menelisik, namun sosok Farel tidak terlihat juga. Hingga malah wanita yang paling dibencinya yang terlihat. Memasang wajah penuh senyuman, hal yang dilakukannya. Masih salah mengira jika Rafa adalah anak dari Taka.
"Jeny..." ucapnya tersenyum mendekat.
Tidak bisakah Farel mengundang orang waras saja kemari... Jeny mengenyitkan keningnya menatap kesal.
"Jeny kamu kemari bersama siapa? Apa cucu pemilik JH Corporation ada disini?" tanyanya antusias.
Cucu? Anakku bahkan masih berumur 7 bulan. Bicara dengan lancar saja belum bisa, bagaimana bisa menciptakan anak... Jeny mengenyitkan keningnya tidak mengerti.
"Dia tidak ada ..." jawab Jeny jujur.
"Kamu iri kan? Hanya mendapatkan kakek tua, sedangkan aku mendapatkan pandangan menyegarkan," ejeknya kesal mengira Jeny menyembunyikan keberadaan Farel.
"Cucu pemilik JH Corporation memang tidak ada,"ucapnya jujur, menghebuskan napas kasar hendak berlalu pergi.
Diluar dugaan, Renata yang kesal mengambil minuman menyiramnya pada rambut Jeny.
"Renata!!" Jeny terlihat geram, hendak mengambil segelas minuman, membalas perlakuan wanita itu.
Namun, tanpa diduga seorang wanita tidak dikenal datang dengan air dari wadah alat pel. Langsung menyiram selebriti itu kemudian menamparnya di hadapan umum.
"Dasar, tidak tau diri, kamu fikir hanya dengan status selebriti kamu memiliki dunia..." Clarissa menyunggingkan senyuman mengerikan.
Wajahnya mendekati telinga Renata,"Pergi dari sini, jika tidak kamu akan mati," bisiknya kemudian tersenyum cerah.
"Akhirnya, ada wanita keren yang diundang Ren..." Jeny menatap kagum, pada sosok Clarissa, wanita yang baru pertama kali ditemuinya.
***
Di tempat lain, Farel telah lengkap memakai kostum Doraemonnya. Langkahnya terhenti, tangannya gemetaran...
Terlihat sosok seorang pria mengenakan stelan jas hitam, membawa beberapa cemilan anak dalam keranjang kecil.
Farel tertegun melangkah mundur, bagaikan ketakutan, namun sejenak menatap penuh dendam.
Gabriel berjalan perlahan, menyodorkan sekeranjang cemilan. "Kamu maskot di pesta ini? Tolong bagikan pada para tamu, minta mereka mendoakan putraku..." ucapnya penuh senyuman.
Tangan Farel gemetaran menerimanya, Putranya? dia membunuh ibuku. Dan menyuruhku meminta orang-orang mendoakan putranya... Ayah yang kejam padaku, tapi terlalu baik untuk putranya yang lain... cibirnya penuh kebencian dalam hati.
Gabriel tersenyum, menepuk pundak orang berkostum Doraemon. Kembali berjalan menelusuri lorong.
Setelah beberapa langkah, pria itu terhenti, kembali melirik ke belakang.
"Tuan, kita harus segera masuk..." ucap Zen.
"Mungkin perasaanku saja..." Gabriel menghebuskan napas kasar merasakan hal aneh pada orang berkostum Doraemon yang baru dilaluinya.
Kepala Farel menunduk, menitikkan air matanya, wajah tertutup kostum berwarna biru yang dipakainya."Sial!!" umpatnya, dalam tangisannya.
Bersambung
__ADS_1