Asisten Nona Muda

Asisten Nona Muda
Jagung Bakar


__ADS_3

Sang pria paruh baya menghebuskan napas kasar, menatap mobil yang telah melaju meninggalkan rumahnya. Perlahan, kembali berjalan masuk ke dalam rumah menatap istri dan anaknya.


"Kanaya..." ucapnya.


Gadis itu tertunduk, mengepalkan tangannya, matanya terpejam sejenak mengetahui akan amukan ayahnya."Maaf, aku menemuinya, aku..." kata-katanya terpotong.


"Dimana pakaianmu?" Candra memijit pelipisnya sendiri, mengamati pakaian putrinya. Minidrees? Walaupun tertutup, Kananya jarang menggunakan atau memilikinya.


"Tadi hujan, pakaianku basah jadi..." kata-katanya kembali terpotong.


"Jadi, dia membawamu ke tempatnya menginap, dengan iming-iming pakaian baru?" ayah yang protektif pada putrinya itu, kembali menghela napasnya, berusaha untuk bersabar.


"Pak Daniel orang baik, kami tidak melakukan apapun. Aku benar-benar menjaga diri," jawabnya, curiga menatap sang ayah mengamati penampilannya.


"Siapa tau bocah singkong, maksud ayah anak itu memaksamu berbohong," mata Candra semakin menelisik, mengamati leher putrinya yang masih putih mulus tanpa noda,"Sepertinya memang tidak terjadi apa-apa," lanjutnya.


"Memang tidak terjadi apa-apa...!!" ucap Kanaya kesal.


Aku lega karena tidak terjadi apa-apa. Sekaligus kecewa, ingin rasanya melanjutkan ciuman tadi, kemudian dipeluk olehnya. Dijatuhkan di atas tempat tidur, kemudian... wajah gadis perawan yang sedikit tidak polos itu, memerah menginginkan melanjutkan ciumannya, ke tahap selanjutnya.


Mesum? Kenapa fikiran polosnya bisa semesum itu? Tidak tahu kenapa? Mungkin pengaruh duda berpengalaman yang tidak menggodanya sama sekali. Entahlah, yang pasti imajinasinya terlalu liar saat ini.


"Mikir apa kamu!?" Candra, menjitak dahi putrinya, yang tersenyum-senyum sendiri dengan wajah memerah.


"Tidak fikir apa-apa!!," dustanya, dengan lamunan yang indah buyar begitu saja.


Candra mulai menunduk, mensejajarkan tubuhnya dengan putrinya yang duduk, memegang bahu gadis yang dibesarkannya. "Kanaya, dengarkan bapak. Orang kota itu tidak serius denganmu, jika dia serius dia akan setuju, saat ayah memintanya untuk menikahimu..."


Diam? Kanaya tidak dapat menjawabnya, Daniel terlalu sering memberikan harapan palsu padanya. Dan sekarang tidak bersedia melamar tanpa alasan, namun menyatakan cinta? Dirinya tidak dapat memahami sosok pria yang dicintainya itu.


"Ibuk, antar Kanaya masuk...!!" lanjut Candra.


Kanaya hanya dapat terdiam, ragu pada perasaan Daniel padanya. Namun, perasaannya nyata, jantung yang berdebar kencang saat melihat wajah rupawan itu menatap tajam padanya. Apa aku akan memiliki nasib seperti Kinara, dicampakkan setelah dipakai? Menjalani hubungan tanpa status yang jelas...


***


Tok...tok... tok...


Terdengar suara ketukan dari pagar, dengan terpaksa Candra membukanya kali ini.


"Paman, bibi, aku membawakan singkong..." ucapnya membawa seikat singkong yang dibelinya entah dimana.


"Pergi!!" Candra mengenyitkan keningnya berusaha bersabar, mengingat dirinya harus berkeliling membagikan berbagai macam olahan singkong sebelumnya.


"Tapi, aku ingin bertemu Kanaya sebentar saja, apa boleh?" tanya Daniel tidak menyerah.


"Pergi, atau saya teriak maling," ancamnya.


"Tidak, saya akan tetap disini," ucap Daniel tegas


"Baik, kalau begitu tunggu saja di depan rumah terus!!" bentak Candra, menutup pintu gerbang rumahnya.


Daniel hanya tersenyum, menghebuskan napas kasar, melirik ke arah rumah dengan lampu yang menyala.


Tak...


Suara sakelar lampu terdengar, rumah itu terlihat gelap. Tetap menunggu? Daniel tetap terdiam disana, menggesek-gesekan tangannya menahan hawa dingin yang terasa menusuk.

__ADS_1


Bibirnya memutih, wajahnya terlihat pucat, menunggu gadis yang dirindukannya keluar dari rumah. Tidak kuasa untuk mundur, menginginkan menatap wajah itu, entah kenapa.


Cinta? Tidak terdengar tuluskan bagi orang yang pernah menikah bahkan mengkhianati mantan istrinya? Tapi, perasaan anehnya terasa lebih dari itu. Selepas orang lain mempercayainya atau tidak, yang dibutuhkannya hanya pengakuan dari gadis yang telah menyembuhkan luka hatinya.


"Paman, bibi..." panggilnya lirih, dengan suara kecil, setelah menunggu sekitar empat setengah jam. Waktu kini, telah menunjukkan pukul 00.30 saat ini.


Tidak ada orang yang keluar dari rumah, Daniel masih terdiam. Memutuskan masuk kedalam mobilnya, duduk di sana menahan rasa panas di tubuhnya. Punggungnya menyender pada kursi pengemudi. Matanya terpejam, menahan rasa lemasnya.


Griet...


Suara gerbang dibuka terdengar. Kemal? Benar, pemuda itu masuk ke dalam rumah lagi, bagaikan rumah tetangganya itu adalah rumahnya.


Daniel hanya terdiam, sedikit melirik tanpa ingin mencegah, berharap gadis yang dinantikannya tidak akan keluar dari gerbang rumah.


Namun, mungkin cinta hanyalah imajinasinya, sang gadis keluar, tubuhnya masih berbalut piayama. Berjalan perlahan, jemarinya ditarik sang pemuda. Menaiki motor ditengah dinginnya udara malam, seolah tidak mempedulikan keberadaan mobilnya.


Wajahnya semakin pucat, tersenyum menatap pantulan bayangan Kanaya, meninggalkannya bersama pria lain.


"Apa aku sekarang begitu rendah dimatamu?" tanyanya pada pantulan bayangan yang telah melaju menjauhinya. Setetes air matanya mengalir, membasahi pipinya. Tercekat? Itulah perasaannya saat ini, untuk kedua kalinya menatap gadis yang dicintainya pergi dengan pria lain tengah malam.


Tubuhnya terasa semakin panas, masih terdiam tanpa bermaksud meninggalkan tempat tersebut.


Ada yang mengatakan jatuh cinta adalah hal yang membahagiakan. Bagiku tidak, cinta menyenangkan dan terasa hangat. Jika, dia dapat menggenggam jemari tanganku yang merindukannya...tapi kini dia pergi, mungkin mengejar kebahagiaannya sendiri... gumamnya sembari tersenyum, perlahan menyentuh kaca spion mobil, berharap bayangan itu dapat kembali.


Matanya mulai terpejam, tidak dapat menahan suhu tubuhnya lagi.


***


Gadis itu belum tertidur, hatinya gelisah menatap mobil dari jendela ruang tamunya yang masih terparkir di depan rumah. Hingga terdengar suara pintu pagar terbuka. Daniel? Dirinya berharap pria itu yang masuk? Namun bukan, pemuda berdarah campuran timur tengahlah yang memasuki halaman rumah.


"Kanaya..." panggilnya.


"Mau makan jagung bakar?" tanya Kemal membawa satu kantong jagung.


"Makan jagung lebih menyenangkan daripada singkong!!" bentaknya kencang, berharap agar Daniel mendengarnya.


Ingin rasanya merajuk, menikmati harinya tampa memikirkan bos yang dianggapnya tidak sungguh-sungguh.


Berpura-pura tidak melihat mobil Daniel, perlahan mulai naik ke atas motor milik sahabat kecilnya. Berharap Daniel keluar dari mobil dan mencegahnya. Namun, motor telah jauh melaju pun, tidak ada yang keluar, hingga mobil itu tidak terlihat lagi.


Apa kamu memang tidak bersungguh-sungguh? Apa hanya ingin menjadikanku mainan? Mencintaimu, kenapa rasanya sesakit ini....


Tangannya yang memeluk erat pinggang Kemal. Isakan halus terdengar dari punggung pemuda yang tengah mengendalikan laju motornya.


Tangan sang pemuda mengerat memegang stang motornya. Tidak tega mendengarkan seorang gadis yang menangis di punggungnya.


"Kanaya..." ucapnya ragu.


Tidak terdengar suara sahutan, gadis itu masih mencoba menetralkan nada bicaranya.


"Apa kamu menyukainya?" tanyanya, jawaban yang sebenarnya sudah diketahui sang pemuda.


Kanaya masih terdiam, menitikkan air matanya. Kemal maaf... gumamnya dalam hati lirih, tidak menjawab.


Angin menerpa wajah sang pemuda, menahan air matanya. "Menyakitkan jika membantah perasaanmu sendiri. Saat dia melupakanmu akan terasa ribuan kali lebih menyakitkan..."


Mungkin begitulah perasaan Kemal saat ini, dulu dirinya membantah perasaannya. Hingga, Daniel dapat hadir diantara mereka. Laju motornya tiba-tiba terhenti."Turunlah..." ucapnya pada Kanaya.

__ADS_1


Gadis itu turun perlahan, entah berapa banyak air mata yang sudah diteteskannya sepanjang perjalanan. Kemal membungkuk, menghapus air mata sang gadis, jemari tangan dingin, menatapnya lekat."Jangan menangis, atau merasa kasian padaku, anggaplah aku kakakmu..." ucapnya.


Cinta yang sudah terlambat bukan? Namun itulah perasaan nyata di hatinya.


Helm Kanaya dilepaskannya, mencium kening gadis itu, bersiap untuk menerima kenyataan,"Aku akan berusaha menganggapmu sebagai adikku,"


"Kemal, kita..." kata-kata Kanaya disela.


"Pergilah, jika berkali-kali menyakitinya dia akan menyerah..." ucapnya, menghapus air matanya, berusaha tersenyum.


Kananya mengangguk, berjalan meninggalkan Kemal, sesekali menengok ke belakang. Hingga akhirnya gadis itu menghilang dalam kegelapan, menelusuri jalan kembali ke rumahnya.


Isakan pria itu mulai terdengar,"Sial!!" ucapnya, membanting helm di tangannya. Terduduk lemas di jalan aspal rusak yang sepi.


Lemah? Begitulah dirinya saat ini, tidak berdaya menahannya. Dapat menghentikannya, namun akan lebih menyakitkan memiliki raga tanpa hati bukan?


***


Api menjilati tumpukan ranting kayu di lahan kosong, yang baru dipanen. Mata pemuda itu kosong, menatap jagung yang dibakarnya seorang diri. Api unggun kecil yang indah. Jika saja dulu dirinya lebih cepat menyadari perasaannya. Mencium Kinara di hadapan Kanaya? Itu pernah dilakukannya, ini mungkin tidak sebanding dengan rasa sakit gadis yang dikasihinya.


Kemal menonggakkan kepalanya, menatap jutaan bintang diatas sana. Air matanya kembali mengalir menatap bintang jatuh yang melintas di atasnya.


Bayangan gadis itu menyender di bahunya masih terasa hingga saat ini...


...Aku mencintainya, sekarang dapat merasakan yang dirasakannya dulu, saat hanya dia yang mencintaiku....


...Karena itulah aku melepaskannya, tidak ingin menggenggam tangan boneka yang hatinya tidak berada disini... boneka yang menangis kala mendekap ku......


Kemal....


***


Jemari kecil, terasa menyentuh kemejanya, membuka kerah pakaian bagian atasnya. Tangan kecil itu meraba dahinya,"Panas..." terdengar suara hangat seseorang.


Mencoba membuka matanya, itulah yang dilakukannya. Bayangan gadis itu terlihat, gadis yang membuatnya menunggu bagaikan orang bodoh.


Aku tidak ingin kamu pergi menemuinya. Anggaplah aku egois, tapi aku tidak ingin dia memilikimu lebih dalam dari aku memilikimu...


Dengan sekuat tenaga menarik sang gadis dalam pangkuannya. Pintu mobil ditutupnya kasar.


"Pak Daniel..." sang gadis tidak mengerti.


"Ugghhh..." terdengar suara disela bibir itu saling bertaut dalam ruangan sempit. Tangannya, menelusup, memasuki kaos gadis dalam pangkuannya, memainkan pelan benda yang ditemuinya.


Kenapa seperti ini? Apa aku harus menyerahkan segalanya padanya? Aku tidak bisa, dia tidak sungguh-sungguh... gumam Kanaya dalam hatinya bimbang, jemarinya mencoba menghentikan tangan Daniel.


Namun tenaganya bagaikan menghilang, kala bibir dan tangan yang terasa panas, mengendalikan tubuhnya dengan gerakan pelan membuai dirinya untuk menikmati segalanya.


"Daniel..." racau Kanaya, merasakan sensasi aneh, menjambak pelan rambut pemuda yang mulai menelusuri lehernya.


"Aku akan memberikan apa saja, jangan tinggalkan aku..." ucapnya lirih terengah-engah dengan napas yang terasa panas, mendekati telinga gadis dalam pangkuannya, memberikan nuansa yang lebih sensual. Hingga akhirnya....


Tin.....


Suara klakson nyaring terdengar, tubuh itu tidak sadarkan diri. Dahinya terjatuh tepat di tengah stir, memicu tombol klakson untuk berbunyi.


"Astaga, kenapa tidak dilanjutkan saja ...!!" kata-kata aneh keluar dari mulut gadis perawan yang setengah polos. Masih ingin merasakan rangsangan yang lebih intens.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2