
Suap demi suap mulai masuk ke dalam mulut Jeny. Wanita itu sesekali tersenyum, tanpa mengetahui apa yang dinikmatinya.
Hingga, jemari tangan seorang pria menghentikan aktivitasnya."Maaf, kami permisi..." ucapnya menatap tajam pada beberapa orang yang berada di sana.
Farel mencengkram erat tangan Jeny, bagaikan menariknya paksa di depan semua orang.
"Ada apa!?" Jeny mengenyitkan keningnya.
"Kita harus pergi sekarang!!" Farel kembali menarik tangan Jeny, dengan langkah cepat.
"Berhenti!!" Daniel membentak, berusaha melepaskan tangan Farel. Entah kenapa, pemuda itu tidak terima, menatap Jeny yang meringis, dengan pergelangan tangan yang memerah.
"Dasar menantu tidak tau diri!! Lepaskan Jeny!! Ini acara keluarga kami, kamu hanya orang luar!!" Dea mulai bangkit, berjalan mendekati mereka. Namun langkahnya tiba-tiba terhenti.
"Camkan ini!! Aku bukanlah orang yang bersabar!! Biarkan kami pergi, atau aku sendiri yang akan mengubur kalian semua!!" ucap Farel dengan nada rendah, menendang sebuah meja pajangan. Tidak terlihat tenang sedikitpun, seperti sebelumnya.
"Farel sebenarnya ada apa!?" Jeny tidak mengerti, akan perubahan sikap pemuda di hadapannya.
Jemari tangan Daniel gemetar, menurunkan tangannya. Menatap raut wajah dingin Farel berubah, bagaikan tidak akan main-main dengan ancamannya. Wajah kemarahan yang bahkan lebih terlihat kejam dibandingkan Tomy.
"Keluarga, yang ingin membunuh anggota keluarganya sendiri... Aku akan membalas untuk hari ini..." ucapnya ambigu, tertuju pada seseorang di ruangan itu.
Farel kembali menarik tangan Jeny untuk keluar dari kediaman. Melangkah dengan cepat, membuka pintu belakang mobil untuk Jeny, mendorong wanita itu tanpa menjelaskan."Sakit," ucap Jeny sedangkan Farel mulai menyetir mobil dengan kecepatan tinggi.
"Farel!!" Jeny membentak.
Namun bukannya jawaban yang didapatkannya, terlihat pemuda di depan stir, mengusap air matanya.
"Farel ada apa!?" Jeny kembali bertanya dengan nada tinggi.
"Aku mohon bertahanlah..." ucapnya dengan suara bergetar.
Beberapa saat Jeny terdiam, tidak mengerti dengan kata-kata dan perilaku Farel.
"Strawberry!?" Jeny mengenyitkan keningnya, mulai merasakan gejala aneh setelah beberapa menit mengkonsumsi makanan di atas meja.
Tenggorokannya terasa terbakar, napasnya sedikit demi sedikit tidak teratur. Farel memukul stirnya masih berusaha mengendarai mobilnya dengan cepat.
"Sial!! Sial!! Sial!!" Rasa cemas, bercampur emosi menjadi satu. Mengingat puluhan kotak bekas strawberry yang dikeluarkan pelayan dari tempat sampah di dapur.
__ADS_1
"Fa...rel..." kata-kata keluar dari mulut Jeny terengah-engah, yang telah duduk lemas di kursi penumpang bagian belakang.
"Bodoh!! Berbaringlah!!" Farel berteriak pada Jeny dalam kepanikanya. Berusaha tetap konsentrasi menyetir, sesekali menyeka air matanya, yang membuat pandangannya sedikit kabur.
Jarak rumah sakit dan kediaman Jony sekitar 30 menit perjalanan, reaksi alergi Jeny termasuk cukup cepat. Tangan Farel gemetaran, mengetahui secara logika hal yang akan terjadi.
"Sial tidak akan sempat!!" umpat Farel menatap kearah spion, napas Jeny tidak teratur, semakin buruk, wajahnya terlihat pucat pasi, keringat dinginnya mulai keluar.
Dengan cepat pemuda itu menghentikan mobilnya di sebuah apotek, menemukan harapan terakhirnya. Keluar dari mobil meninggalkan Jeny, menyodorkan semua uang cash di dompetnya, pada sang apoteker. "Aku ingin obat anti alergi dan sebotol air mineral!! Berikan obat yang paling efektif!!" ucapnya.
Sang apoteker, memberikan obat dan air mineral kemasan yang diminta,"Tapi mana resep dokternya!? Lagipula uang ini lebih." ucap sang apoteker ragu untuk meraih uang yang disodorkan Farel.
"Aku akan menumbukmu untuk bahan obat tradisional. Jika, istriku yang ada di dalam mobil mati!!" ancamnya, membentak.
"Saya minta maaf!!" apoteker segera meraih uang, memberikan obat dalam bentuk tablet itu pada Farel. Wajah sang apoteker nampak pucat ketakutan.
Jeny terlihat sudah lemas, dengan cepat, pemuda itu masuk ke dalam mobil, melepaskan resleting gaun istrinya, serta pengait pakaian dalam bagian atas.
Farel mulai memberikan napas buatan berkali-kali. Mengambil, dua butir tablet sekaligus, mengunyahnya tanpa ragu.
Pemuda itu memaksakan tubuh lemas Jeny untuk duduk. Mendekatkan bibirnya yang pahit dipenuhi dengan obat. Rasa pahit disertai gerakan lidah yang lembut terasa di bibir Jeny. Farel memindahkan obat yang terdapat di mulutnya, ke dalam mulut nonanya.
Tautan bibir itu terhenti,"Aku mohon bertahanlah..." ucapnya penuh harap, mengambil air mineral, meminumkan Jeny dari mulutnya.
"Nona, aku mohon bertahanlah...aku mencintaimu..." ucap Farel terengah-engah, memberikan hampir seluruh oksigen yang dihirupnya, bagaikan menampakkan sisi paling lemahnya dalam keputusasaan.
Ren... Jeny memejamkan matanya.
***
Bau obat tercium, lampu terang rumah sakit menyilaukan matanya. Mata Jeny perlahan terbuka, dengan masker oksigen masih terpasang menutupi mulut dan hidungnya.
Napasnya sudah lebih terasa normal, akibat obat dari Farel dan serum anti alergi yang diberikan dokter ketika dirinya tidak sadarkan diri. Jeny membuka masker oksigennya.
Tangannya gemetaran hendak menyentuh pipi seorang pemuda yang tertidur dalam posisi duduk di kursi samping tempat tidurnya.
"Eemmmgghhhh..." Farel yang tertidur sejenak membuka matanya. Menatap Jeny yang langsung berpura-pura tertidur.
"Maskernya lepas, apa tadi nona sempat bangun!?" Farel mengenyitkan, sembari menguap.
__ADS_1
Membelai rambut Jeny, kemudian tersenyum mengamati napas istrinya yang sudah teratur."Nona sudah dua kali masuk rumah sakit, benar-benar sangat rapuh," ucapnya berjalan berlalu keluar dari ruangan sambil beberapa kali menguap kembali, setelah semalaman menjaga Jeny.
Jeny mulai bangkit dari tempat tidurnya, menatap pintu ruang rawat yang tertutup."Semuanya sama persis, andai saja anggapanku adalah kenyataan. Farel apa kamu adalah Ren!?..." tanyanya pada pintu yang telah tertutup sempurna.
***
Farel menghembuskan napas kasar, membeli minuman kemasan, menatap pemandangan rumah sakit dari lantai dua, dekat ruang rawat inap istrinya.
"Tuan..." Tomy berucap, dengan napas terengah-engah berlari dari parkiran rumah sakit.
Aku ingin kembali ke Singapura, sial!! Apa lagi yang diinginkan majikan kurang waras ini... gumam Tomy dalam hatinya.
"Seminggu lagi aku pulang ke Singapura," satu kalimat tercetus dari mulut Farel.
Dia bisa membaca fikiran!? Terimakasih Tuhan, aku sudah jenuh berada disini... Tapi apa yang terjadi pada pria setia ini.... Tomy mengenyitkan keningnya tidak mengerti menatap wajah Farel.
"Maaf tapi istri dan anak anda!?" Tomy mengenyitkan keningnya.
"Ada masalah di Singapura, ayah sempat menghubungiku," Farel menghembuskan napas kasar.
Ya Tuhan, terimakasih ini bukan sinetron, jika ini di sinetron. Orang kaya tampan arogan tujuh tanjakan, tiga tikungan, tidak akan bekerja atau peduli pada perusahaannya. Hanya menjadi budak cinta. Yang siang dan malam tidak berkerja mengurusi drama keluarga... Tomy menyunggingkan senyuman di wajahnya, berhayal akan kembali bersama tuannya.
"Baik, tuan!!" ucapnya, penuh rasa syukur.
"Kamu tinggal di sini!! Utus orang untuk mengurus EO. Awasi istri dan anakku!!" Farel menghebuskan napas kasar.
Wajah Tomy seketika pucat pasi, menatap ke arah tuannya.
Dasar Firaun, aku juga ingin pulang...
"Tapi tuan..." Tomy menyanggah
"Jangan dekati istriku!! Lihat dari jauh saja!! Aku tau, tidak ada pria yang kebal dengan pesona nonaku!!" Farel berucap tegas, menatap tajam.
Tuan yang terlalu buta, jatuh cinta pada satu wanita selama belasan tahun, dasar majikan gila!! Bahkan kalau aku mau, putri bangsawan, artis dan konglomerat akan berbasis untuk melamarku. Mereka lebih cantik dari nonamu. Aku bukan perebut istri orang, aku masih cukup laku... Tomy, tersenyum menahan rasa geramnya.
"Kenapa kamu diam!?" tanya Farel.
"Benar nona anda adalah yang tercantik..." Tomy penuh senyuman terlihat tulus.
__ADS_1
Yang waras harus banyak-banyak bersabar dan mengalah...
Bersambung