Asisten Nona Muda

Asisten Nona Muda
Boneka Kayu (love for psycopath)


__ADS_3

......Kisah, sebuah boneka kayu tidak memiliki hati, yang ingin menjadi manusia. Mencari cara untuk sepenuhnya berubah, menginginkan memiliki perasaan. Namun, Tuhan mengambil tujuannya, hingga boneka itu, kembali menjadi kayu usang......


Author...


Keajaiban? Mungkin itulah yang menerangi hati Hans. Untuk pertama kalinya, dengan ragu manusia dengan ego tinggi itu menemui psikiater tanpa sepengetahuan kekasihnya, ingin memiliki hati seperti Hyeri. Ingin membalas perasaannya, tidak ingin hatinya terasa kosong lagi, jika Hyeri pergi. Itulah yang membuat Hans mengesampingkan egonya.


Beberapa tes dilakukan padanya, mengajukan beberapa pertanyaan. Untuk pertama kalinya, sang psikiater bertemu dengan orang dengan gangguan kepribadian psikopat berobat seorang diri tanpa paksaan atau keterpaksaan karena ketergantungan pada obat-obatan.


Beberapa pertanyaan telah diajukan, hingga pertanyaan terakhir,"Apa motivasimu untuk sembuh?" tanyanya.


"Aku bertemu mata seseorang yang aku takuti. Dia tidak takut padaku, tapi matanya selalu menghakimiku. Seharusnya aku menghabisinya kan? Tapi jika dia tidak ada, dunia yang munafik ini seperti tidak lengkap. Aku..." kata-kata Hans terhenti.


"Bagus, kamu sudah belajar memiliki kerinduan, itulah bibit dari rasa suka. Rasa suka akan menimbulkan berbagai emosi. Untuk kesembuhan total akan sangat sulit, syukurlah usiamu masih 19 tahun, memang sedikit terlambat, tapi masih masa peralihan..." ucapnya, tersenyum mencatat diagnosisnya.


***


Hans melangkah perlahan, menuju apartemennya. Seorang wanita menggunakan sweater dan syal serta sarung tangan wol, menggosok jemari tangannya kedinginan, menunggu kedatangan orang yang disukainya di tengah hujan salju yang turun.


"Naif..." pemuda itu tersenyum, kali ini bukan sebuah senyuman topeng kepura-puraan. Hanya sebuah senyuman, itu saja.


"Kak Hans!! Kita ke kuil ya!?" ucapnya berlari menggengam tangan pemuda itu.


"Untuk apa!?" tanyanya, mulai menaiki tangga, menuju apartemennya yang terletak di lantai dua.


"Membuat permohonan pada Tuhan..." jawabnya.


"Jika semua masalah dapat selesai dengan memohon pada Tuhan. Kita tidak perlu susah-susah bekerjaka!?" Hans mulai mengeluarkan kunci dari sakunya.


"Aku akan pergi sendiri saja..." Hyeri menghebuskan napas kasar kecewa, kembali berjalan menuruni tangga. Hans menatap aneh kepergian wanita itu, sejenak kemudian berlari mengikutinya.


Salju masih saja turun, lonceng dibunyikannya tersenyum meminta sesuatu pada Tuhan-nya...


Walaupun lama sekalipun, aku akan sabar menunggu. Aku ingin dia mengetahui dalamnya perasaanku padanya. Aku ingin menjadi mataharinya di tengah kegelapan yang ingin menelannya... ucapnya dalam hati.


Seseorang menyentuh bahunya,"Apa yang kamu doakan?" tanyanya.


"Agar aku menjadi wanita cantik, kaya, hidup tentram dan makmur..." jawabnya.


Hans mengenyitkan keningnya,"Jika Tuhan itu ada, dia tidak akan mengabulkan doa yang terlalu tamak," ucap Hans, kemudian membunyikan lonceng, ikut berdoa walaupun dia tidak yakin dengan keberadaan Tuhan.


Aku ingin melihat-Mu di akhir hidupku. Agar aku yakin yang dikatakan wanita ini benar, bahwa Engkau ada... doanya.


"Apa yang kamu minta?" Hyeri mengenyitkan keningnya.


"Melihat Tuhan..." jawabnya jujur.


***

__ADS_1


Malam yang dingin, hari itu Hans menolak tugas yang diberikan Lery. Pemuda itu kini berkerja sebagai pembawa air galon, mengangkut dari rumah ke rumah.


Tersenyum palsu di hadapan semua orang. Kekesalan di tahanannya menatap nenek tua yang berjalan menapaki tangga perlahan. Menghalangi jalannya, namun semua tertahan oleh senyuman palsunya. Ingin rasanya melukai nenek tua itu, kemudian menyiram lukanya dengan air garam, merasakan sensasi teriakan kesakitan sang nenek.


Tanpa diduga, Hans menurunkan galon yang akan diangkutnya. Membantu nenek tua itu, naik sembari tersenyum.


"Terimakasih..." wajah tua renta itu ikut tersenyum.


Hans mengambil kembali galonnya,"Permisi," ucapnya tersenyum ramah.


Namun, menapaki beberapa anak tangga, senyuman di wajahnya pudar. Menahan diri sangat sulit untuknya, terlanjur sempat menikmati keindahan menatap rasa sakit orang lain."Aku harus dapat membalas perasaannya," tekadnya, mengingat Hyeri kembali menapaki tangga.


***


Brak...


Pemuda itu dipukuli oleh Lery....


"Apa magsudmu berhenti!? Percuma aku dulu meminta ayah untuk mengeluarkanmu dari pusat rehabilitasi anak-anak bermasalah!!" bentaknya kesal.


"Apa karena pacar kecilmu? jika begitu, manusia rapuh itu lebih baik mati saja..." lanjutnya.


Jemari tangan Hans mengepal, dunia yang munafik ini sudah cukup mengesalkan baginya. Wanita naifnya juga akan menghilang, ini adalah sebuah lelucon.


Hans mulai bangkit tersenyum mengerikian, berjalan mendekati Lery yang berusia lima tahun lebih dewasa darinya. Mengambil balok kayu memukulnya berkali-kali tanpa belas kasih,"Dengar, sebagai majikan memerintah, juga ada batasannya. Jika kamu tidak tau batasanmu, jangan pernah menyalahkanku..." ucapnya tersenyum, melempar balok kayu asal seusai memukuli Lery dengan brutal.


***


Beberapa bulan berlalu, kandungan Hyeri semakin nampak. Membohongi ayahnya, itulah yang dilakukannya. Mengatakan menjadi korban pemerkosaan orang tidak dikenal, agar Taka tidak datang mencari keberadaan Hans.


Tidak mau menikah? Seorang psikopat tidak mampu mencintai, tidak ingin terikat. Namun, Hans yang masih berusia muda, sedikit demi sedikit gangguan kepribadiannya menurun.


Hari ini, dia mendatangi sebuah toko emas, menatap sepasang cincin emas. Penghasilannya yang sedikit, namun mungkin dapat terkumpul hanya untuk membeli sepasang cincin saja.


"Menikah? Sungguh konyol..." gumamnya, namun tetap saja ingin mengabulkan keinginan Hyeri.


Tidak menyadari wanita naifnya kini tengah berlutut memohon untuk hidupnya. Bersimpuh di bawah kaki Lery, yang mengaku sebagai majikan Hans. Dapat kapan saja membunuh anak buahnya yang sudah tidak berguna.


"Kami hanya ingin hidup bahagia!!" ucapnya.


"Hans tidak ingin membunuh lagi karenamu, jalan satu-satunya agar aku mengampuni Hans dan tidak membunuhnya adalah nyawamu..." Lery menarik rambut panjang Hyeri dengan kencang.


"Aku akan memberimu satu kesempatan, bunuh dirimu sendiri. Aku ingin mendengar berita kematianmu dalam satu minggu. Jika tidak juga, maka Hans harus mati..." lanjutnya menampar Hyeri dengan kencang.


Wanita itu tersungkur, mulai tersenyum dalam tangisannya, Ini adalah nyawa pinjaman dari kakak Hans. Mungkin jika kak Hans tidak membunuh guru busuk itu. Aku sudah akan bunuh diri karena dilecehkan berkali-kali, tanpa dapat melawan seperti temanku yang sudah meninggal... Karena itu, aku akan mengembalikan sisa nyawa ini pada pahlawanku...


Hatinya, sudah cukup tegar, membulatkan keputusan. Bunuh diri merupakan jalan yang salah, dan di benci oleh Tuhan. Namun, jika itu cara satu-satunya menyelamatkan hidup orang pertama yang dicintainya, mengembalikan nyawa yang dianggapnya pinjamanpun akan dilakukannya.

__ADS_1


Wanita hamil itu melangkah perlahan wajahnya terlihat murung. Berjalan menuju rumahnya.


"Hyeri, kakak mengupaskan apel untukmu," Ayana memanggil adiknya.


"Aku tidak lapar..." ucapnya, memasuki kamar.


Ayah, kakak maaf...nyawa yang aku pinjam ini akan aku kembalikan. Seharusnya, saat itu aku bunuh diri karena diperkosa guru busuk. Atau mati di tangan kak Hans, tapi aku beruntung dapat melewati beberapa bulan ini penuh cinta dan keceriaan. Kenangan indah dari kakak, ayah, dan kak Hans... ucapnya dalam hati penuh syukur, terdiam dalam tangisan yang tertahan. Mulai mengambil gunting, merobek kain sprei tempat tidurnya, mengikat sedikit demi sedikit.


Kain panjang terjalin terlihat, dilemparnya ke atas mulai mengikatnya. Kakinya gemetar, menaiki kursi meja belajarnya.


"Maafkan ibu..." kata-kata terakhirnya pada anak dalam kandungannya, sebelum suara kursi terjatuh terdengar di ruangan itu.


***


Hati ayah mana yang tidak terluka, foto wajah putri keduanya yang tersenyum terlihat. Dikelilingi oleh bunga, seusai prosesi kremasi, yang akan dilanjutkan dengan penaburan abunya ke laut. Wajah ceria gadis SMU yang terlalu naif. Akhir perjalanan hidupnya, harus seperti ini.


Rumah Hyeri nampak sepi, Hans datang setelah membeli cincin dari uangnya sebagai pekerja kasar. Menekan bel, namun tidak ada yang datang.


Hingga, seorang tetangga wanita itu menyapa,"Mencari siapa!?" tanyanya.


"Hyeri..." jawabnya ragu.


Sang tetangga menghebuskan napas kasar, "Hyeri meninggal dua hari yang lalu karena bunuh diri, kemarin acara penaburan abunya. Kakak dan ayahnya langsung pindah, mungkin karena masih terguncang dengan kematiannya,"


"Begitu ya!?" Hans menyunggingkan senyuman palsunya.


***


Manekin kayu itu kembali tidak memiliki hati, berjalan menuju kuil perlahan penuh senyuman. Bunyi lonceng besar diguncangkan terdengar...


"Ternyata Hyeri benar-benar naif, Tuhan memang tidak ada. Karena itulah wanita naif sepertinya mati, dan iblis sepertiku masih hidup..." ucapnya tersenyum mengejek keberadaan-Nya. Air mata pemuda itu mengalir di pipinya tiada henti.


Hans mengeluarkan tusuk konde milik Hyeri menancapkan pada lengannya sendiri, berusaha menepis kekosongan di hatinya, dengan rasa sakit.


Darahnya menetes membasahi lantai. Hans menutup matanya, merasakan sensasi rasa sakit, fatamorgana mulai muncul, membayangkan tangan kecil Hyeri terulur memeluknya dari belakang. Hans membuka matanya, namun dirinya hanya sendiri saat ini.


"Dasar naif..." umpatnya tertawa palsu dengan air mata yang tidak dapat dikendalikannya.


***


Kembali ke 30 tahun kemudian...


"Jika Tuhan itu ada, mungkin akan menghujatku..." ucapnya kembali meminum sodanya.


"Tomy..." Tomy mengulurkan tangannya, hendak berkenalan.


"Hans..." pria itu tersenyum ramah, senyuman palsu lagi, hanya untuk meyakinkan orang lain dirinya bukanlah boneka kayu tanpa emosi dan hati. Sedikit hati yang dimilikinya telah membeku dan mengeras, bersama dengan abu kekasih kecilnya yang bertaburan di laut.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2