
Pencangkokan kornea bukanlah operasi yang besar, hanya memerlukan waktu kurang dari satu jam. Namun, harus dilakukan kurang dari 2x24 jam setelah kornea dipisahkan dari tubuh sang pendonor.
Menyakitkan? Mungkin begitulah perasaan Jeny saat ini. Kala, usai pemakaman ibunya harus segera kembali ke sanatorium melakukan operasi.
Matanya masih diperban, tidak disarankan untuk menangis. Namun hatinya terluka. Jemari tangan yang tidak begitu besar membelai pipinya, terasa seseorang duduk di samping tempat tidurnya.
Seorang anak dengan masih mengenakan stelan jas hitam, air matanya tidak keluar sedikitpun."Setidaknya, ibu dapat melihatku tumbuh menjadi lelaki yang sempurna melalui mata kakak ..." ucapnya dalam senyuman palsunya.
Tangan anak itu ditarik sang kakak, memeluknya erat,"Ibu mengambil keputusan ini karenaku. Bencilah aku!!" ucapnya dengan nada suara bergetar.
Dimas menggeleng-gelengkan kepalanya, dalam pelukan erat kakaknya,"Bukan, ibu melakukan ini karenaku juga. Aku tidak pernah mencoba mendekatinya. Aku bahkan baru mengetahui ibu menderita alzheimer,"
"Aku yang bodoh ini, baru mengetahui arti alzheimer dari internet..." ucapnya terisak, membalas pelukan kakaknya,"Kakak...aku menyayangi ibu... terimakasih kakak mau menerima mata ibu. Agar dapat melihat kita..." ucapnya lirih, merasa bersalah dan terluka.
Jeny mengangguk,"Aku akan melihat kita hidup bahagia melalui mata ibu, agar dia juga bisa tersenyum melihat kita disana..."
"Ice chocolate dengan toping meses coklat!!" Farel datang lengkap dengan appronnya, membawakan dua porsi minuman dingin.
Dimas melepaskan pelukannya, menghapus air matanya yang sudah terlanjur menetes,"Tidak bisakah kakak ipar sedikit menghayati perasaan adik dan kakak!?"
"Benar-benar tidak peka..." gumam Jeny.
"Maaf, aku bawa pergi saja..." Farel menghela napas kasar. Mulai melangkah hendak pergi.
"Tunggu!!" adik kakak itu berucap serentak.
"Ka...kami dapat menunda reuni keluarga. Tapi jika ice-nya nanti mencair..." Dimas menghentikan kata-katanya, menelan ludahnya, menahan rasa malunya. Mengingat dari pagi dirinya sama sekali tidak sarapan ataupun minum, hanya fokus pada rasa dukanya.
"Dasar, nona dan tuan muda manja sama saja..." cibirnya sembari tersenyum, menyerahkan minuman milik Dimas. Anak itu segera bangkit duduk di kursi dekat meja.
Sedangkan Farel duduk di tepi tempat tidur, mulai membantu Jeny minum, meraih sedotannya.
"Kakak ipar, kenapa kamu sering memanggil kakakku nona?" tanyanya penasaran, meletakkan gelas minumannya yang sudah habis setengah.
Farel sedikit melirik kearah Jeny. Istrinya diam, seperti enggan menjelaskan,"Aku adalah anak angkat, ayah dari kakakmu. Tapi ayah Doni tidak memperbolehkan kami mengganggap hubungan kami seperti kakak atau adik. Jadi, nona menjadikanku seperti pelayannya,"
Dimas mengenyitkan keningnya curiga,"Jadi apa almarhum ayah kakak Jeny, memperlakukan kakak ipar seperti pelayan?" tanyanya lagi.
"Tidak, hanya saja dia ingin aku menghafal yang nona sukai dan tidak sukai. Menjaganya dengan baik. Mungkin hanya itu saja..." Farel menghembuskan napas kasar, meletakkan gelas minuman milik Jeny.
Dimas menyunggingkan senyumannya,"Calon budak, maksudku calon suami, yang sudah ditetapkan!!" ucapnya tertawa kecil.
__ADS_1
Jeny mengenyitkan keningnya, tidak mengerti,"Ca... calon suami?"
"Benar, coba fikirkan baik-baik, tidak boleh mengganggap saudara. Tapi juga tidak diperlakukan seperti pelayan. Harus melindungi, mengerti dan menyukai."
"Kakak ipar sudah didoktrin dan dipengaruhi dari usia dini untuk menjadi budakmu...!! Benar-benar ayah yang licik. Mendoktrin anak di bawah umur untuk menyukai hanya satu orang wanita saja..." gumam Dimas tepat sasaran.
"Nona, bagaimana jika nanti malam aku buatkan nasi goreng udang?" tanya Farel penuh senyuman, bagaikan tidak menghiraukan kata-kata Dimas.
"Dimas, bisa keluar sebentar..." Jeny mengenyitkan keningnya. Anak itu menurut, berjalan menuju pintu.
Bruk...
Suara pintu tertutup terdengar pertanda sang anak dibawah umur, telah keluar.
Masuk akal? Benar sangat masuk akal, bagaimana bisa seorang pemuda mapan, rupawan dari kalangan menengah keatas hanya mencintai seorang wanita selama 13 tahun terakhir?
Doktrin? Mungkin itulah jawabannya, jadi apakah Farel benar-benar tulus? Itulah yang kini yang mengganjal dalam benak Jeny.
"Ren...aku..." kata-kata Jeny terhenti, bibirnya langsung disambar pemuda bercelemek itu. Bertaut penuh hasrat, menggerakkan bibirnya tanpa ampun. Membelit lidahnya perlahan.
"Berhenti..." napas Jeny terdengar tidak teratur.
Farel tertawa kecil,"Nona meragukanku?" tanyanya.
"Bodoh, tuan Doni mungkin benar menjodohkan kita. Tapi berhasil atau tidak, tergantung perasaanmu dan aku kan? Dari kecil kita tinggal bersama, makan bersama, dan saling memahami. Mirip dengan kakak adik,"
"Kenapa nona hanya menyukaiku yang dulunya hanya anak angkat miskin, pendek dan jelek, selama 13 tahun? Sedangkan pastinya banyak pria yang mendekati nona dari saat kita berpisah?" tanyanya.
"I...itu karena..." Jeny terlihat ragu.
"Kedua hati kita tidak bisa berbohong. Aku akan terluka jika nona terluka, aku selalu menunggu dan berusaha kembali pada nona, pemilik hatiku dari awal..." ucapnya tersenyum lembut.
"Dasar...aku mencintaimu..." Jeny tersenyum simpul, tangannya meraba-raba, memeluk tubuh Farel.
"Aku juga, jangan pernah bersedih lagi. Nyonya tidak akan senang, jika anaknya menangis. Aku akan merasa hancur jika nona menagis..." ucapnya, membalas pelukan Jeny.
"Ren, kapan aku bisa pulang? Aku merindukan Rafa," Jeny menghebuskan napas kasar.
"Secepatnya, tapi berjanjilah satu hal, rahasiakan kesembuhanmu," jawabnya.
"Baik..." Jeny yang masih memakai perban mengganguk, tanpa meminta alasan.
__ADS_1
***
Di tempat lain, Tomy mengenyitkan keningnya, kasus Renata menemukan jalan buntu beberapa hari terakhir ini. Terlalu banyak musuh dan tersangka, itulah sebabnya. Hanya menemukan penyebab kematian tidaklah cukup.
Jendela cafe ditatapnya menunggu kedatangan seorang pria.
"Ada apa?" tanya Hans mulai duduk.
"Aku terpojokkan, bosku mengharapkan aku menjadi terlalu sempurna..." gumam Tomy menyesap secangkir kopi yang sebelumnya dipesannya.
"Satu coffee latte..." ucapnya pada pelayan yang mendatanginya, tersenyum penuh kepalsuan.
"Bosmu? Siapa namanya? Mungkin aku dapat memberikan saran..." lanjut, Hans mengalihkan pandangannya tersenyum palsu pada Tomy.
Profil Tomy? Tentu saja dengan mudah didapatkannya. Memanfaatkan kedekatannya dengan Tomy, untuk mempengaruhi Farel dan mempermudah jalan Clarissa adalah tugas yang diberikan Lery. Setelah Hans mengetahui identitas pemuda yang tidak sengaja bertemu dengannya.
"Panggil dia bos pelit!!" ucapnya geram.
"B...bos pelit!?" Hans memastikan pendengarannya. Mengingat profil Farel yang terlihat sempurna.
"Benar, bos pelit!!" Tomy membenarkan.
Umpatan pada majikan? Hal tidak lazim, yang pernah didengarnya. Tidak pernah mengumpat atau menjelekkan Lery. Semua yang dikatakan Lery adalah kebenaran itulah yang selama ini diyakini Hans.
Tidak ingin terjerat perasaan di dunia yang munafik ini, kepergian Hyeri yang membekas, memberikan luka, sudah cukup untuknya. Tapi entah mengapa aneh rasanya menatap Tomy yang meragukan perintah majikannya.
"Coba kamu fikir, betapa menjijikkannya memakan makanan sisa orang lain. Dia terobsesi merebut makanan sisa. Apa dia waras!? Entah ibunya ngidam apa saat hamil dulu!!" Tomy penuh amarah, meminum sedikit kopinya.
"Mungkin dia hanya..." Hans berpura-pura tersenyum ramah. Tertawa canggung, namun kata-katanya disela.
"Tidak hanya itu, kaos kakinya dalam satu tahun terakhir hanya ada dua pasang. Cuci, kering, pakai, jika robek di jahitnya. Jika robekannya membesar ditambalnya. Apakah dia benar-benar orang kaya!? Jika menjadi dia, aku akan sekalian membeli pabrik kaos kaki!!" umpatnya kesal.
"Benarkah? Apa kamu membencinya? Jika iya, kenapa tidak bunuh saja dia ..." ucapan ganjil keluar tidak sengaja dari bibir Hans, sejenak kemudian pria itu tertawa,"Bercanda!! Aku hanya bercanda..."dustanya.
"Walaupun menyebalkan dia adalah sumber uangku, sekaligus panutanku..." ucap Tomy, penuh senyuman.
"Tomy, walaupun aku tidak lagi muda. Aku penasaran dengan kehidupan percintaan kalangan menengah keatas..." Hans tertawa kecil canggung, bagaikan pria dewasa yang senang bergosip.
Ingin rasanya pria itu mengikat Tomy, menyiksa dan mengintrogasinya secara langsung, kemudian menikmati kematiannya perlahan. Dari pada harus berbelit-belit berpura-pura menjadi paman bodoh yang baik hati.
"Akan aku ceritakan, budak cinta... itulah majikanku..."
__ADS_1
Bersambung