
...... Perasaan yang tulus terkadang sekuat rumput liar. Berapa kalipun di basmi, tidak pernah dirawat, bahkan terkena hujan banjir atau hidup di musim kemarau tanpa air, akan terus tumbuh dan kembali hidup. Bertahan menanti orang yang dikasihinya......
Author...
Mobil perlahan terhenti di depan sebuah gedung pencakar langit, yang merupakan salah satu anak cabang perusahaan JH Corporation, yang perusahaan induknya berbasis di Singapura. Jeny masih ketakutan, berjalan gemetar dengan maskaranya yang merembes kemana-mana akibat menangis di dalam mobil.
Tomy berjalan di depannya, menekan tombol lift untuknya, mereka sudah tidak diikuti pengawal Tomy lagi, yang berjaga di parkiran. Beberapa orang karyawan yang berpapasan dengan Tomy menunduk memberi hormat, hingga kedua orang itu memasuki lift
Jeny berdiri penuh ketegangan di dalam lift. Wanita itu, sedikit melirik ke arah Tomy yang tetap setia tersenyum.
"Tidak merapikan penampilanmu!?" tanyanya memulai pembicaraan, menatap riasan wajah Jeny yang hancur.
"Tidak!! Untuk apa merapikan penampilan di hadapan tuanmu!! Dia akan menghabisiku kan!?" ucap Jeny memberanikan dirinya membentak.
"Benar, kamu sudah sering dihabisi olehnya..." Tomy mengenyitkan keningnya, melirik beberapa bekas keunguan di leher Jeny, mungkin mengerti keganasan Farel, kemudian menghebuskan napas kasar.
Menghabisiku!? Ren!! Tolong aku tepat waktu seperti biasanya!! Iblis yang merupakan ayah kandung Rafa ingin membunuhku... Jeny kembali menunduk sembari menangis.
"Kenapa menangis!? Jangan menangis di hadapan tuanku!! Atau aku akan terkena masalah..." Tomy kembali menghebuskan napas kasar, mengulurkan tangan Jeny, memberikan permen rasa pisang untuk wanita itu, sembari tersenyum.
"Terimakasih," Jeny memakan tanpa ragu, dengan perasaan kesal, menyeka air matanya.
"Kenapa dimakan!? Aku menaruh sianida di dalamnya!!" Tomy mengenyitkan keningnya, terlihat panik.
"Sianida!? Aku akan mati, siapa yang menjaga anakku nanti..." Jeny kembali menangis meraung-raung.
Tomy tertawa memegangi perutnya,"Ternyata benar kata tuan, anda adalah monyet penyuka pisang yang manis," ucapnya, mengacak-acak rambut Jeny, gemas.
"Hentikan!!" Jeny menampik tangan Tomy kesal.
"Dasar!!" ucap Tomy masih menahan tawanya.
Lift mulai terbuka, jantung Jeny berdebar lebih cepat. Dalam bayangannya, punggung pemuda yang tidur dalam posisi tengkurap hampir satu setengah tahun yang lalu, milik iblis yang lebih kejam dibandingkan dengan Tomy. Mungkin seorang kepala gengster duduk di kursi kebesarannya, membawa senjata api laras panjang. Bersiap membunuh siapapun yang menghalangi jalannya.
Pasalnya dari punggungnya, Jeny dapat memperkirakan usia pemuda yang menghamilinya dibawah 40 mungkin di bawah 30 tahun. Model rambutnya tidak begitu rapi, namun terlihat halus, dengan punggung putih tanpa noda. Tubuhnya dari belakang yang berbalut selimut sepinggang terlihat atletis. Perawakan yang mirip dengan suaminya, tanpa disadari wanita itu.
Dengan perasaan tegang Jeny memilin tangannya ketakutan, perlahan pintu dibuka oleh Tomy.
"Tuan..." Tomy menunduk, memberi hormat.
Terlihat seorang pemuda, memakai setelan jas berbaring di sofa, dengan masker perawatan kulit berbentuk tissue melekat menutupi wajahnya.
"Nona Jeny, sudah sampai. Anda dapat bicara sekarang..." lanjut Tomy.
"Sayang, maaf hari ini ASI cadangannya di jemput kurir. Aku kelelahan..." Farel, masih setia berbaring, menatap ke arah langit-langit ruangan, tidak berniat melepaskan masker perawatan kulitnya.
Jeny mengenyitkan keningnya, merasa pernah mendengar suara seorang pria yang tengah berbaring dengan maskernya itu.
Dengan cepat Jeny berjalan mendekat,"Ren!!" bentaknya, mencabut masker perawatan kulit Farel.
__ADS_1
Jeny terdiam sejenak, memeluk Farel erat,"Kamu pasti ketakutan!! Mereka seperti iblis, berani-beraninya menculikmu juga!! Orang tidak bersalah, yang tidak tau apa-apa," ucapnya mengeluarkan air mata mengeratkan pelukannya pada Farel yang tiba-tiba terduduk di sofa.
"Menculikku!?" Farel mati-matian menahan tawanya, kemudian menghembuskan napas kasar,"Tenang, aku akan menjagamu dari mereka," dustanya, mengelus punggung Jeny, tidak melewatkan kesempatan berbuat iseng pada istrinya.
"Dasar..." Tomy mencibir dengan suara kecil.
Tenang Tomy, disini kamu hanya lampu pajangan yang tidak hidup dan tidak memiliki rasa iri, pada sahabat rangkap bos sialan ini... gumamnya dalam hati menghembuskan napas kasar.
Jeny terdiam sejenak, berpikir penuh rencana,"Kamu keluar duluan, selamatkan Rafa, jangan fikirkan aku..." ucap Jeny berbisik, menggenggam erat tangan Farel. Merasa suaminya itu juga berada dalam posisi tidak menguntungkan.
Farel merapatkan bibirnya, berusaha untuk tidak tertawa, kemudian mengangguk tanda setuju dengan rencana aneh Jeny.
"Kamu berurusan denganku!! Lepaskan Farel!!" ucap Jeny membentak pada Tomy.
Tomy mengenyitkan keningnya, menatap tuannya yang tersenyum, dengan tawa yang tertahan.
"Aku tidak bisa melepaskan Farel," ucap Tomy tegas.
"Kamu akan membunuh kami bersama!?" Jeny bertanya dengan wajah pucat pasi.
Aku penasaran seberapa besar perasaan nona padaku... gumam Farel dalam hati, yang awalnya berniatan untuk jujur. Namun, diurungkannya, karena kesalah pahaman istrinya.
Farel menghela napas kasar, menatap wajah Jeny,"Tidak, mereka memberiku pilihan, salah satu dari kita harus mati. Hiduplah dengan baik dan jaga Rafa," ucapnya dengan mata berkaca-kaca, seakan menahan tangisannya, perlahan air mata mengalir di pipinya. Terlihat bagaikan ekting yang sempurna.
"Bodoh... kali ini aku tidak akan sanggup hidup kesepian tanpamu. Tetaplah hidup untukku," Jeny mencengkram bahu Farel dengan wajah tertunduk sembari menangis terisak-isak.
"Tidak, Rafa masih membutuhkanmu..." Farel menggeleng gelengkan kepalanya, berusaha untuk tersenyum. Seakan benar-benar berada di posisi hidup dan mati.
"Ren, biar aku saja yang mati. Kamu yang harus menjaga Rafa. Tolong sayangilah dia, selayaknya aku masih ada bersama kalian..." Jeny tertunduk, kembali menyeka air matanya."Aku memilih nyawa Farel, tolong lepaskan dia," lanjutnya berusaha untuk tegar, berkorban demi orang yang dicintainya.
Tomy menatap jenuh,"Tuan, bolehkah aku membunuh istri anda!?" tanyanya pada Farel.
Farel menyeka air matanya,"Jangan, aku terlalu mencintai tingkah bodohnya..." jawabnya tersenyum tanpa dosa.
"Sayang, kamu benar-benar tidak mengingatku!? Kita tidur bersama setiap malam. Tidak adakah kemiripanku dengan ayah kandung Rafa!?," tanyanya tanpa malu mengecup bibir Jeny, hanya kecupan singkat.
Aku adalah laskar bujangan sejati. Berada di tempat yang tidak tepat sama sekali. Jauh di lubuk hatiku, aku ingin mereka berdua hilang ingatan. Agar tuanku yang pertapa sejati, hidup selamanya tanpa wanita. Tomy menghembuskan napas kasar.
"Aku pernah berkata, aku adalah pemilik JH Corporation sekaligus ayah kandung Rafa, kamu lupa!?" ucap Farel tersenyum lembut. Jeny mengenyitkan keningnya. Mengambil bantal yang berada di sofa.
"Tengik!! Menyebalkan!! Aku fikir aku akan mati!!" umpatnya memukul mukul Farel dengan bantal, sambil menangis dengan perasaan lega.
"Tuan, saya undur diri..." ucap Tomy, berlalu pergi tanpa mendapatkan jawaban.
Menatap penuh senyuman, pasangan pengantin baru yang memukul dan bergurau, perlahan menutup pintu ruangannya.
"Ren!! Berani-beraninya kamu pada nonamu!!" umpat Jeny, menarik rambut suaminya.
"Maaf, tapi malam itu aku benar-benar dalam pengaruh obat. Maaf, melakukannya tanpa ijin!!" Farel masih meringis kesakitan, rambutnya dijambak hingga beberapa helai rontok.
__ADS_1
Menjadi suami pengangguran yang tidak berguna, aku dijadikan kacung yang bahagia. Menjadi suami berkuasa, aku juga menjadi kacung, tapi kacung yang teraniaya... Farel mencengkram tangan Jeny erat.
"Aku hanya bercanda, aku bukan pemilik JH Corporation..." ucapnya menatap serius, berharap dirinya dapat lepas dari amukan Jeny.
"Jika di fikir-fikir, aroma apel aneh yang hanya kamu miliki, perawakan, model rambut yang tidak berubah, bahkan punggung yang sama. Siapa yang akan percaya!!" Jeny semakin beringas menyerang Farel.
Pemuda itu menghembuskan napas kasar tidak melawan, dengan satu gerakan mengunci tubuh Jeny di bawahnya.
"Jika aku ayah kandung Rafa, memangnya kenapa!?" ucapnya dengan nada sensual, menghapus rembesan maskara yang bercampur air mata di pipi Jeny.
"Maskaraku!?" Jeny berusaha berontak, menatap jemari tangan Farel yang menghitam, menyadari penampilannya yang mungkin mengerikan.
Farel tersenyum, tetap menahan pergerakan Jeny dibawahnya,"Aku mencintai nona, bagaimanapun penampilan nona..." ucapnya, mencium bibir Jeny dengan bringas, penuh nafsu, memasukkan lidahnya. Memberi rangsangan perlahan menggoda pergerakan bibir istrinya, saling mengecup dan dengan lidah membelit bertaut saling memilin.
Jas ditanggalkannya, dilempar ke sembarang arah, tanpa melepaskan tautan bibirnya.
"Hentikan..." nafas Jeny terengah-engah, menahan hasratnya.
"Kenapa!?" Farel mengenyitkan keningnya.
"Majikan tidak beradab, sewenang-wenang!! Ini ruangan asistenmu!!" Jeny menghembuskan napas kasar, melepaskan diri dari kungkungan tubuh Farel.
Selama aku memiliki status yang tinggi, hanya nona dan kakek yang pernah membentak serta mengajariku dengan baik... gumam Farel, melepaskan Jeny, mencium pipinya sekilas. Kemudian, menarik wanita itu dalam pangkuannya.
"Nona..." Farel menghebuskan napas kasar.
"Emmm..." ucap Jeny dalam pangkuan Farel, tangan pemuda itu melingkar memeluk perutnya.
"Selama kepergianku apa yang terjadi!?" tanyanya dengan hati-hati tidak ingin menyinggung perasaan Jeny.
Jeny menunduk, tersenyum simpul, namun air matanya menetes, mengalir melalui pipinya,"Kesepian, hidup hanya dengan sebuah buku agenda dan sebuah janji..." ucapnya tertawa kecil miris.
"Apa nona pernah mencintainya!?" tanya Farel dengan ragu, pertanyaan yang menakutkan baginya. Dapat menerka jawaban dari mulut Jeny, yang difikirnya akan sama dengan pernyataan Dea tiga tahun lalu. Jeny menikah atas dasar saling mencintai.
"Tidak, ibu menjodohkanku. Aku belum pernah dapat melupakanmu. Aku bertahan dengannya yang masih memiliki wanita lain, hanya karena janjiku padamu..." jawabnya.
Farel membulatkan matanya terkejut, memeluk Jeny lebih erat,"Maaf..." hanya satu kata yang keluar dari mulutnya.
Dirinya yang seharusnya menjaga Jeny malah menjadi orang yang membuat wanita paling dicintainya itu jatuh dalam keterpurukan. Bertahan bagaikan istri yang tidak berdaya. Tidak memiliki perasaan, namun tidak boleh berpisah. Tidak mencintai, namun harus bersikap bagaikan mencintai. Memakai topeng tajam yang menyakitkan, dalam pernikahannya sebelumnya.
"Nona, boleh memukul atau menusukku, aku tidak akan melawan..." ucapnya mendengar tangisan memilukan dari Jeny yang tiba-tiba teringat rasa traumanya.
Farel memberikan pena yang cukup tajam pada jemari tangan Jeny,"Jika nona tidak puas, aku akan meminta Tomy mengambil pisau, lukai aku, seperti janji itu melukai nona. Ini kesalahanku... maaf jangan menangis lagi..." lanjutnya mendekap tubuh Jeny dengan lebih erat.
Jeny memiringkan tubuhnya, masih dalam pangkuan Farel, menangkup pipi pemuda itu, menciumnya perlahan, bahkan mengalungkan tangannya pada leher pemuda yang bersetatus suaminya. Air matanya terhenti, seakan menenangkan diri dengan gerakan bibir yang bagaikan menjadi candu bagi mereka.
Mata mereka sama-sama terpejam,"Maaf..." ucap Farel dengan napas terengah-engah.
"Terimakasih, untuk tetap hidup, terimakasih sudah membantuku menghadirkan Rafa dalam hidupku, aku tidak menyalahkanmu..." Jeny kembali memejamkan matanya, setelah mengatur nafasnya. Melanjutkan ciuman yang bagaikan narkotika untuknya.
__ADS_1
Bersambung