Asisten Nona Muda

Asisten Nona Muda
Ingin Viral


__ADS_3

Beberapa hari sebelum kebakaran di rumah Citra...


Brak...


Kursi kayu mendarat di punggung Gabriel."Aku sudah peringatkan, apa saja yang tidak boleh kamu lakukan!!" Lery membentak kesal.


"Tidak boleh menikah, jatuh cinta, atau memiliki keturunan. Cukup menjadi adik, sekaligus paman yang baik bagi keponakanku," jawabnya, mulai kembali bangkit dari atas lantai.


"Lima tahun yang lalu kamu menikah kan!? Setiap bulannya membiayai istrimu!" Lery kembali membentak, mencengkram kemeja adiknya.


"Kakak, aku sudah berjanji tidak akan memasuki perusahaan. Akan tetap menjadi dokter, bahkan jika perlu menjadi petani bersama istriku, apakah tidak boleh?" tanyanya mengiba.


"Tidak..." jawab Lery dengan nada dingin,"Mendiang ayah mewariskan perusahaannya untukmu, karena mengetahui aku memiliki banyak bisnis ilegal (perdagangan senjata dan bandar besar narkotika). Kamu beruntung, dalam wasiatnya, jika kamu mati secara tidak wajar, semua aset ayah akan disumbangkan pada yayasan sosial. Jika tidak aku sudah membunuhmu dari dulu!!" bentak Lery pada saudara beda ibunya itu.


Lery menghebuskan napas kasar,"Ketika kamu menikah, anak akan segera lahir. Kemudian kamu akan merebut semuanya kembali demi anakmu," ucapnya menatap tajam.


"Aku berjanji!! Bahkan jika perlu, keluarga yang akan aku bangun, akan tinggal selamanya di desa," Gabriel, berlutut dengan banyak luka di tubuhnya, menarik kain celana panjang kakaknya, memohon belas kasihnya.


"Hans!!" terdengar suara memekik dari Lery memanggil tangan kanannya.


Seorang pria dengan rambut panjang terikat, dan tato bar kode di tangan kirinya masuk. Wajah Gabriel seketika pucat pasi, mengetahui keputusan kakaknya yang akan mengakhiri nyawa Citra di tangan pria berdarah dingin yang baru saja masuk.


Dan benar saja,"Bunuh istrinya...!!" ucap Lery, melirik ke arah lain.


Gabriel tertunduk membulatkan matanya, air mata mengalir di pipinya beberapa saat, kemudian menghebuskan napas kasar, berusaha tenang untuk mencari celah.


Gabriel mulai berusaha tersenyum, menatap ke arah kakak beda ibunya."Kakak meragukan kesetiaanku pada kakak kan? Jika begitu, biar aku yang mengakhiri nyawanya, agar kakak yakin aku tidak akan merebut warisan ayah dan tidak akan pernah menikah atau memiliki anak," ucapnya seakan tersenyum penuh ketulusan.


"Aku tidak mempercayai rubah licik sepertimu!! Hans!! Kamu yang menghabisi wanita murahan yang dinikahinya!!" perintah Lery.


"Aku hanya ingin menemuinya untuk terakhir kali, Hans akan ikut dan menyaksikan semuanya," Gabriel menghapus air matanya.


"Apa rencanamu!?" Lery menarik kasar rambut adiknya, menatap wajah anak kebanggaan almarhum ayahnya itu penuh kebencian.


"Tidak ada, hanya kata-kata terakhir. Aku tidak ingin dia mati di tangan Hans, biar aku saja yang melakukannya. Hanya ini permintaanku, jika kakak tidak mengijinkannya aku akan bunuh diri saat ini juga. Kalau aku mati dengan cara tidak wajar, aset ayah akan disumbangkan pada yayasan, sesuai wasiatnya," Gabriel menatap kakaknya kali ini keberanian tumbuh dalam hatinya. Bersungguh sungguh dengan kata-katanya.


Lery menghebuskan napas kasar,"Hans, antar dia!! Saksikan sendiri kematian istrinya!!" perintahnya berjalan meninggalkan ruangan.


"Baik, tuan..." Hans mengikuti langkah Lery, sedikit melirik ke arah Gabriel menyunggingkan senyuman dinginnya.


***


Gabriel merasakan sakit di sekujur tubuhnya, berjalan mendekati salah seorang pengawal kepercayaannya.


"Tuan muda..." ucap sang pengawal memberi hormat.


"Aku akan memberimu bayaran besar, tapi tolong bantu aku. Beberapa hari lagi, kakakku akan memberi perintah agar aku membunuh seseorang. Setelah menikamnya, aku akan pergi dengan Hans. Bawa orang yang aku tikam ke villa, aku akan mencari kesempatan untuk lolos dari pengawasan Hans kemudian mengobatinya," ucapnya lirih, memberikan kartu debitnya.


"Tapi..." sang pengawal nampak ragu.


"Aku mohon, orang itu adalah istriku..." ucapnya.


Sang pengawal nampak ragu, kemudian menghebuskan napas kasar,"Saya akan melaksanakannya dengan baik,"


"Terimakasih..." Gabriel mulai tersenyum, berharap rencananya untuk menyelamatkan Citra dari Hans berhasil. Berjalan perlahan menahan rasa sakit, akibat pukulan bertubi-tubi dari kakaknya. Menatap ke arah jendela besar di lorong yang dilaluinya.


Aku memang suami yang tidak berguna, hanya dapat melukaimu. Aku harap kamu dapat memaafkanku, setelah ini kita akan tinggal bersama... gumamnya dalam hati berusaha untuk tersenyum, terselip kerinduan pada wanita bisu yang telah lebih dari lima tahun tidak ditemuinya.


***


Segera setelah mobil Hans melaju meninggalkan rumah Citra, sang pengawal membawa tubuh wanita yang tidak sadarkan diri berlumuran darah. Tidak menyadari, seorang anak gemetar ketakutan di dalam lemari, menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri sang ayah yang tidak pernah ditemuinya menikam ibunya.


Mobil sang pengawal melaju dengan kecepatan tinggi, menuju villa. Tidak ingin ketahuan menyelamatkan istri majikannya.


Sedangkan di dalam mobil lain yang melaju, Hans tersenyum, menghentikan mobilnya, beberapa ratus meter dari rumah Citra.


"Ada apa!?" Gabriel berusaha tenang, mengeluarkan keringat dinginnya.


"Aku harus kembali menghilangkan jejak, kamu pergi lebih dulu saja..." ucapnya, menyerahkan kunci mobil pada Gabriel, kemudian turun dari mobil, berjalan dengan cepat.

__ADS_1


"Cici, semoga sudah dibawa keluar dari rumah..." gumamnya sembari melajukan mobilnya, menuju villa tempat yang dijanjikan, setelah kepergian Hans, yang berjalan kembali ke rumah Citra.


***


Tidak meninggalkan terlalu banyak jejak, juga tidak ingin orang mati hanya dengan satu tikaman. Itulah sifat Hans, menatap penuh senyuman rumah yang baru saja dikunjunginya. Pemuda itu mengambil tumpukan daun kering, meletakkan pada tumpukan kayu bakar yang terletak di samping rumah.


Perlahan tersenyum, menjatuhkan korek apinya. Dengan cepat api menjalar mengingat banyaknya kayu bakar kering yang di stok Citra. Harum aroma api tercium, Hans menutup matanya, membayangkan tubuh wanita yang baru saja ditikam, terbakar perlahan. Api yang menjilat, mengoyak daging wanita berparas rupawan itu, begitu indah dalam imajinasinya."Andai aku dapat melihatnya sendiri, pemandangan yang indah..." gumamnya, sembari tersenyum. Tidak menyadari, seorang anak berjalan tertatih-tatih memegangi lengannya keluar dari pintu belakang rumah.


***


Keesokan paginya, Gabriel tertidur di sofa salah satu kamar di villa miliknya. Wajahnya nampak lelah, setelah hampir sama sekali tidak tidur.


Jemari tangan Citra mulai bergerak. Wanita itu, mulai duduk dengan napas terengah-engah, matanya menyelidik tidak mengenali tempatnya terbangun.


Lendra... ucapnya dalam hati, bangkit dari tempat tidurnya. Namun, baru tiga langkah, Citra terjatuh.


Gabriel yang baru saja terbangun menghampirinya. Membantu Citra untuk bangkit,"Kamu kehilangan banyak darah, jangan memaksakan diri untuk bangkit. Maaf, aku sudah menikammu. Tapi tolong percaya, itu satu-satunya cara untuk menyelamatkanmu," ucapnya, memeluk Citra.


Citra mengenyitkan keningnya, mendorong tubuh Gabriel. Satu satunya dalam fikirannya saat ini hanya putranya. 'Kamu hanya membawakanku? Apa tidak ada seorang anak kecil?' tanyanya dengan bahasa isyarat.


"Anak kecil?" Gabriel mengenyitkan keningnya tidak mengerti.


'Putra kita, usianya sudah lima tahun. Dia bersembunyi di lemari,' Citra kembali menggerakkan tangannya penuh kecemasan.


Bahagia? Tentu itulah yang ada dalam hati Gabriel saat ini. Namun, bagaimana nasib putranya jika bertemu dengan Hans. Wajah Gabriel seketika pucat pasi.


Membimbing Citra kembali ke tempat tidur, kemudian mengelus pelan pipinya berusaha menenangkan,"Tunggulah disini, aku akan menjemputnya kemari..." ucapnya mencium kening Citra yang mulai menangis, tanpa dapat mengeluarkan suara.


Gabriel segera bangkit, berlari kecil keluar dari kamarnya. Bagaimana wajah putranya? Siapa nama putranya? Semua tidak ditanyakan olehnya, bahkan tidak terpikirkan untuk bertanya.


"Tuan..." pengawal yang membawa Citra memberi hormat."Tuan mau kemana?" lanjutnya.


"Aku harus kembali ke rumah, putraku ada disana," ucapnya mulai menyalakan mesin mobil.


Sang pengawal, mengikuti dengan mobil lainnya, ingin melindungi Gabriel. Berharap Hans tidak melihat pemuda itu kembali ke rumah Citra.


"Sial!! Ayah macam apa aku!! Bahkan kelahiran putraku pun aku tidak tau!!" umpatnya pada diri sendiri memukul stir mobil.


***


Api sudah hampir padam, kebakaran yang terjadi tengah malam dipadamkan warga desa hanya bermodalkan ember dan baskom. Hanya puing-puing bangunan yang tersisa.


Gabriel menatap dari jauh kerumunan warga, atap rumah sudah tidak terlihat lagi. Raut wajahnya pias, keluar dari mobilnya dengan langkah gontai.


"Minggir!!" ucapnya, menerobos beberapa warga desa, yang berada di sana. Bara api belum padam sepenuhnya, tangannya mengais-ngais sisa bangunan yang sudah rata dengan tanah.


"Anakku!!" panggilnya lirih sembari menangis, tidak mempedulikan bahkan tangannya yang terkena paku, dan beberapa sisa material lainnya.


"Berhenti..." salah satu tetangganya memegangi lengan pemuda yang terlihat histeris, menghentikan Gabriel yang mulai berjalan menuju tempat dimana bara api belum sepenuhnya padam, walaupun rumah itu telah rata dengan tanah.


"Aaaagghhh..." Gabriel berteriak menangis dengan kencang, berusaha melepaskan dirinya.


"Ikhlaskan Citra dan Lendra, mereka tidak sempat keluar," ucap tetangga Citra yang memang mengenal Gabriel.


Lendra? Jadi namanya Lendra? Ayah macam apa aku, bahkan nama putraku sendiri aku tidak tau... Tubuh Gabriel lemas, warga desa yang memegangnya mulai melepaskannya.


Pemuda itu menangis berlutut di atas tanah,"Lendra..." ucapnya lirih, menangisi anak tanpa kasih sayang darinya. Harus meninggal dalam kebakaran.


Rasa takut, sakit, semua terbayang di kepalanya. Mengingat kembali lemari besar di ruang tamu. Bagaimana anak, yang rupanya pun tidak diketahui olehnya, mungkin meringkuk ketakutan, merasakan panasnya bara api.


Orang-orang mulai berbisik, mengamati penampilan Gabriel, serta mobil mewah yang dikendarainya...


"Kasihan Citra sendiri dari mengandung sampai membesarkan Lendra, suaminya kelihatannya orang kaya"


"Masih kecil ditinggal ayahnya, setelah meninggal, baru ayahnya pulang..."


"Lendra sering bantu ibunya cabut rumput liar, makan tahu, dan sayur tidak pernah mengeluh. Tapi, sayang anak baik sekecil itu harus meninggal..."


"Orang baik memang cepat dipanggil Tuhan. Mungkin Tuhan kasihan lihat Citra dan Lendra yang tinggal tanpa kasih sayang dan perlindungan dari ayahnya," cibiran warga, samar-samar terdengar di telinga Gabriel.

__ADS_1


Marah? Pemuda itu tidak marah, semua cibiran yang dikatakan warga desa adalah kenyataan. Anak yang tidak pernah dilihat olehnya, namun anak itu juga menyaksikan dirinya menikam ibunya.


"Lendra, bencilah ayahmu ini dari sana..." ucapnya menunduk, dengan tangisan terhenti. Mengepalkan tangannya penuh kebencian terhadap sosok Hans dan Lery.


"Tuan?" sang pengawal yang baru sampai mengenyitkan keningnya tidak mengerti menatap Gabriel yang berlutut, sembari tertunduk.


"Zen, ingatlah ucapanku, aku tidak akan pernah diam lagi. Aku sendiri yang akan membunuh Hans. Keluarga Lery? Satupun dari mereka tidak akan aku biarkan bahagia, walaupun memerlukan waktu puluhan tahun untuk menghancurkan mereka..." ucapnya mulai berdiri, menatap ke arah kobaran api yang hanya masih sedikit menyisakan sendi bangunan yang terbakar. Bagaikan menyaksikan kepergian putra yang bahkan wajahnya tidak diketahui olehnya.


***


Kembali ke 22 tahun kemudian...


Farel menghebuskan napas kasar,"Tidak mungkin aku mengatakan pada nona. Jika ayahkulah yang membunuh ibuku sendiri. Juga kematian tuan Doni, ada hubungannya dengan orang yang dibawa ayahku ketika membunuh ibuku,"


Farel terdiam, terus mengingat tato bar code di tangan kiri Hans. Yang mungkin merupakan, orang yang sama dengan pembunuh Doni.


Farel menyunggingkan senyuman mengerikian di wajahnya, sejenak kemudian Jeny mulai keluar dari kamar mandi.


"Ren? Kamu tidak mandi?" tanyanya.


"Aku akan mandi, jika dimandikan," ucapnya penuh senyuman tulus. Wajahnya rupawannya terkena cahaya matahari yang memasuki tirai. Tubuh atletisnya yang putih mulus tanpa goresan tidak berbalut selimut dengan sempurna. Pemandangan yang indah di pagi hari, dimata wanita manapun yang melihatnya.


Jeny tertegun diam, Dimandikan? Atau mandi bersama?...aku ingin menyentuhnya. Andai saja pinggang ini tidak begitu sakit...


"Mandi saja sendiri!! Dasar mesum!!" umpat Jeny melempar handuk ke arah Farel, menepis fikirannya yang sama mesumnya.


Di tempat lain...


Tomy mengenyitkan keningnya, menatap seorang anak berusia 12 tahun menadahkan tangannya.


"Uang jajan, 100.000" ucap sang anak menadahkan tangan, setelah lengkap memakai seragam.


Tomy tersenyum, menyodorkan uang 500.000 rupiah.


Mata Dimas berbinar-binar, menunggu uang di tangan Tomy mendarat di tangannya. Dan benar saja uang itu mendarat di tangan Dimas.


"Terimakasih..." ucap Dimas penuh senyuman.


"Ini daftar belanjanya, sisanya uangnya adalah uang jajanmu," Tomy tersenyum cerah.


"Jadi tidak semuanya?" tanyanya menatap uang di tangannya.


"Benar, tapi karena kamu belanja untuku sepulang sekolah. Tentunya uang jajan akan melebihi yang Farel berikan," ucapnya, mengacak acak rambut Dimas gemas.


Dimas berfikir sejenak, uang jajan yang diberikan Farel, diluar uang transportasinya adalah 10.000 rupiah. Tapi dirinya membohongi Tomy dengan mengatakan uang jajannya 100.000 rupiah, berarti mungkin sisa dari daftar belanjaan ini sekitar 200.000 rupiah. Mungkin begitulah pertimbangannya.


"Terimakasih kakak Tomy!!" ucapnya tersenyum ceria penuh syukur.


"Terimakasih juga Dimas sayang..." Tomy menyunggingkan senyuman licinnya.


***


Namun, senyuman dari anak itu tidak terlihat lagi, di hadapan seorang kasir.


"488.900 rupiah..." ucap sang kasir menadahkan tangan.


Dengan tangan gemetar, Dimas menyerahkan uang yang diberikan Tomy.


"Ini kembaliannya..." sang kasir, menyodorkan uang 11.100 rupiah.


Tangan Dimas gemetaran menerima uang kembalian yang disodorkan sang kasir."Lebih 1.100 dari yang diberikan kakak ipar pelitku!?"


"Antek-antek Jepang br*ngsek!! Ini bukan zaman penjajahan lagi!! Indonesia sudah merdeka!!" umpatnya dengan nada tinggi meraih tas belanjaan yang cukup besar.


"Suatu saat nanti, aku akan mengalahkan perusahaan kakak ipar dan memproklamasikan kemerdekaanku!!" teriaknya keluar dari pintu minimarket.


Sang kasir menggeleng gelengkan kepalanya mengamati Dimas,"Anak-anak zaman sekarang, alay semua, tujuannya biar viral..." ucapnya sembari kembali membaca koran.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2