
Hempasan angin menerpa wajah seorang pria paruh baya yang baru saja turun dari mobilnya. Senyuman menyinggung di wajahnya yang sudah tidak berusia muda lagi. Berjalan dengan langkah cepat memasuki sebuah villa.
Pintu mulai dibuka oleh dua orang penjaga, seorang pelayan pria memakai pakaian formal mengantarnya menuju sebuah ruangan dengan pintu yang besar. Pintu segera dibuka, terlihat seorang wanita dengan keadaan menyedihkan duduk di lantai. Sedangkan pemuda yang cukup kejam dalam dunia bisnis, diam berlutut di hadapan seorang kakek tua.
"Tuan Taka, selamat datang... Maaf, aku tidak sempat menghubungimu duluan," Tirta terlihat tersenyum menghampiri kakek tua yang berwajah dingin itu.
"Paman, tolong aku!! Katakan aku tidak bersalah, aku mohon...Ini pasti perbuatan Jeny!! Dia meminta ayah dari anaknya untuk balas dendam..." Renata nampak panik dengan mata yang sembab, rambut acak-acakan, masih menangis terisak, merangkak ke arah Tirta, memegang erat kakinya.
Takut? Tentu saja, sosok Tomy sudah sangat mengerikian baginya. Apalagi sosok seorang kakek tua yang di hormati Tomy, jemari tangannya nampak gemetaran di hadapan orang tua berkharisma itu.
Tirta menatap tajam,"Enyah!!" ucapnya sambil menghempaskan tangan Renata yang memegang ujung celana panjangnya.
Renata membulatkan matanya, untuk pertama kalinya melihat Tirta, sosok ayah yang baik, dan jarang bicara dengannya itu. Menatap bagaikan dapat membunuhnya dengan mudah.
Tirta kembali tersenyum,"Terimakasih sudah mengundang saya..." ucapnya pada Taka.
"Tomy, beri perintah pada pengawal untuk mengurus wanita ini. Kemudian segeralah kembali..." perintahnya pada Tomy.
Mengurusnya? Bagaimana caranya mengurus noda membandel sepertinya? Haruskah aku memakai sun light atau mama lemon... Tomy menghebuskan napas kasar, mulai bangkit. Jika dengan meminum afrosidac dan tubuhnya dinikmati beberapa pengawal Renata tidak jera. Hukuman apa lagi yang dapat membuatnya jera? Itulah yang membuat Tomy bingung.
"Baik tuan..." ucapnya dengan terpaksa. Bersamaan dengan dua pengawal yang kembali menyeret Renata.
"Lepas!! Aku mohon!! Paman Tirta, ini semua perbuatan Jeny!! Tolong aku!!" tuduhnya menjerit melimpahkan kesalahan pada orang lain.
Langkah Tomy berhenti di ambang pintu, menutup pintu perlahan, menatap wajah Renata yang menyebalkan baginya. Bagaimanapun noda membandel ini sudah pernah dicuci bersih olehnya, tapi tetap saja menempel dan merusak pemandangan.
"Tuan?" Salah seorang pengawal bertanya pada Tomy yang masih belum memberi perintah.
"Jual pada mucikari!! Tidak, bunuh saja potong-potong mayatnya..." dua pengawal mulai menyeret. Sedangkan wajah Renata nampak pias pucat ketakutan.
Tomy memegangi pelipisnya kembali berpikir,"Tunggu sebentar, membunuh terlalu sadis, itu dilarang semua agama. Cukup lukai seluruh tubuhnya, siram dengan cuka atau air garam, lakukan berulang-ulang hingga dia pingsan..." ucap Tomy penuh senyuman tanpa dosa.
Renata membulatkan matanya terkejut, menatap iblis di hadapannya. Mungkin, dirinya sudah kehabisan tenaga, pasrah diseret dua orang pengawal.
Bersamaan dengan diseretnya Renata, sesosok pemuda rupawan berjalan di koridor. Beberapa pengawal yang berpapasan dengannya menunduk memberi hormat.
Tampan, berkharisma, dari pakaiannya nampak kalangan menengah keatas. Mirip foto seorang pemuda yang ditujukan Daniel.
Mata Renata menatap sosok itu lekat, hingga berpapasan dengannya.
__ADS_1
"Tunggu sebentar..." Farel berucap, menghentikan dua pengawal yang menyeret Renata.
Farel mendekat, berdiri di hadapannya, memegang dagu Renata memperhatikan wajahnya. Kemudian tersenyum, berlalu pergi, kembali berjalan ke arah Tomy.
Renata yang kembali diseret menyunggingkan senyuman di wajahnya,"Jika Jeny menikah dengan kakek tua, maka aku mungkin akan memanggilnya nenek nanti." gumamnya dengan suara kecil, menyangka Farel tertarik padanya.
Hingga saat ini Renata masih mengira pemilik JH Corporation sekaligus ayah Rafa adalah Taka. Sedangkan Farel adalah calon cucu Jeny, jika Jeny menikah dengan Taka nantinya.
***
"Tissue basah!!" Farel menadahkan tangannya pada Tomy.
"Sudah tau tidak suka, masih saja sok menyentuh. Dasar tebar pesona..." cibir Tomy dengan suara kecil, mengeluarkan tissue basahnya.
"Bukan tebar pesona!! Aku hanya penasaran. Ternyata mata Daniel benar-benar buta, bisa tidur dengan wanita make up tebal pecandu operasi plastik, menjijikkan sepertinya," Farel tersenyum simpul, sembari mengelap jemari tangannya.
"Nonaku yang cantik alami, kharismanya yang kuat, hatinya yang baik, kecerdasannya yang luar biasa..." Farel menghebuskan napas kasar,"Benar-benar anugrah Tuhan yang sempurna, tapi di sia-siakan olehnya..." lanjutnya.
"Eveline? Lulusan Harvard university, berprofesi sebagai model, membawakan anda makanan buatannya setiap hari. Tapi anda berkata 'Tidak' dengan tegas padanya, sambil membanting pintu kantor..." Tomy mengenyitkan keningnya.
"Jeny lebih sempurna darinya," sanggah Farel.
"Mereka kurang sesuatu, sesuatu yang hanya dimiliki nonaku..." Farel berbisik.
"Apa?" Tomy tertarik, memasang pendengarannya baik-baik, ingin mengetahui apa yang membuat tuannya mencintai seseorang wanita selama 13 tahun lebih, seperti orang gila.
"Perintahnya yang selalu tegas, agar aku melayaninya..." Farel menyunggingkan senyumnya, sembari memasuki ruangan.
"Dasar pelayan!!" cibir Tomy.
***
Pintu terbuka dimasuki orang pemuda, berjalan mendekati Tirta dan Taka yang tengah duduk berhadapan.
"Kakek..." ucapnya menunduk memberi hormat, kemudian duduk di samping Taka, dengan Tomy berdiri di belakangnya.
"Lama tidak bertemu..." Tirta tersenyum, bersamaan dengan pelayan masuk menghidangkan minuman hangat.
"Benar, lama tidak bertemu," ucap Farel penuh senyuman.
__ADS_1
Kelihatan ramah dan akan saling membunuh. Aku sebenarnya penasaran, siapa orang tua kandung tuan Farel. Apa jangan-jangan Tirta? Lihat!! Wajah, karekter, bahkan cara mereka saling membenci sama... Tomy menipiskan bibir menahan tawanya.
"Farel apa yang terjadi hari ini, sebaiknya kamu yang menjelaskan langsung padanya..." Taka menghebuskan napas kasar. Walaupun, belum merestui Jeny, tapi bermain-main dengan nyawa seseorang? Tentu Taka tidak akan membiarkan hal ini berlalu begitu saja, apalagi Jeny masih bersetatus cucu menantunya saat ini.
"Renata tidak akan berhenti mengganggu Jeny, kecuali Daniel kembali bersamanya..." Farel tersenyum, duduk menyilangkan kakinya.
"Tidak ada hubungannya dengan itu, beberapa bulan ini Renata sudah bertunangan dengan orang lain. Jadi, jangan mencoba menyudutkan Daniel," Tirta membalas senyuman Farel, meraih cangkir tehnya.
"Tirta, nyawa manusia bukan sebuah mainan. Daniel memprovokasi wanita tadi untuk membunuh Jeny, mantan menantumu," Taka menghebuskan napas kasar.
"Maaf, mungkin ini salah paham. Aku akan menanyakannya langsung pada Daniel..." ucapnya menunduk pada Taka.
"Suami yang tidak becus, menganiaya istrinya, berselingkuh, bahkan menjual istrinya," Farel tersenyum mencibir.
"Diam!! Kamu sendiri sampai sekarang masih memiliki nama sebagai pria yang merebut istri orang lain," Taka menatap tajam.
"Maaf!!" ucap Farel dengan cepat.
"Tirta, aku tipikal orang yang bertindak bersih. Tapi jika menyangkut nyawa orang lain, aku tidak akan tinggal diam!! Jika hal seperti ini terjadi lagi, aku akan merestui Farel merebut menantumu, membebaskannya melakukan apapun termasuk cara kotor. Bahkan aku akan turun tangan sendiri melakukan hal kotor untuk menjaga reputasi Farel..." Taka menghebuskan napas kasar.
"Baik!! Saya tidak akan membiarkan ini terjadi lagi!!" ucap Tirta tegas.
Sedangkan Farel dan Tomy mulai tersenyum. Mendengar kata-kata Taka, orang yang mereka takuti sehingga walau memiliki kekuasaan, tidak leluasa menggunakannya. Dibebaskan melakukan cara kotor? Itulah yang mereka inginkan.
"Pergilah!!" Taka kembali menghebuskan napas kasar.
Tirta mulai bangkit,"Saya pamit, saya pastikan hal seperti ini tidak akan terjadi lagi..." ucapnya menunduk memberi hormat.
"Ren, jangan terlalu sombong. Apapun alasannya memiliki anak saat Jeny bersetatus istri Daniel adalah hal salah..." Tirta berucap penuh senyuman, pada Farel.
Farel membalas senyumannya,"Paman jangan terlalu sombong, satu langkah salah yang paman lakukan. Maka aku akan menang dengan mudah," ucapnya.
"Perebut istri orang," Tirta mencibir.
"Mertua tidak becus," Farel ikut mencibir.
Terlihat senyuman melapisi rona permusuhan, dua orang pria beda usia, yang sama-sama memiliki satu kesempatan.
Tuanku harus benar-benar melakukan tes DNA. Mereka benar-benar mirip, seperti ayah dan anak yang sedang bertengkar... Tomy masih menahan tawanya, dengan pemikiran gilanya.
__ADS_1
Bersambung