Asisten Nona Muda

Asisten Nona Muda
Seharusnya Mempercayaimu


__ADS_3

Seutas senyuman seakan sulit terlihat di bibirnya. Tidak ada yang dapat dilakukannya, suaminya celaka karena lebih mementingkan melindungi istrinya dari pada dirinya sendiri.


Wanita itu bangkit perlahan dari tempat tidur, putranya mulai dimandikannya. Putra kecilnya yang tampan,"Kamu mirip dengan ayahmu..." ucapnya air matanya kembali mengalir. Namun, jemari tangan kecil itu meraih pipinya seakan menyeka air mata ibunya.


"Rafa, karenaku, papamu entah dimana sekarang..." ucapnya tertunduk, menatap iba pada putra kecilnya.


Bau baby powder tercium lembut, memakaikan pakaian terbaik untuk Rafa. Putra kecilnya kini terlihat lebih tampan lagi.


Mini dress hitam dikenakannya, memakai make-up tipis, wajah pucat dengan mata sembabnya tidak terlihat lagi.


'Nona, aku ingin memakanmu...' fatamorgana suaminya terlihat dari pantulan cermin. Berada di belakangnya, memeluknya penuh senyuman.


"Ren, bodoh..." umpatnya mengenakan kalung dan gelang kaki. Perlahan Jeny menonggakkan kepalanya, setelah gelang kakinya terpasang sempurna.


'Jangan pernah lari dariku...' fatamorgana Farel kembali terlihat tersenyum padanya, seolah usai memakaikan gelang kaki padanya.


Jeny menitikkan air matanya, memukul-mukul dadanya yang terasa sesak.


"Bagaimana aku bisa melarikan diri darimu...?"


***


Tidak seorang pun yang ada di rumah kecuali baby sitter dan beberapa pelayan. Beberapa pengawal, terlihat panik entah mendapatkan intrupsi apa. Ayana dan Taka, mereka sedari pagi sudah tidak ada dirumah.


Suap demi suap makanan dimasukkannya ke dalam mulut. Tidak sedikitpun ekspresi terlihat di wajahnya.


Jeny menghela nafas kasar, meraih putranya yang tengah bermain dengan baby sitter.


"Nona...?" Indra seakan bertanya, menatap wanita itu membawa satu tas perlengkapan bayi.


"Aku ingin pergi sebentar..." jawabnya.


"Maaf, sebaiknya anda tinggal di rumah, terlalu berbahaya bepergian, tugas saya menjaga..." kata-kata Indra disela.


"Kamu boleh ikut..." ucapnya tanpa menoleh, melangkah keluar menuju mobil sembari menggendong putranya.


***


Tidak ada yang dapat dilakukannya, hanya wanita tidak berdaya yang tidak memiliki kekuasaan. Tidak terlihat sedikitpun ekspresi sedih atau senang di wajahnya yang memangku putranya, sembari menatap ke arah jendela.


Indra sedikit melirik dari kaca spion bagian dalam mobil. Merahasiakan? Semua orang menyembunyikan kenyataan jika Farel menghilang, tidak ingin menciptakan kegaduhan yang merugikan perusahaan. Tentang Jeny, Taka hanya ingin cucu menantunya tidak terpuruk, apalagi wanita itu baru saja sembuh.


Beberapa jam perjalanan, mobil terparkir di area pemakaman. Jeny melangkah mendorong kereta bayinya, meninggalkan Indra yang menunggu di dalam mobil, mengawasi dari jauh.


Dua buket bunga Lily putih diletakkannya pada makam yang terlihat berdampingan. Jemarinya mengelus pelan makam ibunya, duduk di tanah diantara makam kedua orang tuanya.


"Ibu..." panggilnya lirih.


"Awalnya, aku tidak mengerti kenapa ibu membuat keputusan bodoh. Apa ibu merindukannya? Apa dia menjaga ibu dengan baik seperti saat kalian masih hidup?" tanyanya, tanpa menunggu jawaban.


"Ren...dia sama bodohnya dengan ayah..." Jeny mulai terisak, air matanya mengalir tidak terkendali.

__ADS_1


"Ibu, dia terlalu mencintaiku. Hingga aku bergantung dan tidak bisa melakukan apapun tanpanya. Orang bodoh itu, tersenyum walaupun aku memarahinya, bersedia menungguku untuk kembali mencintainya..." tangisan Jeny, semakin terisak, menggengam tanah makam Dea, bagaikan menggenggam jemari ibunya yang sudah tidak ada.


"Sama bodohnya dengan ayah, mungkin karena itulah ibu menyerah untuk menemukan cinta yang lebih sempurna dari rasa cinta ayah. Mungkin karena itulah ibu memilih menemui ayah, meninggalkanku dan Dimas..."


"Ibu, hari ini aku membawa putraku kemari. Aku tau dulu ibu ingin aku membuangnya dan memilih Daniel. Apa ibu sudah mulai menyukainya? Melihat Rafa kecil melalui mataku?"


"Ibu sudah merestuiku dengan Ren, ayah juga menyukai Ren dari awal, membawanya dalam kehidupanku. Karena itu, jika kalian sudah menemui Tuhan, bantu aku mengatakan pada-Nya untuk menyelamatkan ayah dari putraku, menantu yang sudah kalian restui..." ucapnya terisak.


Tidak ada jawaban? Memang tidak ada sama sekali. Jeny hanya ingin menyembuhkan luka di hatinya dalam ketidak berdayaannya.


Mungkin inilah perasaan sakit dalam hati yang dipendam ibunya selama belasan tahun. Mencari kesenangan di luar sana mencari kehangatan yang bisa dianggapnya menyerupai rasa kasih Doni, namun tidak pernah bahagia. Karena merindukan orang bodoh yang terlalu mencintainya.


***


Tomy menghela napas kasar, fokusnya sekarang adalah menyelidiki kemana Farel dibawa.


Pemuda itu mengenyitkan keningnya, setelah melihat rekaman CCTV berulang-ulang kali. Pakaian pelayan dikenakannya seolah dirinya adalah Hans.


Lorong sepi dimasukinya, entah dengan cara apa bos pelitnya dilumpuhkan. Jika meninggalkan jejak darah seharusnya akan lebih mudah. Dua buah semprotan luminol dibawanya, menyemprot di area sekitar lorong, berharap menemukan reaksi.


Dan benar saja, ada sedikit reaksi. Tomy menghela napas kasar menemukan TKP, tapi pertanyaannya bagaimana cara membawa tubuh seorang pria dewasa dengan cepat. Tanpa mendapatkan kecurigaan dari orang-orang.


Tomy mengambil sebuah pot di lorong, menganggap itu tubuh korban, menyeretnya dengan cepat. Namun, tetap saja, tidak ada tempat untuk menyembunyikannya.


Sekitar lorong tidak ada benda lain, matanya tetap menelisik. Hingga terlihat tempat sampah di taman dekat lorong.


Pemuda itu, berlari dengan cepat, membuat rekonstruksi lain. Kemudian segera kembali ke ruangan keamanan, memeriksa kamera CCTV. Seorang pelayan, memang terlihat menarik tempat sampah keluar area hotel, sesaat kemudian kembali masuk kedalam hotel, mengembalikan tempat sampah itu ke tempatnya. Dengan terburu-buru kembali meninggalkan hotel.


***


Angin dingin terasa menusuk, perutnya yang lapar tidak dipedulikannya. Saat ini dalam hatinya hanya ada bos pelitnya yang mungkin sudah menghadap yang Maha Kuasa atau mungkin tengah tersiksa dengan tubuh di buat cacat, mungkin wajah yang rusak.


Matanya berkaca-kaca menahan tangisan kepanikan. Satu persatu gedung apartemen dimasukinya. Meminta data penghuni merupakan hal yang sulit untuknya. Hanya satu harapannya, mencari melalui mobil yang terparkir.


Ada sekitar dua tower apartemen di dekat hotel milik JH Corporation. Gedung parkir dijelajahinya. Hingga sampai di gedung parkir tower apartemen ke dua yang dimasukinya.


Satu persatu plat mobil diamatinya. Mencocokkan dengan plat mobil pria yang tadi pagi menemuinya di taman. Hingga terlihat plat nomor yang serupa dengan milik Hans.


Tomy mulai merogoh sakunya menghubungi ahli IT JH Corporation, setidaknya walaupun tidak sebanding dengan kemampuan Farel. Mencari data penghuni apartemen yang tercatat tentu tidak akan sulit.


Satu jam berlalu, sebuah pesan masuk ke handphonenya, 'Atas nama Hans, unit 317 D,'


"Dapat..." secercah harapan ada dalam raut wajah pemuda itu. Aksi penyelamatan yang membabi buta? Itulah yang dilakukan seekor ulat parasit.


Apartemen dengan lampu yang menyala, Tomy memutuskan masuk melalui ruangan tempat pembersih yang ada di sebelahnya. Mengatur strategi, menyebrang melalui jendela.


Angin berhembus menyapu wajahnya, Tomy membulatkan matanya menatap tinggi tempatnya akan merayap melalui jendela tempat alat pembersih, menuju beranda tempat apartemen yang disewa Hans.


"Ini hanya setinggi pucuk daun teh, ini hanya setinggi pucuk daun teh..." ucap ulat parasit itu, mulai berpegangan pada celah dinding dan memijak Exhaust Fan, (kipas sirkulasi udara pada ruangan tertutup).


Jemari tangannya gemetaran menatap arah bawah, namun demi rasa persahabatan bagaikan saudara pada bos pelitnya semuanya ditahannya.

__ADS_1


Hingga akhirnya sampai di balkon apartemen milik Hans, yang langsung berhadapan dengan kamar pria itu.


Tomy menghembuskan napas kasar. Dalam kesiagaan, pemuda itu memasuki kamar Hans melalui balon. Kamar yang kosong terlihat, pemuda itu meraih sebuah stik golf sebagai senjatanya.


Brak...


Suara gaduh terdengar dari luar kamar, Tomy segera berlari dengan cepat dalam kepanikan berharap dapat menemukan Farel. Berjaga membawa stik golfnya, yang siap berayun, sebagai senjata satu-satunya.


Mendobrak pintu kamar Hans yang terkunci dari luar. Bersiap mengayunkan stik golfnya.


Namun, tongkat tipis dari besi itu tertahan,"Kamu sedang apa?" Gabriel mengenyitkan keningnya, membantu menata meja makan.


"Se... sedang menyelamatkan Farel," ucapnya menelan ludahnya, mencium bau hidangan yang mengalun menggoda perutnya yang tidak makan seharian.


Terlihat berbagai macam hidangan disajikan bos pelitnya. Wajah tersenyum, memakai appron, dengan balutan perban di lengannya.


"Bodoh..." Hans menghembuskan napas kasar, menatap Tomy, mulai memakan makanan khas Jepang di hadapannya.


Tomy terduduk lemas di lantai, otaknya tidak dapat mencerna dengan sempurna hal yang terjadi... Aku siapa? Aku dimana? Kenapa mereka tidak berkelahi...


"Kakek sebentar lagi akan sampai, makanlah dulu..." Farel tersenyum hangat.


"Kenapa kamu masih hidup!?" Tomy membentak sembari menunjuk-nunjuk.


"Kamu ingin aku mati!?" tanyanya mengenyitkan keningnya.


***


Siang hari saat Farel masih diikat dalam mobil...


Gabriel membawa beberapa orang kepercayaannya. Menemui Hans di pantai yang mereka janjikan.


Pria itu tetap menatap ke arah laut, memejamkan matanya, walau menyadari kedatangan Gabriel.


"Apa yang kamu inginkan!?" Gabriel menghebuskan napas kasar berusaha bersabar.


"Tidak ada, ternyata kamu sudah membangun kekuatan kecil untuk membunuhku dan Lery," senyuman terukir di wajah Hans, sebuah senyuman palsu.


"Aku akan membunuhmu di sini, agar tidak sempat mengatakan apapun pada Lery!!" bentak Gabriel menahan amarahnya.


"Aku menghubungimu karena sudah mempercayai kata-katamu. Di dalam mobil ada cucu angkat dari Taka, kamu dapat menggunakannya sebagai alat untuk meminta bantuan pada kakek tua itu ..."


Hans mulai tertawa kecil mengerikan,"Majikan bodoh itu (Lery) meminta menukar nyawaku dengan kekasihku? Tiga hari yang lalu dia mabuk dan mengatakan segalanya..." air matanya menetes.


"Seharusnya, aku mempercayaimu dan berhenti menjadi *njing penurut..." lanjutnya.


Sejenak tawa Hans terhenti, air matanya masih mengalir, menatap ke arah Gabriel,"Kamu boleh membunuhku, tapi setelah aku membunuh Lery..."


Bersambung


...... Adakah cinta yang tulus itu? Aku masih meragukannya, karena cinta kasih dibuat oleh Tuhan yang masih aku ragunan keberadaan-Nya. Tidak ada yang pernah aku berikan padamu. Tangan dinginmu yang menungguku di bawah derasnya hujan salju, tidak sempat dapat aku hangatkan, Maaf......

__ADS_1


Hans...


__ADS_2