Asisten Nona Muda

Asisten Nona Muda
Bonus Chapter 7


__ADS_3

Yogie menghela napasnya mulai memberanikan diri turun dari mobil. Rumah Fahri? Bukan, warga desa mengatakan jika saat siang hari rumah anak kepala desa itu akan kosong.


Tempat penggilingan padi, yang berdampingan dengan gudang menjadi tempat tujuannya.


Yogie mulai turun dari mobil, menghela napas kasar, tersenyum menatap seorang wanita cantik duduk di atas sebuah kursi. Menuliskan sesuatu pada buku berukuran besar, seperti buku pembekuan.


Sejenak ketika dirinya akan melangkah pemandangan menjemukan terlihat. Kinara bangkit, menunjukkan buku besarnya pada seorang pemuda. Pemuda yang terlihat tersenyum memujinya, Kinara mulai berjinjit mencium pipi suaminya di hadapan pegawai tempat penggilingan padi.


Beberapa orang bersorak, menertawakan pasangan pengantin baru itu.


Fahri? Pemuda yang seharusnya bagaikan figuran di dalam cerita sinetron atau novel? Tidak begitu kaya, tidak begitu rupawan, bukan ayah kandung Ega. Namun dirinyalah yang akhirnya mendapatkan hati Kinara. Pemuda yang dengan sabar menanti cinta yang lama tidak terbalaskan.


Namun, apa hanya kebahagiaan sementara? Yogie mulai berjalan mendekat, tersenyum tanpa beban, menekan semua emosinya.


"Kinara..." ucapnya.


Pasangan suami istri itu tertegun. Fahri menggenggam erat jemari tangan istrinya. Mengetahui benar siapa yang ada di hadapan mereka.


Hingga dirinya menyadari sesuatu, Kinara mengenyitkan keningnya. Menatap pemuda yang baru turun dari mobil tanpa berkedip. Tatapan yang tidak dimengertinya.


Apa kamu masih merindukan dan mengharapkannya? Apa semuanya akan kembali seperti dulu, saat hanya ada dia di hatimu... kata-kata yang tertahan di mulutnya.


Fahri melepaskan genggaman tangannya, mulai kembali menatap pegawainya di tempat penggilingan padi. Seolah tidak mengetahui, mengingat, atau tidak peduli pada pemuda yang baru datang.


Menahan semua dalam dirinya, mengetahui hal yang akan terjadi.


"Kinara, aku ingin kita bicara sebentar saja," ucapnya.


"Maaf tuan saya tidak mengenal anda. Mungkin anda salah orang, saya sedang sibuk," Kinara tersenyum sopan, menunduk seolah-olah tidak saling mengenal, hendak berlalu.


"Tunggu, beberapa minggu yang lalu, kamu menemuiku. Tidak mungkin kamu melupakannya," Yogie menarik tangan Kinara, menghentikan gerakannya.


Kinara melirik ke arah Fahri yang memunggunginya, tidak ingin pemuda itu mengetahui pertemuannya dengan Yogie di kota.


Fahri hanya bertemu sekali dengannya ketika SMU, dia tidak mungkin ingat pada Yogie. Mungkin begitulah pertimbangan Kinara melihat sikap suaminya yang kembali bekerja seperti biasanya.


Tidak ingin Fahri mengetahui lebih banyak, atau terluka? Mungkin itulah yang membuat Kinara mengambil keputusan,"Baik, tapi hanya bicara sebentar..." ucapnya.

__ADS_1


Perlahan Kinara berjalan mendekati suaminya, "Sayang, ada seorang teman lama yang ingin bicara denganku. Boleh aku pergi sebentar saja?" tanyanya.


Fahri tetap memunggunginya sembari mengganguk memberikan ijin. Tidak bicara sepatah katapun.


Kaku dan jarang bicara? Memang begitu bukan sifat Fahri? Namun, kali ini ada perasaan aneh menatap punggung suaminya, yang berdiri kokoh, tidak bicara satu patah katapun.


Tapi, Kinara harus meluruskan segalanya, mungkin agar Fahri tidak mengetahui hubungan sebenarnya dengan Yogie. Tidak ingin menyakiti suaminya lagi.


"Kita bicara di tempat lain," ucap Kinara, berjalan berlalu meninggalkan tempat penggilingan padi, memasuki sebuah mobil mewah berharga fantastis.


***


"Kinara aku..." kata-katanya dalam mobil yang melaju terpotong.


"Aku memaafkanmu, jangan kemari lagi," Kinara menghela napas kasar. Dirinya bisa hidup tanpa kemewahan, tapi tanpa orang tua atau Fahri yang menjaganya? Sesuatu yang sulit, tidak ada orang yang dapat diandalkan dan dipercayainya.


Mulai mencintai suaminya? Mungkin benar, dengan ketidak beradaan pria kaku itu dalam hidupnya selama dua minggu. Tidak ada lagi tempatnya bergantung, orang bodoh yang membenarkan semua kesalahannya? Itulah sosok Fahri.


"Kinara, maaf..." ucapnya tersenyum tulus,"Aku sebentar lagi akan bercerai. Bukan karena dirimu, tapi karena hubungan yang kami jalani memang tidak sehat dari awal. Aku menyadari kesalahanku 7 tahun yang lalu, jadi..." kata-katanya disela.


Kinara menghela napas kasar, mungkin merahasiakan keberadaan Ega, bagaikan menyembunyikan api dalam sekam. Permintaan maaf? Itu sudah didapatkannya.


***


Yogie mengenyitkan keningnya, tidak mengerti dengan tujuan mereka mendatangi tempat tersebut. Hingga sebuah villa terlihat, Kinara mengetuknya tanpa ragu.


"Kinara?" seorang wanita paruh baya membukakan pintu. Terlihat mainan berserakan di dalam sana. Hingga, anak kecil berparas rupawan berlari menyambut ibunya.


"Ibu..." ucapnya memeluk Kinara,"Ayah dimana? Aku ingin bermain game dengan ayah,"


Tidak mirip? Benar, tidak mirip sama sekali dengan sosok pemuda yang berdiri di tempat penggilingan padi. Kulit putih bersih, dengan alis yang tegas, umurnya mungkin sekitar 5 atau 6 tahun.


Jemari tangan Yogie gemetar, sudah dapat menduga-duga.


"Ega, paman ini teman ibu, cepat berikan salam..." Kinara yang perlahan sudah mulai dekat dengan putranya.


"Namaku Ega," ucap sang anak mengulurkan tangan penuh keangkuhan.

__ADS_1


"Yogie..." jantung pemuda itu berdegup cepat, kala menyentuh jemari tangan kecil di hadapannya.


"Kinara apa?" Yogie tertegun, sejenak ingin menanyakan kebenaran anggapannya.


"Ega, sebaiknya kerjakan tugas menggambarmu. Ibu berjanji, jika hasilnya bagus, nanti malam ibu akan datang bersama ayah..." ucapnya pada Ega


"Janji," Ega tersenyum tulus, sudah mulai menyayangi Fahri sebagai sosok ayahnya. Satu-satunya ayah yang menjaganya. Anak itu berlari dengan semangat menuju kamarnya.


Kinara, kembali menghela napas kasar,"Ibu, ini Yogie, pria yang dulu menghamiliku. Ayah kandung Ega," ucapnya.


Air mata Sumi mengalir dalam kemarahannya, menatap pemuda yang tertegun diam."Pergi!!" teriaknya histeris.


"Ibu, dia hanya ingin meminta maaf. Setelah itu kembali ke kota, biarkan dia minta maaf pada Ega," Kinara mengungkapkan alasannya membawa Yogie kemari.


Meminta maaf? Memang alasan utamanya, namun menatap wajah putra yang dulu hanya menjadi angan-angannya? Rumah besarnya mungkin akan lebih terasa indah dan hidup kala, Kinara dan putra mereka tinggal dengannya.


Mungkin saat ini, berpura-pura hanya memiliki tujuan meminta maaf lebih baik. "Aku ingin bicara dan bermain dengan Ega sebelum aku kembali ke kota. Apa boleh?" tanyanya. Dijawab dengan anggukan oleh Kirana. Menginginkan Yogie segera pergi.


***


Seorang pemuda menghentikan laju mobil pickup nya yang dipenuhi muatan di sebuah jembatan gantung. Angin menerpa kulitnya, menatap matahari yang mulai tenggelam. Seseorang mulai dihubunginya.


"Bi, apa Kinara sudah pulang?" tanyanya.


"Belum den..." jawab ART rumahnya dari seberang sana.


"Makasih bik..." ucapnya mematikan panggilannya.


Air mata mengalir membasahi pipinya, tidak dapat ditahannya lagi. Mengakui kekalahannya lagi. Semua hal yang terjadi saat SMU masih diingatnya. Termasuk, senyuman di wajah wanita yang dicintainya, kala meninggalkannya dengan seorang pemuda rupawan di tengah hujan. Menggunakan payung pemberiannya.


Atau saat berkali-kali membohongi Kemal, hanya untuk menyenangkan Kinara. Memberinya kesempatan untuk bersama pemuda yang dicintainya. Bahkan menyaksikan sendiri? Wajah tersenyum dari pasangan kekasih itu, menikmati sepinya area tempat penyimpanan sekolah.


Menyakitkan bukan, kebahagiaan ternyata semu, sesuatu yang hanya datang sementara...


Air sungai berwarna keemasan ditatapnya, terkena pantulan cahaya matahari sore. Angin dingin bertiup menerpa wajahnya, mengeringkan sedikit air matanya.


*Aku p*ria tidak sempurna bukan? Perlu waktu bertahun-tahun bagiku untuk meluluhkan hatinya. Namun, pria sempurna sepertimu hanya perlu diam menunggu, dia akan menyusul dan mencarimu. Bahkan jika kamu mencampakkannya, kamu hanya perlu menggenggam jemari tangannya, maka dia akan kembali padamu...

__ADS_1


"Aku tidak bisa menahan rasa sakit ini lagi..." ucapnya lirih. Terisak, menatap keindahan jembatan gantung dengan arus sungai yang deras dibawanya.


__ADS_2