
πΈπΈπΈππππ Tujuanku crazy up di tengah malam menjelang pagi adalah...aku membenci konflik πππ€§ππ setelah Flash back, besok akan kembali ke inti cerita πΈπΈππππ Happy reading, jangan di skip πΈπΈπππππ
Tangan Jony gemetaran tidak tahu harus bahagia atau bagaimana. Membalas pelukan Ana erat.
"Ada pasien mati otak, aku senang. Aku sangat jahat, senang di atas duka orang lain..." ucapnya menangis dalam senyuman.
Jony melepaskan pelukannya, menghapus air mata istrinya,"Tidak kamu tidak jahat, kamu orang yang baik..." ucapnya.
"Terimakasih, empat hari lagi jadwal operasinya. Pihak rumah sakit sedang mencari donor untuk organ lain. Pasien mati otak itu, meninggalkan wasiat untuk mendonorkan organ tubuhnya. Benar-benar malaikat yang hidup di dunia ini," pujinya.
Aku akan menunggu operasinya berakhir. Setelah itu, menjelaskan pada Ana, dia orang yang baik. Tidak akan masalah baginya membesarkan anak yang berasal dari kesalahanku... cara satu-satunya untuk tidak menikah dengan Dea...
***
Malam mulai menjelang, seakan tidak puas dengan hal memalukan yang dilakukannya saat pagi hari. Malam ini Jony tetap menemui Dea, bergulat dengannya mencari pelampiasan yang tidak akan didapatkannya dari Ana.
Hingga pukul satu dini hari, Jony menatap langit-langit kamar. Termenung dengan Dea masih memeluknya tanpa busana.
"Ini malam terakhir kita, istriku mendapatkan donor jantung. Tenang saja setelah kelahiran anakmu aku dan Ana akan merawatnya..." ucapnya seakan ingin mengakhiri segalanya.
"Kamu puas dengan istrimu!?" tanya Dea, membuat keraguan pada diri Jony,"Jika kamu puas dengan tubuh istrimu, malam ini kamu tidak akan kemari dan tetap menemaninya,"
"Aku hanya..." kata-kata Jony terpotong.
"Fikirkanlah dengan baik, kamu dapat hidup tanpanya atau tanpaku. Aku bukanlah orang ketiga, karena orang yang tidak dicintai adalah orang ketiga," ucapnya, membalikkan fakta.
"Aku sudah katakan, hanya ada Ana di hatiku," Jony bangkit dari tempat tidur memakai kembali pakaiannya. Meninggalkan Dea seorang diri.
"Dia akan kembali," gumam Dea penuh senyuman, menatap pintu apartemen yang sudah tertutup.
Mobil hitam melaju membelah jalanan perkotaan yang lengang,"Aku mencintai Ana," ucapnya meyakinkan dirinya sendiri.
Namun, terkadang mata dapat membutakan hati, mengaburkan isi perasaan yang sebenarnya hanya dengan kecantikan fisik. Perlahan pintu rumah dibukanya. Terlihat Ana yang tengah tertidur di atas sofa, menunggu kedatangan Jony. Wanita itu, terbangun membuka matanya.
Tubuhnya terlihat kurus, wajahnya pucat, tersenyum lemah padanya,"Kamu sudah pulang!?" tanyanya.
"Iya..." jawab Jony tertegun, bahkan dirinya saat ini tidak berselera mencium istrinya. Apakah itu yang dinamakan cinta. Atau hanya rasa kasihan? Mungkin begitulah cara salahnya membandingkan perasaannya saat ini.
Dengan jemari tangannya yang lemah, Ana berusaha bangkit, berjalan menuju dapur,"Mandilah dengan air hangat, ini sudah terlalu larut. Aku akan menghangatkan makanan," ucapnya dengan bibirnya yang putih kering.
"Tidak perlu," Jony menghebuskan napas kasar, menarik jemari tangan Ana hendak menciumnya dengan agresif. Namun, tidak sedikitpun balasan dari bibir Ana yang dapat membuatnya puas.
Jony terdiam, menghentikan aktivitasnya.
"Maaf..." Ana berucap berusaha untuk tersenyum,"Aku bukalah istri yang baik, aku akan tetap berusaha untukmu," lanjutnya mengamati raut wajah Jony, pria yang dicintainya lebih dari sembilan tahun, mengetahui kekecewaan di guratan wajah pemuda itu. Kemudian kembali berlalu hendak berjalan menuju dapur, penuh rasa bersalah.
"Ana, bagaimana jika aku menikah lagi!?" akhirnya satu kalimat itu tercetus dari bibirnya, kalimat yang mungkin akan disesalinya.
"Kamu mencintainya, lebih dariku!?" tanya wanita itu tanpa menoleh.
"Iya," jawab Jony yakin dengan pembuktian gilanya.
"Menikahlah..." Ana menjawab, berjalan kembali menuju dapur.
"Ana terimakasih, tidak merasa keberatan jika aku mempunyai dua istri. Maaf..." ucapnya menatap punggung istrinya yang lemah berjalan perlahan menuju dapur.
Sepiring makanan dimasukkannya dalam microwave, mulai berjongkok, duduk lemas, menyenderkan punggungnya di kaki meja. Menutup mulutnya dengan tangan, agar isak tangisannya tidak terdengar.
__ADS_1
Tidak apa-apa, mungkin dia jenuh denganku karena bertahun-tahun menjadi wanita yang tidak berguna. Jony orang yang baik, dia pantas mendapatkan yang terbaik...
***
Pagi mulai menjelang, dering suara telepon rumah terdengar. Ana yang tengah mempersiapkan sarapan mengangkat teleponnya.
'Maaf, dengan nona Ana!? Kami dari rumah sakit Mitra Sejahtera,'
"Iya saya Ana," jawabnya.
'Begini, sebelumnya kami memohon maaf, keluarga pasien awalnya mengijinkan untuk melakukan donor jantung. Tapi, keputusan keluarga berubah tiba-tiba, semua organ di donorkan kecuali jantung...' ucap seseorang dari seberang sana.
Ana tertegun menahan tangisnya, menatap ke arah lantai dua tepatnya kamar suaminya.
'Mohon bersabar dan menunggu, kami akan mengabari jika menemukan donor baru...'
"Terimakasih..." ucapnya tersenyum pahit, menutup telfonnya sepihak.
Mungkin ini jalan yang terbaik, yang dikirimkan Tuhan untukku. Aku tidak akan marah dengan keputusanmu, karena memang selamanya aku tidak dapat membahagiakanmu... gumamnya dalam hati, menyeka air matanya.
***
Siang mulai menjelang, hari itu memang hari minggu. Riasan yang cantik, menutupi wajah pucatnya, riasan yang belum pernah dikenakannya.
"Sayang!! Bangun!! Jika tidak aku akan mengambil air dan menyirammu!!" teriaknya dengan suara cempreng, membangunkan Jony.
"Berisik!!" Jony menutup wajahnya dengan bantal.
"Bangun!!" Ana tertawa kecil, tawa yang jarang keluar dari mulutnya.
"Berkencan..." ucapnya bagaikan gadis remaja, bertahun-tahun pacaran hingga menikah. Ana memang tidak pernah menuntut apapun, bahkan berkencan, sekalipun tidak pernah. Mengetahui keadaan mereka yang dulu serba kekurangan.
"Berkencan!?" Jony tertawa kecil, menarik rambut istrinya.
"Sakit!!" Ana membentak.
"Sakit!? Berarti ini bukan mimpi, kamu puber kedua ya!?" tanyanya tertawa kecil.
"Anggap saja seperti itu," Ana ikut tertawa terlihat bahagia, kebahagiaan yang hanya akan berada sementara, bagaikan kehangatan korek api yang akan mati tertiup angin.
***
"Kamu mau!?" tanyanya menyodorkan ice cream.
"Kamu tidak boleh makan ice cream, tidak baik untuk..." kata-kata protektif keluar dari mulut Jony, dihentikan oleh jemari Ana.
"Stttt...aku akan segera sembuh, dan tidak perlu merasakan sakit lagi," ucapnya tertawa kecil, sembari terus memakan ice creamnya.
"Iya, kamu akan menjalani operasi dan segera sembuh," ucap Jony mengacak-acak rambut Ana.
"Saat aku sembuh dan tidak merasa sakit lagi, menikahlah dengan orang yang kamu cintai. Aku tidak apa-apa.." Ana penuh senyuman tulus.
"Kamu terlalu baik," Jony menghebuskan napas kasar, masih menganggap orang yang dicintainya adalah Dea.
Satu persatu, permainan di taman hiburan dicobanya dan Ana. Keduanya tidak pernah tau yang namanya berkencan ala anak muda sama sekali. Masa muda di habiskan mereka dengan hanya berkerja sambil kuliah.
Aku sudah cukup bahagia... ucap Ana dalam hatinya, menatap tersenyum dengan tulus. Mengamati Jony yang mengambilkan boneka dalam sebuah permainan untuknya, menahan rasa sakit bagaikan diremas di dada kirinya.
__ADS_1
"Ini untukmu," ucap Jony penuh senyuman, menunjukkan sebuah boneka tokoh animasi berbentuk kotak.
"Kenapa Spongebob!? Aku ingin Teddy bear," Ana tertunduk bagaikan kecewa.
"Aku akan berusaha mendapatkan Teddy bear untukmu..." Jony kembali melanjutkan permainannya, dengan wajah yang tersenyum cerah.
***
Hari yang membahagiakan berlalu, tidak ada pelukan atau ciuman, namun Jony merasa hidupnya seakan lengkap dengan kebahagiaan.
Mobil mereka mogok, Jony memesan taksi yang kini tengah mengantar mereka pulang. Wajah tenang Ana terlihat, cantik, namun tubuhnya sedikit kurus, rambutnya lurus panjang, dengan poni menyamping. Kepalanya mulai menyender di bahu Jony.
"Dasar Ana..." gumamnya dengan suara kecil, tidak ingin membangunkan wanita yang tertidur nyenyak itu.
***
Esoknya, hari keberangkatan menuju rumah sakit tiba untuk keperluan pemeriksaan menyeluruh sebelum operasi. Dengan berbagai alasan Ana tidak ingin operasinya ditemani oleh Jony. Dua buah koper berada di depan rumah, wanita itu tetap menggunakan riasan tipis dengan kontur. Agar, wajah pucat dan mata sembabnya tidak terlihat.
"Masa penyembuhan mungkin memerlukan waktu beberapa bulan, aku akan tinggal selama itu di sanatorium di luar kota, tempat yang lebih tenang dan udara yang bersih. Menikahlah saat aku pergi. Aku mengijinkanmu..." ucapnya penuh senyuman.
"Maaf..." Jony tertunduk.
Ana menggeleng gelengkan kepalanya,"Tidak apa-apa, aku sudah menjadi beban bagimu bertahun-tahun. Ini hanya hal kecil. Sampai jumpa, dan jangan nakal!! menikahlah....!!" ucapnya tertawa kecil, menarik kopernya menaiki taksi.
***
Kecantikan fisik bukan segalanya, itulah hal yang tidak disadari Jony. Dengan penuh senyuman, dirinya menghubungi Ana sebelum acara pernikahannya.
"Apa operasinya berjalan lancar!?" tanyanya sembari menatap penampilannya di cermin.
"Iya, aku sebentar lagi akan pulang ke rumah yang mungkin lebih besar..." ucapnya dari seberang sana.
"Tentu saja, aku membelikan rumah yang lebih besar untuk kita, jika kamu kenal Dea mungkin kamu akan menyukainya," Jony tertawa kecil.
"Terimakasih sudah membuatku bahagia..." ucap Ana tulus,"Aku mencintai..." kata-katanya terpotong, Jony menyelanya.
"Maaf, nanti aku telfon lagi acaranya akan dimulai..." ucap pemuda itu menutup telfon sepihak.
Dalam Greja yang sepi di tengah pedesaan, Ana tersenyum. Meletakkan handphonenya, tubuhnya semakin kurus saja beberapa minggu ini. Wanita itu lebih memilih pulang ke kampung halamannya. Berdoa dalam senyumannya.
Jika mengambilku adalah pilihan-Mu, aku tidak akan marah atau mengeluh karena aku telah tidak memiliki beban lagi...Aku bersyukur atas hidup yang aku jalani, bersyukur atas suami yang Engkau sempat hadirkan untukku. Aku percaya, Engkau akan menyiapkan rumah yang lebih besar dan indah untukku di dekat-Mu...
Seorang suster(biarawati) tiba-tiba menepuk bahunya, setelah doanya usai,"Ana!?" tanyanya.
"Iya, aku Ana," ucapnya pada suster yang terlihat sudah tua renta itu.
"Suster, aku mempunyai banyak uang ..." ucapnya memberikan cek yang seharusnya digunakan untuk operasi dan masa penyembuhannya,"Tolong berikan pada anak-anak panti. Dan jika terjadi sesuatu padaku, setiap minggu, kirimkan pesan. 'Aku akan segera pulang' pada nomer ini," ucapnya.
"Tapi..." sang suster terlihat ragu.
"Hanya jika terjadi sesuatu padaku!! Suster menyumpahiku mati!?" ucapnya menatap sinis kemudian tertawa kecil.
"Ada-ada saja..." sang suster menghebuskan napas kasar menatap mantan anak asuhnya di panti.
"Jika ada yang mencariku... katakan, aku memberkati pernikahannya..." wanita itu tersenyum tulus, menatap ke arah wanita yang dulu membesarkannya.
Bersambung
__ADS_1