Asisten Nona Muda

Asisten Nona Muda
Terjerat Ilusi


__ADS_3

Udara dingin ditepis oleh sinar matahari yang mulai memasuki celah-celah tirai. Seorang pemuda menggeliat tanpa memakai sehelai benangpun, hanya bertutupkan selimut putih tebal. Tubuhnya, mengeratkan pelukannya, pada tubuh polos seorang wanita.


Perlahan matanya terbuka,"Selamat pagi sayang..." ucapnya mencium bibir wanita yang tengah terlelap.


"Pagi kepalamu!!" sang wanita memukulnya dengan bantal, kesal.


***


Pukul 11 malam, di dalam kamar 301...


"Kamu terlihat seperti nonaku," ucapnya, membelai pipi Renata.


"Nona siapa?" Renata berbisik dengan suara sensual.


"Seseorang yang terlihat cantik alami. Sayangnya hidungmu, bibirmu, bahkan dagumu, semua hasil pahatan (operasi plastik)," ucapnya, meraba hidung, bibir dan dagu Renata, memberikan nuansa geli. Menambah gairah wanita itu, untuk merayu pemuda yang memangkunya.


"Tapi tetap cantik kan...?" bisiknya.


"Cantik, membuatku menginginkanmu," Farel berucap dengan nada berat.


Renata mendekatkan bibirnya, hendak mencium bibir pemuda yang nampak menggoda setiap wanita itu.


"Sabar dulu, aku harus pergi ke kamar mandi, badanku gerah," Farel tersenyum, menghentikan bibir Renata. Renata mulai bangkit dari pangkuan Farel, membiarkan pemuda yang berjalan terhuyung itu ke kamar mandi.


"Benar-benar sempurna...," ucapnya menatap punggung pemuda yang berjalan bagaikan hampir tidak sadarkan diri.


Renata, menanggalkan pakaiannya, menggantinya dengan drees tipis, setipis kain tissue.


Beberapa saat berlalu, lampu hotel tiba-tiba padam, terdengar suara pintu terbuka. Perlahan Renata bangkit, berjalan ditengah kegelapan, merasakan tubuh seorang pemuda, yang disambutnya dengan pelukan. Bibirnya menelusuri lekuk leher sang pemuda.


Sang pemuda seperti merespon, menjatuhkan tubuh Renata di tempat tidur.


Sejenak kemudian, dirinya merasa lemas, tubuhnya di baringkan perlahan, dalam kondisi tidak sadarkan diri.


"Wanita tidak punya otak!! Pembuat masalah!! Jika bukan kamu satu-satunya penyelesaian masalah kami, aku akan menjualmu pada mucikari..." cibirnya kesal, mulai membuang jarum suntik yang berisikan obat bius.


"Sudah?" Farel keluar dari kamar mandi, penuh senyuman.


"Sudah, kamera dan alat perekamnya juga sudah. Dia menjilat leherku, apa mungkin aku harus vaksin rabies?" Tomy menghembuskan napas kasar, membersihkan lehernya dengan tissue basah.


Farel tertawa dengan kencang, memegangi perutnya. Sedang, Tomy mulai memutar hasil rekaman di handycam yang disembunyikannya.


"Anda berbakat menjadi Casanova..." ucapnya membulatkan mata, menatap rekaman rayuan Farel yang bagaikan seperti pemain cinta profesional.


"Jika Jeny melihat ini, dia akan mengurungku selama-lamanya," Farel, mendekati Tomy menatap tingkah menjijikkannya dalam rekaman.


"Omong-ngomong, aku menemukan bungkus kosong afrosidac di tempat sampah. Bagaimana tuan bisa baik-baik saja?" tanyanya penasaran.


"Aku pura-pura minum, lalu selang beberapa menit, menjatuhkan gelasnya seolah olah setegah sadar," jelasnya sembari tersenyum.


Hingga terdengar suara ketukan pintu penuh kemarahan dari luar mengejutkan kedua pemuda itu,"Renata br*ngsek!!" umpat seorang wanita, kesal dari luar kamar.


Diluar kamar, terlihat anak di bawah umur tersenyum, menatap angkara murka kakaknya. Setelah mengetahui kemana tujuan Farel dari Ayana, ketika menitipkan Rafa hendak mencari keberadaan suaminya.


"Itu suara istri anda kan? Bagaimana ini?" Tomy terlihat panik.


Farel menyunggingkan senyuman di bibirnya,"Tenanglah, papah aku keluar, seolah-olah aku meminum afrosidac seperti dulu...", jawabnya.


Dasar licik, memanfaatkan kesempatan berbulan madu di hotel. Aku yakin ini akal bulusnya dari awal, mencari cara agar istrinya pergi ke hotel... Tomy menatap jenuh pada majikannya, kemudian mulai berekting memapahnya.


"Tuan, anda sangat mesum, dimana tuanku yang awam dari godaan duniawi?" tanyanya kesal, sebelum membuka pintu.


"Tuanmu yang bagaikan pertapa sudah lenyap, karena kehilangan keperjakaannya..." Farel menjawab penuh senyuman.

__ADS_1


Aku perjaka, dan aku bangga. Hidup merenungi nasib, tidak dapat merasakan sesuatu yang disebut orang-orang sebagai surga dunia. Surga dunia? Apa jika melakukannya, roh akan keluar dan terbang menuju surga? Itu sama juga dengan mati... Tomy berdidik ngeri, dengan fikiran awamnya.


Suara ketukan pintu semakin keras, hati Jeny saat ini benar-benar cemas, apalagi menemukan kamar tersebut disewa oleh Renata. Renata dan Farel saling tidak mengenal, itulah yang diketahuinya. Mungkin Farel yang dianggapnya sebagai pria lugu, pengusaha muda sukses, akan tidak berdaya menghadapi Renata dengan berbagai ekting dan triknya.


Suaminya akan digoda habis-habisan, tubuhnya akan digrogoti. Wajah Jeny pucat pasi, membayangkan hal buruk yang akan terjadi pada suami polosnya.


Pintu mulai terbuka, terlihat Tomy memapah tuannya."Panas..." racau Farel menahan tawanya.


Panas apanya? AC di lorong tidak rusak tuan. Otak mesum anda lah yang rusak... Tomy menghembuskan napas kasar.


"Dia kenapa?" Jeny terlihat cemas.


"Sama seperti dulu saat pertama kali berhubungan dengan anda..." jawabnya ambigu.


"Farel diminumkan obat lagi?" Jeny mengenyitkan keningnya.


"Benar, aku sudah menyewa kamar lain, mohon tolong tuan Farel. Bagaimanapun anda istrinya," Tomy berusaha tersenyum.


Tolong tuanku yang menyebalkan ini. Memamerkan keluarga bahagianya di hadapan perjaka jomblo... umpatnya dalam hati.


"Obat apa?" Dimas menyela,"Jika salah minum obat, bawa ke dokter saja..."


"Aku akan menghubungi resepsionis, untuk membawa kunci kamar lain. Ini tuan Farel, aku serahkan padamu..." ucap Tomy, menyerahkan Farel dalam papahan Jeny.


Farel diam-diam tersenyum, sambil menunduk, menahan tawanya.


"Anak kecil, ayo pulang bersamaku..." Tomy menarik tangan Dimas.


"Tapi...obat apa?" tanyanya penuh rasa ingin tahu.


"Obat gila yang akan membuatmu terbang ke surga..." jawab Tomy, masih menarik Dimas pergi.


"Terbang ke surga? Apa kakak ipar akan meninggal?" tanyanya penuh kecemasan, mengikuti langkah Tomy.


Tomy menghembuskan napas kasar,"Mungkin dia akan mati dengan tenang dalam kebahagiaan..." jawabnya.


"Aku tidak ingin tau dan tidak akan bertanya lagi, asalkan..." Dimas menadahkan tangannya, dalam perjalanan mereka menuju lift.


Tomy merogoh sakunya, mengambil sebungkus coklat snikers,"Ini untukmu, sumpal mulutmu dengan coklat saja..." ucapnya, bersamaan dengan pintu lift yang tertutup.


"Kenapa sama saja dengan kakak ipar!?" tanyanya membentak kesal.


"Kami membeli barang diskon, beli dua gratis satu," jawab Tomy penuh senyuman.


"Satu lagi!?" Dimas mengenyitkan keningnya, baru menerima masing-masing satu coklat, dari Farel dan Tomy.


"Kami berbagi makan satu berdua, dalam perjalanan kemari," jawabnya.


Perusahaan raksasa bisa berjaya karena dua orang pelit. Bukan karena seorang CEO kaya yang makan di restauran elite dengan harga satu porsi makanannya ratusan juta. Aku harus meniru mereka.... gumam Dimas dalam hatinya, memakan sebungkus coklat snikers yang diberikan Tomy.


Sedangkan, Jeny dengan gelisah menunggu resepsionis, yang dipanggil Tomy dan Dimas untuk menyerahkan kunci kamar lain. Bibir Farel tidak dapat dikondisikan lagi, mencium pipinya, bahkan menyesap telinganya. Menimbulkan rasa geli, membangkitkan hasrat aneh tidak tertahankan.


Nona, sampai kapan anda bertahan, dengan wajah memerah... gumam Farel dalam hatinya, mati matian menahan tawanya.


"Sabarlah...tahan sebentar lagi..." Jeny terlihat panik,"Resepsionis sialan!!" umpatnya, menunggu di lorong hotel, sesekali mendorong kening Farel yang tidak henti-hentinya menggodanya.


Hingga, seorang wanita datang membawakan kunci kamar, dengan gantungan kunci bertuliskan 305.


"Terimakasih..." ucapnya, mulai memapah Farel yang berekting setengah sadar.


"Sama-sama, maaf apa anda menjerat pria mabuk?" tanyanya penasaran.


Farel menipiskan bibir, menahan tawanya. Ingin rasanya saat ini pemuda itu tertawa lepas. Tapi, apa gunanya tertawa lepas jika tidak mendapatkan keinginannya, meniduri Jeny tanpa gangguan dari putranya dan Dimas.

__ADS_1


"Aku tidak menjeratnya!! Dia yang menjeratku!!" jawabnya, sembari membanting pintu di kamar yang memang ada di lorong tersebut.


***


"Sayang..." racau Farel, memeluk tubuh Jeny, menautkan bibirnya tanpa aba-aba. Membimbing Jeny menuju tempat tidur.


Bruk...


Tubuh Jeny terjatuh, ditindihnya menatap wajah itu penuh hasrat. Perlahan kembali, mendekatkan bibirnya, tangannya menyusup ke dalam kemeja yang dipakai Jeny.


Wanita itu sudah terbuai, hingga suara handphone terdengar. Jeny segera mengangkatnya, tanpa melihat nama penelphone masih dalam jamahan tangan nakal suaminya.


"Daniel? Maaf aku sedang sibuk..." ucapnya menahan lenguhannya, tengah menikmati tangan dan bibir suaminya yang tengah berusaha menjamahnya.


Farel tiba-tiba menghentikan kegiatannya, yang sudah berhasil membuka setengah dari jumlah kancing kemeja yang dipakai Jeny. Rasa cemburunya tidak terima mendengar nama Daniel, merebut phonecell Jeny.


"Mantan suami apa kabar?" ucapnya kesal, mulai duduk di tepi tempat tidur.


"Perebut istri orang apa kabar?" terdengar suara Daniel dari seberang sana.


"Jangan pernah menghubungi Jeny lagi..." ucapnya hendak mengakhiri pembicaraan.


"Bersiaplah, untuk segera bercerai," Daniel membalas kata-katanya.


"Dalam mimpimu!!" Farel membentak, mematikan panggilannya.


Tidak menyadari kemarahan seorang wanita yang sudah kembali memakai kancing kemejanya.


"Kamu menipuku!? Afrosidac apanya?" Omelan Jeny terdengar nyaring memenuhi ruangan. Mengetahui dari prilaku suaminya saat mengangkat telphone. Farel terlihat dalam keadaan sadar sepenuhnya.


Farel tertawa kecil canggung,"Maaf nona..." ucapnya tunduk, menatap wajah Jeny yang nampak kesal.


"Sudahlah, aku akan pulang ke rumah ibu (Ayana) menjemput Rafa!!" bentaknya mulai turun dari tempat tidurnya.


Farel memeluknya dari belakang, berbisik pada Jeny,"Tomy mengatakan aku memiliki kemampuan bagaikan Casanova? Karena satu satunya pengalamanku dengan nona, berarti nonalah yang mengajariku. Guruku yang cantik, ujilah aku untuk menjadi Casanova khusus untukmu..."


"I... itu kamu yang belajar sendiri!! Kenapa jadi aku?" Jeny membentak gelagapan, merasakan geli di area lehernya. Yang terus menerus, terkena napas berat suaminya. Jantungnya berdegup lebih cepat.


Sulit menahan? Tentu saja, sulit menahan diri di hadapan pria yang dicintainya, wajah rupawan, tubuh yang atletis, pelukan yang terasa dapat melindunginya. Ditambah suara sensual yang berbisik di telinganya.


"Tapi aku hanya ingin dan pernah melakukannya dengan nona..." ucapnya mulai mengecup pipi Jeny, perlahan turun ke area leher.


"Aku ingin pulang!!" wanita itu, menggigit bawah bibirnya, menahan hasratnya.


"Benarkah? Nona bisa melawan atau menolakku dengan mudah..." Farel, tersenyum dengan lembut merebahkan Jeny ke tempat tidur.


Aku ingin, tapi egoku tidak ingin... Sial, Ren tengik aku sedang marah padanya!! Kenapa jadi mengikuti keinginannya... Jeny tidak melawan, malah mulai menjambak pelan rambut Farel yang sudah berhasil menanggalkan kemeja dan pakaian dalam bagian atasnya.


Pemuda yang tiada hentinya memainkan bibir disana, melepaskan satu persatu pakaian di tubuhnya dan istrinya.


"Ren..." satu kata yang keluar dari mulut wanita itu, saat Farel memulai pemainan panas yang memabukkan.


***


Pagi hari di kamar 301 yang disewa Renata...


Seluruh pakaiannya di buka pegawai hotel yang dibayar Tomy, hanya untuk menyakinkan wanita itu, jika rencana berhasil. Meninggalkan sebuah catatan, bertuliskan.'Terimakasih, untuk malam yang indah, kita akan bertemu lagi, datanglah...'


Serta sebuah undangan pembukaan cabang perusahaan JH Corporation, terdapat di bawah catatan. Tidak lupa sarapan pagi yang memang dipesankan oleh Tomy, sebagai rasa terimakasihnya, sudah memberikan solusi untuk mereka.


Renata yang terbangun dalam keadaan tanpa busana hanya berlapis selimut tebal tersenyum, menatap catatan yang dibacanya.


"Sial!! Kenapa aku bisa tidur nyenyak saat disentuh olehnya!!" ucapnya dengan wajah merah merona, mengira dirinya tertidur saat melewati malam panas dengan Farel. Pria kaya, rupawan, yang bahkan bersikap manis dengan memesankannya sarapan.

__ADS_1


"Aku akan rela memanggil Jeny nenek jika berhasil menikah dengan Farel, cucu pemilik JH Corporation," gumamnya, membayangkan hidup sebagai sosialita, arisan berlian, liburan ke luar negeri. Dengan suami rupawan, serta perhatian.


Bersambung


__ADS_2