Asisten Nona Muda

Asisten Nona Muda
Makanan Kesukaan


__ADS_3

Tetesan embun membasahi dedaunan, jalanan terlihat masih basah akibat hujan yang sering turun beberapa hari ini. Dinginnya pagi terasa menyengat di kulit, tubuh tanpa busananya kembali dirapatkan dalam selimut yang tebal, memeluk istrinya erat.


Jeny perlahan membuka matanya, menatap wajah Farel yang tengah tertidur, membalas pelukannya dengan lebih erat lagi.


"Nona, jangan banyak bergerak..." ucapnya dengan mata masih terpejam.


"Kenapa?" Jeny mengenyitkan keningnya.


Farel mulai membuka matanya, sembari tersenyum,"Biasanya Rafa 30 menit lagi akan bangun. Aku tidak ingin ketahuan olehnya sedang memangsa ibunya,"


"Mesum!!" ucap Jeny kesal.


"Memang, anak kita ada karena perbuatan mesum kita kan!?"Farel tersenyum simpul,"Omong-ngomong, aku ingin membawa kalian menemui seseorang..." lanjutnya.


"Siapa!?" Jeny menonggakkan kepalanya, menatap wajah Farel.


"Keluargaku, aku pernah mengatakan jika aku diadopsi..." jawabnya, penuh senyuman.


"Bagaimana keluargamu!?" tanya Jeny terlihat antusias.


"Ayahku, nona sudah pernah bertemu dengannya. Orang yang mengantarmu ke altar..." ucap Farel dibalas dengan anggukan oleh Jeny.


"Ibuku kamu juga mengenalnya, untuk ibuku akan menjadi kejutan. Terakhir kakekku, dia orang yang paling menyayangiku, tapi juga orang yang paling keras dan disiplin. Dia mengutamakan etika, dalam fikirannya yang salah adalah salah, yang benar adalah benar apapun alasannya..."lanjutnya menghebuskan napas kasar, kemudian menatap Jeny penuh senyuman.


"Apa mereka akan menyukaiku?" Jeny tertunduk ragu.


"Ketika aku kecil, aku tipikal orang yang berwatak kaku dapat menyukaimu, kenapa mereka tidak," Farel tersenyum lembut."Mandilah!! Rafa sudah hampir waktunya bangun," ucapnya.


"Baik..." Jeny bangkit, membungkus dirinya dengan selimut berjalan dengan cepat ke kamar mandi.


"Nona!! Kenapa selimutnya dibawa!?" Farel mengenyitkan keningnya.


"Aku malu..." jawabnya.


"Nona tidak memakai pakaian merasa malu, tapi melihat pria tanpa busana di tempat tidur tidak malu," cibirnya.


Jeny menoleh, menatap tubuh suaminya di atas tempat tidur, kemudian memalingkan wajahnya yang bersemu merah.


Sangat seksi...aku bisa mimisan... gumamnya dalam hati.


Dengan cepat memasuki kamar mandi, melempar kembali selimut melalui celah pintu yang sedikit dibukanya.


"Itu selimutnya!! Tubuhmu tidak begitu bagus untuk dilihat!!" teriak Jeny dari dalam kamar mandi.


Farel menghembuskan napas kasar, tersenyum simpul,"Tidak bagus? Tapi masih digerogoti juga," gumamnya.

__ADS_1


Terlihat tubuh Farel memiliki banyak bekas cakaran dan tanda aneh keunguan, siapa lagi pelakunya selain penjahat yang melarikan diri ke kamar mandi.


Pemuda itu, bangkit dari tempat tidur meraih piamanya yang teronggok di lantai berbentuk bagaikan kimono,"Rafa sayang, hari ini kita akan menemui kakek buyutmu. Jadilah anak yang baik, buat kakek buyutmu yang kaku itu menyukai ibumu..." ucap Farel menatap putranya yang masih tertidur pulas.


***


Matahari semakin meninggi, keluarga kecil itu tengah berada di dalam mobil. Senyuman terlihat di wajah Farel dan Jeny, hingga sebuah kediaman terlihat.


Kediaman besar yang luasnya lebih dari satu hektar bagaikan kastil seperti milik konglomerat? Tentu saja tidak, hanya rumah modern minimalis yang luas. Perlahan mobil berhenti di depan rumah yang terbilang cukup mewah itu, walaupun tidak sebesar kediaman Jony. Pasalnya, rumah tersebut memang di beli Ayana hanya untuk tempat tinggal singgah. Dugaannya, saat belum bertemu Jeny, wanita yang telah ditiduri putranya itu akan dibawa dengan mudah ke Singapura.


"Jeny...!!" teriakannya terdengar nyaring, menyambut mereka di teras rumahnya.


"Ibu Ayana?" Jeny yang baru keluar dari mobil mengenyitkan keningnya.


"Rafa sayang..." ucap Ayana meraih Rafa yang berada di gendongan Jeny.


"Kenapa ibu..." kata-kata Jeny terhenti, Farel memotongnya.


"Dia ini ibu mertuamu," Farel tertawa kecil.


"Tapi?" Jeny mengenyitkan keningnya tidak mengerti.


"Sudah, Ayo kita masuk bicara di dalam," ucap Ayana menyela, memimpin jalan memasuki rumah sembari menggendong cucunya.


Mata Jeny menelisik, rumah yang nampak simpel dan modern, mulai duduk di sofa, disuguhi minuman oleh beberapa pelayan.


"Kakek, perkenalkan ini putraku Rafa kecil dan istriku Jeny," Farel tersenyum tanpa beban.


"Kapan kalian akan berpisah? Kamu belum mendapatkan jalan kan?" tanyanya.


"Aku akan mendapatkannya, masih ada dua minggu sebelum batas waktu yang kakek berikan..." ucapnya dengan tegas.


"Apa maksudnya?" Jeny mengenyitkan keningnya tidak mengerti.


"Bukan apa-apa..." Farel tersenyum, menggeleng gelengkan kepalanya, menggengam erat jemari tangan Jeny.


Taka menatap sinis,"Sudah seperti ini kamu masih merahasiakannya!?"


"Biar aku yang menyampaikannya pelan-pelan..." ucap Farel pada pria yang sudah berusia itu, menggenggam tangan Jeny semakin erat, seakan tidak rela jika harus dipisahkan kembali.


"Terserah kamu saja, tapi ingat aturan untuk menjadi manusia yang beradab..." Taka menghebuskan napas kasar, kemudian mulai tersenyum meraih Rafa dari gendongan Ayana."Cicit, kakek sayang cepatlah besar. Aku kakek buyutmu..."


Namun reaksi aneh didapatkan dari Rafa, bayi mungil itu menangis dengan kencang. Taka mulai membuat raut wajah aneh, memiringkan bibirnya, menjulingkan matanya, bahkan sempat menjulurkan lidahnya. Bayi mungil itu mulai tertawa, seakan nyaman dengan orang tua kaku berhati hangat itu.


Dua orang yang paling sulit aku hadapi adalah kakek dan Nona. Kakek tegas dalam memberi keputusan bahkan tanpa pandang bulu. Tapi sebenarnya di dalamnya tersimpan hati yang terhangat yang pernah aku temui... gumamnya dalam hati, mengingat masa lalunya ketika dititipkan di rumah Taka.

__ADS_1


Pengusaha kaya yang memberikan segalanya pada cucunya? Tidak bukan itulah sosok Taka, pria tua itu pernah menampar Farel di aula sekolahnya. Penyebabnya? Farel mendapatkan peringkat ke dua. Mengalah, itu yang dilakukan Farel pada teman sekelasnya saat ujian, agar sahabatnya itu mendapatkan hadiah motor dari orang tuanya.


Taka memeluknya erat dan menangis,'Jangan bangga atas rasa kesetiakawananmu, kamu tidak menghormati guru yang mengajarmu. Ini bukan didikan kakek!!' ucap Taka menarik pergi cucunya dari aula, memintanya berlutut meminta maaf di depan wali kelasnya.


Tau dari mana jika Farel mengalah? Farel menghapal semua materi, dan setiap yang telah dilafalkannya akan diberi tanda stabilo biru. Taka sempat membandingkan pertanyaan dan materi yang dilafalkan Farel, atas pesan dari Dilen pasalnya anak itu sering berpura-pura bodoh.


Sebagai seorang kakek bukan hanya cucu baik hati yang diperlukannya. Tapi cucu yang dapat mengangkat wajahnya sendiri di hadapan umum, tidak pernah berbuat kesalahan yang dapat membuatnya menunduk. Setelah ditampar di hadapan umum, kakek tua itu membawa cucunya berkeliling membeli berbagai olahan makanan. Bangga, itulah yang dirasakannya pada sosok cucunya. Tidak ingin orang lain memandang rendah cucunya di masa depan.


***


Malam mulai menjelang, Farel tengah menelfon sembari sesekali mengutak-atik laptopnya. Jeny menghembuskan napas kasar, setelah menidurkan Rafa, berjalan keluar kamar hendak menemui Ayana.


Namun, langkah kakinya terhenti. Taka berdiri di hadapannya,"Aku ingin bicara denganmu..." ucapnya.


Taman halaman belakang yang tidak begitu luas terlihat terawat. Orang tua yang rambutnya masih hitam itu menatap tajam pada Jeny, dua cangkir teh dihidangkan pelayan yang mundur meninggalkan mereka.


Taka mulai meminum tehnya,"Kembalilah pada mantan suamimu..." ucapnya memulai pembicaraan.


Jeny membulatkan matanya, tidak mengerti,"Kenapa aku harus kembali? Kakek tidak menyukaiku karena aku sudah pernah menikah?" tanyanya.


"Bukan, andai saja kalian bertemu saat kamu sudah resmi bercerai semua akan menjadi lebih mudah..." Taka menghebuskan napas kasar, menatap cangkir tehnya.


"Status Farel saat ini dapat melindungi putranya, tapi tidak dapat melindungimu. Farel berniat mengumumkan ahli warisnya. Dari usia Rafa, dia adalah anak dari hasil perselingkuhan. Cibiran orang, kamu tau itu akan sangat menyakitkan,"lanjutnya.


Jeny tertunduk diam, tangannya mencengkram minidrees yang dipakainya.


"Farel memiliki perjanjian denganku, satu bulan lagi dia akan mengumumkan keberadaanmu dan Rafa. Jika tidak dapat membersihkan nama kalian, maka dia akan kembali ke Jepang dan tinggal selamanya disana," ucap Taka menatap ke arah langit yang cerah."Jadi mundurlah, lepaskan Farel dan Rafa pergi,"


"Kakek tua!!" ucap Jeny tersenyum geram, melupakan tata krama dan etikanya.


"Kamu bilang apa!!" Taka membentak kesal.


"Aku bilang kakek tua!! Dasar!! Kamu tau kami tidak bersalah!? Kamu tau aku mengiranya sudah mati 13 tahun yang lalu, sehingga rela menerima menjadi istri teraniaya selama 2 tahun!? Untuk memenuhi keinginan gilanya ketika remaja!!" Jeny membentak.


"Tentu saja tidak tau, itu adalah masa lalu yang terlanjur terjadi!! Yang harus difikirkan adalah masa depan!!" Taka ikut membentak tidak mau kalah.


"Masa depan apanya!? Dimasa lalu, dimasa sekarang, maupun di masa depan, aku akan terus menempel pada Ren!!" ucap Jeny mulai berdiri dari kursi nampak emosi.


"Ren siapa!? Baru menikah sudah berani berselingkuh dari Farel!!" Taka ikut berdiri, tingkat emosi mereka sudah sama-sama tinggi.


"Ren adalah nama kecil Farel!!" Jeny membentak."Bahkan nama kecilnya saja tidak tau..." cibirnya.


"Kamu tau apa tentang Farel? Aku tau makanan kesukaannya adalah takoyaki!!" Taka berucap dengan intonasi tinggi.


"Salah!! Yang dia sukai adalah sate ayam tanpa kecap dengan irisan bawang!!" sanggah Jeny.

__ADS_1


Tomy yang hendak ke kamar Farel membawa dokumen menatap dari jauh, pertengkaran dua orang yang sama-sama bersifat kaku,"Dasar bodoh!! Kakek tidak perhatian!! Istri tidak peka!! Tuanku hanya menyukai asinan buatanku..."


Bersambung


__ADS_2