
Daging sapi berkualitas tinggi teriris, dentingan suara garpu dan pisau beradu dengan piring keramik. Meja makan luas terlihat, Gabriel mulai meminum air putih di hadapannya.
"Bagaimana pengelolaan rumah sakitmu?" Lery menghela napasnya, menikmati segelas wine, setelah makanan di piringnya tandas.
"Lumayan, catatan penyebab kematian palsu sudah aku berikan pada kurir kakak..." jawabnya kembali menyuapi mulutnya dengan daging.
"Paman, kenapa tidak membantuku mengelola perusahaan saja?" Deren (anak laki-laki Lery) mengenyitkan keningnya, menatap ke arah Gabriel.
Brak....
Lery menggebrak meja, menatap jengkel pada kebodohan putranya,"Ayah sudah mengatakannya, pamanmu hanya pantas menjadi seorang dokter!!"
Gabriel nampak masih mengiris daging di hadapannya tidak peduli dengan pembicaraan mereka. Hingga gerakan pisaunya terhenti.
"Dimana Clarissa?" tanyanya.
"Mendekati cucu angkat Taka, dia pintar dan lebih berguna dari Deren."
"Tidak bisakah kamu berhenti menjadi pecundang!? Pulang kerja membawa wanita berbeda ke kamarmu. Tidakkah kamu bosan?" Lery menatap sinis ke arah putranya.
Deren tertawa kecil,"Ayah melarangku? Kakak (Clarissa) melakukan hal yang sama tapi ayah malah mendukungnya..." cibirnya.
"Kamu membayar sewa wanita malam. Sedangkan, kakakmu meniduri pria memiliki tujuannya sendiri, memanfaatkan dan mengendalikan mereka. Dia membantu bisnis ayah, tidak sepertimu!!" ucap Lery dengan nada tinggi, cukup jengkel dengan putranya yang memang tidak dapat diandalkan.
Gabriel tertunduk, diam-diam tersenyum, kemudian menghebuskan napas kasar, menghilangkan senyumannya."Sudahlah, Deren masih terlalu muda, jangan terlalu keras padanya..."
"Kamu terlalu memanjakannya!! Sebagai seorang paman kamu...!!" Lery menghentikan kata-katanya.
"Bisa berhenti mendikteku!?" bentak Gabriel, menatap sinis, menghentikan aktivitas makannya.
"Aku membunuh istriku sendiri!! Tidak memiliki anak!! Menjadi paman yang baik, menganggap putramu adalah putraku, menganggap putrimu adalah putriku. Bukannya itu keinginanmu? Jadi wajar saja jika aku memanjakan mereka..." lanjutnya, kembali meminum air putih di mejanya.
Menyayangi? Bukan rasa kasih bagaikan seorang ayah. Sebuah pembodohan di generasi berikutnya, itulah yang dilakukan Gabriel. Memanjakan Deren secara berlebihan, membiarkan melakukan apa saja, meniduri wanita mana saja.
Dari kecil hingga universitas, Gabriel menutupi kesalahan Deren. Cinta? Sayang? Bukan itu, membiarkan anak itu mencontek, memberikan uang secara berlebihan, membiarkannya menyuap guru, bahkan melecehkan teman sekolahnya, tanpa menegur sekalipun. Tersenyum, melindungi anak itu dari kemarahan Lery.
Tidak akan membiarkan keluarga Lery bahagia? itulah prinsip Gabriel, semenjak menyaksikan puing-puing bekas rumah, tempat disangkanya putranya telah terkubur menjadi abu.
Deren berkembang menjadi manja, tidak dapat diandalkan. Sedangkan Clarissa? Otaknya terlanjur cerdas, namun berkepribadian buruk.
"Aku menyesal memiliki putra dengan bodohnya tidak terkira sepertimu. Percuma lulusan universitas ternama, tapi hasil menyuap dosen. Sampai di kantor, mengerjakan apapun tidak bisa..." kata-kata pedas keluar dari mulut Lery, menyindir putranya yang menunduk sembari melanjutkan makannya.
"Jadi Clarissa mendekati cucu angkat Taka? Kakak ingin menjadikannya menantu?" Gabriel mengenyitkan keningnya, meletakkan pisau dan garpunya.
"Dia sempurna, andai saja dalam keluargaku lahir anak seperti itu. Bukannya anak tidak berguna seperti benalu ini..." sinisnya, menatap putranya yang bagaikan telah kebal dengan kata-kata ayahnya.
"Lumayan, anak yang cerdas dan mandiri..." Gabriel berucap penuh senyuman, memuji putranya sendiri. Sembari meminum seteguk air di gelasnya.
__ADS_1
Siapa yang menyangka putranya yang hidup terlantar, bahkan hampir mati dapat berkembang dan tumbuh dengan baik? Ayah mana yang tidak akan bangga? Namun, bahkan jika menjadi pecundang atau pengemis di jalananpun asalkan putranya hidup merupakan sebuah kebahagiaan bagi Gabriel.
"Aku sudah selesai, aku akan kembali ke rumah sakit," lanjutnya, menghela napas kasar, bangkit dari tempat duduknya.
"Tunggu, apa saja yang kamu lakukan di sanatorium selama beberapa minggu ini?" Lery menatap tajam.
"Liburan, kamu sudah pernah memeriksa sanatoriumku kan? Aku hanya ingin menanam sayuran disana, agar merasa memiliki seorang istri..." ucapnya sarkas, bagaikan menyindir Lery yang memberikan perintah untuk membunuh istrinya.
***
Dendam? Tentu saja, hingga saat ini Lery tidak mengetahui Citra masih hidup. Selalu dapat menghindar dan disembunyikan Gabriel.
Pria itu menyunggingkan senyumannya menatap ke arah langit, merapikan sedikit posisi kacamatanya, mulai menaiki mobil hitam yang terparkir di depan kediaman milik Lery di negara ini.
Mobil mulai melaju, angin menerpa rambut pria yang termenung menatap ke arah jendela. Tangannya merogoh saku, mulai menghubungi seseorang.
***
Di tempat lain...
Handphone seorang pria bergetar, tangannya meraba-raba ke atas meja. Matanya mulai terbuka sempurna, menatap panggilan internasional yang didapatkan.
"Emmmnnngghhh..." terdengar suara wanita tanpa busana, memeluknya erat, dengan mata terpejam.
"Tuan Gabriel..." ucapnya, menenangkan diri mengangkat panggilan.
"Di...dia ingin bercerai dari Lery untuk menikah dengan saya. Apa yang harus saya lakukan? Sa...saya takut pada tuan Lery..." tanyanya cemas.
"Walaupun kamu hanya seorang supir, kamu menyukainya kan? Cinta tidak memandang status, bukannya begitu? Aku akan tetap menutup mulutku tentang hubungan kalian. Kalian harus bersama, cinta terkadang sesuatu yang egois..." ucapnya.
"Tapi..." sang pria menghela napas berat, ragu.
"Kalian pantas bahagia..." Gabriel meyakinkan.
"Akan aku pertimbangan untuk kabur bersama dengannya," ucapnya yakin, membalas pelukan wanita yang tertidur tanpa busana dengannya. Kemudian mematikan panggilannya.
***
Pria itu kembali merapikan posisi kacamatanya, tersenyum, menghancurkan sesuatu yang tidak memiliki dasar pilar yang kuat. Menggerogotinya selama bertahun-tahun.
Berselingkuh dengan seorang supir? Benar, itulah yang dilakukan istri Lery. Alasan? Cinta? Tidak sepenuhnya, selama bertahun-tahun, Lery hanya mencintai istrinya, namun karena kegiatannya, dirinya tidak begitu sering menemui istrinya di California.
Awalnya Sasha (istri Lery), wanita yang setia, namun setelah mengetahui suaminya sering menyewa wanita malam hanya untuk melampiaskan hasratnya di negara lain. Wanita itu berubah, lebih banyak bicara dan bersama supir pribadinya. Hingga hubungan terlarang pun terjadi. Fatamorgana cinta terlarang yang tumbuh karena kebersamaan.
Gabriel? Dia mengetahui semuanya, menyembunyikan kebobrokan Sasha, memanjakan Deren dan Clarissa. Keluarga harmonis? itulah yang terlihat dari luar, namun bagian dalamnya tidak memiliki pondasi yang kuat.
"Konyol..." tawanya terdengar, menatap ke arah jendela. Senyuman sejenak menghilang dari wajahnya.
__ADS_1
Gabriel menatap foto lama yang didapatkannya dari kantor polisi, berkas foto yang sudah usang, seorang anak yang terlihat kurus. Pria itu, mengelus fotonya pelan,"Seharusnya, kamu dulu tidak sekurus ini... anak ayah memang kuat..." gumamnya menitikkan air mata dalam penyesalan.
Bagaimana kehidupan Farel dulu? Gabriel baru beberapa hari ini mengetahui, menelusuri jejak langkahnya. Putra dari seorang dokter, namun ditemukan kepolisian dalam keadaan menyedihkan, kurus, tidak terawat, memakan makanan basi.
Diadopsi oleh seorang polisi yang berumur pendek. Bahkan kembali dititipkan di panti asuhan, hingga akhirnya diadopsi oleh Dilen dan Ayana, barulah putranya dapat mengangkat wajahnya.
"Ayah akan menebus semua perbuatan mereka pada keluarga kita..." ucapnya menghela napas kasar. Tersenyum, mengingat putranya yang kini sudah bertumbuh besar.
***
Di tempat lain...
Deru ombak terdengar, api unggun terasa hangat, Farel menyodorkan sebotol minuman pada Clarissa.
Clarissa tersenyum, menatap suasana indah yang diciptakan Farel di tengah dinginnya malam. Perlahan meminum minuman di genggamannya. Kepalanya, menyender di bahu Farel, yang tengah bermain gitar.
Suara nyanyian indah terdengar, seakan menunjukkan rasa kasihnya.
Obat tidur dalam minuman, bekerjalah aku mohon... Doanya dalam hati, tidak dapat membayangkan apa yang terjadi, jika harus mengendarai mobil dengan Clarissa lagi. Wanita itu bahkan berani mengigit lehernya ketika dirinya menyetir.
Memarkirkan mobil di tempat umum, dan menyewa gitar dari pengamen jalanan. Hanya itu yang terpikirkan oleh Farel, agar tidak menerima serangan lagi. Namun, tanda dilehernya? Bagaimana cara menjelaskannya pada nonanya? Dirinya masih bingung hingga sekarang.
Sementara, sebuah mobil terparkir lumayan jauh, Hans melepas sarung tangannya yang berlumuran darah. Menjaga Clarissa? itulah tugasnya malam ini, setelah membunuh beberapa orang yang diperintahkan Lery.
"Menjaga, bukanlah gayaku..." ucapnya acuh, menatap deru ombak dari jauh.
Perlahan pria itu keluar dari mobilnya, berjalan menjauh dari pasangan yang menikmati malam di tengah api unggun itu.
Gulungan ombak ditatapnya, tubuhnya seperti ingin mendekat. "Apa kamu tertawa?" tanyanya mengarah pada laut, seakan bertanya pada Hyeri.
Kakinya mulai mendekat, perlahan terkena ombak. Darah yang sedikit mengenai celananya tersapu air laut."Aku membunuh, orang sepertiku tidak akan berubah, sekeras apapun kamu berusaha..." berjalan semakin mendekat ke arah laut, menikmati angin dingin yang menghujam kulitnya.
Tubuhnya diterpa ombak setinggi pinggang, tidak menghentikan langkahnya,"Sudah aku katakan, Tuhan itu tidak ada, karena itulah wanita naif sepertimu mati. Pria berlumuran darah sepertiku hidup. Dan p*lacur kecil, seperti Clarissa bahagia,"
"Kamu bodoh mempercayai keberadaan-Nya..." ucapnya kembali melangkah menutup matanya. Fatamorgana pelukan kekasih kecilnya terasa, bersama sapuan ombak, seakan melepaskan kerinduannya sesaat.
Hans, menghembuskan napas kasar, membuka matanya..."Aku mulai mencintaimu..." gumamnya menitikkan air mata seorang diri.
***
Tomy mengenyitkan keningnya menatap kearah Taka,"Menyelidiki kasus bunuh diri 29 tahun yang lalu!?"
"Kematian Renata saja dapat kamu temukan siapa pelakunya. Ini pasti mudah, sulit menemukan detektif handal sepertimu..." ucap kakek tua itu.
"Tuan besar ingin saya mati!? Saya bukan Sherlock Homes!!" bentaknya pada Taka.
"Benar, kamu hanya detektif Conan!!" Taka mulai tertawa, menatap wajah Tomy yang pucat pasi.
__ADS_1
Bersambung