
Derai tetesan embun membasahi rerumputan, bahkan dedaunan. Seperti ikut menangis menyaksikan pemakaman seorang wanita dengan tubuh yang tidak utuh, terbaring di dalam peti dengan pakaian yang indah.
Orang yang seharusnya mendapatkan donor organ, mendonorkan organnya. Tidak satupun anggota keluarganya yang datang, hanya beberapa pengurus panti tempatnya menghabiskan waktu beberapa bulan ini.
Dering suara phonecell terdengar, namun tangan tua renta mematikan phonecell keluaran lama itu. Kemudian mengirimkan pesan via SMS,'Aku akan segera pulang,'
Beberapa bulan setelah kepergian Ana, dengan alasan menyembuhkan diri. Hidup Jony seperti tidak kurang, memang tidak ada yang kurang. Istri yang tengah mengandung, perusahaan yang maju pesat karena bantuan kerjasama dari ayah Dea yang saat itu masih hidup.
Tapi, semua terlihat gelap entah kenapa. Pegangan hidupnya bagaikan menghilang, Mungkin aku terlalu lama bersama dengan Ana, hingga terlalu terbiasa dengannya... batinnya.
Tidak tahan lagi dengan perasaan aneh yang mengganjal. Untuk pertama kalinya, menghubungi Ana yang memang sebelumnya berkata tidak ingin diganggu. Namun, telfonnya dimatikan, hanya satu pesan yang dikirimkan dari nomor Ana,'Aku akan segera pulang.'
"Kapan...!?" gumamnya dengan jemari tangan gemetaran, entah kenapa rasanya Ana tidak akan kembali. Merindukan!? Ini terasa lebih dari itu, seperti kehilangan sosok yang memalingkan tubuhnya menghilang di tengah kegelapan.
"Ana..." racaunya tertunduk di meja kerjanya, merasakan firasat aneh.
Beberapa bulan kembali berlalu, kandungan Dea kini semakin membesar. Wajah cantiknya yang dulu dengan tubuh yang menggoda hampir tidak terlihat lagi.
Lalu kenapa!? Jony tetap menyentuhnya, namun tetap tidak bahagia terasa hambar sama seperti dulu. Hanya memenuhi kebutuhan psikologisnya saja. Anaknya akan segera lahir!? Memangnya kenapa!? Jony tetap tidak dapat tertawa lepas saat seperti merawat Ana, makan satu berdua dengannya ketika kuliah. Menguatnya saat menjalani pemeriksaan, bahkan berkencan di usia mereka yang tidak muda lagi. Tidak memiliki keturunan bukanlah sesuatu yang buruk, tapi semuanya sudah terlanjur.
"Apa Ana marah padaku!?" gumamnya berkali-kali menelfon dalam beberapa bulan ini. Namun, hanya pesan,'Aku akan segera pulang,' yang diterimanya setiap minggu dari phoncell Ana yang masih aktif.
Jony tidak tahan lagi, dengan cepat meraih kunci mobilnya. Pergi melangkah terburu-buru, mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Hingga rumah sakit tempat Ana seharusnya menjalani operasinya terlihat.
Perlahan Jony mencari informasi sanatorium yang ditempati Ana. Namun, resepsionis rumah sakit menggeleng gelengkan kepalanya, tidak menemukan data operasi pasien ataupun data penyembuhan pasien pasca operasi, atas nama Ana.
Hingga langkah pemuda itu dihentikan panggilan seorang pria,"Jony!!" panggilnya.
"Dokter Rendra..." Jony mengenyitkan keningnya, bagaikan menemukan harapan baru.
"Bagaimana kondisi Ana, apa dia sudah sehat!? Kata Ana kamu mendapatkan donor untuknya dari luar negeri!?" tanya sang dokter tanpa memberi kesempatan Jony bicara, rasa bersalah berkecamuk, karena sempat memberikan harapan kesembuhan yang palsu pada pasiennya itu.
"Apa magsudnya!? Ana dioperasi di rumah sakit ini kan!? Dia bilang sedang di luar kota menjalani masa penyembuhannya!!" Jony membentak, menemukan kenyataan aneh. Firasat buruk yang disimpannya berbulan-bulan terasa lebih pekat.
"Tidak, saat itu keluarga pasien membatalkan donor jantung secara sepihak. Ana tidak memberitahumu!?" tanya Rendra tidak mengerti.
"Tidak mungkin..." Jony menunduk.
"Aku merasa heran, semua organ pasien didonorkan pada yang membutuhkan, kecuali jantung," Rendra menghebuskan napas kasar.
Fikiran Jony sedikit teralih membulatkan matanya menatap ke arah Rendra,"Semuanya kecuali jantung!? Bisa aku meminta alamat keluarga pendonor!?" tanyanya.
"Karena kalian sahabatku, akan aku berikan. Tapi jangan berbuat kasar, dan sampaikan salamku pada Ana..." ucap sang pria berpakaian dokter itu. Menghampiri meja resepsionis kemudian memberikan alamat tanpa memandang curiga. Dalam anggapannya Ana masih hidup dan berobat di luar negeri.
***
__ADS_1
Terlihat rumah yang bisa dibilang cukup mewah, perlahan mobil Jony memasuki kediaman itu.
"Ada keperluan apa!?" seorang security menyambutnya.
"Nama saya Jony saya ingin bertemu dengan pemilik rumah ini," ucapnya penuh senyuman.
"Silahkan masuk," ucap sang security membukakan gerbang.
Namun, hal aneh di lihat Jony seorang direktur lulusan D1 yang diangkat tiba-tiba di anak cabang perusahaan milik Dea.
Ini tidak seperti anggapanku...ini tidak seperti anggapanku... gumamnya dalam hati.
"Pak Jony..." ucap seorang pemuda yang berusia sedikit lebih muda darinya, menatap kedatangan suami bosnya.
"Selamat malam, saya kemari ingin bicara tentang almarhum kakakmu," Jony berusaha tenang.
"Sebaiknya bicara di dalam saja..." ajak pemuda itu, namun Jony menggeleng gelengkan kepalanya.
"Aku sedang terburu-buru," ucapnya.
"Apa ibu Dea yang meminta anda!? Saya sudah membatalkan donor jantung kakak saya. Beliau tidak perlu khawatir..." ucap pemuda itu tidak mengetahui apapun. Mendapatkan pekerjaannya saat ini yang seharusnya hanya dapat diduduki oleh gelar S1, dengan membatalkan donor jantung almarhum kakaknya.
"Benar Dea tidak perlu khawatir," Jony mengepalkan tangannya, menahan kebenciannya.
***
"Dea!!" panggilnya membentak pada wanita yang setengah sadar itu.
"Jony, suamiku yang sempurna tidak memiliki celah..." ucapnya tertawa kecil.
"Dea, jantung Ana ..." kata-katanya terhenti, wanita itu tertawa kecil.
"Cepat atau lambat wanita lemah itu akan mati, mengetahui suaminya berselingkuh. Jangan menyebutkan namanya lagi aku pusing!!" racaunya memegangi kepalanya yang terasa sakit.
"Dea!!" Jony membentak hendak menampar, namun jemari tangannya terhenti.
"Pukul aku, berarti kamu juga memukul darah dagingmu!!" ucapnya penuh tawa, berjalan menapaki tangga, sembari berpegangan.
Jony terduduk mengacak-acak rambutnya frustasi. Satu tempat yang diingatnya, akan dikunjungi Ana, kampung halamannya. Tepatnya panti asuhan tempatnya dibesarkan.
***
Berkali-kali, Jony menghubungi handphone Ana. Namun panggilannya selalu dialihkan.
"Kamu kenapa!?" gumamnya.
__ADS_1
"Jika ingin marah, marahlah padaku!! Jangan bersembunyi begini!!" ucapnya memukul stir mobil kasar, di sebuah lampu merah yang memang cukup lama untuk kembali berubah menjadi hijau.
Beberapa jam perjalanan matahari sudah mulai terik. Jony menyetir tanpa beristirahat sama sekali. Dengan penuh harapan dan kerinduan, entah kata maaf apa yang akan diucapkan nanti, Jony pun masih bingung hingga saat ini.
Pemuda itu memberhentikan mobilnya, di depan sebuah panti asuhan tua yang kini jauh lebih terawat. Bahkan terdapat perpustakaan untuk anak-anak.
Jony berusaha terus menerus menghubungi Ana, mencari sosok itu di setiap sudut panti. Hingga suara dering phoncell yang khas didengarnya. Dengan cepat Jony berjalan menatap dari jauh seorang suster (biarawati) mematikan panggilannya.
"Berhenti!!" ucapnya mencengkram tangan sang suster yang sudah tua renta erat.
"Ini milik istri saya, dimana Ana!?" tanyanya membentak.
"Ana berkata jika ada yang datang mencarinya, katakan. Ana memberkati pernikahanmu," ucap dari mulut tua rentanya.
Jony mulai menangis, mencengkram pakaian panjang sang suster (biarawati)."Dimana dia!! Aku ingin minta maaf padanya, aku akan mencarikannya donor lain!! Walaupun sampai keluar negeri sekalipun!! Jika tidak ada jantungku juga tidak apa-apa!! Dia boleh mengambilnya!!"
Sang suster (biarawati) menggeleng gelengkan kepalanya,"Dia tidak perlu jantung lagi, aku akan mengantarkanmu menemuinya!!"
***
"Sira, Melda, kalian sedang apa kemari!?" tanya sang suster (biarawati).
"Mengunjungi bunda, memberikan mahkota pada bunda..." ucap salah satu anak kecil itu penuh senyuman.
"Sudah pulang sana!!" Sang suster (biarawati) mengacak acak rambut kedua anak itu gemas.
"Baik," kedua anak itu berlarian meninggalkan makam.
Sang suster (biarawati) terus melangkah bersama Jony. Langkah pemuda itu lemas bagaikan sudah mengetahui kemana kakinya akan munuju.
Batu nisan terlihat, karangan bunga yang dijalin bagaikan berbentuk mahkota terlihat di atasnya. Makam yang terletak di dekat Greja, anak-anak panti sering mengunjunginya, menghiasnya sebagai rasa terimakasih mereka. Bahkan memanggil wanita yang gagal menjadi seorang ibu itu bunda, bagaikan wanita yang telah ikut andil membesarkan mereka.
"Ana..." ucap Jony lirih berlutut, mengelus nama yang tertulis wanita yang sebenarnya dicintainya,"Kamu berhasil menjadi seorang ibu, mereka memanggilmu bunda. Siapa yang berani mengatakan kamu wanita yang tidak berguna!! Kamu bahkan jauh lebih berguna dari pada aku!!" ucapnya.
"Kamu masih hidup, aku akan mencarikan donor untukmu!!" racaunya mengais-ngais makam Ana dengan jemari tangannya, tersenyum dengan air mata mengalir tiada henti.
Namun, tangan tua renta menghentikan gerakan tangannya,"Biarkan Ana tinggal di sana. Dia sudah merasakan sakit terlalu lama..." ucapnya.
Jony menghentikan tindakan gilanya menangis merutuki kebodohannya. Malaikat tidak bersayapnya, tidak harus menanggung rasa sakit lagi, pergi ke tempat yang lebih nyaman di sisi-Nya.
Mungkin karena itulah, Jony bertahan dengan Dea hanya demi Dimas darah dagingnya. Dan berambisi menikahi Nana, hanya untuk menebar rasa sakit pada Dea.
Namun, prilaku Farel yang menarik tangan Jeny saat wanita itu mengkonsumsi strawberry. Kembali mengingatkan dirinya akan cermin masa lalunya. Jika saja dirinya memilih mengikuti Ana ke ruang operasi, mungkin istri pertamanya masih hidup hingga saat ini.
Perlahan, memutuskan melupakan dendamnya, berhenti saling memanfaatkan dan bekerja sama dengan Nana. Fokusnya saat ini untuk melindungi putranya. Dari Dea yang bahkan mulai berani, menambahkan makanan yang dapat mengancam nyawa putrinya sendiri. Hanya karena Jeny membangkang, menyebutkan tentang perusahaan yang masih di pegang Dea. Perusahaan yang diwariskan Sam untuk Jeny.
__ADS_1
**Flashback off
Bersambung**