Asisten Nona Muda

Asisten Nona Muda
Syailendra


__ADS_3

Bibit tanaman kentang menggantikan yang telah dipanen mulai tumbuh. Citra menghebuskan napas kasar, kebunnya diserahkan untuk diurus salah satu tetangganya dengan sistem bagi hasil.


Kesepian? Tentu saja, namun siapa sangka, Gabriel meninggalkan penghibur di hari-hari sepinya. Semenjak kepergian Gabriel, kebun milik Citra sudah dua kali mengalami masa panen. Tepatnya tujuh bulan kepergiannya...


Bayi mungil dalam perut wanita itu menendang halus, kini usia kandungannya sudah menginjak 9 bulan, menanti masa persalinan.


ATM? Rekening? Atau kartu kredit? Wanita itu tidak pernah memilikinya. Mungkin karena itulah, setiap bulan ada kurir yang mengirim bunga melati dan batangan emas kecil, pada wanita bisu buta huruf itu.


Gabriel masih peduli dan ingat pada dirinya. Tapi, bagaimana caranya mengatakan Gabriel kecil akan segera lahir, pada ayah dari anaknya itu? Citra kembali menghela napasnya, memasukkan batangan emas dengan berat 20 gram yang dikirim setiap bulan, beserta surat transaksinya itu ke dalam kotak kayu. Harum aroma bunga melati sebagai penanda kiriman suaminya digenggam erat olehnya tersenyum, sembari membelai perutnya.


Entah kenapa, perut Citra mulai terasa sakit, wanita itu segera menuju rumah tetangganya yang merupakan seorang guru sejarah sekolah dasar.


'Tolong, perut saya mulai sakit...' ucapnya dengan bahasa isyarat, membawa tas besar yang memang telah dipersiapkannya. Setelah pintu yang diketuknya dibuka.


"Sudah waktunya!?" tanya sang pria paruh baya, dijawab dengan anggukan oleh Citra."Buk, bantu saya bawa Citra!! Katanya anaknya akan lahir!!"


"Tunggu sebentar," seorang wanita paruh baya yang berprofesi sebagai guru bahasa Jepang SMA, keluar dari rumahnya. Mengambil kunci mobil pick up, dan mulai mengunci pintu rumahnya.


Ikut memapah Citra dalam keadaan panik,"Suamimu belum datang?" tanya sang wanita sembari menyetir mobil. Sedangkan suaminya duduk di belakang tempat muatan barang.


Citra menggeleng gelengkan kepalanya, berusaha menahan rasa sakit, yang terkadang timbul.


"Seharusnya, kamu menerima lamaran pak Wijoyo menjadi istri keempatnya saja. Dari pada punya suami tidak ada tanggung jawabnya. Dasar laki-laki br*ngsek!! Dia pasti sudah kawin lagi!! Meninggalkan gadis desa lugu yang malang bersama bibitnya!! Tidak bertanggung jawab!! Mau enaknya saja, giliran sudah hamil malah kabur," wanita itu terus menerus mengumpat. Sementara Citra sibuk mengatur nafasnya, menahan rasa sakit.


Hingga satu kutukan, tidak sengaja tercetus di tengah umpatnya,"Aku doakan kalau dia punya anak, anaknya tidak akan mendapatkan yang perawan!! Tapi hanya mendapatkan jandanya saja!!"


Plak...


Citra yang tengah menahan rasa sakit, memukul lengan wanita itu, membulatkan matanya, mendengar anaknya tengah menerima kutukan.


"Maaf, aku tidak sengaja!! Ya Tuhan, jika bisa, aku mencabut doaku. Jika tidak bisa, ikhlaskan, semoga anak ini mendapatkan janda yang baik..." doanya sembari menyetir.


Citra menatap sinis, mengelus perutnya, seiiring rasa sakitnya yang terjeda. Nak, malangnya nasibmu, belum lahir sudah mendapatkan banyak kutukan. Ibu doakan, kamu menjadi anak yang terlihat sempurna dari luar. Wajah rupawan seperti ibu dan ayah, serta sama cerdasnya dengan ayahmu.


***

__ADS_1


Peluh bercucuran dari pelipis Citra setelah proses persalinan, di rumah bidan satu-satunya di desa itu. Tubuhnya, telah dibersihkan dari darah serta telah dijahit. Bayi mungilnya juga telah dimandikan.


Bayi mungil dengan kulit memerah tertidur setelah diberinya ASI, sementara itu perdebatan dari pasangan suami istri terdengar di luar.


"Namanya Syailendra!! Sesuai sejarah, itu adalah nama dinasti paling berjaya di masa kerajaan Mataram!! Jadi dipanggil Lendra!!" bentak sang suami yang berprofesi sebagai guru sejarah.


"Tidak namanya udik!! Harus ada nuansa Jepangnya!! Bagaimana kalau Shairendora (Syailendra dalam bahasa Jepang), nanti dipanggil Ren!!" ucap sang istri yang berprofesi sebagai guru bahasa Jepang.


Sang bidan mengenyitkan keningnya, kemudian bertanya pada Citra,"Buk, siapa namanya!?" tanyanya.


Citra menggerakkan tangannya, berucap menggunakan bahasa isyarat,'Tidak tau, terserah mereka. Karena tanpa mereka putraku tidak akan lahir dengan selamat,'


Sang bidan menghebuskan napas kasar, menatap pertengkaran antara Kalagondang dan Mak Lampir itu. Kemudian berjalan mendekat,"Jadi siapa namanya?" tanyanya.


"Kita suit saja..." ucap sang istri.


"Baik..." sang suami setuju.


Dan pada akhirnya, sang suami yang berprofesi sebagai guru sejarahlah yang menang. Syailendra, itulah nama bayi mungil itu.


Namun, sang istri mengenyitkan keningnya, berlari mendekati sang bayi mungil yang tengah tertidur,"Namamu Shairendora, jadi panggilanmu Ren..." ucapnya berulang-ulang bagaikan menghipnotis bayi yang tengah tertidur.


Akhirnya akte kelahiran dan nama lengkap putranya adalah Syailendra, dengan nama panggilan Lendra. Hanya satu orang tetangganya yang sering ikut mengasuh sang anak di masa lenggangnya. Memanggil dengan nama Ren, bahkan ketika anak itu mulai tertidur, seakan menghipnotis sang anak dari usia dini.


***


Lima tahun kemudian...


Seorang anak berlari ke arah rumahnya, memanggil-manggil ibunya,"Ibu!!" terdengar suaranya, mulai membuka pintu kamar yang tidak terkunci.


'Anak ibu sudah pulang?' tanyanya dengan bahasa isyarat.


Ren kecil mengangguk, matanya menelisik mengamati beberapa foto lama yang dikeluarkan ibunya dari laci.


"Ini siapa?" tanyanya menatap foto Tirta yang sudah buram, hampir tidak terlihat wajahnya.

__ADS_1


Citra menggerakkan tangannya,'Pamanmu, setelah dia sukses. Katanya akan menjemput kita,'


Citra tetap tersenyum, meraih kotak cukup besar, kembali meletakkan batangan emas seberat 20 gram ke dalam kotak kayu. Sudah terdapat puluhan disana, mungkin lebih dari 50 batang. Namun, Citra tetap menyimpannya, hidup sederhana bersama putranya sudah cukup baginya.


Kapan Gabriel akan kembali? Mungkin pertanyaan itulah yang terus terngiang dalam kepalanya.


"Ibu..." ucap Ren lirih, melihat wajah Citra yang murung.


Jemari tangan Citra meraih putranya, kemudian memangkunya, menunjukkan foto pernikahan lama.


"Ini ibu dan ayah. Ayah terlihat tampan," ucapnya tersenyum, jemari tangan kecilnya meraba foto lama itu, tanpa mengeluh atau merengek menanyakan tentang ayahnya.


Namun, sejenak senyuman dari wajah kecilnya menghilang. Citra menyadari itu, anaknya berpura-pura baik-baik saja hidup tanpa sosok ayah. Wajah yang hanya dilihatnya melalui foto saja.


'Kita, ke ladang bantu cabut rumput liar. Setelah itu, makan siang...' ucap Citra menggunakan bahasa isyaratnya. Ren tersenyum mengangguk tanda setuju.


***


Kebun mereka beberapa tahun ini sedikit demi sedikit semakin luas, terdapat hamparan tanaman sayuran di sana. Bahkan terdapat beberapa tanaman buah yang dapat hidup di dataran tinggi.


Semakin banyak tetangga yang membatu mereka menggarap lahan dengan ketentuan bagi hasil. Jangan fikir Ren menjadi anak manja. Tidak, tangan kecilnya sudah cekatan mencabut rumput liar bersama ibunya.


Hingga tengah hari menjelang waktu makan siangpun tiba.


"Aku menyayangi ibu..." ucap anak itu dengan mata berkaca-kaca, memelas pada Citra.


'Ini!!' Citra mengenyitkan keningnya, menyodorkan sisa makanannya.


"Terimakasih..." Ren kecil tersenyum, meraih makanan sisa ibunya.


Ya Tuhan... Jika tau anak dari pemuda rakus tidak tau malu itu adalah putraku. Aku tidak akan mengutuk keturunannya. Cara makan dan tidak tau malunya, mirip dengan Gabriel... keluh Citra dalam hatinya.


"Pak Wijoyo istri-istrinya kompak kinclong semua, pakai perhiasan emas. Andai saja Citra terima lamarannya, pasti tidak perlu capek-capek ngurus ladang, tinggal dandan saja. Anak ada pengasuhnya, mau makan ada pembantu yang masakin..." salah satu tetangganya yang membantu menggarap lahan berucap, sembari memakan bekalnya.


'Belum jodoh,' ucap Citra dengan bahasa isyarat menyunggingkan senyumannya, enggan menanggapi.

__ADS_1


Ren menghela napas kasar, menggeleng gelengkan kepalanya, sembari memakan makanan sisa... Tidak ada yang tau, emas batangan kiriman ayah sudah seperti harta karun bajak laut dalam kotak kayu.


Bersambung


__ADS_2