
Sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi, membelah padatnya jalan perkotaan. Teriakan, seorang pria terdengar memilukan. Hingga lebih dari satu jam perjalanan, sebuah villa terlihat.
Seorang pria keluar dengan tergesa-gesa dari mobil putranya, berlari menuju semak-semak mengeluarkan seluruh isi perutnya.
"Kamu ingin membunuh ayahmu...?" cibir Gabriel kesal.
"Seorang dokter terlihat muntah-muntah, sangat memalukan. Ayo kita masuk, sebelum proyekku digarap Tomy," Farel menarik paksa tangan ayahnya yang masih sedikit lemas.
Farel melangkah memasuki villa dengan cepat, penuh perasaan khawatir dan cemburu. Namun, hal tidak diduga disaksikannya.
Ruangan villa yang nampak luas, Citra dengan seksama mendengarkan Gina yang terus mengoceh. Bahkan, Tirta dan Daniel ada di sana, duduk berhadapan dengan Taka. Sedang, Tomy menghela napasnya. Menaiki tangga aluminium guna mengambil phonecellnya yang disembunyikan di atas tiang penyangga bangunan.
Farel tertegun sejenak, kehadiran yang lainnya masih dianggapnya wajar. Tapi Tirta dan keluarganya? Kenapa mereka ada di sini? Masih suatu pertanyaan besar dalam hatinya.
"Paman..." Daniel tersenyum, berjalan menghampiri Gabriel, memeluknya erat, bagaikan sudah akrab.
"Pa... paman!?" tanyanya menatap aneh.
Citra mulai bangkit berjalan menghampiri Farel, menariknya ke arah Tirta,'Berilah salam, dia adalah pamanmu yang dulu pergi ke kota. Kalian terlihat mirip,' ucapnya menggunakan bahasa isyarat.
"Lendra, sebelumnya aku minta maaf, karena..." kata-kata Tirta terpotong.
"Di...dia saudara ibu?" tanyanya dijawab dengan anggukan oleh Citra.
Farel menghebuskan napas kasar, tertunduk sejenak. Berfikir untuk mengadu, guna menuntut kesulitannya karena mereka,"Ibu, 14 tahun yang lalu sebelum aku diadopsi Ayana. Aku menangis, akan berpisah dengan nona, karena nona akan dijodohkan dengan Daniel, walaupun saat itu nona menolaknya,"
"Ketika aku kembali dari Singapura dan akan menikahi Jeny, Daniel menentangnya, bahkan orang itu..." Farel menunjuk-nunjuk pada Tirta,"Mengadukanku pada kakek, karena menikahi menantu yang sudah dibuangnya,"
"Lendra paman..." kata-kata Tirta terhenti, Citra menatapnya sinis.
'Adik tidak berbakti!! Putraku masih hidup merupakan sebuah keajaiban!! Masih berani menyusahkan hidupnya...' ucapnya menggunakan bahasa isyarat, menjambak rambut adik kesayangannya.
"Maaf, mana aku tau dia adalah keponakanku!!" Tirta berucap, berusaha melepaskan tarikan tangan kakaknya.
Lendra dalam imajinasiku adalah anak baik, jujur, ramah, cendrung seperti kutu buku. Ternyata putraku memiliki otak penjajah Belanda, devide et ampera (politik adu domba)... gumam Gabriel dalam hati menatap senyuman menyungging di wajah putranya yang baru saja, mengadu pada ibunya.
Protektif dan menyayangi anaknya? Tentu saja, anak yang disangkanya sudah meninggal 23 tahun yang lalu ternyata masih hidup, ibu mana yang tidak akan bahagia.
"Ibu, punggungku sakit, ayah tadi..." kata-kata Farel terhenti, Gabriel membekap mulut putranya.
"Di...dia terlalu lama menyetir jadi punggungnya sakit..." ucap Gabriel gelagapan.
Citra menghela napas kasar, melepaskan Tirta, kemudian kembali menggerakkan tangannya,'Lain kali jangan mengusik putraku lagi!!' sinisnya menatap tajam pada Tirta.
"I...iya," ucapnya gelagapan, mengeluarkan keringat dingin.
"Farel, Jeny ingin membicarakan sesuatu denganmu. Dia ada di lantai dua..." Taka, menghela napas kasar, menatap suasana keluarga yang menurutnya ramai dan hangat.
"Membicarakan apa?" tanyanya setelah mulutnya lepas dari bekapan Gabriel.
"Tanyakan langsung padanya, ini penting..." jawab Taka.
Farel, melangkah menuju lantai dua, menapaki tangga satu persatu, sedikit menengok ke bawah, keluarganya nampak berdiskusi dengan serius.
__ADS_1
Bahkan Tirta juga anggota keluarganya? Seberapa mengerikan kekuasaan Lery hingga seluruh anggota keluarganya terlihat cemas. Hal yang tidak dapat diduganya.
Gabriel menghela napas kasar, berjalan menuju sofa diikuti Daniel."Jeny mantan istrimu, apa kamu sudah mulai merelakannya?" tanyanya pada Daniel.
"Belum, tapi apa gunanya, Jeny terlihat sudah bahagia bersama Farel,"
"Waktu mungkin akan dapat menghapus luka, tapi pasti akan meninggalkan bekas. Aku hanya perlu tersenyum, dan menemukan orang yang dapat menggantikannya. Hingga bekas itu pudar dengan sendirinya. Sudahlah, lebih baik kita mulai mencari cara untuk melindungi bibi," jawabnya tersenyum tulus.
Hans diberi tugas untuk menyelidiki Gabriel. Tentu saja, itu berarti Gabriel sudah dicurigai sebagai pengkhianat. Ada dua jalan untuk dokter itu, berpura-pura sudah dieksekusi Hans kemudian menyembunyikan diri bersama Citra, atau kembali merebut kepercayaan Lery.
***
Farel menghela napas kasar, mulai membuka pintu dengan ragu. Terlihat kamar yang kosong, sedang suara gemericik air terdengar dari kamar mandi.
Pemuda itu duduk di tepi tempat tidur, matanya menelisik, tidak sengaja melihat alat tes kehamilan dengan dua garis yang berada di atasnya. Serta sebuah amplop coklat, berisikan hasil pemeriksaan dan foto USG dengan sebuah titik terlihat di sana.
"Nona..." gumamnya meletakkan amplop asal. Bertepatan dengan Jeny yang baru keluar dari kamar mandi, hanya berbalutkan sebuah jubah mandi tebal.
"Kamu sudah melihatnya? Padahal aku ingin memberikan kejutan," Jeny tersenyum, menatap wajah pucat suaminya.
"Ka...kamu hamil? Rafa akan mempunyai adik?" tanyanya meyakinkan, dengan raut wajah penuh kebahagiaan.
"Benar, menurut USG baru sekitar empat minggu," jawabnya.
"Nonaku hamil!! Kita akan punya seorang anak lagi..." teriaknya penuh tawa, mengangkat tubuh Jeny.
Sejenak kemudian meletakkan istrinya perlahan di atas tempat tidur, penuh seringai licik,"Apa anaknya hanya satu? Mungkin jika aku membuat lagi akan menjadi kembar..."
"Ja... jangan bercanda aku tidak boleh kelelahan dan..." kata-kata Jeny terpotong oleh ciuman sekilas suaminya.
"Hasil USG sudah satu, ti...tidak mungkin menjadi dua ..." racaunya gelagapan.
"Aku tau, tapi aku hanya ingin. Karena Tomy tadi memanas-manasiku. Akan merebut tender proyekku..." bisik Farel, dengan napas berat, mulai membuka kancing kemejanya, sembari menelusuri leher Jeny dengan bibirnya.
"Senjata makan tuan..." rutuk wanita itu, yang hanya bermaksud ingin membuat suaminya panik melalui Tomy.
***
TV telah menyala, hangat? Begitulah rasanya saat ini. Zion duduk di sampingnya, menggenggam cangkir keramik dengan teh hangat di dalamnya. Menghilangkan dingin yang menusuk kulitnya.
Clarissa? Wanita itu melakukan hal serupa, menggenggam cangkir hangat dengan kedua tangannya. Memakai sweater pria kebesaran, dengan celana pendek, pakaiannya yang basah telah berganti. Zion tersenyum padanya, merangkul pundaknya, membalut diri mereka dengan sebuah selimut. Duduk, menonton acara TV, yang sebenarnya membosankan.
Namun, perasaan hangat membuat mereka enggan beranjak. Masih duduk dengan menggenggam cangkir teh mereka.
"Kamu suka acaranya?" tanyanya, menatap wajah Clarissa.
"Tidak, begitu suka..." Clarissa menghebuskan napas kasar.
"Maaf, sebagai pacar rahasiamu, kencan pertama kita hanya menonton televisi. Setelah aku gajian, bagaimana jika kita ke taman hiburan!?" Zion tersenyum, mengecup pelan dahi Clarissa.
"Iya..." jawabnya tersenyum tulus.
Taman hiburan? Tempat yang tidak terpikirkan untuk pergi bagi seorang Clarissa, mungkin club'malam atau beach party, lebih sering dikunjunginya. Tapi, dengan pemuda ini, tubuh, senyuman, dan jemarinya yang mulai menghangat, mungkin dapat membuatnya bahagia. Entah kenapa dirinya ingin pergi, kemanapun pemuda itu membawanya.
__ADS_1
Sebuah kecupan mendarat di bibir Clarissa yang telah mulai menghangat, hanya sebuah kecupan singkat,"Bibirmu, sangat manis..." Zion tersenyum padanya.
Senyuman? Di kantor atau tempat lain, pemuda itu jarang tersenyum, hanya terdiam dengan wajah dinginnya. Wajah yang dapat membuat semua wanita yang menatapnya ingin menaklukkannya. Namun, setelah tersenyum rasanya enggan kehilangan senyuman itu.
Dering suara phonecell terdengar, dengan nama pemanggil Lery. "Ayahku, menelfon..." Clarissa mulai keluar dari dalam selimut yang membalut tubuh mereka, mengangkat panggilan, sembari berdiri menatap jendela kaca berembun di tengah hujan deras yang melanda.
"Clarissa?" terdengar suara Lery dari seberang sana.
"Maaf, aku pulang terlambat. Hari ini aku lembur, kemudian berkunjung ke rumah seorang teman..." ucapnya melirik ke arah Zion yang masih berusaha tersenyum.
Teman? Hanya seorang teman? Mungkin hatinya sedikit terluka. Namun, Clarissa sudah dapat sedikit membalas perasaannya, terasa sudah cukup untuknya, tetap mengikat hatinya pada wanita itu.
"Ayah akan mengirim supir, Joe baru datang dari luar negeri, ingin bertemu dan minum denganmu..." suara Lery samar-samar terdengar oleh pemuda yang masih terdiam duduk di sofa.
Joe? Joe merupakan salah satu anak rekan bisnis Lery. Demi mendapatkan keuntungan bisnis, banyak hal salah yang diajarkan ayahnya pada Clarissa. Termasuk bersedia menjalin hubungan dengan pengusaha yang menguntungkan mereka. Hubungan yang mengikat? Bukan, hanya sekedar minum bersama, jika disentuh atau tidak sengaja tidur bersama, anggap saja sebuah nasib sial, untuk itu dirinya harus berjaga-jaga membawa pengaman.
Clarissa tertunduk, penuh rasa bersalah, kembali melirik ke arah Zion,"Aku akan bertunangan dengan Farel. Ayah menyuruhku mempertaruhkan semuanya, sampai aku tidak mengkonsumsi obat pengaman saat sebulan yang lalu, berhubungan dengannya,"
"Bukannya, setelah itu ayah menyuruhku berhenti menemani klien minum!? Jika Farel tau, mungkin..." satu alasan tercetus dari mulutnya.
"Farel, tidak akan tau, kamu dan Joe hanya minum bersama. Ayah akan mengatur private room di club'malam. Jangan kecewakan ayah, ini untuk kepentingan perusahaan dan masa depanmu..." Lery menghela napas kasar.
"Baik..." Clarissa memejamkan matanya sejenak, mematikan panggilan ayahnya.
"Aku harus segera pergi..." ucapnya pada Zion, menatap wajah pemuda itu yang senyumannya, mulai menghilang.
Zion terdiam sejenak, Clarissa memasukkan phoncellnya ke dalam tasnya, berjalan beberapa langkah. Hingga tangan Zion menggengam jemarinya,"Bisakah kamu tinggal malam ini? Jangan pulang..." pintanya.
Ingin tinggal? Itulah yang ada di hati Clarissa, namun jika menolak, Lery akan mencari rumah teman yang kunjunginya. Seperti Gabriel? Nasibnya mungkin akan serupa, tidak ingin Zion terluka, tidak ingin keberadaannya diketahui. Entah kenapa, Clarissa ingin melindungi satu-satunya tempatnya untuk bahagia, tersenyum, dan menangis.
"Sebagai pacar rahasia, ingat statusmu!! Jangan mencoba mengatur hidupku, dan melarang hubunganku dengan orang lain...!!" bentaknya menatap tajam, menghempaskan tangan Zion. Berjalan keluar rumah tanpa menoleh sedikitpun, hujan gerimis masih turun, Clarissa berjalan cepat, menggunakan tasnya sebagai panyung.
Wajah tertunduk kecewa dari Zion, bagaikan menyayat hatinya. Tapi inilah caranya untuk melindungi pemuda itu.
***
Zion tertunduk sejenak, menghela napasnya. Sebagai orang yang mencintai Clarissa, hanya ini yang dapat dilakukannya. Tangannya mengambil payung, berlari keluar rumah mengejar Clarissa.
Wanita itu akhirnya terlihat, Zion merangkul bahunya tanpa ragu. Menatap wanita yang masih mengenakan sweater miliknya yang kebesaran di tubuhnya."Setidaknya, aku dapat mengantarmu, hingga kembali ke kantor. Menunggu jemputanmu datang," kembali berusaha tersenyum.
Zion, tahu semuanya kemana mungkin tujuan wanita itu akan pergi. Sekarang bagaikan dirinya yang mengantar Clarissa ke pelukan pria lain. Namun, hanya sebagai pacar yang bahkan tidak memiliki status? Tidak ada yang dapat dilakukannya.
Mengantarnya dengan payung, berharap wanita itu tidak sakit. Hanya itulah caranya untuk menjaga satu-satunya orang yang ada di hidupnya kini.
***
Malam sudah semakin larut, riasan wajah yang cantik, gaun dengan belahan dada terbuka, bau Vodka yang menyengat memenuhi ruangan. Pemuda yang minum dengannya limbung, mencium pipinya kemudian tertidur di sofa private room, club'malam.
Clarissa menghela napasnya, menatap ke arah jendela, merindukan sosok pemuda yang baru beberapa jam lalu mengantarnya ke kantor dengan berjalan kaki,"Dia sedang apa?" gumamnya dengan perasaan tercekat.
Seorang pemuda, duduk tepi di tempat tidur kamarnya yang sempit, berjalan menuju jendela, meraba kaca dingin dengan tetesan air hujan mengguyurnya,"Tetaplah tersenyum..." ucapnya mengingat senyuman dari wanita yang menaklukkan hatinya. Berusaha tersenyum, walau merasakan sakit karena merindukannya.
Bersambung
__ADS_1
......Apa hujan dapat menghapus kerinduanku padamu? Jika iya aku ingin setiap saat hujan turun, agar aku tidak perlu merasa sesakit ini. Namun rintikan air hujan, malah membuatku menginginkanmu. Hatiku semakin terasa berat dan sesak, menginginkan menggengam jemari tanganmu, menginginkan menatap senyumanmu, menginginkan menyeka air matamu. Hanya itu, tidak lebih......
Author...