
Tangan Farel menari dengan lincahnya di atas laptop dalam perjalanannya menuju tempat Jeny bekerja menggunakan taksi online.
Hingga, tempat tujuannya terlihat, pemuda itu segera menutup laptopnya, kembali memasukkan ke dalam tas. Dengan penuh senyuman, masih menggunakan appronnya, membawa box ASI yang kosong.
"Pak Farel..." beberapa karyawan Jeny menyapa. Pemuda itu hanya menunduk tersenyum canggung, memasuki ruangan Jeny.
"Sayang..." Farel berjalan mendekat, mengunci pintu penuh magsud, membawa box ASI,"Rafa haus, apa kali ini kamu memerlukan bantuanku?" tanyanya penuh harap.
"Ini, sudah siap..." Jeny tersenyum, memberikan box yang sudah diisinya dengan beberapa botol kecil.
"Nona, tidak bisakah nona memberiku kesempatan membantumu?" Farel bertanya dengan mata berkaca-kaca.
"Bisa, nanti malam tolong cuci mobilku ya?" jawab Jeny penuh senyuman.
"Per jam 10.000 dollar USA, karena nona sudah berhutang banyak padaku. Bagaimana jika membayar dengan tubuh nona saja..." ucapnya memelas.
"Kemarin sudah terlalu banyak!!" Jeny mengenyitkan keningnya kesal.
Jika melakukannya lagi, besok mungkin aku tidak akan bisa ke kantor, karena berjalan dengan lutut gemetaran dan pinggang yang sakit... gumamnya dalam hati.
"Tapi jika satu ciuman saja, boleh kan?" tanya Farel memelas, menyentuh dagu Jeny, menatap mata wanita yang bersetatus istrinya itu. Seolah bagaikan memberikan mantra.
"Ta... tapi ini kantor," Jeny gelagapan mengeluarkan keringat dingin.
"Hanya berciuman saja, tidak akan ada yang mengintip..." ucapnya mendekatkan bibirnya, hembusan napasnya menerpa wajah Jeny. Entah kenapa, wanita itu memejamkan matanya.
Bibir Farel menyentuh bibirnya, memberikan gerakan gerakan kecil, membuat Jeny membuka mulutnya. Mulai mengalungkan tangannya pada leher pemuda itu.
Entah bagaimana, Jeny selalu tidak berdaya, sulit untuk melawan, ketika prilaku mesum suaminya sudah dimulai. Farel mengangkat tubuh Jeny perlahan, tanpa melepaskan tautan bibirnya, mendudukkannya di meja, beberapa berkas dan alat tulis jatuh tidak dipedulikan pasangan suami istri itu. Tangan Farel sudah mulai nakal, meremas halus benda yang masih berbalut kemeja dan jas formal wanita.
Hingga...
Suara phonecell terdengar...
Sial... umpat Farel dalam hati melepaskan tautan bibirnya.
Ya Tuhan, syukurlah ada suara telfon, aku hampir berbuat mesum di kantor... Jeny bagaikan tersadar dari pengaruh pemuda menggoda di hadapannya. Segera merapikan pakaiannya yang sedikit kusut. Memungut benda-benda yang tadinya terjatuh dari meja.
Farel menghebuskan napas kasar, mulai mengangkat panggilan di phonecellnya,"Hallo," ucapnya ramah berusaha untuk tetap tersenyum.
"Tuan, tolong aku..." Tomy terdengar ketakutan penuh kecemasan.
"Ada apa?" Farel mengenyitkan keningnya.
"Sistem keamanan perusahaan di bobol!!" jawabnya panik.
Farel melirik ke arah Jeny yang sudah merapikan meja kerjanya, kemudian kembali menghebuskan napas kasar,"Kamu dimana sekarang?" tanyanya pada Tomy.
"Kantor pusat!! Cepat kemari!! Tim IT kita sudah kewalahan!!" teriaknya dari phonecell.
"Sekitar dua puluh menit lagi aku sampai," Farel mematikan panggilan Tomy, kemudian menatap Jeny intens,"Maaf, membuat nona kecewa, nanti malam kita lanjutkan, aku akan memberikan jatah lebih," ucap Farel serius, mengambil tas laptop dan box ASI-nya.
"Aku tidak mau nanti malam!! Aku sudah kelelahan!!" teriak Jeny, tidak dapat membayangkan jatah berlebihan yang dapat membuatnya mungkin tidak akan tidur nyenyak.
"Aku tau nona terlalu bernafsu padaku, tapi siang ini Tomy memanggilku..." Farel berucap penuh senyuman.
"Bu...bukan itu maksudnya..." Jeny menghebuskan napas kasar, menghadapi sikap tidak tahu malu suaminya.
"Sampai jumpa, aku membuatkan nona bekal, ada di atas meja..." Farel berlalu pergi, menutup pintu ruangan Jeny.
Sejenak wanita itu terduduk, hingga satu hal yang baru diingatnya. Jeny segera berjalan menuju area depan kantornya, menatap Farel yang hampir memasuki taksi online.
__ADS_1
"ASI untuk Rafa, sebaiknya aku menyewa kurir saja kalau kamu sibuk," ucapnya.
Farel mulai turun dari mobil, melepaskan box ASI, memberikannya pada Jeny. Terlihat membungkuk seperti posisi berciuman dari jauh.
Tanpa diduga anting Jeny tersangkut pada appron Farel, seketika pasangan suami istri itu panik melepaskannya. Tidak menyadari mobil Daniel terparkir di seberang jalan, melihat sendiri, menyangka pasangan suami istri itu berciuman di depan umum. Kesalah pahaman yang mungkin membuatnya menyerah.
***
Beberapa puluh menit berlalu, mobil taksi online sudah berhenti di perusahaan induk JH Corporation di Indonesia. Farel menghebuskan napas kasar mulai memasuki perusahaan.
Kali ini berjalan dengan cepat masih tidak melepaskan celemeknya (appron). Beberapa mata memandang aneh padanya, termasuk security.
"Ada keperluan apa?" sang security menghentikan.
"Memasuki perusahaan milik sendiri harus meminta ijin!?" Farel mengenyitkan keningnya.
"Jangan mengaku-ngaku!! Sebaiknya pergi, jika tidak memiliki kepentingan!!" bentak sang security.
"Dasar..." Farel menghebuskan napas kasar, bergerak cepat, memelintir tangan pria yang berbadan lebih besar darinya itu. Kemudian menendang punggungnya hingga tersungkur di lantai.
"Tidak pandai bela diri, berani menjadi petugas keamanan," ucap pemuda itu dengan nada dingin.
"Ka...kamu siapa!? Aku akan melaporkanmu pada polisi!!" sang security meninggikan nada bicaranya, berusaha bangkit, memegangi punggungnya yang sakit.
Resepsionis baru datang dari istirahat makan siang segera berlari, menghampiri mereka. Menyadari pemuda yang kini memakai celemek adalah orang berpakaian kalangan atas yang dulu disambut Tomy dengan penuh hormat.
"Tuan, maaf atas ketidak nyamanannya... silahkan masuk..." sang resepsionis mengeluarkan keringat dingin ketakutan, mengantarkan Farel menuju lift.
"Di...dia siapa?" sang security datang menghampiri.
"Atasan pak Tomy..." jawab sang resepsionis, masih menatap lift yang tertutup.
Sang security tertawa kecil,"Berarti keluarga pemilik perusahaan, orang yang berasal dari Singapura!?" tanyanya, berharap sang resepsionis hanya bercanda.
***
Sedangkan Farel masuk ke dalam ruangan tanpa permisi. Tomy segera menunduk memberi hormat padanya,"Apa ini!?" Farel membentak, mulai duduk, sedangkan beberapa ahli IT di ruangan itu terlihat masih berusaha, bahkan kewalahan.
"Casper?" tanyanya menatap rekaman film Casper the Movie 1995, yang diputar berulang-ulang oleh heaker. Beserta tulisan berisikan undangan untuk Taka.
Farel mengenyitkan keningnya mulai berusaha menghadapi peretas, jemari tangannya tidak hentinya memainkan perangkat lunak di hadapannya. Hingga tiga jam berlalu, heaker berhasil diatasi olehnya.
"Tuan!?" Tomy menunduk memberi hormat.
"Casper the Movie 1995, apa magsud dari orang mengundang kakek?" gumamnya.
"Mungkin, karena perusahaan yang dimiliki tuan Taka di Jepang sulit diretas. Sehingga undangannya di kirim kemari," Tomy mengutarakan pendapatnya.
"Tapi 'Casper'?" Farel mengenyitkan keningnya tidak mengerti.
***
Di tempat lain...
Seorang pemuda menghebuskan napas kasar, membuka earphonenya,"Ada ahli IT yang lebih hebat dariku. Tapi undangan untuk Taka sudah aku kirim ke perusahaan cucunya," ucapnya.
"Sayangnya tidak dapat langsung dikirim ke Jepang..." seorang pria berjas putih menghebuskan napas kasar, mengingat memerlukan lebih banyak ahli IT untuk meretas perusahaan milik Taka di Jepang.
"Kenapa anda ingin memutar Film Casper the Movie 1995!?" tanya sang pemuda mengenyitkan keningnya.
"Hanya ingin, aku suka alurnya..." jawab Gabriel, sedikit tersenyum.
__ADS_1
Casper the Movie 1995, salah satu alur ceritanya mengungkap kematian Casper (sang hantu anak-anak), yang meninggal akibat sakit, karena terkena radang paru-paru akibat terlalu sering bermain kereta luncur salju pemberian ayahnya. Sang ayah adalah seorang ilmuwan, akhirnya membuat penemuan aneh karena kedukaannya atas kematian putra satu-satunya. Mesin untuk menghidupkan putranya kembali, setelah puluhan tahun Casper berhasil hidup kembali, walaupun hanya sebentar. Sebelum akhirnya kembali menjadi hantu...
"Andai saja aku adalah ayah yang baik seperti ayah Casper. Anaknya meninggal karena kereta luncur pemberian penuh kasih darinya dan dihidupkan kembali walaupun hanya sebentar..." gumamnya sedikit tersenyum.
"Orang mati tidak dapat hidup kembali," sang pemuda yang sebelumnya nyawanya diselamatkan Gabriel menghembuskan napas kasar.
***
Harum aroma gula pasir tercium, lahan perlahan karamel menjadi hangus, aroma manis gula berubah menjadi pengit.
Tek...
Kanaya mematikan kompor, mengenyitkan keningnya, menatap Daniel yang tertunduk lemas."Gagal lagi..." ucapnya membuang dessert yang dibuatnya.
Sejenak kemudian mulai tertunduk, terduduk di lantai."Aku bodoh, tidak bisa memasak seperti dia..." gumamnya, sembari menepuk nepuk dadanya yang terasa sesak.
"Pak Daniel, anda ahli di bidang bisnis, jadi jika punya satu kelemahan bukan masalah. Setiap manusia punya kekurangan," ucap Kanaya tersenyum, ikut duduk di sebelah atasannya.
"Dia bukan manusia," Daniel mulai tersenyum.
"Siapa?" Kanaya mengenyitkan keningnya.
"Jeny," jawabnya,"Setiap hari, saat aku turun, sarapan sudah tersedia. Dia akan tersenyum sambil menyambutku. Bukannya aku tidak peduli, tapi semua pergerakannya di perusahaan milik almarhum kakeknya ditekan oleh ibunya sendiri, dia dapat tetap bertahan dengan kecerdasannya. Dia sempurna, dan aku membuangnya..." ucapnya, menghebuskan napas kasar, menatap ke arah gadis berkacamata di sampingnya.
"Berusaha untuk menjadi sepertinya pun sulit, mengikhlaskan kepergiannya bersama Farel mungkin lebih baik..." lanjut Daniel mulai sedikit tersenyum.
"Aku akan membantumu merebutnya!! Aku menyukai Farel!! Dia terlalu sempurna untuk janda beranak satu, tukang perintah seperti nona Jeny!!" Kanaya berucap penuh percaya diri, bagaikan kesatria wanita yang akan merebut pangeran dari jeratan iblis.
Dia menyukai Farel? Farel lagi... Entah kenapa, Daniel mengenyitkan keningnya kesal, menyuapi pisang karamel hangusnya pada mulut Kanaya,"Makan yang banyak!!" bentaknya.
Kanaya berlari ke tempat sampah, memuntahkan karamel yang terasa pahit,"Anda mau meracuni saya ya!?"
Daniel tersenyum, sembari membersihkan alat-alat masaknya.
Kanaya mulai meminum air, kembali mendekati Daniel yang berada di dekat wastafel,"Pak Daniel sangat menyukai mantan istri anda. Saya sangat menyukai suami mantan istri anda. Bagaimana jika kita bekerja sama menjadi pelakor dan pebinor. Jika bekerja sama akan lebih mudah,"
Daniel tertegun menghentikan gerakan tangannya yang tengah menggosok mangkuk dengan spon.
"Aku berjanji, saat menikah dengan Farel, buket bunga, akan aku usahakan jatuh ke tangan anda atau mantan istri anda..." ucapnya berhayal penuh senyuman.
Plak...
Spon cuci piring yang penuh dengan busa tepat mendarat di mulutnya, menggosok gosok kesal,"Bisa diam tidak!!" Daniel membentak kesal, mulai melepas appronnya. Pergi membanting kain itu asal.
"Sial mulutku bukan piring kotor!!" Kanaya kembali mengejar Daniel yang berjalan ke ruang tamu.
Langkah kaki Kanaya terdengar mengejar langkah Daniel. Langkah pemuda itu terhenti, menghebuskan napas kasar,"Apa bagusnya Farel?" tanyanya.
"Dia tampan, mapan dan berhati baik..." Kanaya membayangkan penuh rasa kagum.
"Benarkah!?" Daniel mengenyitkan keningnya, berbalik tubuhnya menatap ke arah Kanaya.
"Dengar, seharusnya kamu sudah mati melompat dari gedung kantor berlatai 15!! Jika bukan karena aku yang menyelamatkanmu, kamu sudah mati!! Otakmu hanya milikku, mulutmu hanya milikku, bahkan tubuhmu hanya milikku. Jadi jangan pernah mencoba berpikir, berbicara, atau menyerahkan tubuhmu pada pria lain tanpa seijinku," ucap Daniel menatap tajam, kemudian berjalan dengan cepat ke kamarnya, membanting pintu dengan keras.
Tangan Kanaya gemetar ketakutan, membenahi kacamata tebalnya,"Pak Daniel kenapa? Apa karena aku membicarakan Farel terus menerus?," gumamnya merasa hatinya tercekat, menatap Daniel yang pertama kali emosi padanya.
Beberapa jam di ruang tamu rumah Daniel, pintu yang dimasuki atasannya itu belum juga terbuka. Kanaya menatap ke arah foto pengantin berukuran besar di ruang tamu. Sejenak wajah wanita di foto itu berubah menjadi dirinya. Kanaya menepuk nepuk pipinya panik, hingga wajah Jeny kembali terlihat.
"Kenapa aku jadi memikirkan pak Daniel!!" ucapnya mengacak-acak rambutnya frustasi,"Tidak boleh!! Farel yang terkeren!!" gumamnya menenangkan diri.
Sedangkan Daniel terdiam di kamarnya, menatap langit-langit kamar,"Kenapa aku marah? Jika dia mengatakan akan mengejar Farel? Bukannya itu bagus?" tanyanya pada dirinya sendiri. Namun, membayangkan Kanaya menikah dengan Farel membuat Daniel kembali jengkel."Kanaya bodoh!!" umpatnya kesal.
__ADS_1
Bersambung