
Kanaya menggengam erat jemari tangan Daniel, untuk pertama kalinya bertemu dengan calon mertuanya. Janji temu di ruangan VVIP sebuah restauran, gaun indah tertutup dikenakannya.
Berjalan dengan anggun layaknya gadis berkepribadian baik. "Jadilah dirimu sendiri," Daniel tersenyum simpul.
Jadi diri sendiri kepalamu!? Aku akan disiram air, kemudian dikata-katai tidak tahu diri. Tenang Kanaya berpura-puralah memiliki kepribadian baik... gumamnya ketakutan.
Pintu pembantaian terlihat, perlahan seorang pelayan membukakan pintu untuk mereka. Gina memakan steak dengan tenang. Wajah yang terlihat kurang bersahabat.
"Tante..." ucap Kanaya tertunduk.
"Ibu," Daniel tersenyum mulai duduk berdampingan dengan Kanaya.
"Bisa kamu putuskan hubungan dengan Daniel?" tanyanya to the points. Mengenyitkan keningnya, menghentikan aktivitas makannya.
"Tidak, aku..." kata-kata Kanaya terhenti, gemetar menatap Gina yang menatap tajam padanya.
"Nama Daniel, akan aku keluarkan dari kartu keluarga jika dia menikah denganmu. Jabatannya akan diturunkan menjadi karyawan biasa. Jadi tinggalkan Daniel," ucapnya, meletakkan garpunya.
Daniel hanya tersenyum, menggenggam erat jemari tangan Kanaya, seolah menegarkannya.
"Aku tidak bisa, walaupun menjadi karyawan biasa. Asalkan dapat menjalani hidup dengan baik itu sudah cukup," jawab Kanaya, menghela napas kasar sembari tersenyum.
Nenek sihir!! Pak Daniel adalah atasan terbaik, menurunkan jabatan hanya karena masalah keluarga? Apa pak Daniel anak kandung anda... ujarnya dalam hati kesal, menatap iba pada pemuda yang dicintainya.
"Ibumu wanita malam yang menjajakan tubuhnya. Ayahmu hanya pria tidak berguna. Menghasilkan wanita tidak tau diri sepertimu," cibir Gina, tersenyum menghina, berkata kasar.
Kanaya mengepalkan tangannya, tidak apa jika dirinya di hina. Namun kedua orang tuanya?
Brak ...
Gadis itu menggebrak meja, mengguyur wajah Gina dengan air putih di hadapannya,"Anda yang wanita malam!! Jangan menghina kedua orang tua saya!! Mereka membesarkan saya dengan jari tangan mereka sendiri!!" bentaknya berapi-api, tidak tahan lagi, menatap arogansi wanita kalangan atas.
Tangan Kanaya gemetar entah keberanian dari mana, dirinya menyiram nyonya dari keluarga berkuasa... Mampus!! Hidup keluargaku di kampung akan berakhir. Kenapa harus mengatakan wanita malam? Bibirku memang jahat!! Lalu wajah dan pakaiannya basah...aku ingin memotong tanganku...
Gadis itu masih terdiam berdiri seolah mempertahankan egonya. Namun aslinya saat ini dirinya ingin berlutut meminta pengampunan, karena emosi sesaat.
"Tissue basah..." Gina menadahkan tangan, pada Daniel. Mengelap wajahnya yang basah kuyup, menggunakan tissue pemberian putranya.
"Makanya jangan berlebihan, basah kan?" Daniel menghela napas kasar, menahan tawanya.
__ADS_1
"Jadi dimana kampung halamanmu?" Gina kembali mengiris daging di piringnya tanpa rasa bersalah.
Wajah Kanaya pucat pasi, menanyakan kampung halamannya? Mungkin Gina akan mempersulit kehidupan ibu dan ayahnya.
Gadis itu mulai menangis tanda menyesal, berlutut di hadapan kekuasaan,"Tante, eh salah, bibi, salah lagi, maksudku nyonya, tolong ampuni keluargaku!! Ini salahku!! Aku yang wanita malam, bukan anda!!" ucapnya gemetar ketakutan.
Gina tertawa kencang, memegangi perutnya,"Kamu mau dilamar atau tidak?" tanyanya.
Kanaya diam tertegun tidak mengerti, kemudian mengangguk.
"Ini hanya uji coba, anak laki-lakiku terlalu br*ngsek, hingga menyia-nyiakan mantan istrinya. Tapi, salahku juga, Jeny tidak pernah menyukai Daniel, aku memaksakan mereka untuk menikah, karena mengetahui kepribadian Jeny," Gina menghela napas kasar. "Untuk itu, aku mengujimu, apa benar-benar mencintai putraku yang br*ngsek?"
Kanaya tertegun diam menghapus air matanya.
"Kamu bersedia mempertahankannya walaupun jatuh miskin, itu artinya kamu lulus uji coba pertama," lanjutnya.
Gina, menghela napas kasar, meminum air di atas mejanya,"Tentang menghina kedua orang tuamu, aku minta maaf. Kamu anak yang jujur dan menghormati mereka,"
"Taukah tipe wanita yang paling sulit dihadapi? Wanita yang pandai berbohong dan menyembunyikan emosinya. Karena wanita seperti itulah (Renata) kehidupan Daniel hancur, membutakan mataku tentang mantan menantuku (Jeny) yang hanya diam, menutupi kebenaran, melindungi Daniel," Gina menatap pantulan wajahnya pada gelas kaca, kemudian tersenyum.
"Menggebrak meja, dan menyiram wajahku? Emosi yang sangat terlihat, wanita polos yang baik. Bantu aku menjaga anak br*ngsek (Daniel) ini ya...?" tanyanya tertawa kecil, mencairkan suasana.
"Kamu suka yoga?" tanyanya.
"Aku fans beratnya Yoga (Nama asli almarhum Olga Saputra)" jawab Kanaya terdiam, dengan otak masih belum mencerna sepenuhnya.
"Fans...?" Gina mengenyitkan keningnya tidak mengerti.
Daniel yang pernah memasuki kamar Kanaya, mengetahui tentang tokoh pelawak favorit kekasihnya dari beberapa poster yang terpasang di dinding, menahan tawanya, kemudian berbisik pada Gina,"Maksudnya Olga Saputra,"
"Bukan Olga Saputra!! Maksudku yoga!! Kita akan yoga bersama-sama," Gina tersenyum tulus. Akan menyenangkan memiliki menantu dengan hobby yang sama.
***
Cinta adalah sebuah penderitaan. Tapi aku tidak tau akan sesakit ini...
"Maaf, posisinya salah..." seorang guru yoga, membenahi gerakannya, menekan lututnya agar lebih lurus.
Ibu sakit... gumamnya dalam hati menahan posisi yoga yang terlalu sulit untuknya. Melirik ke Gina yang melakukannya dengan mudah, bagaikan tubuhnya elastis.
__ADS_1
"Ibu pak Daniel, seperti manusia karet," cibirnya dengan suara kecil.
"Maaf, lututnya jangan dinaikkan dulu..." gerakannya kembali dibenahi.
Sakit!! Sakit!! Sakit!! Tahan Kanaya tempat tidur malam pertamamu yang bertaburan bunga mawar ada di depan mata... gunamnya penuh semangat, berusaha mengikuti perintah pelatih yoga. Guna menyenangkan calon mertuanya, yang tidak hobi shopping layaknya istri pengusaha lainnya.
***
Kanaya menghela napas kasar, membaringkan tubuhnya yang masih berbalut keringat. "Benar-benar ladang penyiksaan," gumamnya yang tidak pernah berlatih yoga sama sekali.
Hingga suara ketukan pintu terdengar, tubuhnya lemas membuka pintu. Seorang pemuda rupawan terlihat di hadapannya, tersenyum menyodorkan sebungkus makanan dalam paperbag.
"Kinara aku..." akhirnya nama itu terucap juga, menatap wajah wanita yang membuatnya tidak pernah tenang beberapa hari ini.
"Tunggu dulu, kamu salah orang. Namaku Kanaya, Kinara adalah adikku. Kami kembar identik..." ucapnya, merogoh sakunya memperlihatkan sebuah foto di handphonenya.
Foto sepasang saudari kembar yang tersenyum. Dengan latar sebuah perkampungan.
Yogie tertegun sejenak, baru menyadari perbedaan sikap dan cara bicara pasangan kembar identik itu. Kemudian menghela napas kasar,"Lalu bisa berikan aku informasi tentang Kinara?" tanya Yogie penuh harap.
"Jangan mengganggu kehidupannya lagi, jika ingin merusak rumah tangganya," ucap Kanaya hendak menutup pintu.
"Aku hanya ingin meminta maaf, tidak memiliki maksud lain," Yogie berusaha menahan pintu yang hendak tertutup.
"Apa kesalahan yang kamu buat pada adikku?" Kanaya mengenyitkan keningnya.
"Kesalahan yang besar..." Yogie menghela napas kasar, tidak tau harus bercerita dari mana.
***
'Jangan ganggu rumah tangga adikku, minta maaf dan segeralah pergi'
Hanya itu kata-kata yang keluar dari mulut Kanaya, setelah mengetahui tentang masa lalu Yogie dan saudarinya, memberikan alamat Fahri. Tanpa, memberitahukan kehadiran Ega di dunia ini.
Yogie tersenyum menyenderkan tubuhnya pada kursi penumpang bagian belakang, menatap ke arah pemandangan pedesaan yang asri. Setelah menempuh perjalanan cukup jauh.
"Masih lama?" tanyanya pada supirnya.
"Seharusnya sudah dekat," jawabnya menghentikan laju mobilnya, menanyakan alamat pada warga desa sekitar.
__ADS_1