Asisten Nona Muda

Asisten Nona Muda
Firasat


__ADS_3

Kalangan menengah? Itulah kedudukan keluarga Jeny jika dibandingkan dengan keluarga dari pengusaha-pengusaha kelas dunia di pesta tersebut. Berbeda jika dibandingkan dengan lingkup perusahaan nasional, bisa dibilang keluarga Jeny termasuk kalangan atas.


Pihak teraniaya begitulah status mereka saat ini,"Kakak ipar!!" tangisan Dimas terdengar nyaring, menggunakan nama Farel sebagai perlindungan.


"Kakakmu yang bersetatus istrinya saja, tidak di sayangi!! Kamu fikir Farel akan..." kata-kata Clarissa terhenti, Dimas memegang ujung gaun Clarissa, mengiba."Lepas!!" bentaknya risih, mendorong anak itu kasar.


Dimas tersungkur di lantai, beberapa orang yang menyaksikannya kembali berbisik-bisik."Kakak ipar menganggapku sebagai adiknya, dia memasak khusus untukku, bahkan menggendongku dari sekolah hingga rumah. Aku adalah salah satu alasan, kenapa kakak ipar tidak bercerai. Aku akan mengadukanmu pada kakak ipar (Farel)!!" bentaknya menangis, bagaikan anak kecil hendak mengadu.


Di... dianggap adik? Farel memang tidak memiliki saudara. Tapi, mengganggap makhluk kelas rendah ini adik... Tidak, anak ini pasti berbohong... gumam Clarissa dalam hati.


"Jangan berpura-pura menangis, mana mungkin Farel menganggapmu adik ..." Clarissa semakin kesal, mengguncang tubuh anak itu agar berhenti menangis, supaya tidak menarik perhatian lebih banyak orang lagi.


Cara lama untuk memeras orang, bayangkan saja, jumlah tabungan seorang anak berusia 12 tahun mencapai 160 juta. Dia memang berbakat... Jeny mati-matian menahan tawanya.


Air mata Jeny mengalir, meraba-raba arah sekitar,"Dimas..." panggilnya.


Anak itu kembali bangkit,"Aku didorong olehnya..." ucapnya mengadu pada Jeny.


"Tidak apa-apa, katakan saja pada Farel. Bukannya kemarin dia memutasi resepsionis yang berani mengusirmu? Adik kesayangan kakak, jangan cengeng ya? Mintalah Farel menjauhi wanita kejam ini..." Jeny tersenyum, penuh kemenangan. Seakan Dimas memang dianggap adik oleh Farel.


Wajah Clarissa pucat, menatap ekspresi wajah wanita yang masih dikiranya buta. Dianggap adik? Otomatis citra baiknya di hadapan Farel juga akan rusak, jika Dimas mengadu. Clarissa menghela napasnya beberapa kali, menenangkan diri."Maaf sebelumnya, kakak hanya emosi sesaat," ucapnya sopan.


"Aku takut..." Dimas tiba-tiba berubah menjadi anak cengeng, memeluk kakaknya yang duduk tidak berdaya.


Aku takut kamu tidak membawa uang cash... batinnya.


"Kamu berkata dianggap adik oleh Farel, namamu siapa?" tanya Clarissa dengan wajah tersenyum cerah. Bersamaan dengan beberapa tamu undangan yang sudah berhenti memperhatikan mereka.


"Namaku Dimas, maaf aku juga salah. Aku fikir kakakku di bully karena tidak dapat melihat. Kakak sangat cantik..." ucapnya memuji Clarissa.


"Terimakasih..." Clarissa tersenyum.


"Anting kakak sangat bagus, mengingatkanku pada milik almarhum ibuku. Aku merindukannya..." Dimas tertunduk, menghela napas kasar."Boleh aku memegangnya?" tanyanya.


Tangan Clarissa gemetaran melepaskan antingnya, murah? Tentu tidak, semua aksesoris yang dipakainya bernilai tinggi. Mengingat pesta ulang tahun kelas atas yang diadakan hari ini.


"Ini..." ucapnya berusaha untuk tersenyum.


"Ukiran yang indah, hangatnya ibu," Dimas merogoh sakunya, terdapat uang senilai 121.100 rupiah. "Aku hanya punya ini, boleh aku membelinya?" ucapnya menitikkan air matanya.


Anak kecil, harganya 100 ribu dolar (1,5 miliar rupiah). Ini kesayanganku, dibuat oleh disainer khusus... geram Clarissa dalam hati berusaha untuk tersenyum.

__ADS_1


"Tidak boleh ya?" Dimas mengembalikan sepasang anting itu,"Aku fikir kakak sangat murah hati, jadi tadi cuma ekting agar aku tidak mengadu pada kak Farel, kalau aku sudah didorong. Tidak apa-apa, aku akan meminta kak Farel mencarikan anting yang mirip, aku benar-benar merindukan ibuku..." ucapnya, berusaha tersenyum.


Hanya seratus ribu dolar? tidak berarti memang jika untuk memenangkan hati Farel. Bukan masalah, usaha milik Taka dan Farel cukup besar, ini hanya serpihan debu, kalau difikir dari segi keuntungan. Clarissa mengepalkan tangannya, berusaha ikhlas, agar rencana tidak rusak.


"Simpanlah, jika mengingatkan pada milik ibumu yang sudah meninggal. Tidak perlu memberikanku uang..." Clarissa memaksakan dirinya tersenyum.


"Terimakasih, aku akan mengatakan kakak cantik sangat baik padaku, pada kakak ipar..." ucapnya polos.


"Iya..." Clarissa menghela napas lega.


"Omong ngomong, jam tangan kakak mirip milik almarhum nenekku..." ucapnya kembali memelas.


"Di... Dimas, aku harus pergi, sampaikan salamku pada kakak iparmu..." ucapnya gelagapan, menutupi jam tangannya yang pastinya juga berharga fantastis.


"Wanita cacat!! Pertimbangkanlah untuk bercerai!!" bentaknya pada Jeny, kemudian berlalu pergi, bersama rekannya. Tidak ingin seluruh aksesoris kesayangannya dilucuti.


"Menggunakan nama ibu?" Jeny mengenyitkan keningnya kesal.


"Fikirkanlah, ibu sangat menyukai uang. Jadi, jika melihatku mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya ibu yang melihat dari tempat yang jauh, juga akan senang kan..." Dimas tertunduk, duduk di dekat kakaknya, memasukkan sepasang anting berlian itu ke dalam sakunya.


"Ini 700.000..." Jeny menyodorkan beberapa lembar uang, kemudian mengacak-acak rambut adiknya, saat penerangan mulai gelap, music jass, sudah berganti dengan dentuman musik keras. Hingga tidak ada yang memperhatikan gerak gerik, pasangan kakak beradik yang duduk paling pojok ruangan itu."Aku akan melihatmu, menjadi sosok hangat penyayang keluarga, yang sukses dan mengumpulkan banyak uang. Menggantikan ibu..."


"Iya..." Dimas sedikit menitikkan air matanya. Kemudian memaksakan dirinya untuk tersenyum.


***


Benar, Indra lah yang tiba-tiba datang di hadapannya, mengatakan Farel tengah sibuk. Mengantarnya kembali ke kediaman Ayana, tangisan Rafa terdengar lagi, Jeny kembali bangkit, menenangkan putranya yang terlihat gelisah, tidak seperti biasanya.


"Tenang ya? Papa akan pulang..." ucapnya menitikkan air matanya yang tiba-tiba mengalir tanpa sebab.


Farel sering meninggalkannya di sanatorium. Tapi entah kenapa, kali ini terasa berbeda baginya.


"Kenapa aku jadi cengeng begini..." gumam Jeny, menyeka air matanya, yang mengalir tidak terkendali.


Penyebabnya? Wanita itu tidak tahu, namun entah kenapa dia merindukan sosok Farel malam ini. Bagaikan sosok itu tidak akan pernah pulang.


"Jangan menagis..." Jeny berusaha tersenyum lembut, menenangkan putranya yang menangis tidak wajar.


Susu formula sudah dibuatkannya, namun anak itu tetap menangis tiada henti. Beberapa puluh menit berlalu, bayi mungil itu akhirnya kembali tertidur.


Jeny perlahan mulai menuruni tangga menuju lantai satu, namun langkahnya terhenti di tengah gelapnya ruang tamu.

__ADS_1


Brak...


Samar-samar terlihat Tomy terjatuh akibat tamparan Taka."Tugasmu hanya menjaga cucuku!!" bentaknya dengan suara bergetar, bagaikan orang menangis.


"Maaf, tapi tuan Farel memberikan saya perintah..." Tomy mulai berlutut, mengetahui kesalahannya.


Kakek keras kepala itu menangis? Benar, Taka memang keras dalam mendidik Farel. Cucu satu-satunya, yang paling dibanggakannya. Di balik semua itu dirinya tidak ingin kehilangan cucu laki-laki yang pertama kali ditemuinya dalam keadaan kurus. Remaja yang makan apa saja yang ditawarkan sang kakek tanpa mengeluh.


Pemuda baik hati yang sering meminta sisa makanannya. "Tolong cari cucuku..." ucapnya lirih, memelas.


"Saya akan menemukan tuan Farel... maaf..." Tomy tertunduk, dengan wajah tidak bergairah untuk pertama kalinya. Wajah penuh percaya dirinya tidak terlihat lagi. Kehilangan arah? Mungkin begitulah dirinya tanpa bos pelit yang dibencinya. Satu-satunya sahabatnya dari saat kuliah.


Tomy menunduk berjalan pergi meninggalkan Taka di ruang tamu...


"Farel..." panggil Taka lirih penuh kecemasan.


***


Botol susu yang dipegangnya menggelinding di lantai. Jeny menutup mulutnya, menahan tangisannya.


Menyalahkan dirinya? Benar, jika Tomy mengikuti Farel, mungkin suaminya tidak akan menghilang.


Tubuhnya lemas terduduk di salah satu anak tangga, dengan langkah gontai Jeny bangkit menuju kamarnya.


'Nona, Aku mencintaimu...'


'Aku mencintaimu...'


Terdengar fatamorgana suara Farel yang dengan tidak tau malunya, merayunya. Wanita itu, mulai duduk di tepi tempat tidur, perlahan merebahkan dirinya, aroma apel hijau masih tercium dari sprei dan selimut yang sering mereka pergunakan.


Tangan menggenggam selimut itu, menghirup aromanya perlahan sembari menangis,"Maaf..." ucapnya lirih.


Seharusnya kamu, tidak melindungi wanita tidak berguna seperti diriku ini. Memberikan perisai satu-satunya untuk melindungiku... kamu benar-benar bodoh... gumamnya meneteskan air mata.


***


Tomy menghebuskan napas kasar, di hadapan beberapa orang kepercayaan Taka. Orang-orang dibaginya menjadi dua kelompok, mencari di sekitar area hotel dan sebagian lagi mengawasi gerak-gerik Lery.


Merahasiakan dari semua orang, jika Farel menghilang saat mengikuti Hans. Jemari tangannya tidak gemetaran lagi, perlahan menghubungi seseorang.


"Tomy? Kenapa menelfon pagi buta?" tanya seseorang di seberang sana.

__ADS_1


"Aku ingin bicara..." ucapnya dengan wajah dingin.


Bersambung


__ADS_2