
Kesal? Begitulah perasaan Clarissa saat ini. Sepupu yang jika ada, dianggapnya akan merebut kekayaan ayahnya malah menolongnya. Dan kini hanya untuk mengawasinya harus bersedia di perintah oleh majikan yang memiliki sifat asli kejam dibalik wajah rupawannya.
"Tomy sudah biasa membuatkanku asinan, kalau kamu mau aku bisa menyuruhnya membuatkan lebih untukmu," Farel mengenyitkan keningnya.
"Aku ingin menghajarmu..." geram Clarissa.
"Clarissa!!" bentak Lery, tidak menyukai sikap putrinya.
"Tidak apa-apa, kami akan tetap bertunangan apapun yang terjadi, iya kan Clarissa?," ucap Farel terlihat tersenyum tulus.
Clarissa diam tidak menjawab, berjalan cepat menuju kamarnya. Wanita itu menghebuskan napas kasar, duduk di tepi tempat tidur. Dengan segera mengambil laptopnya, mencari informasi tentang Tomy. Beberapa saat berkutat dengan phoncell dan laptopnya tidak satupun informasi yang ditemukannya, hanya berkuliah dan tinggal di Singapura dengan Farel.
Kuliah di Singapura, kampus yang sama dengan Zion, memiliki akses untuk membebaskan Zion, tampan, pintar, tidak memiliki reputasi buruk,"Dia benar-benar sepupuku!!" teriaknya senang dalam kamar yang kedap suara.
***
Aroma mangga tercium, seorang pemuda memakai appronnya. Wajahnya nampak serius mengupas kulit mangga.
Kasihan sekali, andai saja ayah (Lery) tidak menghancurkan keluarganya. Mungkin sekarang dia adalah tuan muda kaya raya. Lihatlah ekspresi wajahnya terlihat tegar, tidak pernah mengeluh, padahal kehidupannya pasti sulit... iba Clarissa yang menatap Tomy dari meja dapur.
Wajah Tomy yang terlihat serius, tangannya mengupas dengan lihai...Bos pelit sialan! Mimpi apa dia? Ingin memakan asinan lagi. Aku akan memotongnya seperti aku memotong-motong buah mangga ini... keluhnya dalam hati.
"Biar aku bantu..." senyuman hangat menyungging di wajah wanita yang tengah hamil muda, meraih satu lagi pisau, dan mangga yang masih lengkap dengan kulitnya.
"Tidak usah, tuan akan marah jika..." kata-kata Tomy disela olehnya.
"Sebenarnya bagaimana kehidupanmu, dan bagaimana kamu dapat bertemu dengan Farel?" tanya Clarissa penasaran.
Tomy tertegun sejenak menghentikan gerakan pisaunya.
16 tahun yang lalu...
Brug...
Seorang anak di dorong keluar dari sebuah rumah mewah.
"A...ayah...!!" ucapnya menggedor-gedor pintu, putus asa.
Tangisan terisak keluar dari mulut kecilnya, tangannya yang mungil masih memukul pintu hingga terluka.
"Maaf, tuan ingin kamu keluar..." sang security menarik paksa anak dengan tatapan mata kosong itu.
"I...i...ya..." sang anak berucap sedikit gagap.
Berjalan keluar memakai seragam merah putih lusuh, dibimbing dua orang security.
"Maaf, kamu benar-benar perlu uang ya? Paman baru gajian, bawa ini untuk keperluanmu..." seorang security menatap iba, menyodorkan uang bergambarkan tokoh proklamator (seratus ribu rupiah).
"Te...te...trim... terimakasih pa...pa...paman..." Tomy kecil tidak punya pilihan lain, mengambil selembar uang kertas.
Sungkan? Anggap saja dirinya sungkan, namun jika tidak begini, dirinya tidak akan memiliki uang untuk membeli makanan.
Anak gagap itu berjalan menggenggam erat uang yang diberikan security yang bekerja di rumah megah milik ayah kandungnya.
__ADS_1
Security yang berkerja di rumah megah? Bukankah seharusnya Tomy adalah tuan muda yang dihormati? Tidak, itu bukanlah sosok Tomy.
Pemilik rumah besar yang mengusirnya tanpa memberikan sepeserpun uang, adalah ayahnya. Namun ibunya bukan nyonya rumah itu. Ayahnya seorang pengusaha yang sering bergunta-ganti perempuan. Jadi tidak menepis kemungkinan memiliki anak haram. Anak haram? Apakah istilah itu ada? Sedangkan semua anak terlahir di dunia ini atas berkat Tuhan.
Anak itu melangkah di sebuah tempat makan yang bisa terbilang murah, memesan dua bungkus nasi. Satu untuk dirinya, dan satu lagi untuk ibu kandungnya.
Gang-gang kecil dilaluinya, dalam pemukiman padat penduduk. Beberapa rumah berlantai dua tidak terawat, bahkan salah satu rumah dinding batako yang tubuh hanya berlapis perlak. Dengan tali jemuran lengkap dengan pakaian basah melintang di atas gang. Itu adalah hal biasa, dari dalam got sempit tercium bau menyengat. Bagaikan, memang bebauan khas tempat itu.
Rumah kecil dari triplek beratapkan seng yang mulai berkarat, Tomy membuka pintu yang tidak terkunci.
Bau menyengat tercium, seperti bau makanan busuk dan pakaian kotor menumpuk. Tomy meletakkan tasnya berjalan menuju dapur, tidak satupun piring atau sendok bersih yang berada disana.
Anak itu, masih memakai seragamnya, menahan rasa laparnya. Mengambil tumpukan piring melamin kotor, berjalan ke area belakang rumahnya. Anak itu berjongkok, menyalakan keran air, mencuci satu persatu piring yang sudah berbau busuk itu.
Ibu... lirihnya dalam hati, kala membawa tumpukan piring yang telah bersih, mendengar suara erotis dua insan yang seharusnya tidak didengar anak seusianya.
Air matanya mengalir, menyusun satu persatu piring. Meletakkan dua bungkus nasi diatas meja dapur, menunggu kegiatan ibunya selesai, agar dapat makan bersama dirinya.
Seragam sekolahnya telah berganti, pakaian kotor miliknya dan ibunya direndamnya dalam ember cucian besar. Menunggu beberapa puluh menit agar lebih mudah mencucinya.
"Ti...ti... tinggal, me... menunggu i...bu, sa...saja," ucapnya masih menahan rasa laparnya.
Anak itu melangkah masuk, sejenak kemudian menelan ludahnya, penuh kekecewaan. Dua porsi makanan di atas meja kini tengah dinikmati seorang pria dan ibunya.
"I...i...ibu..." ucap Tomy terbata-bata.
"Dapat berapa kamu dari ayahmu?" tanyanya dengan mulut penuh, pada putranya yang terlihat masih berkali-kali menelan ludahnya, kelaparan.
"A... ayah ti...ti.. tidak mem...memberiku u...uang. Ha... hanya pa...paman secur... security yang mem...mem... memberiku uang..." jawabnya gagap.
"Mana uangnya!?" bentak sang ibu menyangka anaknya berbohong, menoyor kepala Tomy kecil.
"I...i...itu u...un...untuk ma...makan be...besok..." Tomy mencoba menghentikan ibunya yang menggeledah seisi tas sekolah dengan banyak kacing dan sobekan besar itu.
"Ini apa!?" wanita itu mengeluarkan satu persatu isi tas, melempar buku di dalamnya asal. Hingga akhirnya mengambil sisa uang sebesar 80.000 dari tas Tomy. Mendorong putranya kesal.
"Anak tidak berguna!! Tau ayahmu tidak akan menjadikanku istri kedua, seharusnya aku menggugurkanmu saja dulu! Sebagai seorang anak seharusnya kamu dapat berbakti pada ibumu! Gagap menyusahkan..." cibirnya
Tangan Tomy meraih tasnya, mengambil satu persatu bukunya yang berceceran di lantai, menahan rasa lapar yang dari pagi dirasakannya.
Ayah tidak menginginkan keberadaanku, aku hanya harus bersyukur dan berterimakasih karena ibu dulu tidak menggugurkanku, membiarkan aku hidup melihat dunia... gumamnya dalam tangisan tertahan.
***
Hari sudah malam...
Ibunya dan pria yang berbeda dengan tadi siang, pulang dengan membawa sekantung gorengan, tidak melirik sedikitpun pada putranya yang tengah belajar. Sedikit perhatiannya teralih, "I...i...ibu b...b... boleh a...aku mi...mi..minta sa...satu?"
"Kamu punya tangan dan kaki kan? Beli sendiri, kalau tidak minta pada ayahmu yang kaya," ucapnya acuh.
"Anakmu gagap?" tanya pria yang dibawa sang ibu.
"Jangan fikirkan dia..." wanita itu membimbing sang pria menuju kamarnya.
__ADS_1
Beberapa belas menit berlalu suara erotis yang mengganggu itu terdengar lagi. Tomy menahan rasa laparnya, berusaha konsentrasi belajar walaupun suara dari dalam kamar ibunya semakin kencang. Seiring pergulatan panasnya.
Wanita malam? Itulah profesi wanita yang melahirkannya. Dahulu bekerja di club'malam dengan bayaran yang mahal, berharap dapat menjerat bos kaya dengan tidak memakai pengaman. Namun, dipecat itulah yang terjadi saat ayah kandung Tomy mengetahui kehamilan wanita malam yang sering disewanya.
Wanita malam tanpa muc*kari hanya mengandalkan dirinya sendiri, menjual tubuh di pemukiman kumuh. Mempertahankan Tomy? Tidak menggugurkannya? Tidak sepenuhnya, mengetahui ayah kandung anak itu tidak bersedia menikahinya. Di usia kandungannya yang ke tujuh bulan, berkali-kali anak itu coba digugurkannya.
Mencari dokter? Biaya operasi untuk menggugurkan kandungan berusia tujuh bulan terlalu besar dan beresiko. Meminum jamu dilakukannya, namun bayi prematur lah lahir.
Entah keberuntungan dari mana, sejak lahir ada yayasan dari luar negeri, tepatnya yayasan asal Singapura yang membiayai anak itu, walaupun nominal uang yang tidak banyak. Namun cukup untuk membuat ibu yang melahirkannya tidak membuangnya begitu saja.
Pensil pendek dengan ujung berlapis karet dijatuhkannya, perutnya mulai terasa sakit. Tomy memegangi perutnya, mulai meringis, suara erotis masih terdengar dari dalam kamar.
Anak itu berjalan dengan langkah gontai, wajahnya pucat menahan rasa sakit yang terus menderu dari perutnya. Dengan ragu mengetuk pintu kamar, "I...i...ibu a...aku la...la...lapar," ucapnya mengetuk beberapa kali tiada henti.
"Anak sialan!!" geram suara seseorang dari dalam sana, sebelum pintu terbuka.
Tomy ketakutan, namun saat ini mungkin hanya gorengan yang dibawa ibunya yang dapat menahan rasa laparnya.
Pintu dibuka kasar, benar saja, seorang pria bertelanjang dada hanya memakai sehelai sarung, keluar. "A...a...aku ha...hanya ingin mi... minta g...g... gorengan, sa...satu sa...sa...saja," ucapnya gemetaran.
Brug...
Satu tendangan dilayangkan pada dadanya, tidak ada benda keras disana kecuali sebuah gantungan baju. Pria itu memukul tubuh kecil Tomy berkali-kali, hingga gantungan baju itu patah."Gagap!! Tidak tau diuntung!! Pantas saja ayahmu tidak mengakuimu!!" bentaknya, menarik tubuh Tomy yang lebam di dorongnya keluar dari rumah sempit itu.
Ibunya? Ibunya melihat semuanya, masih berbaring di tempat tidur menunggu pria itu berhenti menghajar anaknya. Menunggu? Tentu saja untuk melanjutkan aktivitas panasnya.
Tomy di dorong keluar dari rumah, berjalan seorang diri, mencari tempat yang nyaman untuk berbaring. Memutuskan untuk duduk di pos ronda, menahan rasa sakitnya.
Gagap? Apa keinginanku untuk menjadi gagap? Apa aku yang meminta untuk dilahirkan? Dilahirkan hanya untuk berterimakasih tetap hidup. Ibu... terimakasih... Aku akan mengucapkannya, itu sudah cukup kan....
Anak itu memegangi perutnya erat, menahan rasa sakit yang semakin lama semakin parah, rasanya mual. Tapi saat ingin muntah hanya air yang keluar.
Haruskah ke rumah ayah lagi? Mungkin terbersit pemikiran itu sejenak. Namun, istri ayahnya selalu menatapnya sinis. Ayahnya? Orang itu selalu mengusirnya seakan bagaikan benalu.
Benalu? Apa aku benar-benar seorang benalu? Tidakkah anak-anak ayahnya yang lain, adalah benalu? Anak gagap ini hanya meminta makanan. Tapi anak-anak ayahnya dari istri sahnya, bagaikan bangsawan tinggal dengan pelayan, membawa supir kemana-mana, pakaian bagus, jika bosan tinggal beli lagi.
Berbeda dengan pakaiannya, tas murah dengan kancing, kerah seragam merah putih yang sobek, sepasang sepatu bekas, kebesaran dengan beberapa lubang itupun semuanya didapatkan dari tetangga yang iba padanya. Apakah menjadi anak haram adalah hal buruk? Bukankah anak haram kelahirannya juga di berkati Tuhan?
Jika dapat menghadap Tuhan saat ini, aku ingin mengadu dan memakinya. Agar anak haram dan tidak sempurna tidak dilahirkan di dunia ini. Agar tidak ada yang merasakan hidup sendiri, membalas budi pada ibu yang tidak menginginkanku. Agar tidak ada anak kelaparan tanpa kasih sayang dan perlindungan ayah... air matanya mengalir di pipinya yang memar. Menahan sakit di perutnya dan seluruh tubuhnya yang terasa remuk.
Tidak menyadari seorang gadis berusia 17 tahun menatap iba pada sang anak. Pelayan restauran, itulah profesinya.
Gadis yang tengah membuang sampah itu segera berlari kedalam, mengambil makanan sisa.
"Dek... bangun..." ucapnya hangat, membawa kertas minyak yang dibungkus asal, membangunkan Tomy. Kemudian membantunya duduk.
"Makan dulu ya?" gadis itu tersenyum lembut, mulai menyuapi Tomy dengan dengan segelas air. Jemari tangannya telaten, mengambil nasi dan lauk, menyuapi sang anak makanan sedikit demi sedikit.
"Te...te... terimakasih, a....a...aku bi...bisa sen...sendiri," Tomy mulai makan dengan cepat, mengisi perutnya yang kosong dari pagi
"Apa ada orang memukulimu?" tanyanya menatap luka lebam di tubuh Tomy, namun tidak satupun jawaban yang didapatkannya dari mulut anak itu.
"Jika kamu lapar, kamu boleh kesini setiap malam. Anggap saja aku sebagai kakakmu..." lanjutnya, mengusap-usap lembut rambut Tomy.
__ADS_1
Anak itu tertegun diam. Hangat? Itulah perasaannya saat ini, menatap wajah dihiasi senyuman... Jika akan memiliki pasangan, aku ingin yang cantik dan lembut seperti kakak. Agar ketika memiliki anak nantinya, anakku tidak akan memiliki penyesalan karena sudah terlahir di dunia yang tidak adil ini...
Bersambung