Asisten Nona Muda

Asisten Nona Muda
Rusa Dan Kelinci


__ADS_3

...... Orang mengatakan jatuh cinta adalah hal yang indah. Tidak semuanya, karena aku hanya dapat melihat punggungmu. Senyuman dan tawamu hanya untuk orang lain, menatapku dengan kebencian. Kadang aku ragu, adakah aku di hatimu......


Zion...


Matahari pagi menyinari celah-celah tirai, perlahan ditariknya, senyuman nampak di wajahnya putihnya. Senyuman yang mungkin secerah matahari pagi.


Sedikitpun tidak menyisakan debu, menata semuanya dengan baik. "Apa dia suka lavender?" gumamnya, menata vas dengan bunga yang dibelinya menggunakan gajinya yang sedikit.


Susu coklat hangat diletakkannya beserta sebuah catatan. Pergi meninggalkan ruangan penuh senyuman, satu-satunya hal yang dapat dilakukannya untuk menjaga wanita yang dikasihinya dan calon anaknya.


Clarissa menghela napas kasar, meletakkan tasnya diatas meja, menatap secarik kertas di samping segelas susu coklat hangat, 'Minumlah, aku dengar asam folat bagus untuk perkembangan otak bayi. Sampaikan salamku padanya, aku mencintainya dan ibunya,' itulah isi pesan yang terdapat disana.


Tangan Clarissa gemetaran, air matanya mengalir. Harus mengakhiri ini? Itulah yang ada difikirannya tidak ingin Zion terluka karena menunggunya.


Matahari telah meninggi, pemuda itu kembali mengetuk pintu. Dengan penuh senyuman memakai seragam office boynya. Seporsi makanan sehat masih terbungkus kertas minyak, piring, sendok, semua sudah disediakan olehnya.


"Masuk," terdengar suara dari dalam sana.


Pintu dibuka olehnya, perlahan senyuman menghilang dari wajahnya. Matanya memerah berkaca-kaca menahan rasa berat di hatinya.


Clarissa menyender di dada seorang pemuda, duduk bermanja-manja, perlahan rambutnya dibelai. Sang pemuda mengecup pucuk kepala itu lembut.


"Jangan lupa makan siang..." Zion berusaha tersenyum, meletakkan piring dan makanan dalam kertas minyak yang belum dibukanya. Serta segelas air putih.


"Clarissa sejak kapan kamu makan makanan seperti itu?" Joe mengenyitkan keningnya.


"Benar, aku tidak terbiasa makan makanan murah," jawabnya mengecup singkat pipi Joe.


Zion mengepalkan tangannya, tetap menahan semuanya. Jatuh cinta itu indah? Bukan indah, tapi ini terlalu menyakitkan baginya.


"Kenapa belum keluar!?" Joe, menatap jengkel, pada seorang office boy yang dilihatnya. "Clarissa, mungkin bawahan tidak tau diri ini, menyukaimu..."


"Dia dulunya seorang gigolo, tidak mungkin aku menyukai penjaja kotor sepertinya..." Clarissa tersenyum, melirik ke arah Zion penuh hina.


Kali ini air matanya menetes, tetap tersenyum, "Ingatlah untuk makan..." ucapnya hendak berlalu pergi.


Clarissa bangkit dari tempat duduknya, membuang makanan itu ke dalam tempat sampah, "Makanan tidak bersih yang dibeli entah dari mana...aku tidak menginginkannya..."


Zion membuka pintu, berlalu pergi tanpa menoleh ke belakang. Pemuda itu melangkah menelusuri lorong.


Apa aku terlalu percaya diri? Aku tidak pantas bersamamu, tapi aku tidak dapat pergi darimu. Jalan mana yang harus aku ambil? Kenapa mencintai bisa sesakit ini... gumamnya dalam hati berjalan berlalu tertunduk diam, menelusuri lorong.


Clarissa terdiam, pemuda yang duduk di sofa mulai bangkit, memeluknya dari belakang. "Pergi, jika Farel tau kamu akan mati..." ucapnya pada Joe.


"Dia tidak akan tau..." bisik Joe.

__ADS_1


"Pergi!!" bentak Clarissa.


Joe menghela napas kasar, pergi meninggalkan Clarissa seorang diri. Pintu tertutup, bersamaan dengan tangisannya yang terdengar lirih.


Wanita yang tengah hamil muda itu kembali duduk, menatap makanan yang dibuangnya di tempat sampah. Makanan itu kembali dipungutnya, diletakkan di atas piring, suap demi suap masuk ke mulutnya,"Maaf..." racaunya dalam tangisan, hanya ingin membuat Zion meninggalkannya.


***


Hari semakin sore, pemuda itu pulang terburu-buru. Menggati pakaiannya dengan pakaian terbaik yang dimilikinya. Merapikan rambutnya, benar-benar menata penampilannya. Dengan cepat kembali ke kantor menunggu kedatangan Clarissa.


Tubuhnya menyender di tiang penyangga bangunan. Tidak lama terlihat Clarissa mulai keluar, berjalan menuju parkiran.


Pintu mobil dibukanya, tanpa diduga tubuhnya ditarik, dipojokkan pada badan mobil. Zion tersenyum menatap matanya, mengecup bibir Clarissa. "Aku adalah pacar rahasia, jadi aku akan menunggumu dengan sabar..."


"Zion kita sebaiknya ..." kata-kata Clarissa terhenti, pemuda itu tetap tersenyum.


"Sudah aku bilang, jangan cintai aku, jika tidak bisa mencintaiku. Aku akan menunggu dengan sabar, walaupun hanya dapat mengisi disaat kamu kesepian..."


"Ayo kita berkencan, kemarin tidak jadi ke taman hiburan kan? Aku punya taman hiburan lain untuk kita kunjungi..." ucapnya merebut kunci mobil Clarissa, menarik wanita itu ke dalam mobil, bahkan membantu mengenakan savety beltnya.


Pedal gas diinjaknya, mobil mulai melaju. Sang pemuda sesekali tersenyum melirik ke arah Clarissa.


Diam, tidak melawan, fikirannya ingin menjauhi Zion. Namun hatinya tidak, dengan ragu Clarissa mengecup pipi pemuda yang tengah menyetir.


"Tidak akan pernah, karena itu nikmatilah cintaku..." jawabnya.


Beberapa jam perjalanan, mobil mulai terhenti di lokasi sebuah pasar malam. Terlihat kincir ria yang tidak begitu besar, beberapa stand permainan, serta komedi putar dengar cat sedikit mengelupas.


"Kenapa kita kemari?" tanya Clarissa membuka safety beltnya.


"Bermain..." Zion menyunggingkan senyuman di bibirnya.


Satu persatu foto diambilnya dengan Clarissa. Menaiki komedi putar, memakan popcorn manis, membeli bando aneh bertanduk rusa, satunya bertelinga kelinci, layaknya sepasang kekasih, berfoto dengan senyuman mengembang di bibir mereka.


"Gagal lagi!!" Zion mengenyitkan keningnya kesal, mengikuti permainan lempar gelang, mengincar target sebuah boneka beruang besar.


"Sudah, kita pulang..." Clarissa menghela napas menahan rasa malunya, menatap Zion yang bermain bagaikan anak kecil sudah cukup lama.


"Iya..." Zion tersenyum hangat.


Hari sudah mulai larut, hal yang gila memang mendatangi pasar malam yang letaknya cukup jauh. Namun pemuda bertanduk rusa dan wanita bertelinga kelinci itu tersenyum dengan hati yang hangat. Menjalani cinta dengan cara yang menyenangkan bagi mereka.


"Dimana rumahmu? Aku akan mengantarmu pulang, nanti aku pulang ke rumahku naik ojek..."Zion bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan.


Mengantarnya hingga rumah? Lery mungkin akan mengetahui segalanya. Tangan Clarissa memilin ketakutan. Zion sedikit meliriknya, menghebuskan napas kasar.

__ADS_1


"Sudah hampir pagi, bagaimana jika menginap di rumahku saja..."usulnya, merasa Clarissa enggan jika diantarkan pulang.


Lery? Cepat atau lambat harus menemuinya. Walau tidak bernyawa sekalipun, sedikit tidaknya Zion ingin berusaha bertanggung jawab pada anak di rahim wanita yang menaklukkan hatinya.


"Benar, sudah hampir pagi, kita ke rumahmu saja..." Clarissa menghebuskan napas kasar.


***


Rumah yang tidak begitu besar di pemukiman padat penduduk itu mulai dimasukinya. Lampu dinyalakan Zion,"Duduklah..." ucapnya tersenyum hangat.


Clarissa berjalan mendekat, tidak disangka Zion menariknya ke dalam pangkuannya,"A...aku..." Clarissa terdengar gugup.


Disentuh pria? Dalam dunianya, pergaulan bebas itu hal yang biasa. Namun dengan pemuda ini tubuhnya bagaikan lumer, tidak memiliki tenaga, sentuhan bibirnya bagaikan mengantar sengatan dalam dirinya. Kecanduan? Tidak pernah merasa puas.


"Lupakan semuanya, kita menikah dan melarikan diri bersama. Tidak bisakah seperti itu?" tanya Zion, dengan penuh kesungguhan,"Aku akan mempertaruhkan nyawaku, untuk membahagiakanmu,"


"Aku hamil dan akan segera bertunangan, ayahku..." kata-kata Clarissa terhenti, Zion mengecup pelan bibirnya.


"Aku bahagia bersama denganmu. Jika mati, aku akan mati dalam kebahagiaan. Karena sempat memilikimu..." Zion mendekatkan wajahnya, membuka mulutnya, memangut bibir Clarissa perlahan. Gerakan yang lembut, membuat keduanya terbuai, perlahan menjadi gerakan agresif penuh *****, untuk mencicipi lebih banyak.


"Clarissa..." ucapnya tersenyum, menyibakkan rambut wanita dengan tatapan kosong. Bibir itu dipangutnya kembali.


Suara decapan mereka sedikit terdengar, satu persatu kancing kemeja Clarissa dibukanya.


"Zion..." Clarissa sedikit mendorong tubuh pemuda yang mulai menindihnya. Tubuhnya bagaikan limbung, kala bibir pemuda itu bermain seusai melepaskan kancing kemejanya sempurna. Kain kecil dengan pengait di balik kemeja itu juga sudah terlepas dengan sempurna.


Jambakan halus dirasakan Zion pada rambutnya. Hal yang tidak di pedulikannya, lenguhan halus keluar dari bibir Clarissa. Bibir Zion tidak berhenti memangut benda, di balik kain kecil berpengait yang telah dilepaskannya.


Helai demi helai pakaian mereka teronggok di lantai. Sentuhan perlahan yang halus dari kulit tubuh mereka yang bergesekan. Terhentak bagaikan mendayu penuh erangan.


......Bukan karena berhubungan denganmu membuatku mencintaimu. Wanita yang lebih cantik? Wanita baik-baik? Ada banyak di dunia ini, jika aku sabar mencarinya. Namun, wanita tempat hatiku berlabuh hanya satu, menyia-nyiakannya? Tidak akan pernah aku lakukan. Bahkan jika nyawa ini diambil karena ingin bersama denganmu, aku akan baik-baik saja. Alasan? Karena sejak pertama kali bertemu denganmu, hatiku terasa lengkap, bagaikan menemukan serpihannya yang hilang......


Zion...


***


Hari ini Clarissa membulatkan tekadnya, membawa beberapa helai pakaian. Tempat tinggal yang baru? Zion sudah menyiapkannya, menjual rumah kecilnya, membeli lahan di desa terpencil luar pulau. Dua tiket pesawat telah dipesan Clarissa. Tidak mempedulikan pertunangannya dengan Farel.


Hingga, langkahnya yang hendak keluar dari rumah terhenti, Lery tersenyum menatap putrinya. Bukan senyuman biasa, "Kamu sama saja dengan Sasha dan Gabriel..."


"Taruh barang-barangmu kembali ke kamar. Orang yang menunggumu di bandara, mungkin sudah tidak ada di sana..." ucapnya pada Clarissa, berjalan berlalu meninggalkan putrinya.


Wajah wanita itu pucat, tubuhnya lemas, duduk terdiam di lantai,"Zion..." racaunya lirih, dengan suara kecil tercekat, wajahnya tertunduk. Menatap derai air matanya yang jatuh ke lantai.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2